Ketahui Urgensi Second Opinion dari Dokter Lain

Aku pernah menonton tayangan serial yang diinspirasi oleh kejadian sebenarnya di saluran National Geographic.

Tayangan tentang kesalahan penegakan diagnosis dan perbedaan penatalaksanaan pengobatan dokter yang satu berbeda dengan dokter lainnya.

Inilah kenapa pentingnya second opinion dari dokter lain itu!

urgensi second opinion

Kejadian overdiagnosis, overtreatment serta wrong diagnosis ini, bahkan terjadi di negara yang paling maju dalam dunia kedokteran, Amerika!

Namun, terus terang tidak pernah terbersit sekalipun dalam hatiku bahwa aku akan menjadi bagian dari kisah itu.

Begini ceritanya...

Adrenalinku langsung meningkat, ketika di suatu hari, di bulan Agustus 2019, aku merasa dada sebelah kanan sakit. Kalau sebelah kiri, biasanya jantung kan ya, tapi tetap sih harus diperiksa juga untuk menegakkan diagnosa.

Fine, mungkin aku kecapekan. Di skip dong yak. Tetap lanjut, kerja keras bagai kuda! Bahahaha.

Eh, beberapa hari kemudian, serangan itu datang lagi, kali ini dengan jarak yang agak berdekatan. Kalau sebelumnya seminggu sekali, eh sekarang malah berani dua hari sekali.

Hmmm... something is going wrong, batinku.

Please, jangan lagi harus opname seperti saat alami pengalaman bedah mulut infeksi akut, karena menganggap sepele masalah geraham dan akhirnya harus masuk ruang operasi untuk eksekusi bedah mulut gigi geraham.

Cukup sekalilah kalau mau 'jatuh', yekan, pemirsah. Kalau berkali-kali, namanya mah doyan, bahahaha.

Tapi harapanku tinggal harapan...

Beberapa hari kemudian, kini plus batuk berdahak lagi.

"Bunda, ke dokter saja, biar cepat sembuh. Ntar, bisa serumah lho ketularan"

Cogan di rumah, rupanya mulai khawatir akan kecipratan virus.

Baiqlah! Akhirnya kami ke faskes 1 dong ya. Diagnosa sementara, bisa ditebak lah, flu dan batuk!

Namun, setelah seluruh obat habis, batuk membahana dan sakit di dada masih betah juga, meski saran dokter sudah aku patuhi.

Tahukan ya, sarannya? Iya itu, standard lah bahahaha. Kurangi gorengan, perbanyak buah dan sayur, cukup istirahat, hindari stress, hindari cogan eh endebrai, endebrai.

Kali ini, aku yang geregetan, mengajak cogan ke klinik lagi, karena batuk ini sungguh menyiksaku, apalagi kalau pas ada event, suara batukku, duh, bikin tengsin, if you know what I mean.

Terkadang tubuhku sampai bergetar saat aku melawan keinginan batuk, karena serangannya itu seperti jailangkun* datang tidak djemput, pulang tidak diantar!

Dan, ketika obat sesi 2 habis, batukku juga belum sembuh!

Ini belum pernah terjadi dalam rimba persilatan eh perjalanan hidupku, sebelumnya. Tak pernah aku mengunjungi dokter selama 2 kali dan belum kunjung sembuh-sembuh flu dan batuknya. Never!

Again, I am suspicious dong yak!

Di kunjungan ke 3, rupanya dokter klinik faskes 1 juga sepakat, aku lalu dirujuk ke dokter spesialis paru (Sp.P) di Rumah Sakit Restu Ibu Balikpapan.

urgensi second opinion

Ekspektasi versus Realita
Sebelumnya aku sudah pernah berobat ke rumah sakit ini. Jadi, sudah dapat gambaran bagaimana administrasi yang akan dijalani.

Dalam kesempatan pertama ini aku menuruti masukan petugas registrasi, karena saat itu hanya Dr. Ali Zaini Sp.P (Spesialis Paru) yang bisa langsung menangani, sementara Dr Maurits Marpaung  Sp.P praktek jam 4 sore hari. So, I got no choice but to accept.

