4 Kiat Terciptanya Bahagia Di Rumah


4 Kiat Terciptanya Bahagia di Rumah

4 Kiat Terciptanya Bahagia di Rumah. Sejujurnya saat memutuskan berhenti kerja beberapa tahun yang silam sama sekali aku belum punya rencana apa-apa terhadap diriku. Masih kelam. Jangan ditiru ya!

Kuakui keputusanku agak emosionil karena keadaan buah hati yang saat itu sedang sakit. Karena kami tinggal beda domisili, keadaan seperti ini sangat menguras tenaga dan pikiran. Dan aku harus membaginya lagi dengan beban pekerjaan.

Saat itu yang terpikir hanya bagaimana agar bisa terbang dan sampai di sisi ananda. Memberi dorongan semangat, kekuatan agar kembali pulih keadaan.

Menurut info dari suami sudah beberapa hari ini Yasmin muntah-muntah dan kehilangan selera makan, meski sudah dibawa ke dokter dan minum obat. Mungkin kangen sama bunda, tambah suamiku. Duh... hatiku semakin kelabu.

"Yasmin, kangen sama bunda?" 

Itulah pertanyaan retorik yang aku ajukan sesampainya di rumah sembari memeluk dan menciuminya, melabuhkan rindu yang membara.

Mata indahnya mengerjap sendu. Dan itu cukup untukku!

Namun jauh di lubuk hati sebenarnya aku sendiri masih belum yakin dengan keputusanku ini.

Atasanku seperti mencium sikap menduaku. Dan beberapa kali menelepon mencoba mengajakku bergabung kembali, meski surat pengunduran diri telah resmi aku submisi. Gundah merayap dengan mudah. Namun dengan dukungan suami dan meminta petunjuk lewat doa yang kubisikkan dari balik sajadah, hatiku mantap untuk berkarir dari rumah.

Awalnya aku merasa baik-baik saja melakoni profesi anyar ini. Ada banyak ibu rumah tangga di luar sana yang mampu melakukan itu semua. Dan kelihatannya mereka baik-baik saja. Lalu, apa bedanya dengan aku!

Namun perlahan tapi pasti aku rindu sekali bermandikan perasaan itu lagi. Penuh semangat setiap bangun pagi untuk memulai hari seperti yang biasa aku alami, menemukan hal baru. Entah mengapa, aku sangat menikmati banget momen itu.

Menjadi wanita karir adalah juga impianku dan ibu. Ibu tak ingin kami anaknya yang berempat ini kelak kembali mengalami keadaan memprihatinkan. Solusinya hanya satu, bekerja kantoran seperti orang kebanyakan.

Hampir 30 tahun menjadi wanita yang bekerja di kantor dan memiliki penghasilan sendiri, merupakan kesenangan dan kebanggaan tersendiri. Aku merasa hidupku setiap detiknya dihiasi, dipenuhi dan diberkahi dengan kebahagiaan.

Bayangkanlah! Adakah yang lebih sempurna dari itu?

Namun kenyataan berbicara lain. Terus menerus melakukan aktivitas rutin ternyata bisa memicu stress.

Aku membuktikan dan mengalami sendiri. Kreativitas berkurang, mudah tersinggung, gampang marah dan kerap merasa hampa. Merasa tidak berguna, konon pula merasa bahagia.

Bagaimana mungkin aku bisa membahagiakan anggota keluarga lainnya jika aku sendiri tidak bahagia? Itu nonsens! Ada sesuatu yang salah di sini, dan harus berhenti! 

Maka mulailah aku mencari tahu, menggali informasi. Karena aku gemar berinternet ria, ke sanalah aku dominan bertanya sekaligus menemukan jawabannya. Memang sih tidak secara langsung seperti menemukan dompet di taman tengah kota. Tapi aku harus pintar memilah artikel yang sesuai dengan suasana hati dan jiwa.
  • Aku tak mau jadi orang stress dan berakhir depresi!
Kata kunci bahagia aku ketikkan di mesin pencari dan mulailah aku melakukan riset kecil-kecilan terhadap kehidupanku dan menemukan hal-hal berikut yang membuat aku #bahagiadirumah.

