Kiat Meningkatkan Skills Storytelling Yang Layak Dipelajari

Kiat Meningkatkan Skills Storytelling Yang Layak Dipelajari. Masih merasa tak puas, usai menikmati sajian skills storytelling, sambil menggosok mata dengan lembut, aku merapatkan wajah ke monitor laptop saat melihat foto setetes hujan di artikel situs kabar lifestyle terbaru tentang filosofi yang diajarkan hujan soal hidup dan jadi manusia.

Aku begitu terbuai dengan skills storytelling penulis yang seperti bisa menembus dan mewakili emosiku, menginspirasi dan memotivasi melalui untaian kata. 

Hmmm, kira-kira berapa lama ya doi belajar kiat-kiat meningkatkan skill storytelling sehingga mampu menelurkan karya yang demikian indah.

Saking terpesonanya, artikel itu pun aku tulis ulang namun dengan sentuhan pribadi di sana-sini, menghindari penjegalan pelanggaran atas Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dari mbah sakti mandraguna, Google. Hihihi.

Pernahkah kamu mengalami hal yang sama? Tersihir oleh lautan kata-kata. 

Itulah kekuatan storytelling!

skills storytelling kiat meningkatkannya

Storytelling Era Digital

Storytelling memang bukan jurus baru. Sudah sejak ribuan tahun manusia menerapkan jurus cerita dalam berbagai lakon kehidupan. Kitab suci, legenda, kisah perang dituturkan dalam bentuk cerita, baik lisan maupun tulisan.

Kehidupan ini pun berlangsung dalam bingkai cerita demi cerita yang diteruskan dari generasi ke generasi.

Di era digital ini storytelling seperti mendapat injeksi energi baru. Berbagai platform telah tersedia luas, media sosial mudah diakses siapa saja, koneksi internet pun semakin cepat dan murah.

Teknologi digital, yang membuat hidup bergerak lebih bergegas, membuat orang merindukan hal-hal yang mengisi jiwa, membawa emosi dan menggerakkan hati!

Mengapa Storytelling Menarik?

Seni.

Bukan proses, metode atau teknik. Storytelling adalah karya seni!

Sebagaimana layaknya karya seni, creativity is a must, tambahkan juga visi, keahlian dan latihan demi latihan. 

Baca juga: Kebaikan Belajar Hal Baru untuk mengasah kreativitas. 

Storytelling bukan keahlian yang bisa didapatkan hanya dengan menghadiri satu kali sesi perkuliahan . It's a trial-and erros process of mastery!

Kedengarannya ribet, bukan? 

Memang dan seharusnya memang begitu, karena mendongeng atau bercerita telah menjadi komponen krusial sekaligus fenomenal kampanye pemasaran.

Inilah pembeda brand-brand mapan dari bisnis-bisnis sederhana, konsumen-konsumen setia dari pembeli yang hanya sekali datang.

Skills storytelling juga jantungnya inbound marketing. Salah satu alat yang amat berharga untuk ditambahkan ke dalam tool marketing.

skills storytelling kiat meningkatkannya tool marketing

Dalam kaitannya dengan artikel di blog, bayangkan jika kamu mampu membuat pembaca betah di blog, berpindah dari satu artikel ke artikel lainnya. Begitu terus menerus jika mampir di blog kamu. Fantastik!

Wah, wah, semakin hot aja nih pembahasannya ya. Hahaha.

Ayo siapkan camilan. Masih ingat kan dengan camilan? Itu lho, cecudah celapan cebelum cepuluh, camilan! Hihihi.

Saatnya menemukan dan menguasai storytelling, menenun kisah yang indah dan menarik untuk audiens!

Apakah Storytelling Itu?

Dilansir dari HubSpot.com, storytelling adalah:

"Proses menggabungkan narasi dan fakta kepada audiens. Beberapa cerita adalah faktual, dan beberapa diimprovisasi untuk menjelaskan pesan inti."

