Sensasi Menikmati Pesona Wisata Alam Terbuka Lodge Maribaya

lodge maribaya

Sensasi Menikmati Pesona Wisata Alam Terbuka Lodge Maribaya. Sebuah foto indah sahabat yang sedang berayun ekspresif dengan latar belakang hutan pinus ijo royo-royo masuk di grup WAG. Ada hastag Lodge Maribaya di sana!

"Masya Allah" bisikku dalam hati.

Ini adalah foto kesekian tentang Lodge Maribaya yang aku lahap dalam beberapa waktu belakangan ini.

Yang paling sering saat aku berselancar di instagram. Yup, hastag Lodge Maribaya sukses menancapkan obsesi di dada!

... dan seperti sudah diduga, setiap melihat postingan keseruan ala Lodge Maribaya, godaan bolang semakin meraja.

 "Ya Allah, semoga suatu hari aku bisa ke sana!"

 Doa pun kembali aku munajatkan.

... lalu sejak saat itu aku pun gencar mencari tahu tentang Lodge Maribaya!

Alhamdullillah, rupanya Allah SWT mengijabah pinta.

Maret 2018,  usai mengantarkan Yasmin yang lolos seleksi AFS Hiroshima Jepang via  bandara Soeta, mumpung masih di Jakarta kami (aku plus suami, bang Iqbal) memutuskan untuk sekalian ke Lodge Maribaya di Lembang, Bandung.

Rencananya sih pengin menikmati salah satu spot wisata romantis Bandung 

Untuk menghemat biaya kami memilih menginap di sebuah hotel budget di wilayah Pasteur.

Biar makin afdol, aku pun bertanya kepada staff hotel tentang akses ke Lodge Maribaya, dan disarankan menggunakan moda transport online serta berangkat pagi sekitar jam 8 lebih disukai untuk menghindari macet.

Alhamdullillah, saat itu memang bukan pas akhir pekan, jadi menurut staff hotel, mungkin kami akan beruntung, tidak terjebak macet, maksudnya, hahaha.

Keesokan harinya, aku bersama suami kompak menggunakan outfit cerah, topi pantai dan kaca mata. Biar greget, lah! Minimal hasil fotonya anti lebay, hahaha...

Mobil online telah tiba, dan ongkos ke sana kurang lebih Rp 60.000 dari Pasteur.

"Bu, biar cepat kita lewat Punclut ya?"

Pengendara menawarkan jalur alternatif, sesaat setelah kami berada di dalam mobil

"Terserah Bapak saja, mana yang terbaik ya!"

Ternyata jalur Punclut ini memang agak unik, selain badan jalan yang kecil, juga hampir sepanjang perjalanan merupakan tanjakan curam dan panjang.

Jadi, yang bawa kendaraan pribadi, pastikan kondisi kendaraan sehat wal-afiat ya, guys!

Masih menurut bapak pengendara, kawasan Punclut biasanya lebih semarak saat malam tiba di mana kafe-kafe akan berbagi malam dengan pengunjung, menikmati Bandung dari ketinggian.

Belakangan aku baru tahu, bahwa rute ke Lodge Maribaya memang ada berbagai cara, tergantung di posisi mana kita berada.

Kembali ke laptop!

Perasaanku semakin membuncah ketika mobil mulai mendekati lokasi Lodge Maribaya.

Ternyata kami harus berhenti dan melanjutkan perjalanan menggunakan shuttle bus gratis yang sudah menanti.

Tepat seperti yang dikatakan staff hotel di Pasteur, suasana Lodge Maribaya memang masih sepi saat kami tiba di pintu loket. Bahkan saat itu kami langsung dilayani, membeli tiket regular weekday Rp 20.000 per orang (tiket weekend Rp 25.000, libur nasional Rp 35.000)

Begitu lolos dari pintu tiket, view ikonik Lodge Maribaya segera tertangkap mata. Dibuka dengan selasar bambu yang penuh pesona, bagai hidangan pembuka selera, luar biasa!

Kami terus berjalan, menuruni anak tangga. Hmmm... lumayan juga nih kalau pas naik, bisa membakar karbo, hahaha

Mendadak adrenalin mengambil kendali, ketika view ikonik Lodge Maribaya, perlahan tersibak. Aku sibuk menjinakkan gejolak. Di sini, di jantung yang semakin memompa liar!

Masya Allah. Inhale... Exhale... Inhale... Exhale!

Samar-samar aku mendengar dialog Melayu Malaysia, semakin lama semakin jelas di telinga.

... dan hei benarlah, sekelompok turis mancanegara asal Malaysia sedang berpose di sebuah lokasi datar dengan platform kayu dan latar belakang hutan pinus yang membius.

"Dari Malaysia ya Bu? tanyaku pada seorang ibu yang sedang duduk

"Iya, Nak, tepatnye dari Kuala Lumpur"

"Wah, keren! Tahu dari mana tentang Lodge Maribaya ini, Bu?"

"Oh, kebetulan saye ada keluarge di Bandung dan diajak ke sini"

Kami lalu larut dalam percakapan sambil menikmati panoramau hijau yang memukau.

Ibu itu lalu meminta aku untuk mengambil foto keluarga. Setelah itu mereka pun berpindah spot ke lokasi di sebelahnya.

Ternyata sudah ada antrian di sana!

Aku dan suami melanjutkan sesi foto pre wedding eh pasca wedding dong ya. Uhuk! Soalnya, view dari lokasi ini, indah sekali!

Hari itu, alhamdullillah, kebetulan langit sangat cerah. Mestakung lah!

Sama seperti ibu dari Malaysia tadi, puas berfoto di spot ini, kami bergeser juga ke sebelah. Ke spot wahana foto ikonik Lodge Maribaya.

Sky Tree. Begitulah tertulis di sana!

"Yup, lihat ke sini! Tangan dibuka ya! Satu, dua, tiga! Angkat kaki kiri! Mau loncat juga boleh! Ya, begitu, satu, dua, tiga! Gaya lain juga boleh,satu, dua, tiga!"

Sambil celingukan kanan kiri, aku berusaha mencari pemilik sumber suara instruksi ini!

Aha! Ternyata berasal dari mas sutradara merangkap fotografer yang bersembunyi, membidik dari bangunan saung mini.

Sementara, di depannya, di sebelah pohon ada segerombolan pengunjung menumpuk bagai ikan teri. Ternyata di situ tempat membayar tiket untuk berfoto di area Sky Tree!

Saat itu aku membayar Rp 15.000 untuk pose di Sky Tree per orang dan hasil foto bisa diambil saat mau pulang nanti.