1. Hanya Menjalani dan Melakukan Kegiatan Yang Aku Sukai

Bahwa bahagia itu harus kita ciptakan sendiri karena semua berasal dari otak. 

Hal pertama yang aku pikirkan adalah menjalani dan melakukan kegiatan yang aku sukai. Mengapa? Karena saat melakukan sesuatu yang kita sukai pasti akan ada gairah.  Gairah adalah energi! Gairah mampu menutupi semua kekurangan fisik, emosi dan intelektual. Luar biasa! Pernah merasakannya? 

Setelah sarapan biasanya putriku Yasmin akan menghabiskan waktu sampai sore di sekolah. Berangkat bareng pak suami sekaligus mengantar Yasmin ke sekolah. Karena wiraswasta, jadwal pulang tak menentu. Alias tidak memiliki jam kerja tenggo. Tahukan maksudku? Jam 7 pagi teng pergi, dan jam 5 teng, go. Pulang maksudnya. Hahaha... Ini istilah populer yang aku dapatkan saat jadi karyawan dulu.

Kebetulan di rumah  aku senang banget main internet dari laptop. Awalnya hanya cuma mencari artikel, resep dan melepas kangen dengan sobat dunia maya. Dan di antara kegiatan sehari-hari ini aku menemukan kembali gairah masa kecil yang dulu sempat aku gandrungi.

Menulis. Iya, menulis. Awalnya aku menjadi penonton di antara media sosial buzzer yang telah malang melintang di dunia maya. Seperti anak kecil yang mengintip malu-malu dari balik gorden karena ketahuan. Menoleh ke kiri dan ke kanan.

Perlahan irama dan ketukan aku dapatkan, lalu meningkat ke penyesuaian, bergerak mengikuti irama, meresapi dan akhirnya kutemukan iramaku sendiri. Hei, aku menemukan dan menciptakan kebahagiaan di sini. Iya, kebahagiaanku sendiri.

Dengan menjadi media sosial buzzer, bukan hanya kebahagian yang aku dapatkan namun juga penghasilan. Bermula dari sampel produk, pulsa, uang tunai, gadget hingga paket perjalanan ke luar negeri ke Jepang misalnya. Semua dari hobiku menulis.
4 Kiat Terciptanya Bahagia di Rumah

Dan dalam menggeluti hobiku yang satu ini, aku harus berani eksplor diri jika ingin dilirik para juri. Catat ya eksplor diri, bukan eksplor bodi. Hihihi... 


Untuk itu aku harus terus belajar dan belajar. Dari siapa saja. Menambah wawasan dengan banyak membaca. Yang pasti, semakin sering dan berani aku mengeksplor diri tanpa disadari semakin dalam aku menggali potensi diri. Otomatis semakin terdongkrak juga kepercayaan diri. Kini aku bahkan punya blog pribadi tempat aku berbagi.

2. Banyak Bersyukur


Yup! Banyak bersyukur membuat hati bahagia. Termasuk #bahagiadirumah. Seperti yang aku sebutkan di atas, bagaimana mungkin  bisa membahagiakan anggota keluarga lainnya jika kita sendiri tidak bahagia. Mustahil!

Kog bisa?


Dengan banyak-bersyukur aku terhindar dari stress. Tekanan. Karena aku percaya masih banyak orang di luar sana yang tidak seberuntung diriku. 


Dengan banyak bersyukur membuat hidup lebih bahagia dan hati jadi tentram. Ada banyak nikmat dan karunia yang Tuhan limpahkan kepada keluargaku seperti nikmat sehat, anak yang cerdas lagi solehah (Insya Allah) dan pasangan yang sekaligus sahabatku tempat bertukar pikiran dan melabuhkan cinta. 



Meski plafon rumah sudah mulai menghitam karena setiap hujan turun dan genteng bocor, jamurpun semakin ganas, dan masih suka gugup saat nominal angsuran mobil belum cukup, sementara tanggal jatuh tempo hampir menjelang, atau cat rumah yang sudah mengelupas dan hanya kesuraman yang membekas. 