Entah kenapa batinku itu condong ke dokter kedua, karena menurut petugas, Dr Ali, sudah sepuh banget keadaannya.

Hari itu aku datang cepat, sekitar jam 8 sudah tiba dan langsung lapor di registrasi. Pengen banget langsung ditangani, karena itu tadi, batuk ini menyiksaku!

Pagi itu, ruangan registrasi memang sedang lengang. Atau mungkin karena masih pagi ya, hmmm. Benarlah, aku langsung dilayani dan langsung mendapatkan nomor antri.

Ruangan dokter Ali berada di gedung sebelah. Dekat kog, tak sampai 5 menit aku sudah tiba. Ternyata ada banyak ruangan dokter praktek di sini, dan untuk spesialis paru lokasinya paling ujung, dekat jalan ke luar.

Dalam hati aku agak kaget sih, "Kog ruang tunggu dokter Ali belum ada pasien ya...?"

Sementara ruangan tunggu dokter di sebelahnya, kebetulan dokter kandungan. Duh, bejibun.

Sesaat aku ingat pengalaman yang sama, saat konsultasi ke dokter kandungan. Antri bahkan sampai tengah malam sudah menjadi bagian dari gaya hidup, bahahaha.

Aku melirik ruangan suster. Tak ada orang di sana. Aku segera beranjak ke ruangan sebelah dan bertanya pada suster.

"Mba, suster spesialis paru di mana ya?

"Oh, mungkin lagi ke ruangan lain, bu. Tunggu saja, sebentar beliau kembali. Soalnya tadi saya lihat sudah hadir"

"Baiklah, mba. Terima kasih ya"

Tak berapa lama seorang lelaki sepuh mengenakan tongkat masuk ke ruangan suster.

Aku langsung mengikutinya.

"Mba mau berobat?" Tanya beliau

"Iya, Pak"

Aku lalu menyodorkan berkas dari bagian registrasi.

"Mba, harus kembali ke bagian registrasi lagi dan melengkapi berkas ya, biar bisa dilayani"

"Haaa, lha saya ini baru dari registrasi Pak dan diarahkan ke sini"

"Oh, tidak bisa mba, nanti saya tidak dibayar BPJS, kalau cuma begini saja"

"Haa, begitu ya, Pak" Ini kog sampai bawa-bawa pembayaran BPJS segala, batinku. Hmmm, totally weird!

"Iya, mba"

Usai berkata begitu bapak sepuh dengan tongkat itu pun masuk ke dalam ruangan dokter meninggalkan aku yang termangu-mangu, takjub, bahahaha.

"Duh, jangan-jangan, itu tadi dokter Ali, pikirku"

Untunglah aku tak perlu lama larut dalam kebingungan. Seorang suster senior masuk dan aku langsung menghampiri.

"Mba, saya tidak mengerti nih, kog saya diminta kembali ke registrasi lagi ya"

"Siapa yang bilang bu?

"Tadi ada bapak tua dengan tongkat yang sekarang ada di dalam ruangan sana"

"Oh itu dokter Ali!"

Nah, benar kan dugaanku!

"Mohon maaf ya bu, beliau memang belum mengerti dengan administrasi. Coba sini berikan berkas ibu"

Aku lalu menyerahkan berkas. Suster lalu memeriksa sembari membolak-balik dan memberikan catatan.

"Ibu ikut saya ya, kita sama-sama masuk ke dalam"

Suster itu pun berdiri dan aku segera mengikuti.

"Pagi dokter. Ini ada pasien baru, ibu Rosanna Simanjuntak"

Kali ini dokter tidak berkata apa-apa lagi. Aku langsung duduk dihadapan beliau dan curhat panjang kali lebar, buahahaha.

Sambil mendengarkan curhatku, dokter Ali hanya diam, mendengarkan, lalu menulis di rekam medisku.

Kemudian, aku diminta melakukan rontgen di ruang sebelah.

Di ruang ganti pakaian, aku diwajibkan membuka atasan dan jeroan, meski braku tanpa kawat, bahahaha, menggantinya dengan atasan standard ruangan rontgen

Juga diminta membuka jilbab, karena ada payetnya. Sebagai gantinya aku memakai jilbab standard rontgen yang juga sudah tersedia.