Dan bisa ditebak, arahan pose pun sama seperti yang tadi, hahaha.

lodge maribaya

Kebahagianku semakin lengkap saat bang Iqbal juga memutuskan latah untuk berfoto, bahkan sambil melompat, yihaaa!

lodge maribaya

Oh iya, sebelum berfoto di pohon, kami menggunakan bod harness, alat keselamatan yang dipasang di tubuh.

Hal ini tentu saja demi untuk keselamatan pengunjung juga, karena eh karena beberapa pose yang dilakukan ada yang percis di bibir platform kokoh Sky Tree, di mana medan terjal sudah menunggu di bawah sana. Huuuaaa... cukup membuat jantung memompa liar juga!

Usai dari Sky Tree, kami beranjak ke sepeda udara, Zip Bike!

Saat inilah aku melihat ternyata antrian Sky Tree sudah mengular. Hiii...! Untung tadi cepat datang ya!

Usai membayar tiket Rp 20.000 per orang (iya, kudu bayar lagi, hihihi), di area Zip Bike, kami baru sadar ternyata antrian juga sudah lumayan mengular.

Tapi, kami tetap sabar menanti, mengingat betapa kerennya kalau berhasil foto di sini.

Angan pun langsung membawaku ke beberapa foto ikonik ala Zip Bike yang pernah aku nikmati di beranda media sosial.

Yup, sama seperti saat di Sky Tree, kami juga pakai alat keselamatan di sini.

Sejujurnya aku sempat agak jiper lho sesaat mau menaiki sepeda udara ini. Namun aku menepis semua kebimbangan. Dan dengan bismillah, aku pun naik ke sadel sepeda.

Sepeda di Zip Bike ini didesain khusus. Rodanya dari besi dan memiliki kabel yang bisa ditarik mundur. Kami diminta mengayuh sepeda ke tengah, dan di bawah sana, jurang terjal, menganga!

Benar-benar uji nyali deh!

"Ya, berpegangan sambil berhadapan, iya, gitu, tahaaan! Kembangkan kedua tangan dan melihat ke sini ya! Sambil senyum juga boleh! Tangan di stang sambil senyum dan lihat ke sini! Sekarang, boleh gaya bebas ya"

Begitulah, mas fotografer memberi aba-aba, ketika sepeda mulai kami kayuh dan akhirnya berhenti di tengah.
lodge maribaya

Selanjutnya kami menuju ayunan untuk berdua, yang menjadi signature-nya Lodge Maribaya, Valley Swing!

... dan antri lagi!

... dan bayar lagi (Rp 25.000 per orang!)

... dan pakai harness (alat keselamatan) lagi

lodge maribaya

Selanjutnya kami bergerak ke wahana Bamboo Sky.

Dari namanya sudah jelas dong ya ini spot seperti apa. Tepatnya seperti menara pandang yang terbuat dari bambu dengan latar belakang perbukitan hijau. Indah dan unik banget!

Yup, urutan masih seperti di atas, beli tiket Rp 20.000 per orang, ambil antrian dan pakai alat keselamatan.

lodge maribaya

Kuliner ala Omah Bambu Restaurant

Hari pun beranjak siang, kampung tengah juga mulai protes mau minta 'dilayani'

Kami memilih makan di restoran Omah Bambu dengan panorama indah, menghadap hutan pinus Lodge Maribaya.

Aku ambilkan daftar menu dari situs Lodge Maribaya (www.thelodgemaribaya.com) ya, soalnya, saking laparnya, lupa foto, hahaha.

lodge maribaya

Pas lihat penampakan lalapan serba hijau, salada dan mentimun segar, letih, lelah, lesu, letoi, langsung bubar! Hahaha...

Tersedia juga tempat sholat dan toilet lho. Saat itu sih lumayan lah bersihnya! Hanya debit air di toilet agak lambat.

Urusan kampung tengah usai, kami melanjutkan mengitari lokasi Lodge Maribaya.

Ternyata masih ada beberapa spot foto berbayar (lagi) seperti Gantole, Glass Deck, Sky Plane dan Hot Air Balloon Hydraulic.

Namun sayang, tak berapa lama mendung  menggantung, kami memutuskan untuk check out dari Lodge Maribaya dan singgah di bagian pengambilan foto.

Kami pun diminta mengunduh aplikasi Shareit, memilih foto favorit dengan biaya Rp 10.000 per foto.

Masya Allah, ternyata babang fotografer punya banyak stok foto, namun kami memutuskan hanya memilih yang terbaik saja, eh bukan ding, tepatnya menghemat dana, hahaha.

Yup, kami putuskan hanya memilih 20 foto!

Setelah itu kami diminta menghapus sisa foto lainnya.

Huuuaaa... Ada rasa-rasa tak rela, kakaaa... Namun karena kudu bayar Rp 10.000 per foto, akhirnya, harus rela. H- A-R-U-S!

Dan benarlah, saat kami asyik memilih foto, hujan pun seperti tumpah. Sangat deras!

Eits, hampir lupa, kami juga menukarkan potongan tiket dengan 2 gelas susu dingin. Meski diminum saat cuaca dingin, susunya enyaaak guys!

Untuk sesaat lupa perih karena harus membayar 20 foto sebesar Rp 200.000, hihihi.

Saat diantar shuttle bus kembali ke tempat parkir, kami sempat kebingungan, karena hari sudah sore, tidak ada lagi angkutan umum yang beroperasi.

Iya, kami sempat bingung gimana cara mau balik ke Pasteur.

Untunglah ada satu keluarga yang tadi bareng di shuttle bus, membawa mobil pribadi, menawarkan mengantarkan sampai lokasi di mana moda transport online tersedia.

Alhamdullillah ya, rezeki anak soleha... *kibasponi

Berikut beberapa catatan dan tips yang bisa aku bagi jika tertarik bolang ke Lodge Maribaya.