Yang di bawah ini definisi storytelling versi nugit.co:

skills storytelling kiat meningkatkannya

Defenisi di atas cukup spesifik, "cerita" sebenarnya merupakan kumpulan berbagai hal. Ilustrasi  dari inforeferralcandy.com membantu menguraikan apa yang merupakan cerita dan apa yang tidak.

skills storytelling kiat meningkatkannya

Kayaknya 3 ilustrasi di atas sudah cukup mewakili dong ya, kalau kebanyakan ntar malah muntah. Hahaha.

Jadi, manakah yang mewakili perasaanmu? Jawabnya boleh di kolom komentar di bawah ya.

Nyok, monggo kopi diseruput lalu kite lanjut!

Masih ingat di masa kecil waktu orang tua mendongeng? 

Apalagi ketika mereka bercerita secara ekspresif. Kita pun terlarut terbawa suasana. Rasanya waktu berjalan begitu cepat, tahu-tahu cerita sudah tamat. Tak sabar kebangetan menanti mentari beringsut dari peraduan.

Aku ingat pernyataan Bapak Budiman Hakim,  master storytelling sekaligus penulis buku diantaranya "Saya Pengen Jadi Copywriter", "Ngobrolin Iklan Yuk", "Storytelling, Beriklan Lewat Cerita" saat  event workshop menulis, menyampaikan, "Gaya Tuhan Bercerita, Terbaik dan Most Powerful!" 

Jadi, kita meniru dari yang Terbaik!

Itulah kenapa storytelling masih krusial meski di era digital, di mana semua orang bergerak lebih bergegas, merindukan hal-hal yang mengisi jiwa, sarat emosi, menggerakkan hati.

Aku pun setuju banget nih dengan beliau. Tos dulu, Pak!

Storytelling atau mendongeng adalah suatu bentuk seni tua dan memiliki tempat di setiap budaya dan masyarakat.

Mengapa

Karena ia adalah bahasa universal yang dapat dipahami semua orang, terlepas dari dialek, tanah kelahiran atau warisan.

Storytelling mampu menstimulasi imaginasi, hasrat dan menciptakan sense of community antara audiens dengan pentutur.

Masih ingat beberapa iklan hits yang menguras emosi?

Yang paling merampok hatiku tentang iklan storytelling dari negeri gajah, Thailand.

Aku sampai menangis sesunggukan. Di akhir tayangan hanya sekian detik, barulah aku sadar itu ternyata tayangan iklan asuransi. 

Soooo, brilliant, indeed!

Aku yakin kamu pun pasti punya koleksi iklan storytelling favorit juga!

Kenapa Bercerita?

Ayo, yang demen bercerita pasti bisa jawab ne! 

Ada berbagai alasan untuk bercerita. Bisa untuk berjualan, menghibur, mengedukasi bahkan sesumbar!

Jadi, kenapa memilih storytelling ketimbang, katakanlah, power point atau bulleted list?

Mengapa storytelling adalah cara kita berbagi, menjelaskan dan menjual informasi?

Inilah kenapa!

Cerita, Solidkan Konsep Astrak, Sederhanakan Pesan Kompleks

Pasti semua pernah dong bingung saat berhadapan dengan ide atau konsep baru. Nah, cerita lah yang membantu menjelaskan semuanya!

Di zaman sekolah, masih ingat dong saat Bapak/Ibu guru berkata: "Gini, gini, saya mau cerita dulu ya...."

See, stories help solidify abstract concepts and simplify complex messages.

Contohnya, Apple!

Komputer dan gadget pintar, dua item yang sarat teknik dan rumit untuk dijelaskan ke konsumen. Apple menggunakan real-life stories untuk menjelaskan benefit produk, bukan fokus ke jargon teknis yang kurang dipahami konsumen.

Cerita, Menyatukan Orang

Cerita bersifat universal! 

Ada cerita duka, gembira, pahlawan, kaum yang tertindas, bahkan patah hati. Semua orang pastilah pernah mengalaminya dan menciptakan rasa kebersamaan. Istilah kekiniannya, BT, alias Been There!