Proses rontgen hanya sebentar, sekitar 5 menit.

Dengan berbekal catatan kecil aku kembali ke ruangan suster.

"Hari ini, ibu bisa pulang karena pembacaan hasil rontgen akan dilakukan besok hari"

"Waduh, jadi saya harus kembali lagi ya?"

"Iya, bu. Untuk peserta BPJS memang kudu harus kembali, karena biasanya hasil rontgen didapatkan sore hari, sementara sore hari dokternya sudah lain lagi, dokter Maurits"

"Tak bisakah aku dapat obat, mba. Batukku ini sungguh sangat mengganggu" Pintaku ke suster.

"Maaf bu, belum bisa, karena pemberian obat biasanya berdasarkan hasil rontgen. Dan kalau bisa besok ibu cepat hadir ya"

Jadilah hari itu aku pulang ke rumah tanpa obat dan dengan batuk yang masih membahana. Padahal aku ingin banget cepat sembuh karena dalam beberapa hari ke depan akan ada perhelatan perdana ASUS Vivobook Ultra A412 di Balikpapan. Sungguh aku ingin sekali menjadi bagian keseruan event hits ini!

Pembacaan Hasil Rontgen oleh Dokter Ali Sp.P 
Pagi ini, pas mau berangkat ke dokter, aku intip ember cucian sudah menggunung, dan aku putuskan untuk menghempaskannya, hahaha.

Walhasil aku jadi agak telat ke rumah sakit, tak bisa memenuhi saran ibu suster.

"Pagi, mba. Ini saya yang kemarin, Rosanna Simanjuntak"

"Oh, sayang sekali bu, dokter Ali baru saja pergi. Kemarin kan saya ingatkan untuk datang lebih pagi"

Duh, rasanya aku mau menangis bombay, "tiang, mana tiang?" Tapi yang keluar suara batukku yang membahana di ruangan suster itu.

"Jadi, gimana sebaiknya, suster?" Suaraku memelas, menyadari kesalahan sendiri

"Sebentar saya lihat ke dalam ruangan dokter ya, biasanya kalau teh dan kue dokter masih ada, beliau biasanya akan kembali lagi"

Usai berkata, suster langsung beranjak ke ruangan dokter dan kembali dengan binar mata ceria.

"Ibu lagi beruntung nih, dokter sepertinya akan kembali, silahkan ditunggu ya bu"

Benarlah, hampir satu jam setengah aku menunggu, dokter Ali pun tiba.

"Ini hasil rontgennya bagus" Kata dokter sambil memperlihatkan foto rontgen.

"Maksud dokter, saya, saya tidak apa-apa?" Tanyaku separuh tidak yakin. Again, another weird!

Beliau hanya diam saja sambil menulis-nulis resep. Aku memutuskan ikut diam juga, meski kepo sudah naik ke ubun-ubun. Ntar dikira pasien bawel lagi.

Padahal menurut artikel yang pernah aku baca, pasien punya hak lho mengetahui penyakit, memahami rencana terapi yang akan diberikan, memilih alternatif terapi yang ada, menanyakan terapi nonfarmakologis (non obat-obatan yang bisa dilakukan sehari-hari) serta memahami peluang kesembuhan.

Kembali ke laptop!

Aku lalu diberikan obat dan alhamdullillah, semua tersedia di rumah sakit.

Selama 3 hari aku meminum obat dari beliau, tidak ada tanda-tanda kesembuhan!

Ada apa ini?

Pentingnya Second Opinion dari Dokter Lain
Seperti biasa kalau aku mengalami keluhan pasti akan mencari sumber literasi di internet. Dan merujuk ke surat hasil pengantar rontgen yang aku baca, diagnosa sementara Bronchopneumonia Dextra. Untung bukan berondong, ya, hihihi.

urgensi second opinion

Dengan berbekal sedikit pencerahan dari internet, jadi, aku ikhtiar lagi, cari second opinion dari dokter lain, pemirsah!

Namun masih ke rumah sakit yang sama, karena memang lokasinya yang strategis di tengah kota, mudah dijangkau alat transportasi publik, jaga-jaga kalau cogan tidak bisa mengantar.

