Mengintip Gaya Pengasuhan Negara Paling Bahagia Sedunia The Danish Way Of Parenting


Mengintip Gaya Pengasuhan Negara Paling Bahagia Sedunia The Danish Way Of Parenting

Mengintip Gaya Pengasuhan Negara Paling Bahagia Sedunia The Danish Way Of Parenting. Beberapa hari ini di beranda akun media sosial, postingan tentang The Danish Way Of Parenting, metode parenting Denmark, berseliweran.

Awalnya sih aku hanya membaca selintas saja, karena memang saat itu 'jam tayang utama', jadi ada banyak postingan yang sedang bersaing dan biasanya aku lebih 'melirik' artikel ringan (dulu) misalnya tentang perjalanan. Hitung-hitung buat pemanasan, giccu.

Baca juga : Begini Cara Mengetahui Waktu Ideal Publish Posting Blog

Sampai suatu hari, usai menyeruput secangkir teh hangat dan roti, hatiku dicuri kepsyen share FB di grup Kumpulan Emak Blogger dari mba Nabilla DP, parenting blogger Indonesia.

Ini sekaligus self reminder juga bahwa penting banget ya buat kepsyen yang mampu 'mencuri hati'. C-A-T-A-T!

Tulisan mba Nabilla mengajak aku berkenalan lebih dekat dengan buku The Danish Way Of Parenting, metode parenting Denmark. Yah, hitung-hitung buat pemanasan (lagi), sebelum mendapat kiriman bukunya. Hahaha... kode keras ne!

Jadi gini,

Meski putriku sudah menginjak usia remaja, tulisan tentang gaya pengasuhan (parenting) selalu mampu membiusku. Apalagi jika cara penjabarannya sederhana, mudah dicerna serta didukung dengan riset dan literasi yang valid.

"Betapa terberkati ya menjadi  seorang blogger, bisa menemukan hal baru, menambah wawasan sekaligus bahan inspirasi tulisan bahkan menciptakan peluang"

Baca juga: Ketahui Kiat Menciptakan Peluang Dari Blog

Biasanya saat membaca tulisan yang menarik selain membacanya berulang-ulang, aku juga membuat catatan, agar lebih paham dan nendang, (((nendang))) woi, piala dunia sudah usai, woi, xixixi. Fokus, fokus!

Baiklah!

Nah, sesekali aku juga akan membuka jendela baru di browser, mencari tulisan lain sebagai pembanding atau sekedar mengkonfirmasi  sumber tayangan infografik, apalagi untuk membuat tulisan yang 'berat' seperti parenting ini,  keabsahan data adalah mutlak!

Baidewei, subway, menurut situs verywell family.com ada 4 tipe parenting utama yaitu:

1. Authoritarian Parenting

"Ini adalah gaya pengasuhan di mana buah hati dituntut mengikuti perintah-perintah orangtua, cenderung keras, dan kerap menggunakan hukuman untuk mengendalikan serta kurang responsif terhadap kebutuhan"

2. Authoritative Parenting

"Orangtua dengan tipe pengasuhan seperti ini gemar berdiskusi dengan buah hati, memberikan kebebasan dan dukungan namun juga menetapkan peraturan dan batasan"

3. Permissive Parenting

"Apakah bunda termasuk orangtua yang tidak memberikan batasan dan aturan kepada buah hati? Gemar memanjakan buah hati? Nah bisa dipastikan  bunda adalah tipe orangtua dengan gaya pengasuhan seperti ini"

4. Uninvolved Parenting

"Ini adalah gaya pengasuhan orangtua yang acuh, tidak terlihat dalam kehidupan buah hati, tidak menetapkan batasan yang tegas serta tidak menetapkan standard yang tinggi"

Hal ini disebabkan karena orangtua telah mempunyai masalah sendiri. Misalnya depresi, sering alami penganiayaan fisik atau diabaikan ketika kecil.

Jadi, sekarang boleh deh kita tambahi yang ke 5 adalah The Danish Way Of Parenting.

Setuju?

Kira-kira, kita termasuk yang mana nih?

Tapi sebelum melangkah jauh kita semua harus sepakat ya bahwa setiap anak adalah unik, jadi gaya pengasuhan anak satu dengan yang lainnya bisa jadi berbeda-beda. Bahkan anak yang terlahir dari orang tua yang sama dengan gaya pengasuhan yang sama bisa jadi kelak memiliki kepribadian berbeda. Pernah mengalaminya?

Kembali ke laptop!