Syukurlah kami sebagai pasangan selalu saling mengingatkan. Kami sepakat dan percaya bahwa kebahagiaan bukan melulu diukur dari uang dan kekayaan. Tapi kami juga tidak alergi dengan hal-hal duniawi, kawan.

Lalu, nikmat mana lagi yang aku dustakan?

3. Selalu Berpikir Positip

Untuk yang satu ini aku yakin banget. Bahwa berpikir positif itu bagai kerangka kontruksi bangunan. Berpikir positif itu merupakan sikap mental yang melibatkan proses mulai dari pikiran-pikiran, kata-kata dan bermuara pada budi pekerti.


Berpikir positif memberi kebahagiaan, suka cita dan kesehatan. Yang ada hanya fokus dan sibuk terus menerus memperbaiki diri. Tak ada bahkan tak sempat lagi berburuk sangka atau memikirkan keburukan orang lain. Tentu saja, wong kita sudah sedemikian sibuk dengan diri sendiri.

Memandang segala sesuatu dari persfektif positf memberi dimensi baru. Kebiasaan ini juga menambah kemampuan menemukan ide dan solusi. Walhasil aku jadi gemar mencoba dan pengalaman baru adalah konsekuansinya. 
Baca juga : Berani Lebih Eksplorasikan Diri 
Mengagumkan! Meski aku tahu ada banyak orang yang menganggap berpikir positif hanyalah omong kosong dan bahkan menertawakan. Aku tak bisa memaksa mereka melakukan hal yang sama. 

4. Menciptakan Suasana Intim 


Aku percaya kepada kekuatan suasana yang penuh keintiman. Misalnya lewat sentuhan.  Satu sentuhan lebih berarti dari seribu kata-kata. Menciptakan suasana intim dengan suami dan anak adalah hal yang menjadi prioritasku. Berbagi berpelukan dan ciuman dengan pasangan dan anak menjadi ritual di rumah kami.

Atau di lain waktu lewat sajian kuliner istimewa. Membuat menu istimewa ala resto favorit kami sekeluarga. Masih tetap dengan konsep sederhana dan aku bahagia mengeksekusinya. Bukan memaksa diri dan akhirnya akan kecapekan sendiri.



4 Kiat Terciptanya #BahagiadiRumah




Ingatlah, cinta bukanlah sesuatu yang hanya untuk dimiliki tetapi ia perlu dibagi. Penelitian dan dokumentasi tentang hal ini tak perlu diragukan lagi.


Aku yakin kebahagiaan bukanlah tujuan tetapi perjalanan.  Perjalanan tanpa henti dan tak berujung.


Tahukah kamu? 

Satu kebahagiaan kecil dari rumah bisa bergulir... bagai bola salju. Kebahagiaan seperti juga kesusahan bisa menular kepada siapa saja. Bisa menerima adalah berkah. Namun mampu memberi adalah anugerah.

Jadi tidak ada kata terlambat, mari mulai berbagi kebaikan dan kebahagiaan. Mulai dari saat ini!

Semoga 4 kiat terciptanya #bahagiadirumah ini bermanfaat.





Pentingnya Meluruskan dan Menguatkan Niat


Tips Agar Impian Tercapai Ala Bunda Yati


Pentingnya meluruskan dan menguatkan niat. Entah mengapa, aku sungguh tidak sepakat dengan sebuah kata ini *drumroll... Pensiun

Iya.

Dalam benakku pensiun adalah leyeh-leyeh di kursi malas sambil makan kudapan, memandang lepas ke kejauhan and doing nothing.

Oh, tidaaaak...! lalu histeris.

Sungguh tak ada kamus seperti itu dalam pikiranku!

Aku ingin tetap aktif, baik pikiran dan fisik, karena aku percaya dengan tetap berpikir, berkarya dan berkreasilah itulah aku "hidup".