Kali ini mengikuti kata hati, memilih dokter Maurits Marpaung Sp.P.

Iya, pemirsah, main hati! Hihihi.

Meski di dalam hati aku masih bingung, kenapa terapi obat dokter Ali belum menunjukkan tanda-tanda kesembuhan yaaa... Hmmm.

Apakah dokter juga seperti jodoh? Cocok-cocokkan, giccu?

Aku lalu konsultasi dengan bagian registrasi dan mengutarakan ingin mengganti dokter spesialis paru!

Dari petugas aku mendapat keterangan jika sudah memutuskan untuk mengganti dokter maka untuk kunjungan selanjutnya dengan surat rujukan yang sama, tidak boleh mengganti dokter lagi. Jadi, hanya ada 1 kesempatan. Duh, kayak babak final kuis saja ya.

Kebetulan hari itu giliran dokter Sp.P Maurits yang praktek, jadi klop deh!

Meski sama-sama dokter Sp.P kedua dokter ini memang punya kesan yang berbeda. Dokter Maurits sedikit lebih humanis dan informatif serta ganteng, eh gimana, hihihi.

Usai curhat tentang batuk dan sakit di dada yang tak kunjung sembuh meski sudah hampir satu bulan, dokter Maurits langsung meminta daftar obat yang telah aku konsumsi.

Jadi, kalau mau second opinion ke dokter lain, pastikan bawa daftar obat, hasil lab (jika ada) serta keterangan lain yang bisa membantu.

"Lho, kog ada tetrasiklin, inikan sudah dilarang " Kata beliau agak kencang ketika melihat daftar obat yang aku sodorkan.

Tentu saja aku kaget sekali, karena obat antibiotik tetrasiklin itu sudah aku habiskan semua.

"Waduh, dok, itu obatnya sudah aku habiskan semua" Aku menjawab tak kalah kencang.

"Iya, saya juga heran, tetrasiklin ini antibiotik yang sudah lama dilarang. Ini saya ganti semua ya obatnya. Namun nanti agak lama nunggunya, karena ini harus diracik, terdiri dari berbagai obat"

"Iya dokter, tidak apa-apa. Yang penting saya sembuh dok!"

"Saya jamin minum obat ini sampai selesai, pasti sembuh!"

Suara dokter sangat meyakinkan. Mendengarnya saja aku juga ikut tersedot aura haqqulyaqin yakin beliau. Sungguh!

Alhamdullilah, baru satu hari (dari dosis 5 hari) aku konsumsi obat beliau, kondisi aku berangsur  lebih baik dan akhirnya bisa beraktivitas kembali dengan normal sehingga bisa menghadiri event perdana brand laptop yang dengannya aku bersinergi mengukir prestasi bersama X201e ASUS

Penegakan diagnosis dan penatalaksanaan obat ini mungkin tidak menjadi masalah serius bila tidak menimbulkan konsekuensi yang berbahaya dan merugikan penderita.

Tetapi lain cerita jika menyangkut kerugian biaya yang besar dan ancaman nyawa, maka harus menjadi perhatian!

Itulah kenapa penting banget second opinion dengan dokter lain tentang permasalahan kesehatan tertentu yang belum pernah terselesaikan!

Baidewei, subway, pernahkah kamu mengalami hal serupa?

Share di kolom komentar, skuy!

45 comments:

  1. pasien punya hak lho mengetahui penyakit, memahami rencana terapi yang akan diberikan, memilih alternatif terapi yang ada, menanyakan terapi nonfarmakologis (non obat-obatan yang bisa dilakukan sehari-hari) serta memahami peluang kesembuhan.