Tips Berkunjung, Kelebihan, Kekurangan Lodge Maribaya

Tips Berkunjung

- Usahakan berangkat pagi, menghindari antrian panjang
- Hindari berangkat di hari libur/akhir pekan, lagi-lagi untuk menghindari antrian panjang wahana
- Karena banyak wahana outdooor, gunakan outfit nyaman dari bahan katun, mengenakan celana panjang dan bawa payung
- Gunakan sandal dan sepatu nyaman. Terdapat banyak tangga karena landscape berbukit
- Gunakan tabir surya dan pernik lain seperti topi, kaca mata hitam untuk meminimalisasi paparan mentari
- Jangan terpaku sama antrian satu wahana dan mintalah informasi pada petugas, wahana mana yang sedang sepi atau antrianya tidak panjang
- Pastikan baterai HP full dan bawalah power bank, untuk menghindari mati gaya, hahaha
- Siapkan memori cadangan untuk simpan foto di HP
- Unduh aplikasi Shareit untuk mengambil foto yang akan ditebus
- Tukarkan tiket dengan minuman dingin/susu

Kelebihan Lodge Maribaya
- Sarat pesona alam wisata terbuka
- Banyak pilihan spot berfoto yang out of the box, kudu siapkan nyali, hihihi...
- Area yang cukup luas
- Fasilitas cukup lengkap
- Berada satu arah dengan tempat wisata lain seperti: The Ranch, Kebun Bunga Begonia, Maribaya Resort dan Taman Hutan Raya Juanda

Kekurangan Lodge Maribaya
- Menurutku harga cukup menguras kantong, hahaha. Setiap spot foto perlu biaya!
- Biaya transfer foto lumayan mahal Rp 10.000 per foto
- Karena transportasi umum jarang, alternatinya kudu sewa mobil+supir
- Susah mendapatkan moda transport online seperti gojek, gocar, grab dan uber
- Kurang cocok untuk para lanjut usia atau stroller bayi, karena landscape naik turun dan bertangga

Berikut video warna-warni sensasi menikmati pesona wisata alam terbuka Lodge Maribaya.

Semoga bermanfaat!



Warna-Warni Pengalaman Ramadan di Negeri Sakura

ramadan di negeri sakura
Sakura pertama Yasmin 
Ini adalah sepenggal kenangan ramadan tahun lalu, saat Yasmin berada di Hiroshima, sebagai perwakilan Indonesia untuk program pertukaran pelajar AFS ke Jepang selama lebih kurang 11 bulan.

****

"Bunda, buruan ke kamar, sudah tersambung nih video callnya"

Suara hubby terdengar lamat-lamat dari balik pintu kamar tidur

Aku langsung membuat mode hibernate di laptop dan bergegas ke kamar tidur.

Di sana, di layar, Yasmin sudah stand by di depan kamera.

Meski sudah seringkali video call, tetap saja keharuan hadir membahana.  Namun cepat-cepat aku menguasai emosi, karena teringat pembekalan dari pengurus AFS, agar menghindari momen emosionil saat berkomunikasi agar tidak mempengaruhi kondisi emosi buah hati.

Saat itu akhir Mei 2018, sudah hampir 2 bulan Yasmin berada di Hiroshima, mewakili Indonesia, setelah lolos seleksi AFS untuk tahun 2018-2019 (Year Program - YP 2018-2019).

Ini adalah pengalaman ramadan di negeri sakura yang pertama bagi doi dan ramadan pertama bagi kami tanpa Yasmin di Indonesia.

Kami, of course, excited banget dong ya, mendengar pengalaman suka duka ramadan di negeri sakura.

Sebelum lanjut, aku mau menambahkan sedikit informasi yang aku kutip dari artikel Mei 2018 di www.tempo.co tentang pemeluk Islam di Jepang ada sekitar 160.000 orang.

Masih kecil memang dan membuat Islam adalah minoritas di negeri sakura.

Namun jika dibanding dengan 50 tahun lalu, terjadi kenaikan hampir 25 kali lipat jumlah masyarakat Jepang yang memeluk agama Islam.

Nyok, lanjut!

Seperti biasa Yasmin mengenakan earphone saat video call demi kenyamanan, karena biasanya waktu sudah menunjukkan di atas jam 10 malam.

Tahu sendiri dong ya, masyarakat Jepang sangat menghargai privasi. Jadi, Yasmin pun rupanya sudah mulai tertular kebiasaan ini. It's a good things, right, isn't it?

Kami memilih waktu ini karena obrolan bisa dilakukan dengan santai dan agak lama durasinya.

Oh iya, tambahan informasi nih...

Waktu Balikpapan dan Hiroshima, beda satu jam, di mana Hiroshima lebih cepat satu jam.

Saat itu, di Hiroshima sedang peralihan musim semi ke musim panas dan suasananya masih 11-12 lah dengan di Balikpapan.

"Assalaamualaikumwarohmatullaahi Wabaraakatuh"

Seperti biasa kami mengawali video call dengan salam

"Waalaikumsalamwarohmatullaahi Wabaraakatuh"

"Apa kabar, Yasmin?"

"Baik, Bun, Dad"

"How is your day?"

Aku langsung kepo dong, hihihi...

"Same, as usual, Bun, home and school,"

"I see, can you share, about your ramadan, my dear?"

Sampai di sini, Yasmin terlihat sumringah.

Jadi gini, Bun...

Malam sebelum sahur pertama, Yasmin cerita dong yang ke host family bahwa Yasmin mau puasa.

... bahwa puasa itu ada sahur

... bahwa puasa itu tidak boleh makan dan minum di waktu yang telah ditentukan

... bahwa waktu buka puasa itu ada ketentuannya

... bahwa di bulan puasa perhitungan amal kebaikan dilipatgandakan

Nah, yang langsung bereaksi adalah Mama host family, Bunda...

Begini kira-kira dialog mereka yang aku tangkap ya. Tentu saja mereka bicara dalam bahasa Jepang.

Tapi aku terjemahkan ya, tsaaah... #kibasponi

Sssst... yang terakhir ini jelas hoax, jangan percaya ya! Bahahaha... (((terjemahkan)))

Lanjut...

"Jadi, jadi... Yasmin harus bangun pagi sekali gitu ya, untuk makan?"

"Iya, Okaa-san"

"Mohon maaf banget ya, sepertinya, Okaa-san tak akan bisa bangun jam segitu untuk menyiapkan sarapan, belum biasa"

"Oh, tidak ada-apa, Yasmin bisa kog bangun sendiri, nanti pakai alarm"

"Oh... syukurlah"

Nah, kalau teman-teman dan guru di sekolah lain lagi nih ekspresinya, Bunda...

Jadi, beberapa hari sebelum ramadan, Yasmin sudah share ke sensei, kalau akan puasa.

(sensei - panggilan di Jepang untuk orang yang dihormati karena posisinya. Biasanya yang mendapatkan gelar ini adalah seorang guru - wikipedia)

Nah, pas sehari sebelum ramadan, sensei mengingatkan kembali di depan kelas, bahwa selama sebulan nanti Yasmin akan puasa dan sarapan di awal hari.

Langsung deh seisi kelas heboh dan gaduh.

"Waduh, jadi harus bangun pagi-pagi sekali ya!"

"Itu beneran ya, tidak makan seharian?"

