Ssst! Begini Lho Karakteristik Wisatawan Tiongkok

karakteristik wisatawan tiongkok

Ssst! Begini Lho Karakteristik Wisatawan Tiongkok . Sebuah pesan 'terusan' masuk lewat WAG Blogger Balikpapan.

Tentang acara "Bimbingan Teknis - Sinergitas Promosi Pariwisata Pasar China Dengan Pelaku Industri Pariwisata"

Mataku sih langsung fokus sama 'Pasar China'. Memangnya ada Pasar China ya di Balikpapan?

Namun jauh di lubuk hati aku sudah tak yakin dengan hipotesa konyolku ini.

Lalu iseng aku ketik di google pakai kata kunci "Sinergitas Promosi Pariwisata Pasar China Dengan Pelaku Industri Pariwisata"

Ternyata eh ternyata, beberapa artikel sudah tayang. Bimbingan teknis sejenis ini juga sudah dilaksanakan di beberapa kota di Indonesia seperti Medan dan Semarang.

Olala... ini tentang bagaimana kiat merebut pasar pariwisata China/Tiongkok!

Duh, terbukti betapa konyol hipotesa awalku, hihihi...

Selanjutnya aku mencari asal muasal pesan 'terusan' WAG tadi.

Ternyata berasal dari akun instagram @balikpapan_city yang kerap menjadi mitra ibu Hetifah Sjaifudian, Wakil Ketua Komisi X DPR RI, terutama yang berkaitan dengan komunitas media sosial.

Ini adalah kali kedua aku mendapat info acara bagus seperti ini karena kerap kepo-in instastory @balikpapan_city.

Baidewei, subway, tulisan ini akan agak panjang dan berbau akademis,  jadi, waspadalah, waspadalah!

Saran aku sih sediakan camilan, tahukan? Itu lho cecudah celapan cebelum cepuluh, camilan! ^^

Kembali ke laptop!

Biar tidak saltum alias salah kostum aku DM deh mimin @balikpapan_city. Ternyata acara ini ga pakai dress code. So dengan nge-jins dan atasan casual aku siap sekolah lagi ^^

Rasanya sudah lama banget tidak mengikuti acara seperti ini. Pakai acara nginap satu malam di Hotel Grand Tjokro Balikpapan, lho, asli bikin kepo!

So, you guys  can imagine betapa antusiasnya aku!

Yup! Jam 11 teng aku sampai deh di lobi hotel. Langsung ke resepsionis tanya lokasi acara dan minta password wifi, xixixi... ^^

Aku lalu diarahkan ke ballroom Sapphire.

Sesampainya di sana, tak satu pun staff yang aku kenal, belakangan aku ketahui ternyata panitia inti, semuanya diboyong dari Kementrian Pariwisata Jakarta.

Mereka masih "touch up" venue di sana-sini. Mengatur OHP (overhead projector), memeriksa mike, tes-tes... dan sebagainya.

"Silahkan duduk dulu bu" Seorang panitia mempersilahkan aku sambil tersenyum manis.

"Registrasi dimulai baru jam 1 nanti, usai sholat Jumat," kata si mba menambahkan

"Beklah, mba, terimakasih!"

Sambil menunggu acara, aku membuka tas mengambil notebook, membuka blog sambil cek ombak, hahaha... lumayan atuh la, buat pageviews!

Waktu berlalu tanpa terasa. Tahu-tahu sudah masuk waktu sholat zuhur.

Usai sholat, aku menghampiri panitia dan bertanya apakah sudah bisa makan siang, karena aku lihat hidangan sudah tersaji rapi dan perut sudah mulai demo, saudara-saudara! ^^

"Silahkan, bu"

Beklah!

Hidangan kali ini sederhana namun menggugah selera.

Sepiring mie goreng plus sambal dan kerupuk sudah pindah ke dalam perut sekarang, hahaha, plus satu mangkuk kecil es cendol segar. Alhamdullillah. Rasanya aku siap bertarung ne! ^^

Peserta yang terdiri dari berbagai komunitas seperti pelaku UMKM, YouTuber, pemilik/pengurus objek wisata di Balikpapan, perwakilan akun instagram komunitas netizen dan aku sendiri, blogger kece eh, juga sudah terlihat di sekitar venue.

Aku juga bertemu Vicky Siburian, sahabat lama dari Kelas Inspirasi, punya kenalan baru Candra Area Coordinator Oleh-Oleh Balikpapan, Gulung Jenebora dan mba Weny praktisi UMKM yang piawai membuat cake dan cookies.

Acara agak molor dimulai jam 13.30, itu juga setelah MC Reval Zulfi, Duta Wisata Manuntung tahun 2014 yang kini berdinas di Sekretariat PemKot Balikpapan memanggil para peserta untuk memasuki ruangan.

Usai menyanyikan lagu Indonesia Raya dan berdoa, acara pun dimulai!

karakteristik wisatawan tiongkok

Bapak Djum'ali yang mewakili Bapak Walikota Balikpapan membacakan sambutan tertulis yang intinya sangat mendukung adanya kegiatan positif seperti ini.

Selanjutnya Ibu Irma Nurmayanti mewakili Kepala Dinas Pariwisata Balikpapan membeberkan potensi beberapa tempat pariwisata di Balikpapan seperti Pantai Kemala, Pantai Lamaru, Pantai Manggar, Pantai Kilang, Penangkaran Buaya, Batu Dinding Borneo, Bukit Bangkirai dan lain-lain.

Agar lebih afdol dan nampol, monggo search  aja pakai keyword "tempat wisata hits di Balikpapan".

Tak kurang ada 40 lokasi. Gak percaya? Buruan browsing, xixixi...

Selanjutnya, sambutan atau tepatnya curhat dari Pak Joko Purwanto, Direktur Badan Promosi Wisata Daerah Balikpapan!

Kalimantan Timur, dengan luas hutan tropis yang tersisa 60-75% sesungguhnya merupakan modal luar biasa untuk tujuan wisata minat khusus seperti ekowisata dan wisata petualangan.

Terdapat 10 kabupaten dengan potensi wisata yang sangat besar namun belum memberikan hasil signifikan karena kurangnya sinergi antar stakeholder.

Kurangnya semangat pengelolaan daerah serta aset wisata juga mengakibatkan rendahnya kinerja dan daya saing daerah tujuan wisata. Otomatis kreativitas juga ikut terjun bebas!

Pasar China atau Tiongkok memang sangat ideal dijadikan leading sector pariwisata di Balikpapan.

Tentu saja faktor utamanya karena Balikpapan memiliki bandara internasional namun ironisnya tidak memiliki rute internasional kecuali Silk Air tujuan Singapore itupun tidak bisa berangkat setiap hari.

Yup, sungguh ironis sekali ya!

Di bagian akhir Pak Joko berbagi informasi tentang Pulau Balabalagan.

Meski secara administrasi termasuk dalam daerah Sulawesi Barat namun akses dari Balikpapan ke pulau ini relatif lebih dekat dijangkau.

Jika menggunakan kapal biasa, waktu tempuh sekitar 10-12 jam. Hal ini tentu saja  kurang efektif ya, karena maksimal orang bisa menikmati perjalanan itu biasanya hanya 6 jam, itupun jika pakai pesawat terbang. Sedangkan jika ditempuh dengan jetfoil (sejenis feri cepat) bisa dipangkas menjadi 2-3 jam.

Ketika Pak Joko mengutarakan niatnya untuk melalak ke Pulau Balabalagang ini, banyak peserta yang mengacungkan tangan untuk join, termasuk aku, hahaha...

"Mari kita berdoa semoga ada investor yang tertarik ya," imbuh Pak Joko lagi.

Di bagian terakhir curhatnya Pak Joko menghimbau betapa pentingnya sinergitas promosi wisata, terutama, antara legislatif, eksekutif dan semua pihak yang terlibat dalam industri pariwisata!

Sesi tanya jawab sesi pertama didominasi curhat peserta. Tentang perlunya peningkatan infrastruktur di tempat wisata seperti akses masuk, kualitas jalan dan tentu saja sinergitas stakeholder pariwisata termasuk perhatian serius dari jajaran pemerintah Balikpapan serta komunitas agar upaya menggalakkan sektor pariwisata tidak hanya sekedar jargon dan jargon semata!