    Betuuulll banget Kak Anna. Karena dokter bukanlah dewa, ye kaann

    ReplyDelete
  2. Setuju, Mbak. Kami pun pernah melakukannya saat anak saya sedang sakit. Alhamdulillah lebih lega setelah mencari tau

    ReplyDelete
  3. hmm, mama ku pernah hampir salah kena diagnosis dr dokter di medan. dulu mama tuh sering sakit di bagian perutnya mba, dan ada benjolan juga. tiap haid pasti sakit. periksa ke dokter di rumah sakit besar di medan, ga pake tes segala, udh main vonis aja tumor ganas. hrs lgs operasi bla bla... ya shock sih kita semua

    tapi akhirnya papa bawa mama ke penang. eh, setelah cek komplit yaa, ternyata cm miom. ga bahaya, tp memang mengganggu. dan sbnrnya kalo mau tuntas, disarankan utk angkat rahim.

    berhubung mama udh punya anak 4, yo wislah, angkat rahim jg ga masalah biar ga sakit lg tiap haid. selesai deh, dan biayanya jauuuuh mba di bawah tarif si dokter "hebat" di medan itu. sejak itu jujur aja kalo mau cari second opinion, aku mending ke rs tetangga di penang :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Penang, itu sama orang Medan, sudah kayak mau ke Pajak Pringgan aja, buahahaha. Sikit-sikt Penang, sikit-sikit, Penang, yekan, Fan.
      Apalagi ada Airasia, sarapan di Medan, lunch di Penang, dinner ke Singapore, buahaha.

      Aku pun sering dengar cerita sekaligus referensi tentang rumah sakit Penang ini, Fan, kalau pas mudik.




      Delete
  4. Aku sepakat banget mba kalau harus sertakan second opinion mba kalau periksa kesehatan. Aku pun melakukan itu soalnyaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju, BuDir
      Itu hak kita juga, apalagi kalau masih dicover asuransi, alhamdullillah ya

      Delete
  5. Pernah mbak saat anakku sakit perut, di dokter pertama katanya usus buntu harus operasi. Kami bawa ke dokter lain buat pertimbangan, katanya bukan. Bingung kan. Tapi akhirnya nggak jd operasi sih, dan smoga memang bukan usus buntu. Itu kejadian 4 th lalu. Sampai sekarang syukurlah gpp.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tuh, terbukti lagi.
      Second opinion itu memang penting ya, mba

      Delete
  6. Aku pun setuju dengan second opinion. Karena pemahaman masing2 dokter kan beda-beda. Daripada was-was dan bikin penasaran, ya mending keluar duit lagi utk periksa ke dokter lain tapi rasa penasaran kita terpuaskan, heheheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, karena dunia medis juga mengakui ada celah untuk perbedaan penegakan diagnosis dan lain-lain.
      Jadi, penting baget, second opinion itu!
      Apalagi kalau masih dicover asuransi, alhamdullillah ya, mba

      Delete
  7. Ya, aku setuju. Cari second opinion itu penting terutama untuk keputusan yang menyangkut kesehatan organ vital ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apalagi di zaman digital, akses informasi dan teknologi semakin mumpuni.
      Semakin meningkat wawasan dan pengetahuan permasalahan kesehatan, semakin tercerahkan untuk mengambil langkah selanjutnya.

      Delete
  8. aku aku!
    baru aja minggu ini mau cari second opinion ttg sakit di perut. bulan juli abis opname dibilang ga kenapa2. jadi aku mau ke rumah sakit yg lain saja. doakan akuh yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mba.
      Intip dulu suspect diagnosis-nya, lalu browsing di internet.
      Jadi pas ketemu dokter saat second opinion bisa buat list pertanyaan, bahahaha...

      Delete
  9. Kalua gak yakin dan butuh refrensi lain pakai second opinion memang cara yang paling bagus ya. Bukannya meremehkan tapi namamya ikhtiar ya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tos, mba, ikhtiar!
      Dalam banget kata ikhtiar ini :)

      Delete
  10. Membantu sekali artikel mba Anna, trims mba

    ReplyDelete
  11. Aku juga pernah cari second opinion saat anakku kurus tapi bukan sakit TB. Ternyata dia sakit infeksi kandung kemih yang bikin susah makan dan anak jadi kurus juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk, dishare mba :)
      Biar semakin banyak yang teredukasi

      Delete
  12. pernah kak ros (eh mana upin ipin ^_^). waktu itu di Medan, anakku didiagnosa hirschprung dan "divonis" kolostomi. aku jelas down banget krn gmn sih bayangin anak yg baru setahun mesti dibikinin lubang sekresi di perut lalu ntar mesti sambung lagi?berhubung aku ga da sanak sodara di medan, jadi aku balik ke kampung and si bocah aku bawa periksa ke jogja. kalopun sampe oprasi (2x), aku ditemani keluarga besar. Puji Tuhan ternyata ga perlu oprasi. beneran berasa mujizat bgt waktu itu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, ternyata memang benar fakta itu ya.
      Second opinion dari dokter lain itu memang penting!
      Apa kabar si kecil sekarang, mba?