Apalagi ditambah dengan salah satu episode dalam hidupku yang berkesempatan berkenalan dengan Bunda Yati, blogger inspiratif yang saat ini menginjak usia 77 tahun, dan...masih semangat berkarya. My Lord!

  • Aku juga percaya bahwa konsep mengenai apa yang kita rasakan tentang usia sangatlah penting dan berpengaruh terhadap bagaimana kita bersikap. Jika kita menganggap kita sebagai orang yang tua, ringkih dan lemah, pasti itulah yang kita dapatkan.

Lalu, apakah artinya sesederhana kita berganti perilaku menjadi anak muda lalu otomatis kita akan menjadi muda?

Tentu tidak!

Tak perlu menyangkal fakta bahwa usia bertambah dan fisik berubah. Tapi kita bisa memilih menikmati semua proses ini dengan cara yang menyenangkan, penuh kebahagiaan dan keceriaaan, percis saat masa kanak-kanak kita dahulu kala.

Untuk itu aku sering sekali sambil bergurau saat arisan bersama ibu-ibu di dasa wisma di kompleks perumahaan.

"Tolong jangan pernah memakai kata tua, ya"

"Kenapa, bu?"

"Kata senior jauh lebih keren!" kataku sambil mengerling nakal.

Kontan ibu-ibu menganggu-angguk setuju.

Hahaha...

Begitulah.

Berbicara mengenai Bunda Yati, kata yang tepat adalah sosok inspirasional di tengah era dekadensi moral!

Beliau jadi panutan di berbagai komunitas blogger. Tak terkecuali aku.

Energi, ekspresi dan prestasi beliau sungguh fenomenal, menurutku.

Mengawali profesi blogger sejak tahun 2009 sehingga kini, beliau rajin mengikuti berbagai kontes dan berhasil keluar sebagai pemenang di beberapa even, dan telah menghasilkan karya 19 buku antologi sampai akhir tahun 2013.

Luar biasa!

Dan... karya beliau yang paling gres adalah pada Februari 2015 membuat buku "Me and My Life, Bunga Rampai Kehidupanku".

Buku yang berisi cerita kehidupan yang diambil dari berbagai postingan blog beliau.

Dan ini belum berakhir, beliau masih menyimpan obsesi untuk terus dan terus berprestasi!

Semua pencapaian ini adalah berawal dari hobi beliau bersosial media. Meski berteman dengan sosialita media dengan lintas usia tak membuat beliau rendah diri dan malu.

Malu?

Untuk apa malu?

Kenapa harus malu?

Justru beliau merasa ini adalah sebuah sinergi karena berkesempatan berbagi dengan mereka yang sama-sama cinta menulis.

  • Iya, alangkah senangnya jika kita bisa menemukan orang yang memiliki passion yang sama. 

Gue banget ni kakaaa... *jingkrak-jingkrak.

Tapi memang benar lho, menghabiskan waktu dengan orang yang memiliki hasrat yang sama itu, anugerah!

Rasanya waktu seperti cepat berputar. Setiap detik dihiasi dengan kegembiraaan, berdiskusi dan berbagi ekspresi.

Yang penting mereka tidak memiliki akun yang aneh-aneh, beliau menambahkan.

Nah siap-siap jadi daftar friend list Bunda Yati ya.

Satu hal lagi yang aku dapatkan dari bunda Yati bahwa kita perlu menguatkan niat!

Jika menginginkan sesuatu, kerahkan seluruh usaha maksimal, banyak bertanya kepada sumber yang tepat, agar impian tercapai.

Mendadak jantungku bertalu dan nafas memburu menuliskan kalimat yang penuh deru ini.
Sungguh kata melebihi tajamnya sebuah pedang, adalah ungkapan yang sangat tepat di zaman peradaban sastra mencapai puncak dunia.
Sebuah pedang hanya bisa menusuk satu orang, berbeda dengan kata yang bisa menusuk ratusan bahkan ribuan orang dalam sekejap.

Itulah kekuatan sebuah tulisan.

Mampu memprovokasi hati untuk menyalurkan ide, memancing naluri berontak dan bergejolak.

