Senin, 26 Januari 2026

Chat Lama yang Mengubah Arah Hidup Anak Saya

Chat Lama yang Mengubah Arah Hidup Anak Saya

Ada pesan yang tidak berbunyi keras, tapi gema-nya tinggal lama!

Bukan notifikasi penting. Bukan juga kalimat dramatis. Hanya satu baris chat biasa. Tapi sejak hari itu, pikiranku tidak pernah benar-benar kembali ke tempat semula.

Karena hidup jarang mengubah arah lewat peristiwa besar. Ia lebih sering melakukannya lewat hal-hal kecil yang kita abaikan.

Teman SMP, Sekolah Kayu, dan Memori yang Tidak Pernah Benar-Benar Mati

Awal Februari 2025, aku memberanikan diri membuka kembali percakapan dengan teman SMP yang sudah tinggal di Jepang sejak 1994.

Kami bukan sahabat dekat. Bahkan dulu pun kami jarang berbincang. Tapi namanya sering kudengar, bukan karena prestasi, melainkan karena guru Matematika legendaris kami — Bapak Malau — gemar memanggil namanya dengan vokal menggelegar.

Sekolah kami di Pematangsiantar era 80-an sebagian masih dari kayu. Dindingnya tipis. Beberapa papan bahkan sudah berlubang. Jadi kalau ada satu siswa kena semprot di kelas sebelah, seluruh sekolah ikut "mendengar".

Sekolah kayu, suara keras, dan masa kecil yang tidak pernah benar-benar pergi.

Aneh bagaimana hidup bekerja. Puluhan tahun berlalu, tapi semesta masih menyimpan satu nama itu untuk muncul kembali pada waktu yang tak terduga.

Chat yang Dimulai dengan Basa-basi Khas Media Sosial

Aku menyapanya santai.

“Apa kabar, konco?”

Dia membalas cepat. Hangat. Ada tawa. Ada nostalgia kecil yang tidak dibuat-buat. Seperti dua orang yang tidak pernah benar-benar kehilangan koneksi, hanya terlalu lama tidak menekan tombol "kirim".

Aku mulai bercerita tentang Yasmin. Sedikit tentang kegelisahannya mencari kerja. Sedikit tentang harapanku sebagai ibu.

Orang tua sering begitu: tidak pernah terang-terangan meminta, tapi selalu menyelipkan doa di antara kalimat ringan.

Jawabannya saat itu sederhana:

“Ntar aku kabari ya, kalau ada hotel yang menerima.”

Percakapan berhenti di sana. Tidak ada drama. Tidak ada tanda. Hidup berjalan seperti biasa.

Lalu Hidup Membuat Belokan Kecil

Pertengahan Maret, Yasmin memutuskan pulang ke Balikpapan.

Bukan karena gagal. Tapi karena lelah mengejar sesuatu yang belum juga memberi jawaban. Dan sebagai orang tua, aku tahu: keputusan untuk berhenti sejenak seringkali jauh lebih berani daripada memaksa diri terus berlari.

Kadang kita tidak butuh anak kita sukses dulu. Kita hanya butuh mereka kembali utuh.

Aku mengabari temanku itu bahwa Yasmin sudah kembali ke Balikpapan.

Jawabannya hanya satu kata: "OK."

Singkat. Datar. Tidak istimewa.

Tidak ada yang terasa penting... sampai beberapa hari kemudian.

Pesan Itu Datang Tanpa Musik Latar

Tanggal 29 Maret 2025. Jam 11.09 WITA.

Ia menulis:

“Ito, boru kita bisa bahasa Jepang?”

Kalimat itu biasa saja. Bahkan nyaris terasa administratif. Tapi entah mengapa, dadaku terasa lebih sunyi dari biasanya saat membacanya.

Aku menjawab jujur. Bisa, tapi belum bersertifikat. Bahasa Inggris dan Korea juga bisa.

Lalu datang pesan berikutnya.

“Kerja di perusahaan saya.”

Dan di situlah aku sadar: sejak awal aku salah memahami arah cerita ini.

Aku kira ini tentang peluang kecil. Ternyata ini tentang kemungkinan besar.

Harapan Tidak Selalu Datang dengan Perasaan Nyaman

Percakapan dengan teman lama yang membuka peluang kerja dan masa depan baru.

Aneh ya. Ketika peluang itu datang, aku tidak langsung merasa bahagia. Aku justru terdiam lama.

Karena semakin besar kemungkinan, semakin besar pula pertanyaan yang ikut menyertainya.

Siapkah kami? Siapkah Yasmin? Siapkah aku sebagai ibu?

Harapan bukan selalu tentang euforia. Kadang ia tentang keberanian yang belum kita miliki.

Keesokan paginya, pesan itu datang lagi:

“Kalau ada waktu, saya telepon ya. Biar saya jelaskan.”

Aku membaca itu selepas subuh.

Lalu aku berjalan pelan ke kamar Yasmin. Bukan untuk memberi kabar besar. Tapi untuk mengajaknya duduk dan merasakan bahwa hidup mungkin sedang mengetuk.

Dan beberapa ketukan tidak meminta kita membuka pintu hari itu juga. Mereka hanya ingin kita sadar bahwa pintu itu ada!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Holaaa...!
Terimakasih ya sudah berkunjung ke sini.
Mohon maaf komentar kudu dimoderasi sebelum dipublikasi.