Iyes. Cerita menyatukan kita!

Cerita, Menginspirasi, Memotivasi

Cerita menjadikan kita manusia, dan konsep yang sama berlaku untuk brand! Ketika brand transparan dan otentik, justru hal itu membuatnya membumi, terkoneksi dengan pelanggan dan orang-orang di belakang brand.

Memanfaatkan emosi manusia, menunjukkan yang baik dan buruk, begitulah mekanisme cerita menginspirasi, memotivasi dan akhirnya mendorong tindakan.

skills storytelling yang layak dipelajari kiat meningkatkannya

Cerita juga menumbuhkan loyalitas brand! 

Menciptakan narasi di sekitar brand atau produk, bukan saja humanis, tetapi juga secara inheren (lekat) memasarkan bisnis!

Kiat Stroytelling 

Pengertian "baik" dan "buruk" itu, relatif bagi opini pengguna.

Maksudnya, Markonah

Baik menurutku, belum tentu baik menurutmu, Hayati! 

Begitu pula sebaliknya.

Seperti dilansir dari HubSpot.com, 5 komponen ini mesti ada dalam storytelling! 

So, cerita yang bagus itu adalah cerita yang:

Entertaining

Pernahkah kamu terbahak-bahak bahkan sampai mengeluarkan air mata saking bahagianya? Begitu juga sebaliknya ikut sedih, mengharu biru. 

Atau merasa, "... ini kog gue banget ya!"

Berarti, misssion accomplished ne!

Cerita yang bagus mampu membuat audiens tetap terlibat dan kepo kebangetan.

Educational

"Wah, aku baru tahu ada yang seperti ini."

Great! ini dia yang aku cari-cari, percis banget dengan solusi yang aku cari!"

Familiar dengan ekspresi seperti ini? Sama dong! Aku juga. 

Yes, cerita yang bagus itu mengedukasi, memicu rasa tahu dan menambah pengetahuan!

Universal

Cerita yang bagus mampu terhubung dengan semua audiens, memanfaatkan emosi dan pengalaman yang kebanyakan orang alami.

Organised

Cerita yang bagus harus mampu menghasilkan ringkasan  sehingga pembaca mampu menyerap pesan inti.

Memorable

Masih ingatkah kisah Cinderella, Bawang Putih dan Bawang Merah serta beberapa cerita sepanjang masa lainnya? Begitu melekat di hati ya.

YES. Baik  melalui inspirasi, skandal, atau humor, cerita yang bagus melekat dalam pikiran audiens. Memorable! C-A-T-A-T!

Sedangkan menurut HubSpot Academy, ada 3 komponen untuk membuat cerita yang bagus terlepas jenis cerita apa yang ingin kamu ceritakan.

Character

Setiap cerita harus punya minimal 1 karakter. Karakter inilah yang menjadi kunci untuk menghubungkan audiens kembali ke cerita.

Komponen ini bagai jembatan, yang menghubungkan kamu, storyteller dan audiens.

Misalnya lagi nonton drakor, kamu pasti punya dong minimal 1 karakter favorit. Bahkan kadang-kadang memposisikan sebagai karakter itu. Betul?

Conflict

Apalah artinya cerita tanpa konflik. 

Konflik lah yang mendewasakan kita. Membuat kita tumbuh, belajar menaklukkan tantangan demi tantangan.

Konflik ini juga lah yang menguras emosi dan menghubungkan audiens melalui pengalaman yang pernah dialami audiens.

Saat bercerita, kekuatannya terletak pada apa yang disampaikan dan ajarkan.!

Tak ada konflik, kemungkinan tak ada cerita.

Resolution

Setiap cerita pasti punya penutup. Tetapi tidak harus selalu happy ending. 

Resolusi sebaiknya mampu membungkus cerita, berisi konteks di sekitar karakter dan konflik yang menghasilkan a call-to-action

Nah, sekarang kamu sudah tahu, hal-hal apa saja yang seharusnya ada di dalam cerita. 

