Mengintip Gaya Pengasuhan Negara Paling Bahagia Sedunia The Danish Way Of Parenting


Mengintip Gaya Pengasuhan Negara Paling Bahagia Sedunia The Danish Way Of Parenting

Mengintip Gaya Pengasuhan Negara Paling Bahagia Sedunia The Danish Way Of Parenting. Beberapa hari ini di beranda akun media sosial, postingan tentang The Danish Way Of Parenting, metode parenting Denmark, berseliweran.

Awalnya sih aku hanya membaca selintas saja, karena memang saat itu 'jam tayang utama', jadi ada banyak postingan yang sedang bersaing dan biasanya aku lebih 'melirik' artikel ringan (dulu) misalnya tentang perjalanan. Hitung-hitung buat pemanasan, giccu.

Baca juga : Begini Cara Mengetahui Waktu Ideal Publish Posting Blog

Sampai suatu hari, usai menyeruput secangkir teh hangat dan roti, hatiku dicuri kepsyen share FB di grup Kumpulan Emak Blogger dari mba Nabilla DP, parenting blogger Indonesia.

Ini sekaligus self reminder juga bahwa penting banget ya buat kepsyen yang mampu 'mencuri hati'. C-A-T-A-T!

Tulisan mba Nabilla mengajak aku berkenalan lebih dekat dengan buku The Danish Way Of Parenting, metode parenting Denmark. Yah, hitung-hitung buat pemanasan (lagi), sebelum mendapat kiriman bukunya. Hahaha... kode keras ne!

Jadi gini,

Meski putriku sudah menginjak usia remaja, tulisan tentang gaya pengasuhan (parenting) selalu mampu membiusku. Apalagi jika cara penjabarannya sederhana, mudah dicerna serta didukung dengan riset dan literasi yang valid.

"Betapa terberkati ya menjadi  seorang blogger, bisa menemukan hal baru, menambah wawasan sekaligus bahan inspirasi tulisan bahkan menciptakan peluang"

Baca juga: Ketahui Kiat Menciptakan Peluang Dari Blog

Biasanya saat membaca tulisan yang menarik selain membacanya berulang-ulang, aku juga membuat catatan, agar lebih paham dan nendang, (((nendang))) woi, piala dunia sudah usai, woi, xixixi. Fokus, fokus!

Baiklah!

Nah, sesekali aku juga akan membuka jendela baru di browser, mencari tulisan lain sebagai pembanding atau sekedar mengkonfirmasi  sumber tayangan infografik, apalagi untuk membuat tulisan yang 'berat' seperti parenting ini,  keabsahan data adalah mutlak!

Baidewei, subway, menurut situs verywell family.com ada 4 tipe parenting utama yaitu:

1. Authoritarian Parenting

"Ini adalah gaya pengasuhan di mana buah hati dituntut mengikuti perintah-perintah orangtua, cenderung keras, dan kerap menggunakan hukuman untuk mengendalikan serta kurang responsif terhadap kebutuhan"

2. Authoritative Parenting

"Orangtua dengan tipe pengasuhan seperti ini gemar berdiskusi dengan buah hati, memberikan kebebasan dan dukungan namun juga menetapkan peraturan dan batasan"

3. Permissive Parenting

"Apakah bunda termasuk orangtua yang tidak memberikan batasan dan aturan kepada buah hati? Gemar memanjakan buah hati? Nah bisa dipastikan  bunda adalah tipe orangtua dengan gaya pengasuhan seperti ini"

4. Uninvolved Parenting

"Ini adalah gaya pengasuhan orangtua yang acuh, tidak terlihat dalam kehidupan buah hati, tidak menetapkan batasan yang tegas serta tidak menetapkan standard yang tinggi"

Hal ini disebabkan karena orangtua telah mempunyai masalah sendiri. Misalnya depresi, sering alami penganiayaan fisik atau diabaikan ketika kecil.

Jadi, sekarang boleh deh kita tambahi yang ke 5 adalah The Danish Way Of Parenting.

Setuju?

Kira-kira, kita termasuk yang mana nih?

Tapi sebelum melangkah jauh kita semua harus sepakat ya bahwa setiap anak adalah unik, jadi gaya pengasuhan anak satu dengan yang lainnya bisa jadi berbeda-beda. Bahkan anak yang terlahir dari orang tua yang sama dengan gaya pengasuhan yang sama bisa jadi kelak memiliki kepribadian berbeda. Pernah mengalaminya?

Kembali ke laptop!

Pernahkah bunda memperhatikan keluarga atau mungkin tetangga yang memiliki kecenderungan semua anak-anaknya berhasil sukses baik karir dan rumah tangga, sementara kebalikannya ada juga keluarga yang porak-poranda, bahkan cenderung terperangkap dalam keadaan gulita, terus menerus.

Aku sepenuhnya percaya bahwa gaya pengasuhan orang tua sangat berpengaruh terhadap pengembangan kepribadian buah hati diikuti pengaruh lingkungan sekitar. 

Terlahir dari keluarga sangat sederhana, aku yakin sekali pasti ibuku dulu tak sempat laa membaca buku-buku gaya pengasuhan, apalagi yang seperti The Danish Way Of Parenting ini. Jadi aku paham sekali kalau beliau hanya meneruskan gaya pengasuhan warisan dari nenekku.