Pentingnya meluruskan dan menguatkan niat, sebuah pelajaran yang takkan terlupakan!

Terima kasih Bunda, keep inspiring.

*Foto diambil dari akun facebook Bunda Yati



Lakukan 3 Hal Ini Sebelum Membeli Mukena

Tips Membeli Mukena
Lakukan 3 Hal Ini Sebelum Membeli Mukena. Saat melakukan perjalanan terutama lintas kota dan jauh, biasanya aku suka membawa perlengkapan ibadah seperti sajadah dan mukena. Bahkan kadang-kadang walau hanya pergi ke mal di dalam kota.

Mengapa?

Karena lebih higienis dan terjamin kualitasnya. Tidak ada titipan bau yang lain, maksudnya. Hahaha...

Dulu, iya dulu aku sering mengandalkan mukena yang tersedia di tempat ibadah. Maksud hati ingin menunaikan ibadah dengan khusyu, betah dan total. Namun apa daya kadang kala aroma dan kondisi mukena mengusik indera penciumanku secara total.

Walhasil saat sholat sesekali udara dan hidungku bersinergi mencipta hawa yang kurang manusiawi. Kadangkala aku juga berjuang menahan nafas karena bau yang menetas saat aku sujud diantara gundukan tas. Ibadah pun menjadi sedikit ternoda.

Sejak saat itu aku berjanji akan selalu membawa mukena sendiri.

Kebetulan aku punya beberapa koleksi mukena cantik yang dipakai sesuai kebutuhan dan kondisi.

Bagaimana dengan kamu?

Masih bingung soal mukena yang cocok untukmu?

 Yuk simak tips sederhana memilih mukena sesuai kondisi dan kebutuhan.

1. Mukena Untuk di Rumah

Untuk di rumah biasanya aku suka pakai mukena yang terbuat dari katun dan berwarna putih. Bahannya terbuat dari kapas memiliki tekstur halus, kuat dan hiasan bordir.

Mukena ini sangat adem, nyaman dan tidak menyebabkan panas. Apalagi jika di rumah aku sering menghabiskan waktu cukup lama saat sholat ketimbang saat di mesjid atau dalam perjalanan dan tanpa pendingin udara.

Kekurangan mukena jenis ini adalah kurang cocok di bawa saat perjalanan karena sangat berat, mudah kusut dan susah kering setelah habis dicuci atau basah.

2. Mukena Untuk Bepergian

Saat melakukan perjalanan apalagi yang jauh, segala sesuatu yang praktis adalah pilihan, iya kan ladies?

Koleksi mukena cantik jenis parasut adalah pilihan jitu menurutku. Mudah dikemas, ringan dan anti kusut adalah kelebihan mukena tipe ini. Bahkan ia bisa dilipat sampai keukuran paling kecil. Pilihan brilian saat bepergian.

Mukena ini juga cepat kering saat habis dicuci, jadi kebersihan saat beribadah selama perjalanan bisa terjaga.

3. Mukena Untuk Hari Khusus/Hari Raya/Hadiah/Seserahan

Untuk memaknai hari penuh kemenangan dan kegembiraan misalnya seperti Hari Raya, biasanya aku memakai mukena yang terbuat katun dengan hiasan bordir yang lebih indah.

Jika diminta aku juga untuk memberi masukan kepada teman atau handai taulan agar membeli mukena jenis ini karena bahannya yang halus dan desainnya yang indah.

Saat ini konsumen semakin dimanjakan dengan tersedianya berbagai koleksi mukena cantik (baca Misalnya seperti di MatahariMall dengan model yang variatif, dan pilihan harga yang kompetitif.

Salah satunya adalah mukena Bali yang sedang populer.

Warna cerah dan segar menjadi ciri khas sejati mukena ini. Terbuat dari bahan rayon, mukena ini diklaim adem dan nyaman.


Tips Membeli Mukena

Untuk kamu yang suka bahan katun, salah satu koleksi mukena cantik katun Jepang ini bisa menjadi pilihan alternatif. Kalau bahan dari katun tentu kita tak perlu ragu lagi yah.