Saatnya mulai membuat cerita!

Proses Storytelling 

Masih ingat uraian di atas tadi?

Storytelling adalah sebuah seni. Layaknya karya seni, ia membutuhkan kreativitas, visi dan keahlian. Juga latihan. Masukkan: proses mendongeng.

Sama seperti seniman lainnya. Semua mengandalkan proses kreativitas. Kapan memulai,  membangun visi dan terus berlatih, lagi dan lagi, guna meraih kesempurnaan.

Mengapa proses ini penting?

Sebab, sebagai organisasi atau brand, ada banyak fakta-fakta, angka dan pesan-pesan yang harus dituangkan dalam satu cerita singkat.

Lalu gimana dong cara memulainya?

Well, mulailah dari langkah pertama.!

1. Kenali Audiens!

Siapa saja sih yang ingin mendengarkan ceritamu? 

Siapakah yang akan mendapatkan benefit dan terkuat merespon?

Lakukanlah riset tentang target pasar dan persona pelanggan/calon pelanggan. Proses ini akan membuat kamu berkenalan dengan siapa yang mungkin melihat, membaca atau mendengarkan.

Algoritma adalah mantra hidup masa kini.

Selera pasar, perilaku konsumen, semua dipetakan secara detail oleh data raksasa yang terangkum dalam media social dan ratusan aplikasi.

Sebagai perbandingan, bagi blogger, sebaran audiens (gender, usia, lokasi dll) bisa dilihat di google analityc, sedangkan di instagram bisa dilihat di dashboard insight. 

Data-data ini merupakan arahan penting sebagai fondasi untuk melangkah ke tahapan selanjutnya

2. Definisikan Pesan Utama

Mau hanya 1 atau 20 halaman, 6 menit atau 60 menit, cerita harus punya "core message!" 

Layaknya rumah, kudu punya pondasi, dan harus dibangun sebelum bergerak maju.

Apakah cerita itu kelak  untuk mengumpulkan dana? Menjelaskan pelayanan atau advokasi masalah?  Apa sih guna ceritamu?

Kenapa sih kamu ingin bercerita?

Untuk menolong mendefinisikan ini, cobalah buat ringkasan ceritamu dalam 6-10 kata. Jika kamu gagal membuatnya, Fix, kamu tidak memiliki core message (pesan inti)!

3. Tentukan Jenis Storytelling Apa Yang Ingin  Kamu Ceritakan

Tahukah kamu? 

Ternyata tidak semua cerita dibuat sama lho. 

Nah untuk menentukan jenis storytelling yang akan digunakan, sebelumnya kudu cari tahu dulu bagaimana kamu menginginkan audiens merasakan atau bereaksi saat mereka membaca.

Ini akan membantu saat mengolah cerita dan tujuan yang kamu kejar.

Jadi, kalau tujuan kamu adalah:
  • Mengajak Bertindak
Cerita harus menggambarkan bagaimana tindakan sukses yang dilakukan di masa lalu dan menjelaskan bagaimana audiens mungkin dapat mengadopsi hal yang sama. 

Hindari perincian yang berlebihan atau perubahan subject agar audiens mampu fokus pada aksi atau perubahan yang didorong oleh cerita kamu.
  • Memberitahu Orang-Orang Tentang Kamu
Ceritakan kisah yang menampilkan perjuangan, kegagalan atau kemenangan yang nyata dan manusiawi. 

Saat ini, konsumen sangat menghargai dan merasa terhubung dengan brand yang memasarkan secara otentik dan dengan gaya storytelling.

Nah, aku termasuk tuh, dalam konsumen yang ini. Kalau kamu?

  • Menyampaikan nilai-nilai

Ceritakan kisah yang menyentuh emosi, karakter dan situasi yang akrab sehingga audiens mampu memahami bagaiaman cerita itu berlaku untuk kehidupan mereka sendiri.

Ini sangat penting jika berbicara tentang mendiskusikan nilai-nilai yang mungkin tidak disetujui atau dimengerti oleh sebagaian orang.