Lewat gaya pengasuhan dan interaksi dengan orangtua kita banyak belajar apa yang baik dan buruk, yang benar dan salah, serta kelak mau jadi orangtua seperti apa.

Meski genetik berperan mencetak blue print perkembangan potensi, tapi ia tidak mampu menjanjikan pertumbuhan buah hati seperti apa. Sebaliknya, lingkungan yang didesain orangtua lah yang akan menginstruksikan dan mengarahkan genetik, mau diloloskan keseluruhan atau di nonaktifkan sebagian. Singkat kata, parents are the true gene therapists!

Jadi, sebagi orangtua, bola ada di tangan kita sekarang ini, mau jadi apa dan seperti apa pertumbuhan buah hati. Terutama di beberapa tahun pertama fase kritikal pertumbuhan, buah hati bukan saja mengalami perkembangan bahasa dan komunikasi, dia juga sedang membentuk kepribadian.

Yup, pilihan ada di tangan kita, para orangtua!

Kalau menurut situs di atas sih sepertinya ibuku termasuk yang nomor 1 dan ayah nomor 3, hahaha. Gak kompak banget ya. Padahal dalam gaya pengasuhan penting tuh kekompakan orangtua. In my case, sepertinya gaya pengasuhan ibuku lebih dominan!

Aku juga bisa pastikan tentu saja gaya pengasuhan ibuku ada kurang lebihnya ya. Yang pasti, zaman waktu nenek masih hidup dan saat aku masih anak-anak tentu saja sudah jauh berbeda, tantangannya juga ikut berbeda.

Namun hei, ternyata, di Denmark justru gaya pengasuhan warisan turun temurun ini termasuk salah satu yang terbaik dan diakui dunia.

Haaa, terbaik? Tahu dari mana?

Jadi gini,

PBB, melalui UNSDSN (United Nations Sustainable Development Solutions Network), mengeluarkan laporan tahunan World Happiness Report (Laporan Kebahagiaan Dunia).

Masih menurut PBB, indikator kebahagiaan suatu negara diukur antara lain dari dukungan sosial, harapan umur sehat, kebebasan memilih pilihan hidup, pendapatan perkapita, persepsi terhadap korupsi, kedermawanan dan distopia.

Dan untuk  World Happiness Report 2018Gallup World Pool, sebuah organisasi jajak pendapat yang biasa menangani pooling presiden di Amerika Serikat, merilis hasil survei untuk PBB, negara-negara Skandinavia seperti Finlandia, Norwegia dan Denmark masing-masing memegang rekor puncak, negara dengan rakyat paling bahagia!

Yang bikin menarik dari hasil jajak pendapat ini adalah meski GDP (Gross Domestic Product) per kapita di Finlandia lebih rendah dari negara tetangganya di Skandinavia dan jauh lebih rendah dari Amerika Serikat yang bahkan tidak masuk dalam 10 besar, survei membuktikan Finladia menduduki ranking utama tahun 2018 ini

Ini artinya apa?

Artinya sekali lagi bahwa kekayaan tidak serta merta menjamin keluarga bahagia.

Puk-puk dada sendiri, xixixi.

Mengintip Gaya Pengasuhan Negara Paling Bahagia Sedunia The Danish Way Of Parenting
Sumber: sumber : http://worldhappiness.report/ed/2018/
Mengintip Gaya Pengasuhan Negara Paling Bahagia Sedunia The Danish Way Of Parenting
Sumber: sumber : http://worldhappiness.report/ed/2018/

Berikut urutan selengkapnya dari 5 besar sejak tahun 2016 sampai dengan 2018.

Mengintip Gaya Pengasuhan Negara Paling Bahagia Sedunia The Danish Way Of Parenting
Sumber : https://www.kaskus.co.id/

Pasti langsung pada kepo Indonesia urutan keberapa ya?

Pengen tahu, apa pengen tahu banget?

Untuk tahun 2018 ini, Indonesia urutan ke 96, jauh dari bahagia. Hiiksss.

Itulah kenapa kali ini kita perlu belajar dari gaya pengasuhan dari Denmark. Yuk beli bukunya!

Hahaha... kamu ketahuan! Jualan lagi deh dia.

Berikut bocoran halus kiat gaya pengasuhan ala orang Denmark, yang merupakan negara paling bahagia ke tiga tahun 2018 yang diakui dunia (PBB) menurut buku The Danish Way Of Parenting, yang aku ringkas dari berbagai sumber.

Secara garis besar gaya pengasuhan dalam buku ini menggunakan akronim P-A-R-E-N-T yakni Play, Authenticity, Reframing, Emphaty, No Ultimatums dan Togetherness.

Play - Biarkan buah hati cukup bermain karena anak memerlukan ruang untuk belajar dan tumbuh, Orangtua tetap ada dan hadir namun hanya untuk mengawasi.

Authenticity - Mengajarkan buah hati menjadi sosok otentik, apa adanya, jujur dan menghadiahkan pujian jika mereka bekerja keras dalam belajar.

Reframing - Mengajarkan buah hati untuk selalu melihat sisi terang dalam segala hal.