Selanjutnya materi dari Bapak Budi Setiawan, Dosen STP Sahid Jakarta!

Sebelum memulai sesi, Pak Budi mengajukan beberapa pertanyaan untuk menghangatkan suasana seperti siapa saja yang sudah pernah mengikuti pelatihan sejenis ini, yang memiliki usaha pariwisata, non pariwisata, siapa yang dari asosiasi pariwisata, dari akademisi serta yang dari desa wisata termasuk Pokdarwis.

Terus terang baru kali ini aku tahu tentang Pokdarwis, karena kebanyakan bertapa di depan notebook, hahaha...

Ayo siapa yang mau tos sama akuh?

Yup, Pokdarwis adalah.... Kelompok Sadar Wisata!

Selanjutnya, foto Presiden Jokowi mengawali sesi kedua ini.

karakteristik wisatawan tiongkok

Fix, tourism is a Leading Sector, officially!

Asyik! Jadi semangat ne nulis tentang travelling! ^^

Apalagi konfirmasi dari slide yang berikut ini.

karakteristik wisatawan tiongkok


Dan ini!
karakteristik wisatawan tiongkok

Terutama dari info grafis terakhir ini, jelas banget ya, kenapa penting banget sinergitas promosi pariwisata itu!

Melibatkan banyak stakeholder!

Mulai dari transportasi, akomodasi, atraksi dan souvenirisasi. Ah yang terakhir mah agak lebay ya, Maksudnya souvenir, giccu. Ceritanya, mau main diksi, gitu lho! ^^

Aku suka banget sama infografis dari Pak Budi ini. Cerdas, ringkas, informatif!

Apalagi saat membawakan materi. Energik dan komunikatif!

Terutama saat menjelaskan syarat daya tarik pariwisata!

karakteristik wisatawan tiongkok

Dalam banget yak.

Dengan infografis begini, kita bisa mengerti betapa krusialnya sinergitas promosi pariwisata ini.

Lalu beliau kaitkan lagi dengan Sapta Pesona!

karakteristik wisatawan tiongkok

Sesampainya di sesi ini, Pak Budi lalu berjalan ke mejaku, melangkah ke sisi sebelah kanan dan menuangkan air mineral ke dalam gelas di depanku.

"Perhatikan, saat menuangkan air seperti ini di depan wisatawan, posisi ini, kata beliau sambil menunjukkan maaf  'ketiak' beliau sendiri, ini adalah amat krusial!"

"Pastikan tidak ada bau, juga dari sini, kata beliau lagi sambil menunjuk mulut beliau"

"Jadi bisa dibayangkan, jika nanti ada wisatawan di Balikpapan mengalami kesan yang kurang menyenangkan, pasti semua akan ikut dirugikan, karena sekarang zaman digital, semua bisa viral dalam hitungan jam, menit bahkan detik!"

Begitu pula sebaliknya, jika ada kesan yang menyenangkan, semua pasti ikut ketiban rezeki.

"Jadi, efek domino sangat berperan sekali!" Pak Budi kembali menegaskan.

Cuma ada 2 pilihan. Mau terkenal karena kebaikan atau keburukan!

Karena tak ada ruang untuk "rata-rata!"

Duh, pas menyampaikan hal ini, aku mendadak merinding, karena pernah mendengar hal yang sama dari seorang motivator ternama, "tak ada ruang untuk rata-rata!"

Oh iya, buat kamu yang belum sempat browsing tempat wisata hits di Balikpapan dan Kalimantan Timur, boleh nih contek versi Pak Budi.

karakteristik wisatawan tiongkok

Wow, Batu Dinding!

Miniaturnya Great Wall, itung-itung buat pemanasan sebelum ke Tiongkok laaa ^^

Untuk pengalaman yang lebih afdol, hindari bepergian saat musim liburan atau weekend ke Batu Dinding ya.

Baca juga : Ini Dia 4 Cara Afdol Menikmati Pesona Batu Dinding Borneo


karakteristik wisatawan tiongkok


karakteristik wisatawan tiongkok

Wah ada Kakaban, si danau dalam pelukan!

Di Kakaban kita bisa  berenang bareng ubur-ubur tanpa sengat lho!

Aku sudah pernah menuliskannya di sini ^^

Juga tentang Maratua tempat di mana engkau ingin waktu berhenti sementara, saking indah dan sarat pesona!

Berikutnya, tet te re tet tet.... ini dia sesi yang paling di nanti!

Tentang karakteristik wisatawan Tiongkok/China

Seiring dengan perkembangan ekonomi Tiongkok yang sangat pesat, pasar pariwisata Tiongkok banyak dilirik sebagai pasar wisata baru yang sangat menjanjikan bagi sejumlah negara, termasuk Indonesia!

Perilaku wisatawan dapat digunakan untuk memahami kecenderungan wisatawan dalam memilih dan melakukan pembelian atas produk wisata.

Perilaku wisatawan Tiongkok ini juga berubah seiring perkembangan dan kemajuan media sosial.

Yuk kita intip sama-sama pegimana sih karakteristik wisatawan Tiongkok itu!

karakteristik wisatawan tiongkok


karakteristik wisatawan tiongkok

Pas sampai di sini, anganku langsung melayang ke suasana  saat travelling di daerah Campuhan Ubud Bali.

Tepat sekali!

Beberapa kali aku bertemu wisatawan Tiongkok baik muda atau tua, mereka gemar berkelompok!

Dan kalau satu orang sudah belanja di satu tempat, maka bisa dipastikan yang lain akan langsung mengikuti.

Mendadak aku jadi senyum-senyum sendiri, mengingat semua momen ini, so true banget!

Inilah kenapa penting mengetahui karakteristik wisatawan!

Agar kita bisa merancang produk wisata yang disesuaikan dengan karateristik wisatawan dan mendapatkan hasil yang optimal!

Mau tahu lebih banyak lagi tentang karakteristik wisatawan Tiongkok ini?

Simak fakta yang tak kalah menarik berikut ini!

karakteristik wisatawan tiongkok

Ini!

karakteristik wisatawan tiongkok

Dan tentu saja yang paling utama adalah yang ini!

karakteristik wisatawan tiongkok


Ternyata pantai di Indonesia guys, sangat mencuri hati mereka, karena eh karena, di Tiongkok sangat sulit menemukan pantai unik dan indah.

Sesi pertama hari ini sangat berkesan sekali, dan pernyataan Pak Budi di atas begitu terpatri, untung aja gak sampai ngigau di dalam mimpi, xixixi...

Usai sesi, pak Budi aku culik buat eksis bareng! Biar gak hoax, hahaha...

Maafkan foto yang kabur ya. Selain ruangan memang kesannya 'melow dan sendu', HP aku juga kayaknya belum support atau sang fotografer belum setting fitur.  Elus-elus HP... ^^

karakteristik wisatawan tiongkok

Untuk sesi hari kedua akan aku tulis di postingan karakteristik wisatawan Tiongkok selanjutnya ya...

Stay tune...!


Resiko Belanja Online Yang Kudu Diwaspadai

Resiko Belanja Online

Resiko belanja online yang kudu diwaspadai. Beberapa hari lalu aku menang kuis dari sebuah fanspage dan hadiahnya adalah voucher potongan harga Rp 50.000 dengan minimal belanja Rp 200.000 dari sebuah e-commerce, yang kebetulan aku belum pernah belanja online di situ sebelumnya.

Berhubung belakangan ini aku lagi senang banget pakai gamis yang berbahan katun (rasanya aku menjadi perempuan sempurna gitu, cieee....) jadi aku sudah keker nih, akan beli online beberapa koleksi e-commerce tersebut.

Biasanya, Blibli adalah salah satu e-commerce favorit aku untuk belanja online. Lagi pula karena sudah menjadi member Blibli aku juga sering mendapat info promo menarik setiap hari dan tak perlu repot lagi mengisi alamat pengiriman dan penagihan.