Pernahkah bunda memperhatikan keluarga atau mungkin tetangga yang memiliki kecenderungan semua anak-anaknya berhasil sukses baik karir dan rumah tangga, sementara kebalikannya ada juga keluarga yang porak-poranda, bahkan cenderung terperangkap dalam keadaan gulita, terus menerus.

Aku sepenuhnya percaya bahwa gaya pengasuhan orang tua sangat berpengaruh terhadap pengembangan kepribadian buah hati diikuti pengaruh lingkungan sekitar. 

Terlahir dari keluarga sangat sederhana, aku yakin sekali pasti ibuku dulu tak sempat laa membaca buku-buku gaya pengasuhan, apalagi yang seperti The Danish Way Of Parenting ini. Jadi aku paham sekali kalau beliau hanya meneruskan gaya pengasuhan warisan dari nenekku.

Lewat gaya pengasuhan dan interaksi dengan orangtua kita banyak belajar apa yang baik dan buruk, yang benar dan salah, serta kelak mau jadi orangtua seperti apa.

Meski genetik berperan mencetak blue print perkembangan potensi, tapi ia tidak mampu menjanjikan pertumbuhan buah hati seperti apa. Sebaliknya, lingkungan yang didesain orangtua lah yang akan menginstruksikan dan mengarahkan genetik, mau diloloskan keseluruhan atau di nonaktifkan sebagian. Singkat kata, parents are the true gene therapists!

Jadi, sebagi orangtua, bola ada di tangan kita sekarang ini, mau jadi apa dan seperti apa pertumbuhan buah hati. Terutama di beberapa tahun pertama fase kritikal pertumbuhan, buah hati bukan saja mengalami perkembangan bahasa dan komunikasi, dia juga sedang membentuk kepribadian.

Yup, pilihan ada di tangan kita, para orangtua!

Kalau menurut situs di atas sih sepertinya ibuku termasuk yang nomor 1 dan ayah nomor 3, hahaha. Gak kompak banget ya. Padahal dalam gaya pengasuhan penting tuh kekompakan orangtua. In my case, sepertinya gaya pengasuhan ibuku lebih dominan!

Aku juga bisa pastikan tentu saja gaya pengasuhan ibuku ada kurang lebihnya ya. Yang pasti, zaman waktu nenek masih hidup dan saat aku masih anak-anak tentu saja sudah jauh berbeda, tantangannya juga ikut berbeda.

Namun hei, ternyata, di Denmark justru gaya pengasuhan warisan turun temurun ini termasuk salah satu yang terbaik dan diakui dunia.

Haaa, terbaik? Tahu dari mana?

Jadi gini,

PBB, melalui UNSDSN (United Nations Sustainable Development Solutions Network), mengeluarkan laporan tahunan World Happiness Report (Laporan Kebahagiaan Dunia).

Masih menurut PBB, indikator kebahagiaan suatu negara diukur antara lain dari dukungan sosial, harapan umur sehat, kebebasan memilih pilihan hidup, pendapatan perkapita, persepsi terhadap korupsi, kedermawanan dan distopia.

Dan untuk  World Happiness Report 2018Gallup World Pool, sebuah organisasi jajak pendapat yang biasa menangani pooling presiden di Amerika Serikat, merilis hasil survei untuk PBB, negara-negara Skandinavia seperti Finlandia, Norwegia dan Denmark masing-masing memegang rekor puncak, negara dengan rakyat paling bahagia!

Yang bikin menarik dari hasil jajak pendapat ini adalah meski GDP (Gross Domestic Product) per kapita di Finlandia lebih rendah dari negara tetangganya di Skandinavia dan jauh lebih rendah dari Amerika Serikat yang bahkan tidak masuk dalam 10 besar, survei membuktikan Finladia menduduki ranking utama tahun 2018 ini

Ini artinya apa?

Artinya sekali lagi bahwa kekayaan tidak serta merta menjamin keluarga bahagia.

Puk-puk dada sendiri, xixixi.

Mengintip Gaya Pengasuhan Negara Paling Bahagia Sedunia The Danish Way Of Parenting
Sumber: sumber : http://worldhappiness.report/ed/2018/
Mengintip Gaya Pengasuhan Negara Paling Bahagia Sedunia The Danish Way Of Parenting
Sumber: sumber : http://worldhappiness.report/ed/2018/

Berikut urutan selengkapnya dari 5 besar sejak tahun 2016 sampai dengan 2018.

Mengintip Gaya Pengasuhan Negara Paling Bahagia Sedunia The Danish Way Of Parenting
Sumber : https://www.kaskus.co.id/

Pasti langsung pada kepo Indonesia urutan keberapa ya?

Pengen tahu, apa pengen tahu banget?