Emphaty - Mengajarkan buah hati untuk menempatkan diri di posisi orang lain dan tidak menghakimi.

No Ultimatums - Menghindari memakai kekuatan sebaliknya mencintai metode pendekatan dengan buah hati.

Togetherness - Menerapkan konsep prinsip kebersamaan, kenyamanan serta kehadiran dengan buah hati.

Aku yakin pasti makin kepo sama buku The Danish Way Of Parenting ini ya. Tos atuh laaa...!

Buah hati adalah tanggung jawab terbesar orangtua sepanjang hidup. Mengasuh mereka merupakan kewajiban sekaligus tantangan.

Mari kita sama-sama menanamkan bahwa mengasuh buah hati bukan tekanan tetapi hal yang menyenangkan!

Baidewei, subway, aku juga setuju banget sama pernyataan bahwa memang tidak ada gaya pengasuhan yang betul-betul benar! Karena eh karena setiap anak itu unik. Jadi gaya pengasuhan pun subyektif!

Tapi, tak ada salahnya mengadopsi gaya pengasuhan dari negara paling bahagia sedunia kan ya, yes, give it a try, shall we?

Tugas kita sebagai orangtua atau calon orang tua untuk belajar dari mana saja, sedini mungkin, bahkan kadang jauh sebelum buah hati lahir.

Lagi-lagi karena terlahir dari keluarga sangat sederhana, aku ingat sejak duduk di sekolah dasar ibu sudah mengajarkan kami bertanggung jawab seperti mengangkat peralatan makan sendiri ke tempat cucian, membereskan tempat tidur dan masing-masing kami memiliki daftar tugas harian, mingguan dan bulanan.

Dulu aku sempat menganggap ibu adalah orang tua yang keterlaluan, masak anak kecil sudah punya tugas sih.

Ternyata itu cikal bakal agar kelak kami punya rasa tanggung jawab dan mental mandiri!

Ibu juga sering mengingatkan agar kami punya tabungan jika menginginkan sesuatu, meski jarang banget dikasih uang lebih, hahaha... Ternyata itu cara halus ibu membentuk agar kami punya mental 'hero' dan kudu berjuang untuk mendapatkan sesuatu.

Namun ada juga beberapa gaya pengasuhan ibu yang tidak akan aku adopsi seperti kurangnya managemen emosi alias gampang naik darah.

Aku percaya ini mungkin ada kaitan dengan keadaan finansial rumah tangga yang saat itu sangat-sangat sederhana.

Sedangkan untuk buah hatiku, the one and only, Yasmin, jauuuh sebelum aku mengandungnya, aku sudah berjanji akan melakukan improvisasi dalam gaya pengasuhan, tak perduli dengan pendapat orang, karena aku sepenuhnya yakin, akulah yang paling tahu yang terbaik buat buah hatiku!

Apalagi saat Yasmin lahir, saat itu sudah memasuki era millenial. Tak mungkin aku menggunakan gaya pengasuhan yang sama seperti aku kecil dulu.

Aku berusaha untuk mengikuti gaya parenting nomor 2, Authoritative Parenting,  dengan kekurangan di sana sini, tentu saja. Apalagi aku manusia, tempatnya khilaf meraja.

Yang pasti, sampai saat ini aku masih terus belajar dan belajar, serta berbagi dengan dunia tentang gaya pengasuhan, karena itu tadi, setiap anak adalah unik!

Baca juga : Cara Hebat Eksplor Bakat

Sebagai penutup, aku berharap kelak bisa berbagi materi lengkap The Danish Way Of Parenting, buku yang disusun berdasarkan riset, mengadopsi gaya pengasuhan yang baik, untuk generasi Indonesia yang lebih baik! Insya Allah.


Referensi:

http://worldhappiness.report/ed/2018/
http://bentangpustaka.com/read/33957/yuk-kenalan-dengan-the-danish-way-of-parenting--gaya-mengasuh-anak-ala-orang-denmark.html
https://www.idntimes.com/news/world/meita-eryanti/pelajaran-mengasuh-anak-dari-denmark-negara-terbahagia-di-dunia-c12/full
https://www.liputan6.com/health/read/2847973/6-cara-praktikkan-hygge-rahasia-bahagia-orang-denmark
https://www.kaskus.co.id/thread/5ab17bf796bde6de688b4568/7-alasan-kenapa-negara-negara-skandinavia-jadi-negara-paling-bahagia-di-dunia/
https://www.kaskus.co.id/thread/5aaea7ccdad77020328b4568


Gili Trawangan Jadi Destinasi Kesayangan Wisatawan, Mengapa?

Gili Trawangan Jadi Destinasi Kesayangan Wisatawan Alasannya
Ayunan ikonik di depan Vila Ombak yang hits itu!
Gili Trawangan Jadi Destinasi Kesayangan Wisatawan, Mengapa?  "Jam berapa besok di jemput, Bu?"

Pak Salim, local guide kami bertanya sesaat setelah mengantarkan kami pulang ke hotel di Senggigi.

"Bisa lebih cepat Pak, jam delapan pagi?"