Namun ya karena hadiah kali ini bukan dari Blibli tetapi dari e-commerce lain, sekaligus juga untuk mencicipi pengalaman baru, aku putuskan untuk mencoba.

E-commerce ini tampilannya agak ramping dan hanya memakan 1/4 dari layar notebook. Awalnya aku sedikit kesulitan untuk menemukan tombol-tombol yang tersembunyi seperti untuk filter harga, warna, ukuran dan lain-lain.

Hmmm... apa ya istilahnya?

Belum user friendly untuk pengguna baru, nah itu dia istilahnya!

Atau mungkin juga karena aku belum pernah memakai sebelumnya ya.

Atau bisa jadi aku yang lola, hahaha...

So, hampir 15 menit aku mengklik tombol-tombol di situs e-commerce ini, barulah akhirnya aku familiar dengan tip dan trik jitu menemukan barang yang aku cari.

Singkat kata, akhirnya aku menemukan 2 potong gamis favorit, lalu kemudian check out dan metode pembayaran yang aku pilih adalah pakai kartu kredit sambil memasukkan kode potongan voucher harga dari hadiah di atas tadi.

Beberapa hari berikutnya aku mendapat sms notifikasi bahwa pesanan sedang dalam proses. Setelah itu aku tidak mendapat sms notifikasi lagi.

Aku ingat waktu beli online di Blibli sebelumnya, biasanya aku mendapat sms notifikasi, yang dimulai dari pesanan sedang diproses, pesanan sedang dalam perjalanan dan akhirnya sampai pada tahap terakhir, pesanan sedang dalam perjalanan ke alamat pemesan.

So far, kalau belanja online di Blibli, aku tak perlu repot memeriksa pesanan lewat internet karena selalu mendapat sms notifikasi.

Kembali ke laptop!

Meski e-commerce baru ini tak mengirim sms notifikasi seperti Blibli, 2 gamis pesananku akhirnya tiba sesuai waktu. Alhamdullillah.

Namun alangkah kecewanya hatiku, karena pesananku sangat berbeda tampilannya dengan yang ada di situs e-commerce itu!

Gamis pertama pesananku benar-benar tidak sesuai, selain warnanya kusam, jahitan yang tidak rapi juga modelnya tidak sesuai dengan tampilan di situs.

Bahkan yang lebih 'horor' pesanan gamis kedua malah berganti jadi celana kulot dan atasan lengan lonceng. Jib... ajib...ajib...ajib... ajib!

Rasanya aku mau nangis sekaligus marah tingkat dewa sambil juga berpikir keras, kira-kira apa yang menyebabkan si penjual mengirimkan pesanan tidak sesuai seperti itu.

Yang pasti kredibilitasnya pasti terjun bebas dan e-commerce itu jadi ikut buruk juga reputasinya.

Untung aku pas sendirian di rumah, jadi babang suami gak kebagian curhatku dan ikut menyulut api, hihihi...

Usai mengucapkan istighfar, aku beranjak ke meja makan, minum air putih dan menghembuskan nafas panjang. Inhale... exhale... inhale... exhale...!

Akal sehatku akhirnya beraksi. Langsung aku foto deh kedua pesanan tadi sebagai bukti. Ntar dikira hoax lagi.

Meski sudah minum dan menarik nafas panjang berkali-kali, aku masih bisa merasakan dadaku sesak dengan emosi.

Sungguh ini adalah pengalaman terburuk aku belanja online!

Aku langsung membuka situs e-commerce dan chat online dengan customer service. Aku tumpahkan semua kekesalanku! Sampai sepuluh ember kali ya tumpahnya, hahaha... Ember besar lagi!

Si mba CS hanya meminta maaf lagi dan lagi sekaligus memberi informasi tata cara proses retur pesanan.

Lumayan banyak juga nih kolom yang harus aku isi dan ini sungguh menyita waktu yang seharusnya bisa aku gunakan untuk melakukan pekerjaan lain.

Setelah mengisi lengkap formulir beberapa saat kemudian aku mendapat tembusan di email mengenai ringkasannya.

Resiko Belanja Online

Terus terang, aku merasa lega, karena sistem proses retur sangat responsif meski harus menunggu 3-7 hari setelah barang retur tiba di gudang agar bisa diproses.

Selanjutnya korespondensi kami berlangsung lewat email dan sangat formal. Kode pesanan selalu muncul dalam setiap koresponden.

Saat ini aku sedang menunggu proses 'refund' tagihan kartu kredit dan menanti transferan ongkos kirim yang aku gunakan untuk retur pesanan ke gudang masuk ke dalam rekening bank kembali.

Resiko Belanja Online

Beberapa hari kemudian aku juga mendapat voucher pengganti dengan nilai yang sama. Namun kali ini aku memilih untuk memberikannya kepada teman, hahaha. Masih trauma, kakaaa...

Masih tergambar jelas dalam pikiran bahwa sebelum belanja aku sudah melakukan rangkaian beberapa  kiat aman belanja online agar tidak tertipu lho.

Hal-hal seperti riset terhadap e-commerce dengan memeriksa ulasan konsumen, membaca kebijakan situs e-commerce terhadap konsumen, mencari tanda kalau situs e-commerce aman dengan melihat tanda gembok di status bar browser serta mempertimbangkan cara pembayaran.

Tapi namanya apes ya, tetap saja aku masih menjadi korban penipuan belanja online.

Jadi guys, meski kita sudah follow the rules resiko belanja online tetap saja mengintai.

Yang bisa kita lakukan untuk meminimalisasi kekecewaan ketika tidak mendapatkan produk sesuai yang diinginkan adalah :

- pastikan memeriksa paket barang dan membaca deskripsi produk dengan cermat 
- menyimpan semua bukti transaksi termasuk deskripsi produk dan harga, kuitansi digital dan salinan email 
- dokumentasi produk untuk bahan laporan untuk kelengkapan proses retur
- pastikan tidak merobek tag yang melekat di produk
- hubungi customer service secepatnya dan lakukan prosedur komplain

Nah, kalau sudah begini aku langsung ingat Blibli. Dan langsung membanding-bandingkan deh.

Sepertinya kalau aku mau beli online lagi, so far Blibli memang masih patut dijadikan andalan!

Apalagi kini Blibli sudah hadir dalam bentuk aplikasi yang bisa diunduh di playstore. Belanja online semakin mudah, seperti menjentikkan tangan saja.

Tapi tetap dong ya kudu belanja cerdas dan bijaksana dan full aware bahwa resiko belanja online itu tetap ada.

Semoga curhat resiko belanja online yang kudu diwaspadai ini bermanfaat ya.

Apa kamu pernah punya pengalaman belanja online yang perih binti pahit kayak di atas?

Sharing yuk...


Amanda Brownies Luncurkan Paket Hemat Amanda Brow

amanda brownies balikpapan paket hemat amanda brow
Outlet Amanda Brownies Balikpapan di Jalan Sudirman Markoni
Amanda Brownies Luncurkan Paket Hemat Amanda Brow. Sebuah pesan WAG dari komunitas Blogger Balikpapan masuk. Ada undangan konferensi pers dari outlet Amanda Brownies, pelopor brownies kukus dari kota Bandung.

Aha, akhirnya Balikpapan kebagian juga, bisikku dalam hati.

Beberapa minggu sebelumnya, lewat aktivitas IW (Instagram Walking) komunitas WAG yang anggotanya terdiri dari blogger, influencer dan buzzer dari seluruh pelosok Indonesia, aku pernah membaca postingan beberapa sahabat yang berdomisili di Bandung tentang Paket Hemat Amanda Brow ini.

Sejak saat itu, sebenarnya, jauh di dalam hati aku ini udah kepo tingkat dewa, "kapan giliran Balikpapan ya?"

Ternyata, pucuk dicinta ulam pun tiba!

Maka, jadilah hari ini, dengan mengendarai sepeda motor di tengah terik mentari aku menyusuri lalu lintas yang lumayan padat merayap menuju Amanda Brownies Balikpapan di Jalan Jenderal Sudirman no. 25, percis di depan kantor Samsat Markoni.

amanda brownies balikpapan paket hemat amanda brow
Amanda Brownies Balikpapan di Markoni
Begitu ke luar dari tempat parkir aku berpapasan dengan Lidha Maul pemilik www.bulirjeruk.com dan www.elemde.web.id.