Untuk tahun 2018 ini, Indonesia urutan ke 96, jauh dari bahagia. Hiiksss.

Itulah kenapa kali ini kita perlu belajar dari gaya pengasuhan dari Denmark. Yuk beli bukunya!

Hahaha... kamu ketahuan! Jualan lagi deh dia.

Berikut bocoran halus kiat gaya pengasuhan ala orang Denmark, yang merupakan negara paling bahagia ke tiga tahun 2018 yang diakui dunia (PBB) menurut buku The Danish Way Of Parenting, yang aku ringkas dari berbagai sumber.

Secara garis besar gaya pengasuhan dalam buku ini menggunakan akronim P-A-R-E-N-T yakni Play, Authenticity, Reframing, Emphaty, No Ultimatums dan Togetherness.

Play - Biarkan buah hati cukup bermain karena anak memerlukan ruang untuk belajar dan tumbuh, Orangtua tetap ada dan hadir namun hanya untuk mengawasi.

Authenticity - Mengajarkan buah hati menjadi sosok otentik, apa adanya, jujur dan menghadiahkan pujian jika mereka bekerja keras dalam belajar.

Reframing - Mengajarkan buah hati untuk selalu melihat sisi terang dalam segala hal.

Emphaty - Mengajarkan buah hati untuk menempatkan diri di posisi orang lain dan tidak menghakimi.

No Ultimatums - Menghindari memakai kekuatan sebaliknya mencintai metode pendekatan dengan buah hati.

Togetherness - Menerapkan konsep prinsip kebersamaan, kenyamanan serta kehadiran dengan buah hati.

Aku yakin pasti makin kepo sama buku The Danish Way Of Parenting ini ya. Tos atuh laaa...!

Buah hati adalah tanggung jawab terbesar orangtua sepanjang hidup. Mengasuh mereka merupakan kewajiban sekaligus tantangan.

Mari kita sama-sama menanamkan bahwa mengasuh buah hati bukan tekanan tetapi hal yang menyenangkan!

Baidewei, subway, aku juga setuju banget sama pernyataan bahwa memang tidak ada gaya pengasuhan yang betul-betul benar! Karena eh karena setiap anak itu unik. Jadi gaya pengasuhan pun subyektif!

Tapi, tak ada salahnya mengadopsi gaya pengasuhan dari negara paling bahagia sedunia kan ya, yes, give it a try, shall we?

Tugas kita sebagai orangtua atau calon orang tua untuk belajar dari mana saja, sedini mungkin, bahkan kadang jauh sebelum buah hati lahir.

Lagi-lagi karena terlahir dari keluarga sangat sederhana, aku ingat sejak duduk di sekolah dasar ibu sudah mengajarkan kami bertanggung jawab seperti mengangkat peralatan makan sendiri ke tempat cucian, membereskan tempat tidur dan masing-masing kami memiliki daftar tugas harian, mingguan dan bulanan.

Dulu aku sempat menganggap ibu adalah orang tua yang keterlaluan, masak anak kecil sudah punya tugas sih.

Ternyata itu cikal bakal agar kelak kami punya rasa tanggung jawab dan mental mandiri!

Ibu juga sering mengingatkan agar kami punya tabungan jika menginginkan sesuatu, meski jarang banget dikasih uang lebih, hahaha... Ternyata itu cara halus ibu membentuk agar kami punya mental 'hero' dan kudu berjuang untuk mendapatkan sesuatu.

Namun ada juga beberapa gaya pengasuhan ibu yang tidak akan aku adopsi seperti kurangnya managemen emosi alias gampang naik darah.

Aku percaya ini mungkin ada kaitan dengan keadaan finansial rumah tangga yang saat itu sangat-sangat sederhana.

Sedangkan untuk buah hatiku, the one and only, Yasmin, jauuuh sebelum aku mengandungnya, aku sudah berjanji akan melakukan improvisasi dalam gaya pengasuhan, tak perduli dengan pendapat orang, karena aku sepenuhnya yakin, akulah yang paling tahu yang terbaik buat buah hatiku!

Apalagi saat Yasmin lahir, saat itu sudah memasuki era millenial. Tak mungkin aku menggunakan gaya pengasuhan yang sama seperti aku kecil dulu.

Aku berusaha untuk mengikuti gaya parenting nomor 2, Authoritative Parenting,  dengan kekurangan di sana sini, tentu saja. Apalagi aku manusia, tempatnya khilaf meraja.

Yang pasti, sampai saat ini aku masih terus belajar dan belajar, serta berbagi dengan dunia tentang gaya pengasuhan, karena itu tadi, setiap anak adalah unik!

