Warna-Warni Pengalaman Ramadan di Negeri Sakura

ramadan di negeri sakura
Sakura pertama Yasmin 
Ini adalah sepenggal kenangan ramadan tahun lalu, saat Yasmin berada di Hiroshima, sebagai perwakilan Indonesia untuk program pertukaran pelajar AFS ke Jepang selama lebih kurang 11 bulan.

****

"Bunda, buruan ke kamar, sudah tersambung nih video callnya"

Suara hubby terdengar lamat-lamat dari balik pintu kamar tidur

Aku langsung membuat mode hibernate di laptop dan bergegas ke kamar tidur.

Di sana, di layar, Yasmin sudah stand by di depan kamera.

Meski sudah seringkali video call, tetap saja keharuan hadir membahana.  Namun cepat-cepat aku menguasai emosi, karena teringat pembekalan dari pengurus AFS, agar menghindari momen emosionil saat berkomunikasi agar tidak mempengaruhi kondisi emosi buah hati.

Saat itu akhir Mei 2018, sudah hampir 2 bulan Yasmin berada di Hiroshima, mewakili Indonesia, setelah lolos seleksi AFS untuk tahun 2018-2019 (Year Program - YP 2018-2019).

Ini adalah pengalaman ramadan di negeri sakura yang pertama bagi doi dan ramadan pertama bagi kami tanpa Yasmin di Indonesia.

Kami, of course, excited banget dong ya, mendengar pengalaman suka duka ramadan di negeri sakura.

Sebelum lanjut, aku mau menambahkan sedikit informasi yang aku kutip dari artikel Mei 2018 di www.tempo.co tentang pemeluk Islam di Jepang ada sekitar 160.000 orang.

Masih kecil memang dan membuat Islam adalah minoritas di negeri sakura.

Namun jika dibanding dengan 50 tahun lalu, terjadi kenaikan hampir 25 kali lipat jumlah masyarakat Jepang yang memeluk agama Islam.

Nyok, lanjut!

Seperti biasa Yasmin mengenakan earphone saat video call demi kenyamanan, karena biasanya waktu sudah menunjukkan di atas jam 10 malam.

Tahu sendiri dong ya, masyarakat Jepang sangat menghargai privasi. Jadi, Yasmin pun rupanya sudah mulai tertular kebiasaan ini. It's a good things, right, isn't it?

Kami memilih waktu ini karena obrolan bisa dilakukan dengan santai dan agak lama durasinya.

Oh iya, tambahan informasi nih...

Waktu Balikpapan dan Hiroshima, beda satu jam, di mana Hiroshima lebih cepat satu jam.

Saat itu, di Hiroshima sedang peralihan musim semi ke musim panas dan suasananya masih 11-12 lah dengan di Balikpapan.

"Assalaamualaikumwarohmatullaahi Wabaraakatuh"

Seperti biasa kami mengawali video call dengan salam

"Waalaikumsalamwarohmatullaahi Wabaraakatuh"

"Apa kabar, Yasmin?"

"Baik, Bun, Dad"

"How is your day?"

Aku langsung kepo dong, hihihi...

"Same, as usual, Bun, home and school,"

"I see, can you share, about your ramadan, my dear?"

Sampai di sini, Yasmin terlihat sumringah.

Jadi gini, Bun...

Malam sebelum sahur pertama, Yasmin cerita dong yang ke host family bahwa Yasmin mau puasa.

... bahwa puasa itu ada sahur

... bahwa puasa itu tidak boleh makan dan minum di waktu yang telah ditentukan

... bahwa waktu buka puasa itu ada ketentuannya

... bahwa di bulan puasa perhitungan amal kebaikan dilipatgandakan

Nah, yang langsung bereaksi adalah Mama host family, Bunda...

Begini kira-kira dialog mereka yang aku tangkap ya. Tentu saja mereka bicara dalam bahasa Jepang.

Tapi aku terjemahkan ya, tsaaah... #kibasponi

Sssst... yang terakhir ini jelas hoax, jangan percaya ya! Bahahaha... (((terjemahkan)))

Lanjut...

"Jadi, jadi... Yasmin harus bangun pagi sekali gitu ya, untuk makan?"

"Iya, Okaa-san"

"Mohon maaf banget ya, sepertinya, Okaa-san tak akan bisa bangun jam segitu untuk menyiapkan sarapan, belum biasa"

"Oh, tidak ada-apa, Yasmin bisa kog bangun sendiri, nanti pakai alarm"

"Oh... syukurlah"

Nah, kalau teman-teman dan guru di sekolah lain lagi nih ekspresinya, Bunda...