Sedikit pangling karena tak biasa lihat doi pakai kacamata. Yang pasti lebih manis laa...hahaha.

Usai berpelukan kami langsung "action" eh maksudnya mengambil beberapa dokumentasi di sekitar area outdoor outlet Amanda Brownies Balikpapan.

Puas mengambil beberapa dokumentasi, kami melangkah masuk dan bertanya kepada staff security mau ketemu PIC Amanda Brownies Balikpapan, Ibu Yani.

Kami langsung diarahkan ke sebuah ruangan di mana Ibu Yani yang ternyata memiliki nama lengkap Rosmayani S.Pd, Kepala Outlet Cabang Balikpapan,  Bapak Muhammad Rhino Rakadhipa SM, Wakil Kepala Outlet Cabang Balikpapan dan Bapak Eko Agung Suprobo, Supervisor Area Kalimantan sudah menanti.

amanda brownies balikpapan paket hemat amanda brow
Pak Rhino, Ibu Yani dan Pak Eko (dari kiri ke kanan)
Fotografer : Adam Afrixal (https://adamafrixal.wordpress.com/)
Olala ternyata baru kami berdua yang pertama tiba di tkp!

Usai berkenalan, kami selanjutnya larut dalam perbincangan informal namun masih berkisar tentang  betapa pentingnya melibatkan akivitas marketing online melalui akun media sosial di zaman now ini.

Beberapa menit kemudian 4 sahabat blogger lainnya juga bergabung dan acara konferensi pers pun segera dimulai.

Pak Eko mewakili Amanda Brownies memulai acara dengan memutar sebuah video histori tentang Amanda Brownies.

Amanda Brownies berdiri sejak tahun 2000 di kota Bandung, dan saat ini memiliki 100 outlet yang tersebar di Jawa, Sumatera, Sulawesi, Bali dan Kalimantan. Amanda Brownies juga sudah memiliki hak paten atas nama, komposisi dan rasa.

Kreatif dan inovatif  adalah prinsip Amanda Brownies untuk bertahan dan bahkan menjadi pemain utama dalam bisnis kuliner ini sekaligus untuk melengkapi tagline keren "Ingat Brownies, Ingat Amanda"

Pernah dengar dong ya?

amanda brownies balikpapan paket hemat amanda brow
Rasanya gak bikin eneg!
Baidewei, dalam kesempatan kali ini, aku juga baru tahu kalau ternyata Amanda itu ternyata berasal dari singkatan Anak MANtu DAmai. Kirain nama salah satu pendiri.

Nah, siapa lagi nih yang punya pikiran sama dengan aku, ayo ngaku!

Selanjutnya Pak Eko memasuki acara inti, memperkenalkan kami dengan varian promo Paket Hemat Amanda Brow, satu paket yang terdiri dari 3 varian Amanda Brownies. 

Di Balikpapan, promo ini dimulai efektif  3 September 2018  terdiri dari:

Paket Pink Amanda Brow
(Amanda Brownies Pink Marble + Original + Sarikaya Pandan)
Harga Awal Rp 133.000 menjadi Rp 123.900

Paket Blue Amanda Brow
(Amanda Brownies Blueberry + Original + Tiramisu Marble)
Harga Awal Rp 136.000 menjadi Rp 126.900

Paket Choco Amanda Brow
(Amanda Brownies Choco Marble + Original + Cheese Cream)
Harga Awal Rp 157.000 menjadi Rp 146.900

Ayo dipilih-dipilih!
Paket Hemat Amanda Brow ini berlaku nasional di seluruh outlet Amanda Brownies namun untuk harga menyesuaikan dengan domisili outlet ya.

Untuk kenyamanan bersama juga biasakan bertanya kepada kasir syarat dan ketentuan untuk harga Paket Hemat Amanda Brow, karena setiap outlet punya kebijakan sendiri.

Selain itu Amanda Brownies juga punya varian baru seperti Green Tea Mint, Strawberry dan Banana Cheese.

Nah saat pulang aku kebagian ini nih, varian baru Banana Cheese!

Aku dan hubby suka banget! Perpaduan pisang, coklat dan kejunya, pas banget, gak bikin eneg.

Sebelumnya aku juga sudah punya varian favorit, Original dan Cheese Cream!

Apalagi kalau makannya sambil menikmati sunset dan siluet berduet di pantai Melawai Balikpapan atau menikmati pesona Bukit Dinding Borneo. Mantap jiwa! 

amanda brownies balikpapan paket hemat amanda brow
Varian baru itu, Banana Cheese!
Beberapa hari ketika browniesnya sudah lenyap eh habis, kemasannya aku timang-timang, aku putar-putar, mataku tertumbuk pada beberapa informasi penting ini, seperti kode produksi, expire date, komposisi, sertifikat halal dan informasi lainnya.
amanda brownies balikpapan paket hemat amanda brow
Informasi penting itu!

amanda brownies balikpapan paket hemat amanda brow
Foopak!

amanda brownies balikpapan paket hemat amanda brow
Sertifikasi MUI
Jadi, jangan seperti aku yang baru memperhatikan setelah Amanda Browniesnya habis ya, hahaha.

Sebagai seorang pembeli cerdas seyogianya kita memperhatikan hal ini sebelum memutuskan membeli.

Tapi aku percaya perusahaan sekaliber Amanda Brownies pasti sangat memperhatikan hal krusial seperti ini!
amanda brownies balikpapan paket hemat amanda brow
Blogger Balikpapan + Amanda Brownies Balikpapan 
Oh iya, Amanda Brownies ini juga bisa dipesan melalui aplikasi online Go Food by Go-Jek.

Caranya, klik Go Food dan ketik Amanda Brownies lalu pilih varian favoritmu!

Agar bisa selalu update dan lebih dekat, yuk kita kepoin akun instagram offisial Amanda Brownies:

@amandabrownies - untuk offisial lokasi Bandung
@amandakalimantan - untuk offisial lokasi Balikpapan

Kalau kamu, varian Amanda Brownies mana yang jadi favoritmu?


Pengalaman Bedah Mulut Infeksi Akut Gigi Geraham


bedah-mulut-gigi-geraham

Pengalaman Bedah Mulut Infeksi Akut Gigi Geraham. Holaaa... biar lebih nyambung, simak drama yang tak kalah seru sebelumnya di Pengalaman Bedah Mulut Infeksi Akut ya.

*****

Positif, aku gagal bedah karena harus ngantri kamar bedah. Terus terang, aku juga baru tahu kalau bedah itu kudu ngantri, xixixi...

Adakah di antara pemirsaah alami hal yang sama? Atau mungkin keluarga, sahabat atau tetangga, kudu antri kamar bedah?

Langsung terbayang aku akan ucapan dokter bahwa kasusku ini gawat dan bisa berakibat kematian.  Horor banget kan ya! *usapdahi!

Kembali ke laptop!

Aku lalu diminta membatalkan puasa dan diberi sarapan.

Hari itu beberapa teman SMA babang suami datang berkunjung saat pipiku sudah semakin montok eh bengkak dan kini pakai bonus, berwarna pink. Rupanya infeksi semakin parah!

Kini aku semakin jarang membuka mulut karena semakin sakit dan nyeri meski aku sudah mendapat injeksi anti nyeri melalui selang infus.

Malam ini aku diminta puasa lagi sejak jam 10 malam. Beklah!

Pagi hari, kabar baik datang!

Bahwa positif bedah akan dilakukan dan jam 7 pagi dokter bedah mulut akan visit!

Benarlah, jam 7 dokter datang dengan seragam militernya, cantik, segar dan super gagah!

Ia ditemani perawat jaga dengan rekam medis aku di tangannya.

"Selamat pagi, ibu!"
"Selamat pagi, bu dokter!"
"Sudah puasa kan ya tadi malam?"
"Iya, bu dokter"

Usai bicara dokter meraba pipi bengkak dan bertanya.