"Terus, kalau ga makan seharian, ntar kan bisa mati"

Hahaha, tak ayal, kami berdua ngakak mendengar ekspresi teman-teman Yasmin itu.

ramadan di negeri sakura
Yasmin bersama teman putri Setouchi High School Hiroshima
Mendadak aku juga ingat, saat kerja di sebuah perusahaan, pernah juga mengalami hal yang sama, seorang expatriat asal Colombia memberikan reaksi yang sama...

"Are you sure want to do it? 

"Yes, I am"

"You are not gonna hmmm... die, are you?"

Katanya sambil menatap aku lekat-lekat.

"No. I am not I have done it for couple years as other moslems as well"

"Well to me it doesn't make any sense" katanya sambil menggeleng-gelengkan kepala

Aku tak menyalahkan juga sih, mungkin wawasannya tentang Islam juga sangat sedikit karena boleh jadi karena jarang berinteraksi dengan lingkungan muslim ya.

Namun banyak juga expatriat lainnya, terutama saat aku bekerja di perusahaan tambang emas di pedalaman hutan Kelian, Kutai Barat, Kalimantan Timur beberapa tahun lalu, seperti yang aku tuliskan di sini kebanyakan mereka sudah akrab dengan keseharian muslim seperti kebiasaan mengucapkan salam, sholat, puasa, zakat, mengenakan hijab, lebaran dan lain-lain.

Kembali ke laptop!

Menurut Yasmin, memang memerlukan pengorbanan berpuasa di negara yang minoritas muslim.
Benar-benar keimanan diuji, karena semua harus dikerjakan sendiri.

... tidak ada yang mengingatkan sholat

... tidak ada yang mengingatkan puasa

... tidak ada yang mengingatkan ngaji

dan lain-lain.

Saat tidak menegakkan sholat tidak ada yang perduli, saat makan di restoran di bulan ramadan tak ada yang nyinyir dan sebagainya.

Jadi benar-benar banget melakukannya semata karena Ilaahi Robbi, Insya Allah, Insya Allah.

Begitulah, selama kurang lebih sebulan Yasmin menjalankan ramadan di negeri sakura, tentu saja dipotong masa menstruasi ya.

Ramadan di Negeri Sakura Banyak Cobaan 

Ramadan di negeri sakura banyak cobaan, iyesss!

Dimulai dengan sahur.

Yup, Yasmin harus bangun sendiri dengan menyetel alarm.

Beda saat dengan di Indonesia, Yasmin tinggal makan, karena aku sudah menyiapkan semuanya, jadi, tinggal sorong deh, bahahaha.

Menurut Yasmin menu sahurnya berganti-ganti antara ramen (mi instant), sup instan, ayam goreng, nasi dan lain-lain. Kadang-kadang jika ada sisa makan malam yang masih layak, dipanaskan lagi.

Masih menurut Yasmin (lagi) nih, nasi di Jepang itu sangat pulen. Jadi makan nasi saja sudah nikmat banget! Apalagi susu Jepang, nikmatnya tiada tara!

Aku bisa membayangkan kelezatan dua makanan ini hanya dengan memandang sorot mata, ekspresi dan aura doi ketiga berbagi cerita. Biasanya doi jarang banget tuh memuji-muji makanan. Berarti da best banget lah!

"Pernah gak sahur?" tanyaku kepo

"Sering, hahaha" jawab Yasmin terkekeh

"Why?"

"Pas alarm bunyi, dimatikan, tunggulah sebentar lagi, eh ternyata, keterusan, Bunda"

Hmmm... aku cuma bisa nyengir, kalau sudah begini.

"Kalau buka, gimana?"

"Biasanya bareng keluarga angkat bunda, menunya seperti makan malam biasa"

"Sebutin dong apa saja!"

"Waduh, banyak bunda, sudah gak ingat lagi, yang pasti yang seperti sahur, ada nasi, daging, ayam, oseng sayuran, buah segar seperti tomat dan timun"

"Pernah makan di restoran?"

"Jarang banget bunda, kayaknya host family Yasmin lebih suka makan di rumah, lagi pula makan di restoran di Jepang itu mahaaaaal banget! Biasanya kalau ada nenek dan kakek datang baru deh kita sesekali makan di restoran, kayak family time, gitu"

"I see"

ramadan di negeri sakura
Yasmin bersama jamuan keluarga besar host family
Melihat foto di atas, pengalaman dan kenangan saat ikut perjalanan Ibu Cerdas Attack Goes to Jepang, menikmati Sensasi Lift dan Eskalator Transparan di Umeda Sky Building dan Osaka Castle Istana di dalam Taman pun langsung berkejaran di ingatan.

Semoga kelak bisa menjejakkan kaki lagi di negeri sakura ini. Aamiin.

Cobaan lainnya, karena memang Islam minoritas di Jepang, adalah sangat sulit menemukan mesjid. Bahkan di distrik Asaminami-ku Hiroshima, tempat tinggal Yasmin belum ada mesjid.

Jadi yang punya kebiasaan tarawih di mesjid tiap hari, bisa dipastikan akan skip ke mesjid nih. Tarawihnya di rumah saja ya.

Pusat komunitas muslim  terdekat ada di distrik Higashi-ku, tepatnya di The Islamic Cultural Center yang berjarak hampir 280 km dari Asaminami-ku, dengan jarak tempuh kurang lebih 3.5 jam.

"Kalau sholatnya, gimana Yasmin?"

"Biasanya, Yasmin sholat di kamar, di rumah, Bun. Sholat Zuhur dan Ashar di qadha di Ashar, Magrib dan Isya di qadha juga, dikerjakan saat Magrib atau juga kadang di Isya"

Meski sebenarnya ukuran apartment keluarga itu kecil, host family Yasmin dengan senang hati mengalokasikan satu kamar untuk Yasmin. Keluarga kecil itu rela berbagi kamar dengan putrinya yang berusia 10 tahun.

"Pernah mengikuti aktivitas ramadan dengan komunitas muslim selama di Hiroshima, Yasmin?"

"Tak pernah, Bunda. Soalnya Yasmin pulang sekolah sudah sore, sudah lelah banget, pengen istirahat saja di rumah. Paling banter taraweh dan membaca Alquran di kamar"

"Terus, reaksi teman-teman Yasmin di sekolah gimana, kalau pas jam makan siang?"

"Biasa saja tuh bunda, mereka tetap saja makan di kelas seperti biasa"

"Tak ada yang bilang seperti ini, maaf ya, kami mau makan dulu"

"Hahaha, gak ada tuh Bunda, mereka biasa saja, yah seperti hari biasa lah"

Waduh, aku bisa membayangkan saat ramadan Yasmin harus mencium-cium aroma kuliner teman-temannya yaa, di jam lapar pula. Sungguh cobaan yang menggoda iman!