Tips Membeli Mukena

Rata-rata koleksi mukenaku juga terbuat dari katun. Adem ayem buat hati kalem.

Karena terbuat dari bahan berkualitas bagus harganyanya juga hampir dua kali lipat dari rayon. Jadi pegang kencang-kencang dompetmu ya. Hahaha...

Untuk koleksi mukena cantik murah tapi bukan murahan, ada mukena parasut yang juga menjadi pilihanku untuk dipakai dalam perjalanan. Bahan ini memang panas tapi cocok untuk saat bepergian karena mudah dilipat dan sangat ringkas.

Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, sebelum memutuskan membeli salah satu koleksi mukena cantik ini,  lakukan 3 hal berikut sebelum membeli mukena:

A. Mencari Tahu Detail Produk

Agar ibadah semakin khusyu dan terjaga sebaiknya mukena memiliki kategori seperti berikut ini:

- Dingin
- Halus
- Luntur/tidak luntur
Brand/merek

B. Dapatkan Deskripsi Lengkap Produk

Pastikan uraian lengkap mukena favoritmu mencakup hal-hal berikut ini:

- Panjang depan (cm)
- Panjang belakang (cm)
- Panjang rok (cm)
- Lebar rok (cm)

C. Spesifikasi Produk

Agar semakin mantap dengan pilihan, kriteria berikut ini patut dijadikan acuan sebelum menentukan pilihan.

- Warna
- Ukuran
- Bahan Utama

Terutama untuk tipe mukena Bali yang terdiri dari berbagai jenis kasta level kain rayon. Semakin tinggi kastanya (baca: mutu) semakin tinggi juga nilai harga jualnya.

Pastikan perlengkapan ibadah membuat ibadah kita semakin khusuk dan bermakna.

Semoga bermanfaat ya 3 tips sederhana sebelum membeli mukena ini.

Selamat mencoba!


Catatan:
Semua foto properti dari website MatahariMall.com https://super.mataharimall.com/jual-mukena/






Ketahui Manfaat Menulis Kisah Hidup Pribadi

9 Alasan Mulia Menulis Kisah Hidup Pribadi (1)


Ketahui Manfaat Menulis Kisah Hidup Pribadi. Hai! Kenalkan, aku Rosanna Simanjuntak! Nama di KTP juga sama. Tak lebih dan tak kurang.

Mo panggil aja Anna, boleh. Rosa juga monggo. Asal jangat, Nyet ya. Hahaha...

Aku seorang ibu dari seorang gadis belia yang ntar 22 Mei tahun depan nanti menginjak usis 17 tahun. Yup, aku asli dari Sumatera Utara bah.

Terus kog sekarang di Balikpapan?

Perhatian-perhatian, berhubung tulisan ini sangat panjang, jadi camilan sangat dianjurkan, xixixi.

Jadi gini,

Masa SMA

Waktu di kelas 3 SMA, saat ada program PMDK, aku pilih Universitas Mulawarman (Unmul) Fakultas Kehutanan di Samarinda, Kalimantan Timur.

Masih ingatkah? Itu lho program Penelusuran Minat Dan Kemampuan (PMDK). Nah lo! Ketahuan deh jadulnya.

Samarinda adalah ibukota propinsi Kalimantan Timur dan berjarak 115km dari Balikpapan.

Lanjut!

Sekarang sih PMDK itu namanya jalur khusus atau undangan.

Iya, betul!

Itu proses seleksi masuk perguruan tinggi dan dapat prioritas memilih universitas idaman sesuai rata-rata nilai raport.

Nilaiku sih gak bagus-bagus Amir (ssst... ini karena si Amat sudah pindah), cuma aku ikuti tips dan trik dari bapak dan ibu guru aja. Jadilah aku lulus dan melenggang masuk Unmul tanpa tes.

Sudah? Paham ya. Kalau belum mah, terlalu!

Ada banyak cerita hidup yang sangat berwarna-warni di tempat baruku ini. Apalagi aku belum pernah merantau jauh terpisah ribuan kilometer dari orang tua.