"Sakit?"
"Iya dok, nyeri dan berdenyut!"
"Jam 11 nanti rencana jadwal bedah, sudah siap kan ya bu? Sebentar saja kog prosesnya, paling satu jam. Ibu juga dibius total, jadi tak perlu takut ya"

Dokter memberi semangat sambil tersenyum ramah.

Nyuuus.... sejuk hatiku melihatnya. Menghapus sembilu yang sudah beberapa hari terpahat di hatiku.

Subhanallaah, mendadak aku merasa sembuh!

Kini aku semakin mahfum mengapa senyum adalah ibadah! Begitu banyak kebaikan di dalamnya. Luar biasa ya!

"Baik, dok, terimakasih!"

Aku menjawab dan membalas senyum dokter spesialis bedah mulut itu.

Mendadak adrenalin segera mengambil kembali. Membayangkan aktivitas bedah nanti.

Adegan rekaman berbagai histori bedah yang pernah aku alami, berseliweran di pikiran.

Terakhir bedah pada tahun 2010, kuretase karena keguguran saat usia kehamilan 8 minggu, janin tidak mengalami perkembangan yang signifikan.

Saat itu aku dibius total juga. Tidak ada masalah sih karena sebelumnya aku sudah 2 kali dikuret juga. Pertama tahun 1997 karena haid tak kunjung berhenti selama hampir 3 minggu, dan berikutnya tahun 2006 karena hal yang sama, keguguran, saat kehamilan berusia 8 minggu juga dan janin tidak mengalami perkembangan yang signifikan.

Baca juga : Pentingnya Mempersiapkan Kehamilan Dengan Baik

Jadi ini adalah kali ke empat aku berhadapan lagi dengan meja bedah! 1997, 2006, 2010 dan kini 2017. Iya, ini adalah pengalamanku di tahun 2017 lalu.

Kembali ke laptop!

Usai visit, dokter bersama perawat kembali ke ruang utama.

Tak berapa lama perawat tadi kembali dan izin mau mengambil darah untuk tes alergi.

"Maaf ya bu, ini agak sakit karena saya harus menyuntiknya di bawah daging"

"Ini tes anti alergi ibu, kalau nanti ibu ada alergi, di bagian yang disuntik akan terasa gatal, tapi jika tak ada gatal, berarti ibu tidak punya alergi"

Aku ingat sudah pernah alami prosedur ini sebelumnya.

Aku menutup mata dan berdoa, tapi well, tetap saja rasa seperti disilet itu mampu buat aku meringis. Perih, euuiii. Puk-puk dada sendiri.

"Ibu juga harus ganti baju ya, pakai baju bedah, kata perawat sambil menyerahkan baju berwarna hijau dengan model hanya diselempangkan kayak kimono"

Tak berapa lama babang suami datang dan aku menceritakan segalanya.

Sampai saat ini gatal tak kunjung menghampiri, berarti aku bebas alergi, alhamdullillah!

Jam 10 aku dibawa pakai kursi ke instalasi kamar bedah. Kembali adrenalin mengambil kendali, aku  terus membisikkan doa, membesarkan hati sambil membayangkan kesembuhan yang sudah menanti, melambai-lambai, dengan tatapan menggoda di seberang sana.

Babang suami mengiringi sambil menggenggam tanganku di samping kursi, bersama seorang perawat lelaki berbadan tegap yang juga prajurit TNI. Jarum infusku juga dinonaktifkan.

Sungguh aku tak menyangka bahwa akhirnya aku akan memasuki kamar bedah yang beberapa hari lalu aku foto dengan gadget saat wira-wiri menunggu giliran di ruang tunggu pasien dokter bedah mulut.

bedah-mulut-gigi-geraham

Sampai di pintu kamar bedah, babang tak bisa masuk. Doi mengecup keningku dan berbisik "Abang tunggu di luar ya sayang..."

Melewati pintu, hanya tinggal aku dan perawat TNI. Selanjutnya perawat ruangan memberikan rekam medis kepada perawat laki RO (Ruang Operasi).

Di sini sangat dingin. Brrr... aku langsung menggigil kedinginan. Apalagi sedang puasa. Klop deh. Lapar dan kedinginan. Langsung terbayang mie ayam hangat dengan topping bawang goreng, perasan jeruk nipis dan sambal. Alamak!

"Saya tinggal dulu ya bu, sampai jumpa lagi, katanya sambil menutup pintu dan berlalu" ujar perawat ruangan itu.

Selanjutnya perawat RO yang kini bertugas. Dia membawa rekam medis ke dalam ruangan sambil berkata.

"Tunggu sebentar ya, Bu"

"Beklah"

Sambil menunggu aku memperhatikan sekeliling ruangan. Sepertinya sedang ada renovasi, di sisi lain bangunan. Samar-samar aku mendengar suara ketukan yang bercampur dengan hirup pikuk suara alat kesehatan yang sedang dilempar-lempar. Klonteng,klonteng! Berisik banget! RO kog berisik gini, ya, ucapku dalam hati, hihihi.

Tak lama perawat tadi kembali dengan tambahan satu perawat laki, di tangannya ada sebuah kostum lagi.

"Ibu, harus ganti baju lagi, itu ruangannya, katanya sambil menunjuk sebuah ruangan"

"Maaf, apa saya bisa ke kamar mandi dulu, tanyaku?"

"Silahkan bu, lewat sini!"

Karena kedinginan, keinginan buang kecil begitu dominan. Padahal aku puasa lho, apa yang mau dikeluarkan. Brrrr... kembali aku menggigil kedinginan.

Aku lalu berganti baju. Tipikal baju kamar bedah. Seperi kimono dan kancingnya hanya berupa tali di bagian belakang. Panjangnya melewati lutut, berwarna hijau, lagi!

Kembali ke ruangan semula aku sudah dinanti kedua perawat tadi.

"Silahkan bu naik ke sini, katanya sambil menunjuk tempat tidur"

Inilah saatnya dalam hatiku!

Saat mau naik ke tempat tidur, tak sengaja aku memegang pinggiran besi dan hiiii... dingin sekali! Tambah horor aja nih!

"Tunggu sebentar ya, bu, baring-baring saja dulu"

Aku ditinggal di lorong sendiri. Kembali aku mengigil kedinginan, hihihi.

Tak lama salah seorang perawat tadi kembai lagi.

"Kita sekarang ke kamar bedah ya bu"

Tempat tidur bergerak. Srrrt... srttt... srttt

Ternyata di dalam sudah ada tim yang menanti, 2 perawat lainnya dengan pakaian lebih lengkap. Pakai penutup mulut.

Aku diminta pindah tempat tidur lagi. Kali ini tepat di bawah lampu yang amat-sangat terang.

"Apa kabar bu, sudah pernah dibedah sebelumnya?"

"Sudah, Mas. Dikuret sih"

"Tahun berapa itu?"

"Terakhir tahun 2010"

"Wah sudah lama juga ya"

"Ibu, boleh lho sambil baca-baca doa"

Perawat kembali mengajak aku bicara.

Meski tidak diingatkan, sudah dari tadi aku membaca doa dan mencoba tidak emosionil. Takut tekanan darah melonjak, bisa batal nih.

Suara langkah hilir mudik dan persiapan terdengar begitu dekat di telinga. Sepertinya tim bedah sudah berkumpul dan semakin lengkap!

"Coba Bu, ceritakan sedikit tentang bedah terakhirnya"

Sambil menutup mata aku mulai bercerita.

"Saat itu saya sudah telat beberapa bulan...."

Aku tak bisa meneruskan lagi, karena tiba-tiba aku merasa sangat mengantuk dan ingin tidur.

Saat terbangun, aku sudah dalam perjalanan menuju ruang perawatan. Srrttt... srrtt ... suara roda tempat tidur memecah keheningan di lorong rumah sakit.

Ada hubby di sampingku mengiringi dan perawat tadi pagi yang membawaku ke RO.