Jadi, beberapa hari sebelum ramadan, Yasmin sudah share ke sensei, kalau akan puasa.

(sensei - panggilan di Jepang untuk orang yang dihormati karena posisinya. Biasanya yang mendapatkan gelar ini adalah seorang guru - wikipedia)

Nah, pas sehari sebelum ramadan, sensei mengingatkan kembali di depan kelas, bahwa selama sebulan nanti Yasmin akan puasa dan sarapan di awal hari.

Langsung deh seisi kelas heboh dan gaduh.

"Waduh, jadi harus bangun pagi-pagi sekali ya!"

"Itu beneran ya, tidak makan seharian?"

"Terus, kalau ga makan seharian, ntar kan bisa mati"

Hahaha, tak ayal, kami berdua ngakak mendengar ekspresi teman-teman Yasmin itu.

ramadan di negeri sakura
Yasmin bersama teman putri Setouchi High School Hiroshima
Mendadak aku juga ingat, saat kerja di sebuah perusahaan, pernah juga mengalami hal yang sama, seorang expatriat asal Colombia memberikan reaksi yang sama...

"Are you sure want to do it? 

"Yes, I am"

"You are not gonna hmmm... die, are you?"

Katanya sambil menatap aku lekat-lekat.

"No. I am not I have done it for couple years as other moslems as well"

"Well to me it doesn't make any sense" katanya sambil menggeleng-gelengkan kepala

Aku tak menyalahkan juga sih, mungkin wawasannya tentang Islam juga sangat sedikit karena boleh jadi karena jarang berinteraksi dengan lingkungan muslim ya.

Namun banyak juga expatriat lainnya, terutama saat aku bekerja di perusahaan tambang emas di pedalaman hutan Kelian, Kutai Barat, Kalimantan Timur beberapa tahun lalu, seperti yang aku tuliskan di sini kebanyakan mereka sudah akrab dengan keseharian muslim seperti kebiasaan mengucapkan salam, sholat, puasa, zakat, mengenakan hijab, lebaran dan lain-lain.

Kembali ke laptop!

Menurut Yasmin, memang memerlukan pengorbanan berpuasa di negara yang minoritas muslim.
Benar-benar keimanan diuji, karena semua harus dikerjakan sendiri.

... tidak ada yang mengingatkan sholat

... tidak ada yang mengingatkan puasa

... tidak ada yang mengingatkan ngaji

dan lain-lain.

Saat tidak menegakkan sholat tidak ada yang perduli, saat makan di restoran di bulan ramadan tak ada yang nyinyir dan sebagainya.

Jadi benar-benar banget melakukannya semata karena Ilaahi Robbi, Insya Allah, Insya Allah.

Begitulah, selama kurang lebih sebulan Yasmin menjalankan ramadan di negeri sakura, tentu saja dipotong masa menstruasi ya.

Ramadan di Negeri Sakura Banyak Cobaan 

Ramadan di negeri sakura banyak cobaan, iyesss!

Dimulai dengan sahur.

Yup, Yasmin harus bangun sendiri dengan menyetel alarm.

Beda saat dengan di Indonesia, Yasmin tinggal makan, karena aku sudah menyiapkan semuanya, jadi, tinggal sorong deh, bahahaha.

Menurut Yasmin menu sahurnya berganti-ganti antara ramen (mi instant), sup instan, ayam goreng, nasi dan lain-lain. Kadang-kadang jika ada sisa makan malam yang masih layak, dipanaskan lagi.

Masih menurut Yasmin (lagi) nih, nasi di Jepang itu sangat pulen. Jadi makan nasi saja sudah nikmat banget! Apalagi susu Jepang, nikmatnya tiada tara!

Aku bisa membayangkan kelezatan dua makanan ini hanya dengan memandang sorot mata, ekspresi dan aura doi ketiga berbagi cerita. Biasanya doi jarang banget tuh memuji-muji makanan. Berarti da best banget lah!

"Pernah gak sahur?" tanyaku kepo

"Sering, hahaha" jawab Yasmin terkekeh

"Why?"

"Pas alarm bunyi, dimatikan, tunggulah sebentar lagi, eh ternyata, keterusan, Bunda"

Hmmm... aku cuma bisa nyengir, kalau sudah begini.

"Kalau buka, gimana?"

"Biasanya bareng keluarga angkat bunda, menunya seperti makan malam biasa"

"Sebutin dong apa saja!"