Gili Trawangan Jadi Destinasi Kesayangan Wisatawan Alasannya
Iconic swimming pool view Bukit Senggigi Hotel
Aku meminta satu jam lebih cepat dari jadwal hari pertama karena sudah tak sabar ingin eksplor dan mencari tahu alasan kenapa Gili Trawangan jadi destinasi kesayangan wisatawan mancanegara a.k.a wisman maupun wisatawan domestik a.k.a wisdom.

Bahkan situs brilio.net menjadikan propinsi NTB sebagai posisi nomor satu untuk destinasi wisata halal tanah air, mengalahkan Aceh, Sumatera Barat, Jawa Timur bahkan Yogjakarta.

Sore itu kami memutuskan untuk istirahat lebih cepat dan hanya ke luar dari hotel menikmati surya tenggelam dari simpang jalan tak jauh dari Bumi Senggigi Hotel sembari melahap jagung bakar 3 rasa, asin, manis dan pedas. Amboi, nikmatnya!

Semoga besok mestakung, semesta mendukung, doaku dalam hati sesaat mematikan lampu peraduan dan menjemput impian.

Eh, satu lagi, postingan ini akan panjang dan banyak penampakan, jadi siapkan camilan, tahukan? Itu lho cecudah celapan cebelum cepuluh, camilan! ^^

***

Jam setengah sembilan Pak Salim dan supir tiba. Agak telah sih.

"Insya Allah, gak pa-pa Bu, masih sempat kog eksplor semua destinasi hari ini"

Pak Salim seperti bisa membaca pikiranku.

Baiklah, Bismillah, semoga demikian adanya, aamiin.

Toyota Kijang Innova yang kami tumpangi tahunnya sudah agak lama. Duh, lupa tepatnya tahun berapa. Namun terlihat sangat dirawat. Sama laaa kayak cinta juga, kudu dirawat, eh gimana? Hahaha.. tuh, jadi curhat.

Perjalanan ke Gili Trawangan ini sendiri merupakan bagian dari paket wisata Lombok, grand prize, kontes #mobilimpian dari Mobil123.com. Aku mengikuti kompetisi ini selama satu bulan penuh di facebook dan mengumpulkan poin tertinggi.

Baiklah, sebelum memulai petualangan, cieee, (((petualangan))), berikut beberapa persiapan agar eksplor Gili Trawangan jadi pengalaman tak terlupakan!


1. Sediakan pakaian ganti jika ingin berbasah-basah ria
  • Kecuali kalau kamu memang menginap di sini, hal ini tentu tak perlu.
2. Oleskan sunblock karena kegiatan akan banyak terpapar matahari

3. Periksa sekali lagi semua kelengkapan fotografi seperti kamera, gadget, power bank, tongsis, memori card dan tentu saja membawanya ya, hahaha...

4. Lengkapi properti fotografi seperti kaca mata, topi, selendang, topi pantai atau produk endorse (jika ada, hahaha...) karena akan banyak spot cantik di sini, demikian 'bocoran halus' dari internet.

Tak lupa juga sandal atau sepatu ringan jika ingin berkeliling Gili Trawangan dengan berjalan kaki.

Tapi pilihan lain juga ada, seperti menyewa cidomo Rp 75.000/hari atau bersepeda cantik dengan Rp 50.000/hari).

Menurut pak Salim rute kami kali ini akan menyusuri pantai Senggigi, melahap keindahan panorama Bukit Malimbu 2 atau Bukit Malaka dan akhirnya sampai di pelabuhan Bangsal Pemenangan dan menyeberang ke Gili Trawangan.

Gili Trawangan Jadi Destinasi Kesayangan Wisatawan Alasannya
Pose di Bukit Malaka biar gak hoax!
Are you ready guys...?

Waspadalah, waspadalah akan banyak penampakan yang mampu membuatmu menyesal banget liburan ke Lombok!

What...?

Iya, menyesal, karena akan ingin kembali lagi, xixixi...

Serius amat!

Menurut wikipedia Lombok terdiri dari 5 wilayah pemerintahan yaitu:

1. Pemerintah Kota Mataram
2. Pemerintah Kabupaten Lombok Barat
3. Pemerintah Kabupaten Lombok Timur
4. Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah
5. Pemerintah Kabupaten Lombok Utara

Pantai Senggigi, Bukit Malimbu dan Gili Trawangan termasuk dalam objek wisata di Lombok Barat.

Kesan pertama sejak mobil bergerak meninggalkan hotel adalah jalan utama yang mulus dan kelihatan baru diadakan pengecatan ulang marka jalan. Warna putih di bagian tengah dan kanan-kiri jalan begitu jelas dan sangat kontras dengan warna aspal yang hitam legam. Keren.

Jadi tambah semangat ne!

Pagi itu jalan utama masih sepi. Mentari mengintip malu dari balik tajuk pepohonan yang berbaris di kedua sisi jalan.

Sangat kontras jika kita ke luar di saat malam. Kafe di kanan-kiri jalan sangat semarak dengan aneka lampu hias dan aktivitas wisatawan mancanegara.

Yup, sama seperti di Campuhan Ridge Walk Ubud, Senggigi didominasi wisman juga, guys.