Cobaan lain adalah karena ini menjelang musim panas, waktu siangnya lebih panjang, 16 jam, which is berarti harus menahan lapar lebih lama ketimbang di Indonesia yang hanya 13-14 jam.

Tetapi jika dilihat dari sisi berbeda, alhamdullillah kesempatan untuk mendapatkan pahala juga lebih lebar ya. Panjangnya siang otomatis mengakibatkan durasi malam hari lebih singkat. Hal ini tentu juga menjadi tantangan sendiri karena rawan bangun telat.

Cobaan lainnya lagi adalah karena mayoritas non muslim tentu saja banyak orang yang tidak puasa di setiap sudut kota. Restoran dan pusat perbelanjaan pun bebas berjualan kuliner di pelupuk mata.

Tak ada perubahan gaya hidup selama ramadan, restoran, mall dan kantor tetap dengan aktivitas seperti biasa. Tidak ada kebijakan seperti di Indonesia misalnya, masuk kantor bisa agak sedikit siang dan pulang kerja bisa lebih cepat seperti yang pernah aku alami sebelumnya.

Ramadan di Negeri Sakura Itu Sarat Tantangan

Dari semua uraian Yasmin di atas aku membuat kesimpulan bahwa ramadan di negeri sakura itu sarat tantangan!

Dengan semua daftar cobaan, kita ditantang untuk menunaikan ibadah ramadan lebih baik dan lebih kuat di negeri sakura ini karena memiliki nuansa yang sama sekali berbeda dengan negeri kita sendiri.

Terutama Yasmin yang bersekolah di private schooll yang mayoritas siswa-siswinya non muslim yang tidak berpuasa, aku yakin pasti mengalami tentangan tersendiri terutama saat jadwal makan siang dan melakukan aktivitas yang menguras tenaga.

Syukurlah, menurut Yasmin, selama bulan puasa, doi mendapatkan dispensasi dari sekolah, diizinkan tidak mengikuti aktivitas yang menguras tenaga.

Alhamdullillah, karena mungkin sudah terbiasa puasa saat ramadan di Indonesia, dan saat itu, Hiroshima juga sedang peralihan dari musim semi ke musim panas, sehingga suasana iklim dan cuaca tak jauh berbeda dengan di Indonesia, Yasmin bisa melewati ramadan di negeri sakura dengan lancar.

Aku percaya, ramadan di negeri sakura pastilah spesial ya, karena tidak mendengar azan yang saling bersahutan, aneka panggilan sahur, pemberitahuan imsak dan berbuka serta  jarang menemukan mesjid selayaknya di Indonesia.

Bahkan suatu hari, bisa jadi malah merindukan warna-warni pengalaman ramadan di negeri sakura ini saat kembali ke tanah air nanti.

Semoga warna-warni pengalaman ramadan di negeri sakura ini bermanfaat ya.

Ayo, siapa nih yang pernah ramadan di negeri orang atau punya pengalaman unik saat ramadan?

Yuk, cus sharing pengalaman di kolom komentar di bawah ini ya. Ditunggu...


Bersama Ringankan Lara dengan Peduli Sehat Galang Dana Online

galang dana online

Bersama Ringankan Lara dengan Peduli Sehat Galang Dana Online. Aku masih ingat, beberapa waktu lalu, sekitar tahun 2013, satu artikel penggalangan donasi kesehatan dari situs galang dana online muncul di beranda facebook

Ini adalah fenomena baru untukku, saat itu.

Yup, aku baru tahu bahwa penggalangan donasi kesehatan bisa dilakukan secara online!

Terus terang, saat itu aku masih agak sedikit sinis dengan galang dana online, mengingat masih maraknya modus penipuan yang mengatasnamakan penggalangan dana. Walau begitu, artikel itu tetap saja sih aku baca untuk meningkatkan kewaspadaan sekaligus juga wawasan.

Dan hei ternyata... sejak saat itu, seiring dengan tumbuhnya pengguna internet di Indonesia, sebagaimana dilaporkan hasil survey dari APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) kegiatan  galang dana online pun kian menjadi trend.

galang dana online

Padahal biasanya urusan dana ini adalah "sensitif" bagi masyarakat.

Kehadiran situs penggalangan donasi online ini juga merambah ke dunia kaum selebriti dan publik figur yang mendapat kemudahan untuk menggunakan ketenaran dan kepopuleran mereka untuk menginspirasi berbagai pihak dalam hal yang positif.

Yang paling marak salah satunya adalah donasi ulang tahun, seperti yang dilakukan Raisa Andriana dan Vidi Aldianto.

Tahukah kamu?

Galang dana online bisa menjadi jawaban untuk membantu meringankan beban saudara kita terutama bagi mereka yang jauh dari jangkauan hidup sehat atau yang belum memiliki gaya hidup sehat, menderita sakit kritis dan terpaksa tidak bisa mendapatkan akses perawatan karena tidak memiliki biaya berobat.

Terutama untuk golongan masyarakat bawah, yang memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari saja sudah kesulitan apalagi konon memikirkan biaya kesehatan.

Aku pernah menyaksikan sendiri saat dirawat di rumah sakit pasca bedah mulut gigi geraham karena infeksi geraham akut, ada beberapa pasien yang terlambat mendapat penanganan karena ketiadaan biaya pengobatan dan belum tersedianya fasilitas kesehatan yang memadai di sekitar domisili.

Namun ada juga yang memang terlambat mendapat penanganan, selain karena ketiadaan biaya pengobatan plus karena kurangnya pengetahuan tentang penyakit yang diderita, seperti yang pernah aku dapatkan dalam materi seminar penyebab pencegahan dan pengobatan kanker prostat beberapa waktu lalu.

Bukan itu saja, fenomena ini juga dialami golongan menengah ke atas lho, yang harus berjuang untuk mengobati sakit kritis secara kontinyu yang kadang berujung kematian karena pada akhirnya sudah tidak memiliki lagi dana untuk melanjutkan biaya pengobatan.

Nah, untuk itulah layanan penggalangan donasi kesehatan online seperti Peduli Sehat hadir memberikan solusi, membantu meringankan lara!

Namun berhati-hatilah!

Niat baik ini sering kali dimanfaatkan oleh pihak-pihak tidak bertanggungjawab yang ingin mencari keuntungan pribadi atau kelompok.

Jadi, penting banget mengetahui platform lembaga donasi galang dana yang kredibel melakukan galang dana online agar donasi tepat sasaran!