Pandanganku masih kabur sih. Refleks aku menyentuh pipi. Masih bengkak. Lidahku juga refleks bergerak, mencari gigi geraham yang ternyata sudah lenyap dan hei apa ini... terasa seperti ada 'sesuatu' yang kenyal seperti karet di bagian geraham yang dibedah tadi.

Duh jangan-jangan dokter lupa membersihkan dan tertinggal di sana, pikirku sok tahu. Berbagai spekulasi medis dan cerita duka pasca bedah sempat menggoda. Buru-buru pikiran negatif itu aku campakkan jauh-jauh!

Aku harus menanyakan ini pada perawat nanti, pikirku dalam hati

Aku mencoba mencari sisa rasa nyeri atau berdenyut usai bedah. Tapi tak ada! Alhamdullillah.

Sesampainya di ruang perawatan, aku baru sadar ternyata masih memakai baju bedah yang tadi. Ada sedikit noda darah di sana. Aku langsung minta baju ganti sama perawat dan bertanya apakah sudah bisa makan, hahaha... Lapar banget euuui...!

Perawat datang membawa ganti baju dan berpesan agar aku mengunyah pelan-pelan. Justru makan adalah terapi pertama yang harus dilakukan, begitu menurut perawat jaga ruangan.

"Mba, apa ya ini di dalam mulutku, seperti karet gitu, sangat mengganggu?"

Akhirnya aku menuntaskan rasa ingin tahu.

"Gini bu, itu seperti perban elastis, mencegah agar luka jangan menutup dulu agar sisa nanah tuntas  bisa mengalir sekaligus mencegah masuknya bakteri atau kuman lain"

"Begitu ya. Tadi sempat terpikir mau aku tarik lho, mba"

"Wah, jangan bu! Harus dokter yang melakukannya!"

Wajah perawat terlihat kaget dan sangat khawatir.

Ya ampun, lagi lagi aku bersyukur tidak melakukan tindakan itu.

So, I have to live with that, I have no choice!

Jadi, saat mengunyah bubur aku kembali merasakan "sensasi karet" di dalam mulutku. Ikut bergerak-gerak, melambai-lambai. Hahaha... Pengalaman yang tak akan terlupa sepanjang usia!

Tapi benar lho, karet ini amat mengganggu terutama saat mengunyah dan berbicara, karena ia ikut bergerak membelai gusi dan langit-langi di mulut. Bayangkanlah seperti saat kita mengunyah lembaran karet di dalam mulut!

Ternyata aku juga belum bisa pulang, karena harus kontrol pasca bedah, keesokan harinya.

Yup, aku harus kontrol ke dokter spesialis bedah mulut lagi!

Pagi itu, seperti sebelumnya pasien sudah banyak yang antri di ruang tunggu. Ibu dokter laris manis kayak varian es krim favoritku!

Mungkin karena aku pasien pasca bedah, tak perlu menunggu lama. Begitu sampai di ruang tunggu, perawat pendampingku langsung mengetuk pintu, masuk dan tak lama mendorong kursiku membawa ke dalam ruang periksa dokter. Kali ini tak ada calon prajurit di sana, hanya perawat. Ruangan lengang dan hening.

Alhamdullillah, senyum manis dokter kembali menghiasi pagi ini. Sungguh aku sudah lupa dengan ucapan ketusnya yang menyayat kalbu beberapa hari lalu.

"Pagi ibu, apa kabar, gimana istirahatnya tadi malam, ada keluhan?"

Itu ucapan pertamanya saat kami berhadapan di meja kerjanya.

"Alhamdullillah, baik, dokter"

"Mari bu, kita periksa lagi ya"

Kami berdua menuju dental chair.

Dokter segera meraih sarung tangan.

"Buka mulut, maaf ya bu, ini saya pijat sedikit untuk mengeluarkan sisa nanah, agar tuntas"

Tangan dokter menarik perlahan perban karet yang mengganjal, tak ada rasa sakit, lalu melakukan pijatan di daerah yang baru dioperasi. Refleks aku meringis dong ya, hahaha... masih sakit, kakaa...

"Maaf ya bu, ini harus dipijit biar semua nanahnya keluar, kata dokter sekali lagi"

Usai melakukan pijitan, dokter juga melakukan beberapa kali penyemprotan. Aku diminta berkumur beberapa kali.

Di fase terakhir, dokter kembali memasang perban karet (rubber drain) di bagian luka bekas bedah.

Belakangan aku tahu, setelah browsing di internet, bahwa karet yang mengganjal itu adalah rubber drainage bagian dari insisi of drainage. Untung  saja aku tidak tarik ya. Hiii...

"Ibu juga boleh sikat gigi ya, tapi perlahan-lahan dan jangan sampai terkena area yag baru dibedah. Makanan juga kudu yang lunak-lunak dulu ya"

"Baik, dok"

"4 hari lagi datang untuk kontrol lagi ya bu"

"Baik, dok"

"Hari ini ibu boleh pulang dan minum obat sesuai aturan. Cepat sembuh ya, bu"

"Terima kasih dokter"

Perawat memberi daftar resep dan beberapa bekas dokumen yang diperlukan untuk registrasi saat kontrol ulang nanti. Jadi tak perlu surat rujukan dari dokter umum lagi, tapi langsung membawa rujukan dari dokter spesialis bedah mulut saja.

4 hari kemudian aku kontrol lagi. Sama seperti sebelumnya dokter melakukan sedikit pijitan. Namun kali ini rasanya tidak begitu sakit lagi. Ini adalah kontrol ke 3 pasca bedah.

"Hasil bedah terlihat bagus, tidak ada infeksi, teruskan minum obat ya bu. Yang antibiotik harus dihabiskan, dan seminggu lagi ibu datang untuk buka jahitan"

Alamak! Ternyata harus buka jahitan ya, bisikku dalam hati. Rasa nyeri kembali berkelebat di benak.

Pada kontrol kali ini, dokter juga mengeluarkan rubber drain dari bekas luka bedah dan tidak memasangnya kembali. Aku merasa back to normal, hahaha. Tidak ada lagi yang mengganjal di mulut!

Seminggu kemudian aku datang untuk kontrol dan buka jahitan. Berbeda dengan kunjungan sebelumnya, kali ini ruang tunggu sangat lengang.

Dokter juga tidak ada, hanya ada perawat wanita yang ramah itu.

Kunjungan kali ini lebih singkat, karena tidak ada acara pijit memijit luka bedah. Perawat meminta aku membuka mulut lalu menyemprotkan cairan.

Tak tahan menyimpan kepo aku lalu bertanya.

"Cairan apa itu, mba?"
"Oh itu. Air garam saja kog, mba, untuk mencegah infeksi. Kita akan buka jahitan ya bu"
"Sakitkah, mba?"
"Ngga sama sekali"

Alhamdullilah, aku berbisik lega.

Memang benar. Tak ada sakit sama sekali!

"Ini bagus, lukanya sudah mulai kering, nanti kalau ada keluhan bisa kontrol lagi, tapi kalau tidak ada ibu tak perlu datang ya"

"Harus minum obat lagi, mba?"

"Tidak bu, sudah selesai, ini tinggal masa pemulihan saja, tapi kalau nanti ada keluhan, ibu bisa kontrol lagi. Masih bisa pakai surat rujukan yang kemarin, karena itu berlaku satu bulan"

Alhamdullillah, sejak saat itu hingga saat menulis pengalaman ini, aku tidak pernah mengalami keluhan. Alhamdullillah.

Moral cerita ini adalah kalau geraham goyang dan sudah dianjurkan dicabut, tak perlu menunggu seperti aku, karena rentan untuk menjadi radang dan terkena infeksi dan ketika infeksi duh biyuuung...super duper nyeri, menyebabkan bau mulut yang bikin pede terjun bebas tak terkendali dan kalau semakin dibiarkan bisa fatal mengakibatkan kematian!

Oh iya nama diagnosa utama penyakit ini "Abses Fossa Canina Dextra" sedangkan diagnosis sekunder Periodontitis Apikalis Kronis (PAK). 

Hitung-hitung buat nambah wawasan lah, belajar istilah medis, siapa tahu nanti dapat menantu dokter gigi atau Sp. BM, hahaha...