Aku dan babang suami hanya sesekali berbicara, terbius keindahan panorama sepanjang perjalanan. Tajuk rapat pepohonan yang seakan berkejaran berselang-seling dengan garis pantai yang mengintip , menggoda sesekali dari balik pepohonan.

Sinar mentari yang lolos dari lekuk tajuk dedaunan, menciptakan view unik di tengah jalan hitam pekat.

Sesekali kami melewati perkampungan penduduk yang masih sepi aktivitas. Tapi aku sempat melihat sekilas sekelompok kerbau gemuk melahap rumput hijau sambil mengibas-ngibaskan ekornya. Rasa damai dan bahagia tak ayal perlahan merayap, menjalar. Bahagia memang sederhana, fix!

Sungguh keindahan panorama perjalanan dari Senggigi melalui rute Bukit Malaka menuju Gili Trawangan sangat memanjakan mata!

"Kita akan berhenti di Bukit Malimbu dua atau Bukit Malaka"

Pak Salim memecah keheningan pagi dan tak lama mobil melambat dan akhirnya berhenti.

"Silahkan dibawa properti foto-fotonya, Bu"

Tanganku segera meraih ulos Batak yang sudah aku siapkan sejak dari hotel tadi pagi. Sudah lama banget aku memimpikan momen ini. Berbagi eksotika ulos Toba di destinasi-destinasi wisata indah.

Sebuah bis ternyata sudah parkir manis di sana.

Ya ampun, tempat ini selayaknya pasar kaget, saudara-saudara!

Ada banyak penjaja souvenir, termasuk properti fotografi seperti topi pantai yang bikin ngiler tingkat dewa. Rasanya pengen diborong, bruakakaka... Modelnya itu lho, asli bikin mupeng.

Ya Allah, pelihara hamba dari perilaku konsumtif yang bisa menggila, bisikku lirih di dalam dada, sembari memegang beach hat yang memang sudah aku siapkan sejak dari Balikpapan.

Iya, doi sudah menemani aku hampir 2 minggu ini. Mulai dari Balikpapan, Jakarta, Maribaya dan kini di Lombok.

Begitu melihat kami mendekat, penjaja segera mendaratkan 'bisikan' demi 'bisikan' menggoda, hahaha...

"Dipilih Bu, cuma sepuluh ribu, sebagai harga pembuka, mumpung masih pagi ucap ibu sambil menunjukkan kalung mutiara"

"Ini mutiara air tawar, ayo silahkan dilihat dulu, Bu"

Sebaris senyuman aku hadiahkan namun tetap saja mataku melirik penuh selidik. Hihihi...

Wow, ternyata makin ke dalam semakin ramai orang yang sedang unjuk ekspresi (baca : selfie). Agaknya penumpang bis yang tadi kami lewati.

Mendengar sekilas pembicaraan sepertinya mereka rombongan turis domestik, yang terdiri dari berbagai usia, dari anak-anak hingga dewasa.

Aku sempat merekam beberapa dialog mereka gunakan dalam bahasa Jawa bercampur dengan bahasa Indonesia. Riuh sekali.

Ada yang sendiri, berpasangan serta dengan keluarga.

Yang paling seru sesi wefie bareng keluarga. Suami yang merangkap fotografer dadakan sedang memberi arahan. Namun sayang pasangan tidak sepakat. Akhirnya mereka bertukar spot lagi. Hasilnya masih kurang memuaskan, mereka mencoba pose lagi.

Untunglah hal itu tak berlangsung lama karena mereka menyadari kami yang sudah dari tadi stand by jadi penonton menunggu spot yang sama juga, hahaha.

"Dari sini kita bisa melihat 3 Gili, Bu, itu yang di ujung Gili Trawangan, di tengah Gili Menok dan paling kecil Gili Air, demikian jelas Pak Salim"

Gili Trawangan Jadi Destinasi Kesayangan Wisatawan Alasannya
Bisakah kamu menemukan Gili Trawangan di foto? 
Kami langsung memutar badan mengikuti telunjuk Pak Salim.

Masya Allah, indah nian!

"Sini Bu, saya bantu foto berdua, ujar Pak Salim lagi"

"Terima kasih Pak!"

Enjoy the view guys...

Gili Trawangan Jadi Destinasi Kesayangan Wisatawan Alasannya
Pose pemanasan menuju 25th anniversary...

Gili Trawangan Jadi Destinasi Kesayangan Wisatawan Alasannya
Mencoba menerawang masa depan 

Gili Trawangan Jadi Destinasi Kesayangan Wisatawan Alasannya
Meski panas melibas, tetap pose, demi apa coba...!
Kalau sudah foto-foto di tempat kece begini bikin suka lupa diri. Sampai akhirnya kehabisan gaya, hahaha... (((kehabisan gaya)))

Panas yang menyengat hadir bagai alarm pengingat. Akhirnya dengan separuh nafas eh hati kami meninggalkan tempat eksotik ini. Semoga bisa berjumpa lagi.

Bis besar tadi juga sudah pergi. Jadi, bisa pose deh di tulisan ikonik ini.

Gili Trawangan Jadi Destinasi Kesayangan Wisatawan Alasannya
Ulos Tapanuli rasa Lombok
Rasa haus segera menyergap ketika kami masuk dalam mobil. Terasa aliran keringat merambat cepat. Aku biarkan jendela mobil terbuka sejenak untuk mengeluarkan hawa panas dari dalam mobil yang dari tadi terparkir di pinggir jalan.