  • Membina Komunitas atau Berkolaborasi

Ceritakan kisah yang menggerakkan pembaca untuk berdiskusi dan berbagi cerita kamu dengan orang lain.

Manfaatkan situasi atau pengalaman yang bisa dihubungkan dengan orang lain di mana mereka bisa berkata "Me Too".

Jagalah agar situasi dan karakter tetap netral untuk menarik berbagai kalangan audiens.

  • Memberikan Pengetahuan atau Mendidik

Ceritakan kisah yang menampilan pengalaman coba-coba seperti product review misalnya, sehingga audiens dapat belajar tentang masalah, menemukan solusi dan menerapkannya. Diskusikan solusi alternatif juga ya.

4. Tetapkan Ajakan Bertindak

Tujuan dan ajakan bertindak mungkin serupa tetapi ajakan bertindak menciptakan tindakan yang kamu harapkan dari audiens.

Apa sih sebenarnya yang kamu inginkan setalah audiens lakukan setelah membaca? Menyumbangkan uang, berlangganan buletin, mengikuti kursus, mencoba produk? 

Misalnya tujuan kamu ingin menumbuhkan komunitas atau kolaborasi, ajakan bertindak mungkin "Ketuk tombol bagikan di bawah."

5. Pilih Media Storytelling

Cerita hadir dalam berbagai bentuk. Ada yang dibaca, ditonton atau diperdengarkan. Media cerita tergantung jenis cerita dan sumbernya, seperti waktu dan uang.

Berikut cara berbeda untuk menceritakan cerita kamu:

Cerita Tertulis diceritakan melalui blog atau buku, sebagian berupa teks dan mungkin beberapa gambar. Ini adalah model penceritaan yang paling terjangkau karena hanya membutuhkan pengolah kata gratis seperti Google Document, pena dan kertas.

Cerita Lisan diceritakan secara langsung seperti presentasi, nada atau panel.TED Talks dianggap sebagai cerita lisan karena sifatnya yang live dan tidak diedit. Cerita lisan biasanya butuh banyak latihan dan ketrampilan untuk menyampaikan pesan dan melahirkan emosi pada orang lain.

Baca juga: Begini Kiat Mengatasi Rasa Gugup di Segala Situasi

Cerita Audio diucapkan dengan keras tetapi direkam. Itulah yang membedakannya dengan cerita lisan. Cerita audio biasanya berbentuk podcast, dan dengan memanfaatkan teknologi era kini, membuat cerita audio lebih terjangkau

Cerita Digital diceritakan melalui berbagai media seperti video, animasi, cerita interaktif bahkan game. Sejauh ini opsi ini merupakan yang paling efektif untuk cerita-cerita yang menggema secara emosional dan juga kisah-kisah visual yang aktif. 

Itulah sebabnya mengapa ia juga yang paling mahal.

Tapi, jangan khawatir, kualitas video tidak masalah selama cerita menyampaikan pesan yang kuat!

6. Tulis!

Sekarang saatnya meletakkan pena di atas kertas, mulai mengetikkan kata di keyboard, mulailah menyusun cerita!

Pesan inti, cek! Tujuan audiens, ajakan bertindak, cek!

Selanjutnya hanya menambahkan detail dan sentuhan kreatif 

7. Bagikan Kisah

Aku ingat banget kata-kata dari seorang motivator.

Begini katanya: "Kalau belum jadi selebrities, bagikan dan promosikan cerita kamu!"

Membuat cerita, baru separuh perjalanan - berbagi cerita, sesuatu yang lain.

Optimalkan akun media sosial untuk berbagi cerita, karena semakin banyak tempat kamu berbagi, semakin banyak keterlibatan yang kamu dapatkan.

Sekali lagi storytelling adalah prose trial-and-error. Tak seorang pun mampu menghasilkan cerita memikat di kesempatan pertama!

Saatnya eksekusi Kiat Meningkatkan Skills Storytelling Yang Layak Dipelajari ini!