Lebih Dekat dengan Peduli Sehat Galang Dana Online
Peduli Sehat hadir sebagai wadah yang menawarkan layanan penggalangan donasi kesehatan secara online, realtime dan transparan!

Peduli Sehat berfokus pada pasien yang menderita penyakit kronis serta tidak memiliki cukup dana perawatan, berobat untuk bertahan hidup dikarenakan tidak cukup biaya untuk menutupi biaya lain seperti biaya obat dan susu untuk pasien balita, alat medis penunjang kesehatan) yang tidak dapat dibiayai oleh kartu BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan) atau JKN (Jaminan Kesehatan Nasional).

galang dana online

Peduli Sehat galang dana online ini bisa diakses melalui www.pedulisehat.id atau melalui aplikasi Peduli Sehat di Play Store, dan juga akan segera hadir di iOS.

Metode  Peduli Sehat Galang Dana Online 
Galang dana donasi kesehatan ini bisa dilakukan dengan 2 cara :

1. Perorangan/Individu
2. Organisasi/NGO

Untuk bisa menggalang donasi online, penggalang dana harus melakukan beberapa rangkaian prosedur yang bisa diakses di situs www.pedulisehat.id di bagian Syarat dan Ketentuan.

Semua data yang diterima juga akan diverifikasi dan bahkan jika diperlukan Peduli Sehat berhak melakukan verifikasi lanjutan serta investigasi terhadap sebuah kampanye yang dianggap patut untuk ditelusuri.

Diagnosa penyakit adalah bagian krusial dalam verifikasi galang dana online ini agar bisa mendapatkan donasi kesehatan.

Verifikasi juga dilakukan terhadap rumah sakit yang memberikan surat keterangan, data pasien serta hasil diagnosis.

Dengan beberapa rangkaian prosedur verifikasi, Peduli Sehat beritikad menjadi platform penggalang donasi kesehatan online yang terbaik dan kredibel, lebih mudah, efektif dan tepat sasaran!

Tertarik menjadi penggalang donasi kesehatan?

Silahkan mencoba sendiri layanan donasi online ini.

Cara Donasi Peduli Sehat Galang Dana Online
Untuk memberikan donasi kesehatan di Peduli Sehat begitu mudah!

1. Masuk ke www.pedulisehat.id tanpa perlu login
2. Pilih kampanye

galang dana online

3. Klik Donasi
4. Masukkan jumlah donasi
5. Pilih metode pembayaran  yang tersedia, ada Virtual Account (BCA, Mandiri, Sinarmas, BNI, Danamon, MayBank, Permata),  Alfagroup, aplikasi pembayaran QR Code LinkAja, e-wallet (OVO dan GO-PAY) atau online banking (Danamon)
6. Tuliskan komentar (opsional)
7. Klik di bagian tulisan jika "ingin berdonasi sebagai anonim"
8. Klik selanjutnya
9. Masukkan Nama dan Nomor Telepon
10. Bagikan di media sosial

Mau tahu lebih banyak tentang kiprah Peduli Sehat?

Cus langsung kepoin instagram @pedulisehatindonesia

Di sana kita akan menemukan kampanye-kampanye yang sudah dilakukan terhadap saudara-saudara yang membutuhkan termasuk kisah-kisah di belakangnya.

Misalnya seperti kisah ananda Vica yang menderita hidrochepalus dan bibir sumbing, di mana target donasi sudah tercapai. Alhamdullillah.

Cepat sembuh ya sayang...

galang dana online

Oh iya,

Sebagai bahan pertimbangan, perlu diketahui juga bahwa Peduli Sehat sudah tercatat lho di Kemenkumham dengan No. AHU-0033383.AH.01.01 tahun 2018 dan Kominfo dengan No. 01204/DJAI. PSE/10/2018 serta diawasi Kementrial Sosial.

Jadi, tunggu apa lagi?

Mari bersama ringankan lara dengan Peduli Sehat galang dana online yang bisa dimulai dengan Rp 10.000


Ketahui Kiat Mencari Restoran Lokal Saat Travelling

kiat mencari restoran lokal

Yang pernah bingung mencari restoran lokal pas travelling mana suaranya?

Aku pernah! Tunjuk tangan sendiri, hihihi.

Waktu itu perut memang sudah keroncongan. Ternyata pas tiba di restoran kesayangan tempatnya sudah penuh. Kesal binti kecewa tingkat dewa. Ceritanya, mau marah-marah, tepuk-tepuk manja dada sendiri, tapi sudah tak punya tenaga.

Pernah juga kejadian, restonya lagi tutup. Kayaknya yang punya resto masih banyak uang, lagi me time, kayaknya, muahahaha.

Jadi, mau tak mau makan di tempat kuliner random sajalah dulu. Soal rasa dikesampingkan saja, prioritas utama "kampung tengah" aman sentosa. Jangan sampai demo, bisa kacau agenda!

Nah di lain hari aku pernah juga alami kebingungan memilih lokasi restoran yang dekat dari hotel. Biasanya hal ini terjadi saat aku tiba di lokasi baru yang belum pernah aku datangi sebelumnya seperti saat menjajal lintas timur Sumatera.

Insiden seperti ini bisa jadi sangat menyita waktu, pikiran, bahan bakar dan tenaga juga. Waktu yang seharusnya bisa dialokasikan ke hal lain jadi terpakai untuk mencari lokasi restoran lokal.

Yang masih aku ingat sampai kini adalah ketika di Sangalaki di Pulau Tanpa Penghuni Berau, ada teman yang membeli minuman dengan harga yang hampir lima kali lebih mahal dari harga biasa. Dan doi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.

Tapi itu dulu!

Kini, kita bisa lho mencari restoran terdekat di Traveloka dengan fitur Traveloka Eats (Kuliner Traveloka) yang bahkan bisa disesuaikan dengan budget.

Berikut tips mencari restoran lokal terdekat di Traveloka sesuai budget!

1. Tentukan Budget Makan
Ada harga, ada rupa! Pasti sering mendengar ungkapan ini ya. Biasanya makanan dan fasilitas berkualitas memang dibanderol dengan harga yang tidak murah.

Itulah kenapa penting menentukan budget makan agar terhindar dari bengkaknya pengeluaran. Apalagi bagi pencinta kuliner yang sering tertantang untuk mencicipi kuliner baru di tempat baru. Bisa kalap, kakaaa...

Setelah budget ditentukan baru kemudian pilih restoran yang sesuai kemampuan. Tak ada gunanya menentukan budget makan tapi realisasi tak sesuai pilihan.