Panorama indah selanjutnya mampu mengusir gerah. Kembali kami dalam pelukan tajuk pohon di kanan-kiri jalan.

Jalanan mulus bikin perjalanan semakin menyenangkan plus harapan akan segera membasuh rindu bertemu dengan Gili Trawangan yang telah lama aku impikan.

Akhirnya tibalah kami di pelabuhan Bangsal Pemenang.

Turun dari mobil, Pak Salim langsung menuju pelabuhan speedboat, bicara dengan motoris, tak sampai 5 menit kami sudah diminta naik.

Saat menulis artikel ini, iseng aku tanya mbah Google, ternyata harga umum public boat menyeberang dari Bangsal ke Gili Trawangan berkisar Rp 15.000 per orang. Jadwal mulai jam 0800WITA - 1700WITA plus retribusi masuk ke 3 Gili Rp 2.000 per orang - untuk info lebih lanjut bisa klik http://www.marijelajahindonesiaku.com

Nah di sini pentingnya membawa sandal, karena bisa langsung dicopot, masukin tas plastik atau langsung lempar ke dalam laut, eh bukan laaa, maksudnya ke dalam boat. Tapi pastikan belum ada orang di dalam ya, nanti bisa kena timpuk sandal, hahaha.

Kebetulan hanya kami bertiga penumpang yang dibawa plus motoris dan helper, total 5 orang.

Pagi itu cuaca cerah sekali! Thanks GOD!

Semilir angin, lukisan awan dan view yang ditawarkan, dijamin bikin nyesal ke Lombok! Karena eh karena pasti ingin mengulang lagi dan lagi. Nah loe!

Hanya 25 menit kami sudah mendarat di pelabuhan Gili Trawangan. Kecepatan boat biasanya dipengaruhi besar kecilnya amalan loe eh gelombang laut.

Sesaat menjelang boat menepi, mendadak aku langsung ingat view di Sangalaki Pulau Tanpa Penghuni dan Maratua. Bening air laut dan suasana nyaris sama. Huuuaaa, jadi pengen ke sana lagi.

Woiii, fokus woiii, ini masih tentang Lombok ne!

Sejauh mata memandang wisatawan mancanegara a.k.a wisman mendomidasi destinasi ini. Beberapa wisatawan domestik nyempil alias nyaris tak terlihat.

Berasa turis akuuh... dan langsung meraih kaca mata. Kog mendadak gelap yaa, hahaha...

"Silahkan, Pak, Bu, eksplor Trawangan, barang-barang bisa ditaruh di sini, saya akan menjaganya, Pak Salim langsung membawa kami ke spot tempat duduk"

Aktivitas harian Gili Terawangan segera terekam. Cidomo, sepeda dan wisatawan berlalu-lalang. Yang bikin istimewa tingkat dewa, takkan ada polusi karena asap knalpot di sini. Untuk menjaga kualitas udara, kendaraan bermotor tidak diizinkan beroperasi, klakson free!

Namun sangat disayangkan kebersihan sepertinya belum jadi panutan, namun eksotika Trawangan mampu menutup itu semua. Terbukti wisatawan tetap menjadikan Gili Trawangan menjadi destinasi kesayangan.

Kami memutuskan untuk berkeliling Gili Trawangan dengan... berjalan kaki, seperti yang pernah kami lakukan saat piknik seru di pulau tanpa penghuni di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Kami memulai dari sebelah kanan. Pilihan random saja, tidak ada alasan khusus.

Lima belas menit pertama lalu-lalang wisatawan masih ramai.

Di kanan-kiri jalan banyak tersedia aneka layanan mulai dari warung kuliner, berbagai pilihan akomodasi, penyewaan alat snorkeling, counter agent pilihan paket wisata hoping island, agen transportasi penyeberangan ke Bali sampai lokasi jual-beli souvenir.

Gili Trawangan Jadi Destinasi Kesayangan Wisatawan Alasannya
Meleleh sama kepsyennya...!
Kami sempat bertemu dan nogbrol dengan pasangan wisman dari Milan, Itali yang juga baru mendarat dan berjalan kaki mencari penginapannya 'Wilson Retreat'.

Sambil berjalan beriringan aku bertanya dari mana mereka tahu tentang Gili Trawangan?

Hampir serentak mereka menjawab dari referensi teman plus ditambah informasi dari internet.

Sungguh jauh di libuk hati, aku merasa bangga sekali!

"Kalau kamu dari mana?"

Mereka balas bertanya.

"Me... me an Indonesian, but my domicile is in Balikpapan, East Kalimantan!"

"Where is it?"

Lalu aku menjelaskan bahwa Indonesia terdiri dari 5 pulau besar dan aku mendiami salah satu pulau besar itu, namun sayang sekali mereka tidak tahu di mana tepatnya Kalimantan. Dan aku tidak sampai hati ingin menjelaskan, karena sepanjang perjalanan, wisman wanita itu rupanya sangat tersiksa dengan panasnya cuaca saat itu.