Baidewei subway,

Kalau untuk update kabar lifestyle terbaru bisa langsung ke https://waverlyinfo.com ya.

kiat meningkatkan skills storytelling yang layak dipelajari

12 comments:

  1. Aku langsung klik artikel ini karena judulnya. Iya sebagai anak yang dulu besar dengan buku-buku cerita, story telling telah membius saya sejak ratusan purnama. Mungkin karena nenek saya adalah pendongeng yang baik, sehingga saya bisa membedakan mana yang bisa bercerita dan membkar imajinasi kita dan mana yang akan gelisah menanti kapan cerita akan berakhir. Nah aku pengen banget bisa seperti nenek, mungkin tidak melalui suara tapi tulisan, tapi sampai sekarang masih aja gagap hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Storytelling sepertinya sudah ada di DNA aku, mba.
      Dari mamakku.
      Beliau dulu seorang pencerita yang ekspresif.
      Aku sering terbius oleh beliau.

      Baidwei,
      Aku suka banget storytelling mba di blog.
      Berasa ikut aku di dalam cerita itu.
      Apalagi kalau yang genre travelling.
      Fix. Suka pakai banget!

      Delete
  2. Story telling itu super Penting. Bagaimana Kita bercerita ttg sesuatu dengan menarik hingga bisa diterima pembaca

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyes.
      Menguntai kata dengan indah agar audiens betah sekaligus mendapatkan manfaat ya.

      Delete
  3. Hooo jadi pas aku baca novel dan sampai ikut larut dalam ceritanya ikut merasakan emosi karakternya.. itu berarti si penulis sukses dengan storytellingnya ya? Wahh canggih banget. Kudu banyak baca dan mulai latihan storytelling nih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kira-kira begitu deh mba.
      Emotional dan Enganging, ada pembuka, krisis dan resolusi percis seperti infografis dari inforeferralcandy.com yang di atas itu.

      Delete
  4. Tulisan ini juga punya sentuhan storytelling, buktinya saya keasyikan membaca hingga tuntas ... tas ...tas.
    Harus banget ini saya simpan linknya untuk saya kunjungi lagi suatu waktu. Makasih yah sudah ditulis dan.dishare.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdullillah.
      Masih belajar akutu, mba
      Tulisan mba juga menurutku ada asentuhan storytelling lho.
      Syukaaak!

      Delete
  5. Aku selalu suka menulis blog ku dgn konsep storytelling, walopun kadang ga terlalu berhasil, tp ttp aja konsep ini yg paling cocok buatku.

    Storytelling memang LBH menarik, dan ga membosankan yg terpenting :p. Seolah saat membaca tulisannya, kita sdg ngobrol dengan penulis, dan bukan membaca. Jd kalo aku bisa nemuin tulisan yg seperti itu, berarti konsep storytelling nya udh berhasil banget :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk, semangat belajar mengasah kemampuan storytelling, Fan!

      Baidewei, subway,
      Aku pun meyakini kalay dikau memang menulis dengan konsep storytelling. Engaging dan Emotionalnya, dapat banget!
      Salah satu indikatornya, pas membaca, kita hanyut dan eh tahu-tahu tulisan sudah berakhir.

      Biasanya juga ada pembuka, konflik dan resolusi di storytelling itu.

      Delete
  6. Wah Mbak terima kasih atas sharingnya tentang story telling ini. Jadi nambah pengetahuan. Saya juga masih dalam tahap belajar menulis story telling. Dri sudut pembaca tulisan yang dikemas secara story telling memang sangat menarik untuk dibaca

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tos, mba.
      Sama dunk, aku juga masih belajar dan belajar.

      Iyes,
      Storytelling memang sangat menarik untuk dibaca.
      Mengikat emosional kita.
      Apalagi kalau ada kesamaan karakter dan benang merah ya.
      Sempurna!

      Delete

Holaaa...!
Terimakasih ya sudah berkunjung ke sini.
Mohon maaf komentar kudu dimoderasi sebelum dipublikasi.