"Waduh, banyak bunda, sudah gak ingat lagi, yang pasti yang seperti sahur, ada nasi, daging, ayam, oseng sayuran, buah segar seperti tomat dan timun"

"Pernah makan di restoran?"

"Jarang banget bunda, kayaknya host family Yasmin lebih suka makan di rumah, lagi pula makan di restoran di Jepang itu mahaaaaal banget! Biasanya kalau ada nenek dan kakek datang baru deh kita sesekali makan di restoran, kayak family time, gitu"

"I see"

ramadan di negeri sakura
Yasmin bersama jamuan keluarga besar host family
Melihat foto di atas, pengalaman dan kenangan saat ikut perjalanan Ibu Cerdas Attack Goes to Jepang, menikmati Sensasi Lift dan Eskalator Transparan di Umeda Sky Building dan Osaka Castle Istana di dalam Taman pun langsung berkejaran di ingatan.

Semoga kelak bisa menjejakkan kaki lagi di negeri sakura ini. Aamiin.

Cobaan lainnya, karena memang Islam minoritas di Jepang, adalah sangat sulit menemukan mesjid. Bahkan di distrik Asaminami-ku Hiroshima, tempat tinggal Yasmin belum ada mesjid.

Jadi yang punya kebiasaan tarawih di mesjid tiap hari, bisa dipastikan akan skip ke mesjid nih. Tarawihnya di rumah saja ya.

Pusat komunitas muslim  terdekat ada di distrik Higashi-ku, tepatnya di The Islamic Cultural Center yang berjarak hampir 280 km dari Asaminami-ku, dengan jarak tempuh kurang lebih 3.5 jam.

"Kalau sholatnya, gimana Yasmin?"

"Biasanya, Yasmin sholat di kamar, di rumah, Bun. Sholat Zuhur dan Ashar di qadha di Ashar, Magrib dan Isya di qadha juga, dikerjakan saat Magrib atau juga kadang di Isya"

Meski sebenarnya ukuran apartment keluarga itu kecil, host family Yasmin dengan senang hati mengalokasikan satu kamar untuk Yasmin. Keluarga kecil itu rela berbagi kamar dengan putrinya yang berusia 10 tahun.

"Pernah mengikuti aktivitas ramadan dengan komunitas muslim selama di Hiroshima, Yasmin?"

"Tak pernah, Bunda. Soalnya Yasmin pulang sekolah sudah sore, sudah lelah banget, pengen istirahat saja di rumah. Paling banter taraweh dan membaca Alquran di kamar"

"Terus, reaksi teman-teman Yasmin di sekolah gimana, kalau pas jam makan siang?"

"Biasa saja tuh bunda, mereka tetap saja makan di kelas seperti biasa"

"Tak ada yang bilang seperti ini, maaf ya, kami mau makan dulu"

"Hahaha, gak ada tuh Bunda, mereka biasa saja, yah seperti hari biasa lah"

Waduh, aku bisa membayangkan saat ramadan Yasmin harus mencium-cium aroma kuliner teman-temannya yaa, di jam lapar pula. Sungguh cobaan yang menggoda iman!

Cobaan lain adalah karena ini menjelang musim panas, waktu siangnya lebih panjang, 16 jam, which is berarti harus menahan lapar lebih lama ketimbang di Indonesia yang hanya 13-14 jam.

Tetapi jika dilihat dari sisi berbeda, alhamdullillah kesempatan untuk mendapatkan pahala juga lebih lebar ya. Panjangnya siang otomatis mengakibatkan durasi malam hari lebih singkat. Hal ini tentu juga menjadi tantangan sendiri karena rawan bangun telat.

Cobaan lainnya lagi adalah karena mayoritas non muslim tentu saja banyak orang yang tidak puasa di setiap sudut kota. Restoran dan pusat perbelanjaan pun bebas berjualan kuliner di pelupuk mata.

Tak ada perubahan gaya hidup selama ramadan, restoran, mall dan kantor tetap dengan aktivitas seperti biasa. Tidak ada kebijakan seperti di Indonesia misalnya, masuk kantor bisa agak sedikit siang dan pulang kerja bisa lebih cepat seperti yang pernah aku alami sebelumnya.

Ramadan di Negeri Sakura Itu Sarat Tantangan

Dari semua uraian Yasmin di atas aku membuat kesimpulan bahwa ramadan di negeri sakura itu sarat tantangan!

Dengan semua daftar cobaan, kita ditantang untuk menunaikan ibadah ramadan lebih baik dan lebih kuat di negeri sakura ini karena memiliki nuansa yang sama sekali berbeda dengan negeri kita sendiri.