Mereka hanya tahu Bali dan Borobudur, hehehe...

Untunglah Wilson Retreat segera terlihat dari kejauhan dan setelah berbagi salam kami pun  melanjutkan perjalanan.

Kami juga menemukan beberapa persimpangan yang ternyata jalan pintas untuk mengelilingi pulau dan batas jalur cidomo. Aku penasaran mengapa jalur cidomo dibatasi.

Namun hal itu tak berlangsung lama karena beberapa menit kemudian rasa ingin tahuku segera berlabuh.

Ternyata ada satu spot dimana garis pantai hanya tersisa untuk seluas ukuran kaki berjalan di atas semen konkrit, yang berbatas langsung dengan tepi laut dan karang-karang kecil. Itulah kenapa cidomo tak bisa sampai ke sini.

Dan di sini juga aku sadari bahwa hirup-pikuk pelabuhan sudah tak ada lagi. Hanya ada nyanyian  ombak, desau angin, formasi awan, langit biru dan kekasih hati, uhuiii...

Untuk mengurangi penat sesekali kami berhenti untuk minum air dan yup tentu saja berbagi ekspresi dengan eksotika Gili Trawangan.

Gili Trawangan Jadi Destinasi Kesayangan Wisatawan Alasannya
Pose impian itu...!
Makin menjauh dari pelabuhan desain akomodasi juga semakin mewah dan sarat privasi.  Bahkan beberapa spot di depan akomodasi hanya diperuntukkan untuk tamu hotel yang bersangkutan.

Hmmm... aku bisa membayangkan pasti harga yang ditawarkan juga pasti cukup 'lumayan'.

Ada harga ada rupa, tentu saja ya!

Terbukti saat aku menuntaskan tulisan ini, iseng aku browsing ke internet, untuk kelas small luxury hotel harga yang ditawarkan bergerak dari tujuh ratusan ribu hingga ke tiga juta rupiah permalam.

Tapi hei, jangan berkecil hati. Kita bisa juga kog menemukan hotel budget di sini. Cuma ya tentu saja view yang ditawarkan pasti jauh berbeda. Puk-puk dada sendiri, xixixi...

Dalam hati aku sebenarnya ingin banget menginap di sini, menggenapkan kenangan, menikmati sensasi terbit dan tenggelamnya sang mentari bersama pujaan hati, cie...cie...

Gili Trawangan Jadi Destinasi Kesayangan Wisatawan Alasannya
Penampakan akomodari eksklusif

Gili Trawangan Jadi Destinasi Kesayangan Wisatawan Alasannya
Masih tentang akomodasi eksklusif
Namun karena kami sudah memilih paket menginap di hotel di Bumi Sengigi, jadi keinginan ini kami simpan dulu di sanubari. Siapa tahu ada rezeki bisa ke sini lagi. Aamiin.

Hampir satu setengah jam kami berjalan, kini keriuhan kembali menerjang. Agaknya kami sudah mendekati areal pelabuhan lagi.

Aku ingat tadi di awal Pak Salim berkata bahwa biasanya untuk mengelilingi Gili Trawangan diperlukan 2 jam dengan kecepatan normal. Mungkin maksudnya dengan total waktu sambil berfoto-foto kali ya. Sayang aku lupa mencatat persisnya jam berapa tadi kami mulai bergerak.

Yang aku ingat sekarang perut mulai protes minta diisi, xixixi...

Beberapa payung warna hijau mengintip dari kejauhan bersinergi dengan umbul-umbul warna-warni. Cantik nian!

Semakin dekat semakin terlihat kesibukan di bibir pantai meski saat itu cuaca aduhai super hot sekali.

Wisatawan berbaris, antri di depan sebuah ayunan ikonik yang dibangun menjorok ke pantai. Air sebening kristal mengitari ayunan ikonik ini. Kita bahkan bisa melihat dengan jelas bebatuan koral disekelilingnya.

Semakin unik ketika aku melihat seekor kuda beserta pengendara berada di sekitar ayunan.  Kira-kira mereka sedang dalam misi apa ya? Seumur hidup aku belum pernah lihat ada kuda di pantai, kecuali di adegan film, tentu saja.

"Bang, yuk kita ikutan antri, ujarku bersemangat"

"Ayo, kata abang tak mau kalah!"

Saat itu yang sedang in action satu keluarga wisman tapi mereka tidak menggunakan bahasa Inggris. Sepertinya sang ibu sedang mengarahkan putrinya yang didaulat jadi fotografer dadakan, yang sedang mengalami kesulitan karena tombol rana tak berhasil dieksekusi. Kayaknya gadget sedang macet. Berkali-kali dia mengikuti petunjuk ibunya, namun tombol rana tak kunjung juga bereaksi.

Aku ingin sekali menolong, namun tiba-tiba sang ibu dengan aura yang masih geregetan memutuskan keluar dari frame dan mengajak keluarganya keluar dari spot foto.

Selanjutnya sepasang sahabat secara bergantian berfoto. Segalanya mulus dan lancar! Tak sampai 5 menit menunggu, tibalah giliran kami.

Sebenarnya aku takut setengah mati kalau-kalau handphone akan jatuh. Semua ekspresi yang terekam selama liburan belum dipindah ke laptop.