2. Unduh atau Perbarui Aplikasi Traveloka
Apakah kamu baru dengan aplikasi ini? Silahkan unduh dulu ya. Untuk kamu yang sudah pernah mengunduh kudu diperbarui ke Traveloka versi 3.1 (versi terbaru).

Pastikan aplikasi terunduh atau terbarui secara sempurna untuk mendapatkan informasi terkini!

Selanjutnya langsung masuk ke menu kuliner. Ini merupakan langkah awal menemukan restoran lokal.

kiat mencari restoran lokal

3. Mencari Tempat Makan Terdekat
Untuk bisa menemukan restoran lokal terdekat, pilihlah lokasi yang diinginkan di daerah tersebut. Di bagian ini terdapat beberapa tempat kuliner yang sering dikunjungi pencinta kuliner. Pilih salah satu sesuai keinginan dan budget.

Dalam menu ini juga terdapat berbagai pilihan seperti menu-menu makanan, mulai dari kuliner Indonesia, khas Jepang dan sebagainya. Tinggal pilih!

kiat mencari restoran lokal

4. Mencari Potongan Harga
Nah ini bagian favoritku! Apalagi kalau bukan soal potongan harga, yihaaa...!

Untuk mendapatkan potongan harga, pada halaman pencarian, kita bisa menggunakan filter "penawaran spesial".  Yup, menu ini terletak di bagian atas halaman pencarian.

Beberapa restoran yang sedang memberi potongan harga akan segera tertera, termasuk nama menu dan potongan harganya.

kiat mencari restoran lokal

Setelah menjatuhkan pilihan, kamu akan diminta melakukan pemesanan sekaligus rincian pembayaran.

Biasanya potongan harga diberikan dengan menggunakan voucher Kuliner Traveloka, jadi pastikan kamu menggunakan kode voucher saat pembayaran sekaligus memperhatikan syarat dan ketentuan.

Hal ini penting untuk menghindari kegagalan penukaran. Bisa jadi karena batas waktu atau tidak memenuhi syarat dan ketentuan.

Setelah pemesanan, biasanya dalam waktu sejam Traveloka akan mengrimkan voucher via email.

Tunjukkan voucher tersebut saat melakukan pemesanan di tempat kuliner dan dapatkan potongan harga secara otomatis saat elakukan pembayaran.

Lumayan kan bisa hemat. Dananya bisa dialokasikan ke keperluan lain, oleh-oleh misalnya, atau buat rencana travelling ke tempat lain lagi.

Namun sayangnya fitur Traveloka Eats ini masih terbatas untuk 7 lokasi saja seperti Bandung, Bali, Jakarta, Medan, Surabaya, Tangerang dan Yogjakarta.

Kita tunggu saja terobosan selanjutnya dari Traveloka Eats ya.

Siapa tahu ada loyalty program atau point buat kita-kita si tukang makan ini yang memberikan review atau ulasan restoran. Lumayan banget kan!

Last but not least, semoga kiat mencari restoran lokal terdekat saat travelling ini bermanfaat!

Eits, hampir lupa, apakah kamu sudah pernah pakai Traveloka Eats?

Monggo share dong di kolom komentar ya...


Ketahui 20 Rekomendasi Meningkatkan Kualitas Konten Blog

 20 Rekomendasi Meningkatkan Kualitas Konten Blog
Hai, there!

Punya banyak draft konten blog yang masih nongkrong menunggu dieksekusi? Atau sedang menunggu waktu luang? Kehabisan ide? Masih mencari segudang alasan, kambing hitam?

Ahhh, sudahlah, itu manusiawi banget kog. Seperti judul lagu MJ, "You are not alone!"

Tulisan ini sebenarnya self reminder, hahaha, karena mood nge-blog eike perlu dikipas.

Yup, kali ini aku mau melakukan sesuatu yang sudah agak lama aku tinggalkan, keluar sebentar dari rutinitas, main-main ke domain-nya blogger femes sambil nambah stok vocabularies.

Begitu aku klik, karena aku pasang Moz Bar di status browser, DA-nya langsung pop up deh. 73, pemirsah!

Siapakah mereka?

Lho, kog mereka?

Iya, 2 blogger ini (Joshua dan Ryan) yang bersahabat sejak fifth grade, berkolaborasi dengan domain "The Minimalists"

Siapa yang sudah pernah main ke sana? Atau mungkin malah sudah sering?

Nah, dalam kesempatan kali ini aku akan berbagi 20 rekomendasi untuk meningkatkan kualitas konten blog ala The Minimalists.

Kalau nanti pada akhirnya ternyata dari 20 rekomendasi ini, kamu belum mengeksekusinya, tak perlu kecewa. Masih ada waktu, Maria, tenang sajalah!

Mari kita mulai...

And, biar seru boleh siapkan camilan dulu!

Tahukan, camilan?

Itu lho... ahhh... sudahlah. Nanti kamu bosan, hahaha...

1. Temukan Niche
Yup, seperti yang juga pernah aku share saat menghadiri event Blogger Goes to School, memiliki  niche blog lebih dianjurkan. Memang sih bukan keharusan. Tapi lebih baik. Coba deh tanya lagi dirimu, apa sih yang menjadi passionmu? Travelling, parenting, cooking, lifestyle?

Percayalah, menulis sesuatu yang kita sukai (apalagi kalau dikuasai) itu lebih mudah!

Jadi, sekali lagi, coba deh tanya dirimu dan temukan passionmu, dan tulislah konten blog dengan perspektif unik

2. Tetapkan Pembaca Idealmu
Sudah ketemu niche blog kan ya, sekarang giliran menetapkan siapa target pembaca idealmu!

Karena aku seorang istri sekaligus ibu yang suka travel dan gemar berbagi gaya hidup sehari-hari termasuk gaya pengasuhan,  mencoba dan mereview produk serta proses belajar otodidak menjadi blogger, maka targetku adalah pembaca yang menyukai travelling dan gaya hidup seperti aku juga.

Seiring waktu, apalagi kalau blog sudah dipasang google analityc, kita bahkan bisa tahu usia, jenis kelamin, passion, lokasi dan indikator lainnya dari pembaca setia blog kita.

Dengan informasi ini, kita pun mampu menyesuaikan konten blog dengan gaya penulisan.

3. Nilai Tambah
Pastikan pembaca selalu mendapatkan nilai tambah saat berkunjung ke blog ya.
Bantulah pembaca menemukan solusi!

Percayalah hanya dengan ini, kamu akan punya pembaca setia bahkan mereka tak sabar menantikan postinganmu selanjutnya.

Wih, keren banget yak!