Terutama Yasmin yang bersekolah di private schooll yang mayoritas siswa-siswinya non muslim yang tidak berpuasa, aku yakin pasti mengalami tentangan tersendiri terutama saat jadwal makan siang dan melakukan aktivitas yang menguras tenaga.

Syukurlah, menurut Yasmin, selama bulan puasa, doi mendapatkan dispensasi dari sekolah, diizinkan tidak mengikuti aktivitas yang menguras tenaga.

Alhamdullillah, karena mungkin sudah terbiasa puasa saat ramadan di Indonesia, dan saat itu, Hiroshima juga sedang peralihan dari musim semi ke musim panas, sehingga suasana iklim dan cuaca tak jauh berbeda dengan di Indonesia, Yasmin bisa melewati ramadan di negeri sakura dengan lancar.

Aku percaya, ramadan di negeri sakura pastilah spesial ya, karena tidak mendengar azan yang saling bersahutan, aneka panggilan sahur, pemberitahuan imsak dan berbuka serta  jarang menemukan mesjid selayaknya di Indonesia.

Bahkan suatu hari, bisa jadi malah merindukan warna-warni pengalaman ramadan di negeri sakura ini saat kembali ke tanah air nanti.

Semoga warna-warni pengalaman ramadan di negeri sakura ini bermanfaat ya.

Ayo, siapa nih yang pernah ramadan di negeri orang atau punya pengalaman unik saat ramadan?

Yuk, cus sharing pengalaman di kolom komentar di bawah ini ya. Ditunggu...


Bersama Ringankan Lara dengan Peduli Sehat Galang Dana Online

galang dana online

Bersama Ringankan Lara dengan Peduli Sehat Galang Dana Online. Aku masih ingat, beberapa waktu lalu, sekitar tahun 2013, satu artikel penggalangan donasi kesehatan dari situs galang dana online muncul di beranda facebook

Ini adalah fenomena baru untukku, saat itu.

Yup, aku baru tahu bahwa penggalangan donasi kesehatan bisa dilakukan secara online!

Terus terang, saat itu aku masih agak sedikit sinis dengan galang dana online, mengingat masih maraknya modus penipuan yang mengatasnamakan penggalangan dana. Walau begitu, artikel itu tetap saja sih aku baca untuk meningkatkan kewaspadaan sekaligus juga wawasan.

Dan hei ternyata... sejak saat itu, seiring dengan tumbuhnya pengguna internet di Indonesia, sebagaimana dilaporkan hasil survey dari APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) kegiatan  galang dana online pun kian menjadi trend.

galang dana online

Padahal biasanya urusan dana ini adalah "sensitif" bagi masyarakat.

Kehadiran situs penggalangan donasi online ini juga merambah ke dunia kaum selebriti dan publik figur yang mendapat kemudahan untuk menggunakan ketenaran dan kepopuleran mereka untuk menginspirasi berbagai pihak dalam hal yang positif.

Yang paling marak salah satunya adalah donasi ulang tahun, seperti yang dilakukan Raisa Andriana dan Vidi Aldianto.

Tahukah kamu?

Galang dana online bisa menjadi jawaban untuk membantu meringankan beban saudara kita terutama bagi mereka yang jauh dari jangkauan hidup sehat atau yang belum memiliki gaya hidup sehat, menderita sakit kritis dan terpaksa tidak bisa mendapatkan akses perawatan karena tidak memiliki biaya berobat.

Terutama untuk golongan masyarakat bawah, yang memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari saja sudah kesulitan apalagi konon memikirkan biaya kesehatan.

Aku pernah menyaksikan sendiri saat dirawat di rumah sakit pasca bedah mulut gigi geraham karena infeksi geraham akut, ada beberapa pasien yang terlambat mendapat penanganan karena ketiadaan biaya pengobatan dan belum tersedianya fasilitas kesehatan yang memadai di sekitar domisili.

Namun ada juga yang memang terlambat mendapat penanganan, selain karena ketiadaan biaya pengobatan plus karena kurangnya pengetahuan tentang penyakit yang diderita, seperti yang pernah aku dapatkan dalam materi seminar penyebab pencegahan dan pengobatan kanker prostat beberapa waktu lalu.

Bukan itu saja, fenomena ini juga dialami golongan menengah ke atas lho, yang harus berjuang untuk mengobati sakit kritis secara kontinyu yang kadang berujung kematian karena pada akhirnya sudah tidak memiliki lagi dana untuk melanjutkan biaya pengobatan.