Hush! Serius napa, lagi ngomongin bedah ini, woi!

bedah-mulut-gigi-geraham

Beklah!

Kayaknya kita sudah sampai di ujung cerita, semoga pengalaman bedah mulut infeksi akut gigi geraham ini bermanfaat ya.

Kamu punya pengalaman bedah mulut juga?

Yuk berbagi di kolom komentar di bawah ini. Ditunggu ya...

Pengalaman Bedah Mulut Infeksi Akut Abses Fossa Canina Dextra

Pengalaman Bedah Mulut Infeksi Akut

Pengalaman Bedah Mulut Infeksi Akut Abses Fossa Canina Dextra. Hari itu usai menyetrika, mendadak aku merasa sekujur tubuh nyeri. Padahal beberapa jam sebelumnya aku masih sehat walafiat, dengan posisi berdiri kira-kira hampir 2 jam, menyetrika tanpa penat!

Iya, aku lebih suka menyetrika sambil berdiri. Menurutku, hasilnya lebih rapi. Mungkin karena sejak dulu, ibu terbiasa mengajarkan aku cara ini, jadi terbawa-bawa deh sehingga kini.

Aku lalu merebahkan diri sambil mengingat-ingat kembali gerangan apa penyebabnya, kog sampai sekujur badan mendadak nyeri begini.

Saat babang suami pulang aku minta tolong dipijit, karena eh karena tangan suami jempol semua, hahaha...

Alhamdullillah perasaan sedikit jadi lebih baik meski waktu terasa merambat sangat lambat sampai akhirnya malam menjelang dengan tubuh masih sedikit nyeri karena aku terbiasa tidak mengkonsumsi obat pereda nyeri, aku tetap berangkat ke pulau kapuk.

Keesokan harinya nyeri tubuhku sedikit hilang, namun sebagai gantinya, saat bercermin aku menyadari, pipi sebelah kanan agak bengkak.

Hmmm, ini pasti karena geraham goyang itu lagi, rutukku dalam hati. Aku sudah sering alami hal ini sebelumnya.

Refleks aku membuka mulut, ya ampun, gusiku bengkak sekali, itu dia penyebab pipi ikutan super tembem. Kayak pentolan!

Biasanya aku akan berkumur dengan air garam dan semuanya akan kembali lebih baik!

Jadi gini,

Gigi geraham bagian kanan atas aku kan goyang tuh. Nah, saat goyangnya masih "sedikit" aku konsultasi laa ke dokter gigi keluarga.

Setelah diperiksa secara menyeluruh, dinyatakan gusi dan gigiku sehat tidak ada infeksi, hanya goyang saja, itu juga masih, yaitu tadi, "belum terlalu goyang!"

Dokter menyarankan agar dirawat dulu, dengan harapan bisa kembali normal.

Caranya dengan rajin konsumsi vitamin C dan kumur dengan air garam hangat, karena gusi dan giginya masih sehat. Kalau ada keluhan, boleh kembali, begitu menurut dokter.

Aku langsung bersorak dalam hati, yay, asyik tak perlu dicabut!

Bukan apa-apa sih karena kalau dicabut bisa dipastikan saat aku tertawa, geraham ompong akan menghiasi media sosial, bisa-bisa harga pasaran terjun bebas, hahaha...

Tapi benar kog, itu adalah alasan utama aku untuk menunda mencabutnya.

Aku sudah mencoba tampil beda dengan mengandalkan pose senyum tanpa kelihatan gigi, seems it is not work for me. Selalu saja fotoku seolah seperti sedang "menahan" apa gitu. Something is missing but I don't now what.

Intinya gak sedap saja dipandang, hiiksss. Di lain kesempatan malah terlihat meninggalkan kesan jutek tingkat dewa. Aku aja ngeri memandangnya!

Kembali ke laptop!

Aku, atau tepatnya kami sekeluarga cocok banget dengan dokter gigi Norma ini. Sosoknya yang ramah dan gemar berbagi langsung mencuri hati.

Iya, tak perlu diminta, beliau akan berbagi detail penyakit yang kami derita. Bahkan jika pasien kurang ramai, kami juga kerap bercanda, tapi tentu saja waktu sesi konsultasi ya.

Jadilah beberapa tahun aku merawat gigi geraham goyang itu dengan berbekal teknik dari dokter gigi keluarga tadi seperti perbanyak konsumsi vitamin C dan kumur dengan air garam.

Alhamdullillah hampir 5 tahun aku mengamalkan ini, gigi geraham yang goyang tak pernah menyusahkan, tap pernah nyeri! Memang sih masih goyang dan aku kerap menggunakan mulut sebelah kiri untuk mengunyah makanan.

Memasuki tahun ke 6, seiring bertambahnya usia, geraham goyang rupanya semakin goyang.

Suatu hari aku merasakan agak sedikit nyeri dan ketika membuka mulut aku melihat gusi tempat geraham goyang alami sedikit pembengkakan.

Aku konsultasi ke dokter gigi di Puskesmas. Karena masih sakit aku dikasih obat penawar nyeri dan  diminta kembali lagi saat nyeri hilang dan selanjutnya geraham aku akan dicabut karena sudah sangat goyang.

Nah di sinilah masalah bermula.

Ketika nyeri geraham hilang, aku tak kembali lagi ke Puskesmas, karena masih sayang dengan geraham, meski aku akui ada perasaan tidak nyaman saat mengunyah dan berbicara.

Bau mulut juga cepat timbul jika usai makan aku tidak langsung menyikat gigi. Tapi, aku masih tetap ngotot tidak mau ke dokter gigi, masih dengan alasan yang sama untuk alasan estetika, karena geraham kanan sebelah atas ini, saat aku tersenyum lepas pasti akan kelihatan jelas.

Begitulah, naif sekali ya alasanku ini. Silahkan bully aku, kaka... :).

Dan... akhirnya hari ini mencapai puncaknya. Gigi geraham yang goyang protes dengan caranya sendiri!

Sungguh aku tak pernah alami bengkak seperti ini plus super nyeri, hiii!

Aku langsung minta ditemani babang suami ke dokter gigi. Karena sudah pakai BPJS kami harus menyesuaikan dengan klinik yang bekerja sama dengan BPJS dan itu bukan dokter Norma!

Alhamdullillah, dokter gigi kali ini masih muda dan ramah juga.

Saat itu dia membawa balitanya ke kamar praktek. Gadis kecil itu sedang duduk di kursi periksa  pasien (dental chair) yang seperti well, kursi di film futuristik, menurutku, eeeaaa.

Gadis kecil itu pun seperti mengerti dan tanpa diminta dia beringsut pergi.

Saat itu tak ada pasien lain, aku langsung dilayani dan diperiksa. Saat membuka mulut tak sadar aku meringis kesakitan. Dokter tampak terkejut dan dia langsung berkata "Ibu, saya rujuk ke dokter spesialis bedah mulut (Sp. BM) ya, langsung pergi sekarang!"

"Baik, Dok" aku mendengar suaraku saja kurang jelas karena tak bisa membuka mulut dengan sempurna.

"Saya tak bisa menangani kasus ibu, sudah parah, harus ke spesialis bedah mulut, ya Bu"

Sambil berkata dokter membuat rujukan.

"Ibu mau dirujuk kemana?"

"Rumah Sakit Umum Daerah saja, Dok!"

Di dalam mobil menuju Rumah Sakit  Umum Daerah aku menahan nyeri yang amat sangat. Sudah seperti kami duga sebelumnya, rumah sakit yang menjadi rujukan pasien BPJS ini bukan main ramainya, dan sesuai prosedur kami juga harus ngantri dong ya.

Saat giliran tiba, staff rumah sakit menghubungi poli gigi dan ternyata sudah tutup. Ternyata sistem pelayanan di poli gigi pakai sistim kuota. Kalau sudah memenuhi 17 kuota pasien, maka dengan alasan apapun tidak akan menerima pasien lagi, karena untuk satu tindakan per pasien bisa makan waktu lama, tergantung diagnosa.

Kami memaklumi alasan ini. Staff itu kemudian merujuk kami ke Rumah Sakit Dr. R Hardjanto yang dulu disebut Rumah Sakit Tentara (RST).