      Delete
  13. Semoga sehat selalu ya Mbak Anna sekarang dan nanti. Syukur langsung ada ide cari second opinion ya..
    Aku pas hamil ketiga, dibilang plasenta previa sama dokter obgynku. Aku memnag beberapa kali flek saat hamil.
    Terus disarankan lahiran sesar aja. Enggak mau langsung terima aku ke 2 dokter obgyn lainnya, dan mereka bilang sama. Sebaiknya sesar saja. Apalgi pertimbangannya, anak pertamaku meninggal saat 13 hari, jadi dokter ga mau ambil resiko jika ada apa-apa saat proses persalinan nanti.
    Jadi aku nurut tapi puas karena sudah cari opini pembanding

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apa kabar si kecil atau mungkin sudah besar sekarang, mba?

      Delete
  14. Sehat selalu ya mbk..
    Second opinion ini penting banget kalo m8salnya kita sakit, diberi obat tapi tidak kunjung sembuh. Pengalaman anakku dulu mbk, satu bulan bolak balik rumah sakit, nggak ada hasil. Pindah ke dokter ketiga, alhamdulillah tau sakitnya.. Tbc, setelah itu berobat sampai tuntas. Alhamdulillah sekarang sehat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, dari semua yang drop komentar, hampir semua pernah mengalami second opinion ini ya.

      Semoga kita bisa membantu edukasi perlunya second opinion, minimal di lingkungan dekat dulu :)

      Delete
  15. Jadi menurut dokter Maurits Kak Ana batuk disebabkan oleh apa? Apa karena faktor cuaca atau karena faktor makanan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kata dokter, untuk kasus saya penyebabnya bakteri.

      Namun kasus lain bisa jadi oleh virus atau jamur.

      Juga bisa dipicu oleh beberapa faktor resiko seperti usia, lingkungan, gaya hidup dan kondisi kesehatan tertentu, mba Lina.

      Karena penyebabnya bakteri, makanya aku diberi antibiotik dan terapi obat lainnya.

      Alhamdullillah, sembuh, karena aku barengi dengan banyak minum air putih hangat juga.

      Aku ini, air hangat freaking addict, hihihi.
      Apa-apa pakai air hangat.

      Delete
  16. Bisa fatal ya kalau sampai salah diagnosis. Jadi ingat budenya temenku yg sudah almarhumah. Beliau dulu terkena kanker serviks, pas di dokter A katanya gpp, gak ganas, terapi dan minum obat aja karena masih gejala. Tapi setelah beberapa kali terapi dan minum obat, bukannya kunjung sembuh malah menjadi, akhirnya ganti dokter B. Nah di situlah ketahuan katanya udah stadium 4. Dan bikin kaget anggota keluarga.

    Kita memang perlu second opinion atau pilihan yg lainnya sebelum menemukan yg terbaik. Apalagi kalau kaitannya ama kesehatan.

    ReplyDelete
  17. Saya juga melakukan second opinion kalau dokter pertama gak memberi saya jawaban memuaskan. Btw jelang pancaroba kmnrn saya ya batuk2 mbak, tapi herannya batuknya tiap mlam gtu huhuhu. Sekarang alhamdulillah membaik. Mbak Anna sehat2 yaaa :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdullillah sehat, mba.
      Kerasa banget ya nikmat sehat dikala kita jatuh sakit

      Delete
  18. Pernah mba, aku ya pernah mengalami ini. Sampai dengan jengkelnya aku ngebatin, apa memang nasib pasien pake BPJS tuh layak diginiin, kayak diagnosanya tuh asal lho. Sedih akutuuuu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Puk-puk, mba
      Semoga ini pengalaman pertama sekaligus yang terakhir ya

      Delete
  19. Kadang memang klo k dokter cocok2an ya mba, penting Juga mndengar dari dokter yg satunya lg biar puas istilahnya.. aplg klo dokter nya kurang sreg pelayanan nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju mba.
      Tentu juga dengan berbagai pertimbangan ya seperti penyakit yang mengancam nyawa, biaya, kompetensi dokter dan lain-lain.