Baca juga : Cara Hebat Eksplor Bakat

Sebagai penutup, aku berharap kelak bisa berbagi materi lengkap The Danish Way Of Parenting, buku yang disusun berdasarkan riset, mengadopsi gaya pengasuhan yang baik, untuk generasi Indonesia yang lebih baik! Insya Allah.


Referensi:

http://worldhappiness.report/ed/2018/
http://bentangpustaka.com/read/33957/yuk-kenalan-dengan-the-danish-way-of-parenting--gaya-mengasuh-anak-ala-orang-denmark.html
https://www.idntimes.com/news/world/meita-eryanti/pelajaran-mengasuh-anak-dari-denmark-negara-terbahagia-di-dunia-c12/full
https://www.liputan6.com/health/read/2847973/6-cara-praktikkan-hygge-rahasia-bahagia-orang-denmark
https://www.kaskus.co.id/thread/5ab17bf796bde6de688b4568/7-alasan-kenapa-negara-negara-skandinavia-jadi-negara-paling-bahagia-di-dunia/
https://www.kaskus.co.id/thread/5aaea7ccdad77020328b4568


19 comments:

  1. bagus ya?

    mirip puisinya Dorothy Law Nolte

    juga penggambaran mengenai anak oleh Khalil Gibran

    semuanya mengingatkan, ngga mudah mengemban amanah ini ya?

    ReplyDelete
  2. Wah... baru tahu saya mba Maria, bahwa mirip puisi Dorothy.
    Langsung aku browsing deh.
    Terima kasih telah menginspirasi, mba.
    Peluk :*.

    ReplyDelete
  3. Lengkap banget mba, makasih banyak ya.. Entahlah negara Skandinavia selalu menarik hati, semoga bisa kesana dan melihat nya secara langsungšŸ˜

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gaya pengasuhan, salah satu kiatnya, mba.
      Dan dunia pun mempertegasnya :*.

      Delete
  4. Kalau ibu kita jaman dulu dimaklumin deh karena akses informasi nggak kayak sekarang. Tapi Emak jaman now kudu belajar terus ya mbak baik dari internet maupun dari buku. Menarik juga nih the Danish way of parenting

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju. Harus terus belajar dan belajar :*.

      Delete
  5. Tulisannya mantap dan NENDANG mbk hehe. Bahasannya runut. Jadi penasaran pengen baca buku the danish way of parentingnya. Makasih sharingnya mbk. Salam, muthihauradotcom

    ReplyDelete
    Replies
    1. Entah kenapa, aku demen banget pakai kata ini, nendang, hahaha.
      Makjleb gitu!
      Tapi aku belum beruntung dapat bukunya.
      Kudu beli dewek kayaknya :).

      Delete
  6. Huhuhu urutan 96. Anak-anak Indonesia kebanyakan beban pelajaran di sekolah plus ambisi ortu yang nyuruh anak itu itu ya

    Jadi banyak belajar dari tulisan ini
    Makasi sharingnya mbak

    ReplyDelete
  7. Eh bener banget lho mba, kekayaan bukan tolak ukur bahagia. Bandung jadi wilayah paling bahagia di Indonesia krn kenyamanan mereka :)

    Ulasan tentang parentingnya runut sekali yah mba, thumbs up buat ibu-ibu seperti kamu yang masih rajin nulis. Jadi malu ekekek

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini sekaligus self reminder juga kog buat aku.

      Delete
  8. Penjelasannya lengkap dan ringkas, jadi dapet wawasan baru.
    Memang saya masih belum berkeluarga tapi bisa jadi wawasan saat nanti sudah berkeluarga.
    Lebih banyak mendengarkan itu baik kan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju.
      Aku juga masih terus belajar dan belajar.
      Tos atuh laa

      Delete
  9. Indonesia di urutan 96 jauh dr bahagia?! Waaah, itu krn kita ,blogger dan writer gak ikut di-survey kaliii...hihihi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sedih memang mengetahui fakta ini.
      Namun demikianlah adanya.
      Kita, para blogger mungkin (((mungkin))) banyak yang bahagia namun faktanya lebih banyak lagi, di luar blogger, yang belum bahagia, begitu kira-kira kesimpulan hasil akhir survei.

      Untuk itu, yuk kita bantu share pengalaman parenting kita ini. Meski langkah kecil, mudah-mudahan bisa menginspirasi.
      Aamiin.



      Delete
  10. semoga nanti aku bisa mendidik anak dengan baik, hmm.....karena sepertinya perkara asuh mengasuh ini tidak gampang

    ReplyDelete