Jadi, sekali lagi tanyalah kepada diri, apakah konten blog kamu punya nilai tambah?

4. Orisinal
Yup, seperti 20 rekomendasi ini, aku percaya mungkin ada beberapa blogger yang sudah menuliskannya.

Tapi, jika kamu ingin menuliskannya lagi, tidak apa-apa. Tapi gunakanlah gaya unikmu!

Pertanyaannya adalah apa yang membuat konten blog kamu berbeda?

Jawabannya: karena kamu! Kamulah yang membuat blogmu berbeda, persfektifmu, kreativitasmu serta nilai yang kamu tambahkan. So, please be original!

Gimana, makin hot aja nih topik ya. Aku saja sudah mulai geregetan, hahaha

5. Buatlah Menarik
Nah ini basic banget! Mungkin kamu sudah sering mendengarnya. Apa-apa yang menarik, pasti cepat merebut perhatian. Jadi, buatlah konten menarik dan unik. Buatlah orang tak sabar ingin segera membagi konten blog kamu dengan orang lain.

Huuuaaa... ini PR banget nih buat aku!

6. Jadilah Dirimu Sendiri
Pernah dong baca konten blog yang serasa kamu ikut terhanyut didalamnya? Bahkan mengulang-ulang mampir di tulisan itu karena sudah kerasukan. Aku pernah!

Yup, salah satu yang bikin konten blog menarik itu adalah saat menjadi diri sendiri. Menjadi unik! Tak perlu bertele-tele atau mendayu-dayu, bikin orang jenuh, nanti malah jadi bosan dan garing.

Tahukah kamu?

Ternyata, the great storyteller itu adalah menghilangkan 99% dari aktual sebenarnya yang terjadi dan hanya menyisakan 1% yang menarik untuk pembaca.

Wow, tantangan banget ini ya!

7. Jujur
Konten blog kamu harus otentik! Berasa nyata kalau kamu mau orang membacanya. Kamu bisa jadi blogmu dan blogmu jadi kamu.

Artinya...

Apakah kamu benar-benar melakukan, mengalami atau merasakan sebagaimana yang kamu tuliskan?
Pembaca bisa tahu lho... hati-hati!

"Be the change you want to see in the world" ~ Gandhi~

8. Transparan

Transparan berbeda dengan jujur! Jadi, tak perlu berbagi setiap detail kehidupanmu agar bisa dikatakan jujur. Namun jika jujur dan transparan bisa menjadi nilai tambah, maka lakukanlah!

... karena semua yang kita tulis haruslah serve the greater good!

Maksudnya?

Pastikanlah semua hal-hal yang kita tulis, memiliki benefit untuk pembaca!

9. Waktu
Ngeblog itu butuh waktu. Banyak banget!

Hindari menggunakan waktu untuk hal-hal kecil misalnya memikirkan widget dan lain-lain sampai lupa big picture-nya, menulis konten blog!

Luangkan waktu untuk membuat konten, jangan tunggu waktu luang!

Nah loe, seperti ditempeleng akutu!

10. Visi
Pasti kamu sudah punya visi (gambaran) dong ya, ntar desain blogmu akan seperti apa. Mau yang gratis atau berbayar?
Dan jika sudah punya visi, segera eksekusi!
Agak sulit memutuskan jika kamu sebelumnya tidak memiliki gambaran.

Karena tak punya latar belakang desain dan coding, untuk template blog ini aku juga minta bantuan masukan teman.

11.  Temukan suaramu
Seiring waktu, seorang penulis biasanya akan menemukan gaya penulisan yang cenderung mewakili karakter tertentu, yang melahirkan daya tarik untuk mengikat pembaca. Temukanlah "suaramu", yang membuat tulisanmu lebih hidup, lebih nyata!

12. Gunakan istilah "Kita" ketimbang "Kamu"
Yup, menggunakan "kita" lebih powerful ketimbang "kamu" terutama saat membicarakan perilaku atau kecenderungan negatif. Hindari membuat pihak lain seperti tertuduh. Bayangkanlah seperti kita bicara seperti antara teman dengan teman, (peer-to-peer) giccu.

13. Kapan Waktu Posting
Iya, kapan sih sebenarnya waktu terbaik update konten blog? Jawabannya... tidak terlalu penting. Memang sih konsisten menulis itu penting, tapi gak perlu sampai schedule's freak banget gitu juga.
Kalau aku sih, satu kali seminggu sih, cukuplah!

14. Media Sosial
Yes, sangat dianjurkan untuk menggunakan Twitter, Facebook dan Instagram untuk terhubung dengan pembaca. Tapi... tetap fokus utama adalah konten blog, baru kemudian media sosial.

15. Abaikan Kritik Negatip dan Hal-Hal Tolol
Alhamdullillah aku pernah dapat beberapa kritik membangun dari sahabat blogger.
Aku juga percaya kritik bisa membuat kita "besar dan tumbuh". Belum pernah sih dapat komentar negatif, biadab dan barbar, tapi jika itu terjadi, pasti tak akan lulus moderasi, hihihi.

Rasanya rugi banget jika sampai terpancing emosi. Bukankah itu yang mereka harapkan? Jadi, untuk apa buang-buang waktu, no way!

16. Riset
Luangkan waktu untuk melakukan riset artikel-artikel yang berkaitan tentang tulisanmu sekaligus cantumkan sumbernya juga ya.

17. Buat Simpel
Buatlah blogmu sesimpel mungkin. Hindari widget-widget tak bermanfaat yang justru bikin blogmu lambat. Apalagi jika tidak mempunyai nilai tambah. Big NO!

18. Gambar
Pasang gambarmu di blog! Orang suka lho melihat ada gambar penulis di blog yang sedang mereka baca apalagi kalau pose sedang tersenyum manis. Tak perlu malu ya.

19. Komentar
Buatlah kolom komentar jika kamu ingin mendapatkan komentar dengan proses simpel dan praktis.

Aku pribadi memilih fitur moderasi, untuk menghindari komentar spam dan you know jualan obat kuat, obat pelangsing endebrai-endeberai.

20. Jalani Hidupmu
Sejatinya, kita nge-blog ini kan menuliskan tentang kehidupan atau sebagian dari aspek kehidupan kita.

Namun ada juga hal-hal lain di luar menulis konten blog seperti hubungan dengan pasangan/buah hati, aktivitas sehat, pengembangan pribadi serta ibadah.

Simply put, live a life worth writing about! Jalanilah kehidupan yang layak untuk dituliskan!

So, dari 20 rekomendasi meningkatkan kualitas konten blog ala The Minimalists di atas, yang manakah yang sudah kamu eksekusi?