      Delete
  20. Ya Allah Mbak, baca perjalanan berobatnya bikin lelah ya, apalagi yang mengalaminya. Saya juga lebih baik cari dokter lain kalau tidak sembuh-sembuh saja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mba, cobaan.
      Makanya pas mengalami aku sudah bertekad untuk berbagi di sini
      Semoga bermanfaat :)

      Delete
  21. Masih ada, ya, dokter yang seperti Dokter Ali itu. Gemes deh bacanya.
    Alhamdulillah sudah dapat penanganan yang tepat, ya. Dokter memang cocok-cocokan.

    ReplyDelete
  22. Iya mba emang kudu gitu, soalnya kadanf takutnya amit2 salah ga jelas diagnosa main pake obat2 dll. Sehar-sehat ya mba

    ReplyDelete
  23. Saya kalau ke dokter, agak cerewet. Tanya macem-macem. Pernah cek si bungsu di salah satu klinik yang pasiennya selalu bejibun antrinya, ketika tanya, "Dok, ini obatnya untuk apa aja?"

    Tau bilang dokternya?

    "Ibu mau anaknya sembuh nggak, sih?"

    Seketika kicep. Dalam hati, nggak akan balik ke dokter ini lagi lain kali.

    Alhasil, obat yang harus ditebus itu saya tanya ke apoteker buat nego yang mana aja perlu sama nggak. Soalnya si bocah punya alergi sama zat tertentu dan dokter tadi nggak tanya-tanya.

    ReplyDelete
  24. ku setuju 2nd oponion memang penting berdasarkan fakta cerita-cerita pengalaman nyata. Dokter juga manusia, bisa salah. Pengalaman pribadi mirip kek gitu. Dokter pertama bilang tipes, diobati dgn obat tipes ga ada perkembangan malah tambah parah, kembali ke dokter itu ga ada perkembangan, trus sama saudara dibawa ke dokter lain, dokter ke dua bilang sepertinya bukan tipes. Check darah ternyata DBD dan udah parah langsung check in rumah sakit. Alhamdulillah masih diberi umur panjang .....

    Kejadian berikutnya terjadi pada ibu kost ku yang masuk rumah sakit, waktu itu anak dari ibu kost yg dijkt belum ada yg datang, jd kita anak kost yg di Malang yg urus. Mendadak ada info kalau ibu kost hrs segera diberi obat, setelah resepnya dibawa ke apotik ternyata harganya mahal. Seluruh anak kost patungan pun ga cukup (kost nya cuma 4 orang, jadi sudah seperti angggota keluarga) lalu aku ambil inisitif minjam punya teman dgn aku sendiri sebagai jaminan (ku pikir ga mungkin keluarganya ga mau ganti). Tapi pas mau tebus resepnya perasaan ku ga enak. Lalu aku tlp dokternya, dan ternyata dokternya malah kaget dan buru-buku ke rumah sakit. Di diagnosa, dan ternyata obat itu tidak perlu. Lha siapa tadi yg memutuskan pemberian obat tadi? Tidak ada jawaban dari mereka.Mungkin ga berani jawab karena dokter nya marah besar.Dan aku tidak memiliki cukup energi untuk mengurus hal itu, sudah lemas dengarnya, lega dan bersyukur.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masya Allah, sarat drama banget ya Mas
      Terima kasih sudah sharing :)

      Delete
  25. Kalau urusan kesehatan dan periksa dokter selalu pakai second opinion, third opinion bahkan pernah sampai fifth opinion. Nanti suara mayoritas yang akan saya ikuti hehe. Kalau cari dokter aku juga selalu yang komunikatif. Minimal bisa diajak diskusi dua arah.

    ReplyDelete

Holaaa...!
Terimakasih ya sudah berkunjung ke sini.
Mohon maaf komentar kudu dimoderasi sebelum dipublikasi.