"Pegang kencang-kencang ya, bang, aku berbisik pada abang"

"Insya Allah, Abang menjawab tenang!"

Dengan tubuh sedikit gemetaran, antara senang, takjub dan aneka perasaan yang sedang berlompatan, aku berjalan perlahan menuju ayunan, merasakan sensasi kaki bergesekan dengan bebatuan sambil menjaga keseimbangan karena arus gelombang meski kecil namun cukup membuat adrenalin memainkan peranan. Degup jantung semakin liar, tak terbantahkan!

Ini dia eksekusinya...

Saat berpose inilah aku menyaksikan antrian ternyata sudah semakin mengular. Maksud hati sih ingin pose lebih banyak lagi. Tapi ini bukan saat yang tepat!

Aku segera turun dan bergantian dengan babang kesayangan.

Cekidot guys...

Gili Trawangan Jadi Destinasi Kesayangan Wisatawan Alasannya
Ayunan ikonik Vila Ombak 

Gili Trawangan Jadi Destinasi Kesayangan Wisatawan Alasannya
Masih ayunan ikonik Vila Ombak

Gili Trawangan Jadi Destinasi Kesayangan Wisatawan Alasannya
Gak nyangka babang mau ikutan pose di ayunan
Eksotika Gili Trawangan mampu membuat wisatawan antri, di siang bolong yang memanggang begini, demi apa coba...!

Kami segera beranjak menuju tepi jalan dan menemukan darimana asal barisan beberapa payung hijau dan umbul-umbul warna-warni yang sedari tadi mencuri hati.

Ternyata oh ternyata bagian dari properti Vila Ombak, sodara-sodara!

Iya, Vila Ombak yang hits di dunia maya itu!

Saat berfoto di depan properti ini, hilir mudik wisman (((wisman))) lagi-lagi yang mendominasi.  Yang pasti selera pakaian mereka tentu saja berbeda dengan kita orang Timur ya. Ya, jadi kudu menjaga pandangan, iman dan imran hahaha...

Kami melanjutkan perjalanan lagi, masih berjalan kaki namun kini energi sudah mulai terkikis, senyum pun perlahan berganti jadi meringis, tapi untunglah belum sampai terlihat bengis. Hahaha... Ceritanya mau bermain diksi gitu lho. Maksa banget yak!

Benar perkiraan Pak Salim hampir 2 jam memang waktu yang diperlukan!

Kamipun tiba di tempat semula, bergegas memanggul ransel dan berjalan gontai mengikuti Pak Salim dari belakang, hahaha...

Ya ampun, ternyata kami berbalik arah menuju tempat kami berfoto di ayunan tadi. Duh, tahu gitu  kenapa gak nunggu di situ saja ya. Sungutku dalam hati, tentu saja, hahaha...

Tapi, cepat-cepat aku usir aura negatif itu. Rasanya tak layak mengisi liburan dengan kekecewaan. Bisa merusak mood ntar. Berabe!

Ada 10 menit kami berjalan kaki akhirnya tiba di restoran Black Penny.

Restoran ini bersebelahan dengan travel agent yang saat itu sedang mendata puluhan wisman yang sedang rapi antri untuk mendapatkan pass paket snorkeling dan menyelam, karena usai dipanggil mereka segera mendapatkan satu set peralatan snorkeling dan selam lalu menuju kapal yang sudah sedari tadi bersandar.

Usia mereka masih sangat muda belia, ekspresif dan berisik, tentu saja, hahaha... ABG di belahan dunia mana saja mah tetap sama kali, ya. Sama deh kayak kita dulu, jugak!

Sambil menunggu, alunan musik menghentak diputar berpadu dengan hirup-pikuk jalanan dan celoteh para wisman.  Riuh sekallee! Tapi agaknya pemandangan ini sudah menjadi santapan sehari-hari karena semua orang asyik dengan aktivitas sendiri.

Yang sedang makan minum tak merasa terganggu, yang sedang santai di pantai juga begitu, yang sedang berlalu lalang di jalanan meski kadang berhenti memeriksa keadaan namun kemudian melanjutkan perjalanan. Bahkan beberapa di antaranya bersinergi menari menikmati musik yang memang sumvah... mengundang goyang!

Aku tersenyum menyaksikan sekaligus terharu bisa langsung merasakan gejolak, eksotika dan semakin memahami kenapa Gili Trawangan jadi destinasi kesayangan wisatawan.

Tak berapa lama hidangan pun tersaji, tapi hei tentu saja selayaknya ritual blogger, meski lapar telah  mendominasi namun dokumentasi wajib dieksekusi, xixixi...

Gili Trawangan Jadi Destinasi Kesayangan Wisatawan Alasannya
Menu makan siang ala Black Penny Gili Trawangan 
Rencananya usai makan kami akan kembali ke Senggigi lewat hutan Pusuk di mana eksotika panorama yang tak kalah indah sudah menanti kita, begitu menurut Pak Salim.

Baidewei, subway, menu di atas so yummy...!

Last but not least, see you when I see you, Gili Trawangan!

Gili Trawangan Jadi Destinasi Kesayangan Wisatawan Alasannya
See you, Gili Trawangan...!