Biasanya dulu paling banter ke Medan, itu juga pasti berangkat bak rombongan sirkus, bow. Lengkap sama panci-panci persembahan berisi ikan mas arsik.

Maklumlah ibuku kan seorang eda, yang dalam silsilah Batak itu agak anu... kastanya. Hahaha...

Jadi ingat zaman itu, paling sebel kalau mau pergi jauh. Banyak tugas menanti. Jadi tukang giling bumbu, cuci piring seabreg. Hadeh. Duh, melebar lagi kan kemana-mana.

Lanjut!

Saat skripsi hampir selesai aku memberanikan diri melamar ke perusahaan tambang emas di pedalaman Kalimantan Timur. Tepatnya di Kelian. Sekarang masuk Kutai Barat. Sekalian cari jodoh. #Uhuk. Di kota kagak laku soalnya. Hahaha...

Iya, dulu berhasrat banget jadi istri ekspatriat. Pikiranku cuma satu, keren kali tiap 6 minggu bisa ke luar negeri. Terus nyerocos bahasa Inggris setiap waktu. Halah.

Tapi ternyata tak semudah itu ya. Menikah lintas kultur dan religi. Jadi baper nii.

Bekerja di lokasi tambang emas di pedalaman belantara Borneo merupakan anugerah terindah dalam hidupku. Dengan roster kerja 6-2, 6 minggu kerja dan 2 minggu cuti, aku punya banyak waktu untuk travelling. Mulai dari saat meninggalkan base camp di tambang, terbang dengan helikopter, bertemu  dan berinteraksi selama masa perjalanan. Begitu terus berulang selama hampir 2.5 tahun.

Aku banyak belajar di sini. Belajar lebih dekat dengan... diri sendiri. Iya. Jadi ingat best quote dari travelling.

To travel is to take a journey into yourself
~Danny Kaye~

Kog travelling sih?

Iya, setiap selesai cuti 2 minggu, entah mengapa aku sangat bersemangat untuk kembali bekerja. Kadang-kadang aku cuma menghabiskan seminggu saja waktu cuti dan sudah kembali lagi ke site. Atasanku hanya geleng-geleng kepala. Weird... katanya sambil geleng-geleng kepala, masgul. Hahaha... Orang lain malah pengen nambah cuti, aku malah sebaliknya.

Saat kerja di sini juga aku merasakan sensasi bekerja naik helikopter yang biasanya cuma aku lihat gambarnya atau melintas di atas atap rumah. Naik helikopter itu unik. Saat cuaca buruk kita bisa meliuk di antara pepohonan rimba, mencari helipad darurat, sambil menunggu cuaca cerah.

Pernah suatu ketika di pagi hari di tengah perjalanan cuaca buruk menerjang, pilot dengan sigap turun dari ketinggian dan meliuk di antara tajuk pepohonan dan mendarat mulus in the middle of nowhere, di atas hamparan pasir putih halus. 

Saat turun dari heli, aku menyadari sepertinya hutan ini hutan perawan karena disekeliling tajuk pohon  sangat rapat dan aura rimba ala film horor langsung membahana.

Penumpang yang sebagian besar terdiri dari para ekspatriat dan manager malah bermain... tenis lapangan. Iya di atas hamparan pasir itu. Hahaha... Kenangan itu takkan terlupa! See, I even wrote it here.

Tahu nggak sih? Enggaaak...

Dulu, saat SMA aku sebel banget lho sama bahasa Inggris!

Karena tidak mengerti sama sekali apa yang diucapkan guru. Mana tah lagi, begitu masuk kelas si bapak tak pernah berbahasa Indonesia. Tambah tenggelam aku dalam lautan ketidaktahuan. Meski akhirnya nilaiku boljug la. Boleh juga.

Etapi ini kog jadi ngelantur ya. Gak pa-pa laa yaa. Throw back (lagi) to several years ago.

Nah, pas kuliah aku kena batunya. Beberapa dosen mensyaratkan kami membaca text book yang notabene English, bow.

So, mau tak mau, suka tak suka. I have to studyGuess whatSlowly but sure. I am even falling in love with English. 