Sebenarnya aku ingin ke Rumah Sakit Pertamina, dengan alasan babang suami punya teman SMA yang kini menjadi wakil direktur di sana, namun ternyata BPJS tidak menjalin kerja sama dengan mereka.

So, I have no choice dong ya, karena ingin mengakhiri derita ini. Drama banget yak!

Masih dengan nyeri yang menyayat hati, kami bergerak lagi menuju RS Dr. R. Hardjanto. Ramai lagi dan antri lagi. Ngeri!

Ternyata hari itu beberapa calon prajurit sedang diperiksa oleh dokter bedah mulut yang sama. Jadi pasien umum dan calon prajurit berebut perawatan dokter bedah mulut ini.

Ruang tunggu penuh dengan pasien, dan ternyata ada yang sudah menunggu sejak poli gigi belum buka. Apalagi aku yang sudah datang siangan, entah jam berapa kelak tiba giliran. Duh, aku membayangkan bertambah lama lagi derita nyeri yang harus aku nikmati eh jalani.

Untung ada gadget dan internet yang menemani jadi sambil menunggu pun aku tetap masih produktif karena saat itu aku dapat pekerjaan jadi influencer sebuah provider.

Bosan duduk aku berjalan hilir mudik ke sana dan ke sini sambil sesekali mengambil foto seperti yang satu ini.

Pengalaman Bedah Mulut Infeksi Akut

Jam hampir menunjukkan jam satu siang ketika akhirnya namaku dipanggil.

Aku diminta menunggu karena saat itu dokter sedang berhadapan dengan seorang calon prajurit. Nada suara dokter sangat tinggi dan penuh emosi. Calon prajurit di depannya hanya menunduk.

Dokter bedah mulut ini seorang wanita sekaligus juga perwira, terlihat dari seragam dan tanda pangkatnya. Duh, belum-belum aku sudah merasa terintimidasi.

Akhirnya giliranku tiba!

"Apa keluhannya, Bu?"

"Geraham atas kanan goyang dan infeksi sepertinya, dokter"

"Coba kita periksa!"

Kami berdua menuju dental chair  yang bagiku penampakannya saja sudah sangat mengintimidasi, hihihi.

Takkan pernah aku lupakan momen emosionil ini, sesi percakapanku, sesaat dokter melakukan pemeriksaan, aku masih duduk di dental chair.

"Ibu harus dirawat nih, sudah parah banget, rawat inap ya!"

Aku sejenak terdiam, membayangkan betapa tidak nyamannya berada di rumah sakit, lalu dengan terbata dan lirih aku menjawab...

"Apakah... apakah... masih bisa dirawat jalan saja, bu dokter?"

Sungguh reaksinya di luar ekspektasi aku!

"Ibu ini gimana sih, kondisi ibu ini sudah parah, dan bisa berakibat kematian, tahu nggak sih! Jadi kalau ntar ada apa-apa jangan salahkan saya ya, Bu!"

Usai berkata ketus begitu dokter meninggalkan aku dan langsung menuju tempat duduknya.

Dengan tubuh gemetar aku menyusul dari belakang, nyeri gigi semakin tak tertahankan, aku mencoba tegar, namun apa daya air yang menganak akhirnya lolos juga di kedua pipi.

"Lho, kenapa ibu menangis, saya cuma bilang apa adanya, kasus ibu ini sudah parah!"

Saat itu aku hanya mengatakan apa yang ada dibenakku.

"Coba dokter ngomongnya lebih halus dok, jangan kasar begitu, jawabku bergetar"

"Lho saya memang begini bu kalau ngomong, tuh tanya staff-staff saya!"

Sambil berkata begitu mata dokter itu menyapu pandangan ke seluruh orang yang berada di ruangan. Aku hanya terdiam dan cuma bisa menatap staff yang berada tepat di depanku. Tatapannya yang penuh iba padaku bisa aku rasakan.

"Jadi, gimana, mau dirawat atau mau pulang, Bu!"

Kali ini nada suaranya sudah tidak seketus tadi.

"Baiklah, saya dirawat saja, bu dokter"

Aku sudah tidak bisa konsentrasi lagi mendengarkan instruksi dokter. Aku hanya melihat tangan dokter meraih beberapa formulir, mengisinya, menconteng dan menyerahkan ke staffnya.

Ruangan hening seketika. Bahkan kalau ada jarum jatuh bisa terdengar kayaknya.

Beberapa saat kemudian, staff yang tadi iba melihatku segera mendatangi dan berbisik

"Ibu, duduk di situ dulu, katanya sambil menunjuk ke sofa panjang"

Selanjutnya aku diminta ke ruangan laboratorium sambil membawa formulir periksa darah lengkap. Setelah diambil darah aku juga diminta ke ruangan rontgen.

Di sini aku dirontgen di bagian wajah. Alat berputar mengelilingi wajahku. Tak sampai  5 menit, aku diminta menunggu hasilnya.

Di sini juga tak lama, kira-kira 10 menit, hasil aku dapatkan dalam amplop coklat. Sambil kembali ke ruangan dokter bedah mulut kami singgah di ruang laboratorium untuk ambil hasil darah yang tadi.

Saat kembali melewati ruang tunggu sudah tak ada orang lagi, rupanya jam layan pasien sudah berakhir.

"Berdasarkan hasil pemeriksaan dukungan ini, ibu harus dibedah besok ya, jadi mulai nanti malam jam 10 harus sudah puasa karena ibu akan dibius total"

Alhamdullillah, kali ini suara ibu dokter sejuk banget. Mungkin sudah selesai makan siang ya, hahaha...

Selanjutnya oleh perawat kami diminta lapor lagi ke loket BPJS untuk mengurus ruangan rawat inap. Sesaat sebelum menyerahkan formulir ke petugas sekilas aku membaca diagnosa utama yang tertera, "Abses Fossa Canina Dextra"

Tak ada kesulitan di sini, staff BPJS menangani secara profesional dan ruangan kelas 3 masih tersedia.

Kami izin sebentar untuk makan siang di kantin rumah sakit. Aku mengunyah pelan-pelan di bagian mulut sebelah kiri. Untung soto kantin rumah sakit itu endes, satu mangkok soto pun ludes, des!

Usai makan kami lapor lagi ke BPJS dan kami segera diantar ke ruang perawatan di kelas 3 sesuai kelas BPJS.

Babang suami izin mau sholat zuhur. Kebetulan aku sedang datang bulan, jadi libur deh.

Kejadian di ruang dokter masih aku simpan, karena aku tahu karakter babang yang tak bisa menerima perlakuan seperti ini. Bisa-bisa ada drama berseri nanti.

Aku diarahkan ke ruangan di mana aku akan berbagi dengan 7 orang wanita dewasa. Ruangan kelas 3 ini, punya AC namun sepertinya rusak karena jendela ruangan dibuka lebar-lebar dan kipas angin gantung sedang beroperasi. Siap-siap kepanasan ntar malam, pikirku dalam hati.

Usai sholat zuhur, babang izin pulang mau ambil beberapa pakaian untuk stok selama di rumah sakit. Menurut dokter sih usai bedah aku bisa langsung pulang. Jadi tak perlu banyak membawa stok pakaian.

Malam itu aku tidur bersama pasien lain sedangkan babang pulang. Kasihan kalau harus tidur di lantai rumah sakit. Lagi pula aku masih bisa melakukan semua aktivitas sendiri.

Oh iya selang infus di pasang saat menjelang Isya. Jadi sejak sore aku masih bebas wira-wiri sambil bermain gadget. Rasa nyeri di gigi sesekali menghampiri dan pipiku semakin bengkak seperti zombie.

Beberapa pasien mendatangiku dan menanyakan penyakitku. Mata mereka menatap penuh iba. Aku menjawab terbata karena nyeri semakin menggila saat mulut terbuka.

Keesokan pagi, datanglah berita itu lewat perawat jaga!

Berita apakah gerangan?

Cerita selanjutnya bersambung di pengalaman bedah mulut infeksi akut gigi geraham.