Nah, untuk itulah layanan penggalangan donasi kesehatan online seperti Peduli Sehat hadir memberikan solusi, membantu meringankan lara!

Namun berhati-hatilah!

Niat baik ini sering kali dimanfaatkan oleh pihak-pihak tidak bertanggungjawab yang ingin mencari keuntungan pribadi atau kelompok.

Jadi, penting banget mengetahui platform lembaga donasi galang dana yang kredibel melakukan galang dana online agar donasi tepat sasaran!

Lebih Dekat dengan Peduli Sehat Galang Dana Online
Peduli Sehat hadir sebagai wadah yang menawarkan layanan penggalangan donasi kesehatan secara online, realtime dan transparan!

Peduli Sehat berfokus pada pasien yang menderita penyakit kronis serta tidak memiliki cukup dana perawatan, berobat untuk bertahan hidup dikarenakan tidak cukup biaya untuk menutupi biaya lain seperti biaya obat dan susu untuk pasien balita, alat medis penunjang kesehatan) yang tidak dapat dibiayai oleh kartu BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan) atau JKN (Jaminan Kesehatan Nasional).

galang dana online

Peduli Sehat galang dana online ini bisa diakses melalui www.pedulisehat.id atau melalui aplikasi Peduli Sehat di Play Store, dan juga akan segera hadir di iOS.

Metode  Peduli Sehat Galang Dana Online 
Galang dana donasi kesehatan ini bisa dilakukan dengan 2 cara :

1. Perorangan/Individu
2. Organisasi/NGO

Untuk bisa menggalang donasi online, penggalang dana harus melakukan beberapa rangkaian prosedur yang bisa diakses di situs www.pedulisehat.id di bagian Syarat dan Ketentuan.

Semua data yang diterima juga akan diverifikasi dan bahkan jika diperlukan Peduli Sehat berhak melakukan verifikasi lanjutan serta investigasi terhadap sebuah kampanye yang dianggap patut untuk ditelusuri.

Diagnosa penyakit adalah bagian krusial dalam verifikasi galang dana online ini agar bisa mendapatkan donasi kesehatan.

Verifikasi juga dilakukan terhadap rumah sakit yang memberikan surat keterangan, data pasien serta hasil diagnosis.

Dengan beberapa rangkaian prosedur verifikasi, Peduli Sehat beritikad menjadi platform penggalang donasi kesehatan online yang terbaik dan kredibel, lebih mudah, efektif dan tepat sasaran!

Tertarik menjadi penggalang donasi kesehatan?

Silahkan mencoba sendiri layanan donasi online ini.

Cara Donasi Peduli Sehat Galang Dana Online
Untuk memberikan donasi kesehatan di Peduli Sehat begitu mudah!

1. Masuk ke www.pedulisehat.id tanpa perlu login
2. Pilih kampanye

galang dana online

3. Klik Donasi
4. Masukkan jumlah donasi
5. Pilih metode pembayaran  yang tersedia, ada Virtual Account (BCA, Mandiri, Sinarmas, BNI, Danamon, MayBank, Permata),  Alfagroup, aplikasi pembayaran QR Code LinkAja, e-wallet (OVO dan GO-PAY) atau online banking (Danamon)
6. Tuliskan komentar (opsional)
7. Klik di bagian tulisan jika "ingin berdonasi sebagai anonim"
8. Klik selanjutnya
9. Masukkan Nama dan Nomor Telepon
10. Bagikan di media sosial

Mau tahu lebih banyak tentang kiprah Peduli Sehat?

Cus langsung kepoin instagram @pedulisehatindonesia

Di sana kita akan menemukan kampanye-kampanye yang sudah dilakukan terhadap saudara-saudara yang membutuhkan termasuk kisah-kisah di belakangnya.

Misalnya seperti kisah ananda Vica yang menderita hidrochepalus dan bibir sumbing, di mana target donasi sudah tercapai. Alhamdullillah.

Cepat sembuh ya sayang...

galang dana online

Oh iya,

Sebagai bahan pertimbangan, perlu diketahui juga bahwa Peduli Sehat sudah tercatat lho di Kemenkumham dengan No. AHU-0033383.AH.01.01 tahun 2018 dan Kominfo dengan No. 01204/DJAI. PSE/10/2018 serta diawasi Kementrial Sosial.

Jadi, tunggu apa lagi?

Mari bersama ringankan lara dengan Peduli Sehat galang dana online yang bisa dimulai dengan Rp 10.000