"Ternyata hal baru bukanlah sesuatu yang perlu ditakutkan namun harus ditaklukkan!"

Saat aku berhasil menterjemahkan kalimat demi kalimat, it feels heaven, you know.

Puasss banget!

So that quote, do what you love and love what you do. It hits me, man!

Kompetensi itu juga yang meloloskan sesi wawancaraku dengan ekspatriat Australia dan langsung memintaku bekerja di pertambangan nun jauh di tengah belantara Kalimantan Timur.

Bahasa Inggris ini jugalah yang mengantarkan aku mampu berkomunikasi saat pelesir di dunia negeri. Sungguh dengan bahasa kita bisa menakklukan dunia.


Meniti Karir

Bekerja dengan ekspatriat memberiku nilai tambah. Bahwa mereka sangat menghargai karyawannya. Ini murni pengalaman pribadi ya.

Pernah suatu kali atasanku meminta izin untuk menolong dia membuat salinan beberapa dokumen. Saat itu aku sedang melayani atasan lainnya. Melihatku masih sibuk mengetik, dia segera membatalkan dan langsung menuju mesin fotokopi dan mengerjakan sendiri.

Hal itu sungguh berarti. Hingga kinipun aku masih menyimpannya di sini. Di hati.

Dan saat dia kembali dari cuti di Australia, buah tangan pasti tak pernah lupa. Sekotak mungil coklat yang hampir bisa dipastikan belum pernah aku lihat wujudnya, kacamata anti sinar matahari, parfum mini (kayaknya ini sering dibeli di Changi, soalnya ada tulisan Duty Free Shop) dan lain-lain. Aku sudah lupa.


9 Alasan Mulia Menulis Kisah Hidup Pribadi

Dengan rotasi kerja 6-2, 6 minggu di tambang dan 2 minggu cuti, aku sungguh terberkati punya atasan seperti beliau.

Yang paling aku ingat, desain coklat yang unik dan ciamik. Kadang-kadang coklat hanya aku bawa ke kamar dan kupandangi hingga beberapa hari.

Hihihi... katrok, yaaa...

Dua setengah tahun aku bertahan di belantara, akupun pindah kerja karena permintaan my hubby.

It makes sense to me. We are about to build a family.

Kami berdua yakin pasti cepat atau lambat bakal tercipta ketidak seimbangan. Baik inter-personal maupun intra-personal.

Iya, kami sempat LDR. Yang perempuan di rimba yang lakinya eeh malah di kota.

Ruarr biasa!

Begitulah, perusahaan terminal batubara, rekondisi dan penyewaan alat berat melengkapi warna-warni kehidupan karirku. Semua rata-rata dengan atasan ekspatriat.

Eh, btw ini tulisan sudah kepanjangan yak? Hampir 600 kata, ne! Kata mastah SEO sebelah buat artikel gak usah panjang-panjang. Yang penting nendaang. *Bola kalles!

Pan gak semua orang internetnya wuz...wuzz.. Ntar pada ngacir lho, fansnya.

Etapi aku harus konsisten dong ya dengan judul di atas.

Jadi seperti yang aku kutip dari mindbodygreen.com bahwa meluangkan waktu menulis kisah hidup sendiri baik di buku diari atau di blog pribadi itu memiliki manfaat besar secara emosional, spritual and health benefits.

Hell yay!

Yuk kita simak.

Berikut 9 alasan mulia itu:

1. Membagi informasi personal itu menciptakan koneksi
Saat menulis kehidupan pribadi, otomatis kita menciptakan koneksi atau ikatan agar orang lain memiliki kesempatan mengetahui lebih banyak. Membuat ikatan yang lebih kuat.

Masih kuat baca yang 8 alasan mulia lainnya?

Hmmm... kayaknya sudah tiba saat merubah posisi sandaran dan menambah porsi camilan! Hahaha.

Gini aja deh, supaya nggak kepanjangan versi lengkap  ketahui manfaat menulis kisah hidup pribadi, sudah tayang di sini ya.