Serba-Serbi Ngebolang ke Jepang


Jepang


Serba-Serbi Ngebolang ke Jepang. Suara kereta dorong membangunkanku, saatnya snack dini hari.
Biar lebih nyambung baca kisah sebelumnya di sini, ya kakaa...
Aku minum jus guava dan segelas air putih. Tak bisa tidur kembali, aku menonton film The Fault In Our Stars yang mengharu biru.

Film belum usai, kantuk menyerang kembali. Aku matikan TV dan kembali aku terlelap, meski sesekali terusik, karena kepalaku terkulai, terbangun, tertidur, terkulai lagi. Begitu seterusnya, hingga jam menunjukkan pukul lima. Segera aku menunaikan kewajiban. Tayammum, tentu saja.

Tak berapa lama sarapan pagi pun tiba. Aku pilih western style menu. Mantap, ada croissant yang tersaji hangat. Duh renyah dan garing, puding dan jus guava (lagi).

Nun, jauh di sana cahaya ufuk merah menggoda mengintip, malu-malu. Indah sekali. Sayang, aku tak bisa mengabadikannya. Selain tak punya kamera canggih, akupun tak yakin apakah diperkenankan.


Osaka, Aku datang!

Jam 8 pagi waktu Osaka, kami mendarat di bandara Kansai International (KIX). Ada 2 jam perbedaan waktu dengan Jakarta (WIB). Osaka lebih cepat 2 jam.

Wow, aroma keteraturan, disiplin segera terasa begitu memasuki terminal kedatangan. Karyawan telah sibuk di posnya masing-masing. Wajah serius ada di mana-mana. He he he... Suasana masih cukup hening dan lengang. Mungkin pesawat kami yang pertama mendarat ya?

Untuk pemula seperti saya, desain terminal ini sangat membantu. karena begitu keluar dari perut pesawat, penumpang telah di arahkan sedemikian agar tidak tersesat. Posisi panah arah tujuan juga strategis. Kemungkinan untuk tersesat sangat tipis.

Melewati berbagai lorong, akhirnya kami tiba di counter imigrasi. Seorang staf mengucapkan salam dan mengarahkan kami kebeberapa counter guna menghindari panjangnya antrian. Sungguh teratur!

Hei... aku temukan pengalaman baru di sini!

Saat kita sampai di depan counter imigrasi, tak bisa serta merta mengantri dekat dengan meja. Ada jarak tertentu kira-kira 1.5 meter dan diberi warna kuning.

Duh,,, tadinya aku mau foto. Namun ada tanda gede banget NO PHOTO!!

Haisss...

Giliranku tiba, kuberi senyum termanis yang tersisa (aku letih banget, mo copot nih badan). Dia membalas, duh,,, senangnya dapat  nippon's smile . Mak nyosss!

Kusodorkan pasport, lembar kuisioner imigrasi, tak lama aku diminta scan kedua jemari, lengkap kanan dan kiri. Done!

Next check, bagasi, man!

Memasuki ruang ambil bagasi yang super luas, wah... suasana jauh berbeda. Riuh karena ada banyak penumpang lalu lalang.

Kami disambut petugas dengan seekor anjing herder super besar dan kekar yang sibuk memburu para penumpang. Tapi tidak semua lho diburu, hanya kandidat pelaku. Hahaha... Buktinya rombongan kami dia lewati begitu saja.

Jangan-jangan karena kami super kecuuut baunya yaa. Hahaha...

Any how, adakalanya herder ngotot mengendus penumpang dengan sangat fokus, sampai-sampai petugas kewalahan menenangkan, apalagi sang penumpang, namun di saat lain, sang herder berjalan kalem dengan mengendus seadanya.

Pokoknya, si herder most popular scene deh, karena hampir tiap penumpang meluangkan waktu memperhatikannya, meski hanya sesaat.

Satu yang pasti, aku tak melihat ada banner iklan apapun di sini. Mulus...lus.

Sembari menunggu bagasi, tak tahan lagi kami bergegas mencari rest room. Gerah banget!

Wow, ramai coii di sini. Kayak pasar gitu. Hihihi...

Usai menunaikan hajat, aku bingung mencari tombol flush, karena semua berhuruf kanji. Ternyata, tak ada tombol untuk cebok/bilas, saudara-saudara. Mau tanya petugas belum ada. Atau aku yang buta? Aku ambil tissu, lap seadanya. Keluar dari WC, aku ambil tissu lagi basahi dan masuk kembali ke WC. Aku lap lagi. Aiiiii,,,, seadanya... Maafkan daku Miss V.

Usai mencuci muka kami kembali ke ruang bagasi, ternyata kami telah di nanti. Ahh, jadi gak enak nih sama rombongan.

Oh iya, ternyata suhu di Osaka tidak jauh beda dengan Jakarta. Jadi tak perlu penyesuaian segala gitu *benerinponi. Malah aku sedikit merasa sumuk. Pengaruh belum mandi kali ya.

Ada sedikit insiden nih. Keluar dari migrasi ternyata rombongan satu demi satu telah beranjak, aku dan teman telat dikit, buntutnya kehilangan jejak , jadilah kami bingung. Kami segera bergegas menuju ruang bertanda EXIT, namun kami tak menemukan siapapun.

Seorang petugas mencoba menolong, dengan Inggris yang terbata-bata kami jelaskan kalau kami terpisah dari rombongan dan menuju pusat kota Osaka. Tak berapa lama akhirnya sang leader menemukan kami. Duh,, malunya. *plak!

Segera kami bergegas menuju bis yang telah siaga dan bertemu dengan Pak Usman, guide lokal. Beliau WNI, namun perawakannya, perpaduan Mandarin, Korea dan Jepang. He he he, Do goda gado.

Kondisi bis lumayan, bersih namun saat supir mengganti perseneling, sesekali aku mendengar mesinnya protes. Mungkin harus tuning kali, yaa. *tssaaahhh *soktahuloeah!

Selama dalam perjalanan menuju Osaka, Pak Usman menjelaskan bahwa Kansai adalah bandara yang dibuat dari pulau buatan di tengah teluk Osaka.

Kansai secara harafiah artinya barat. Terletak di bagian barat pulau Honshu dan merupakan salah satu daerah prefektur, seperti propinsi kalau di negara kita.

Prefektur Kansai meliputi daerah Mie, Shiga, Kyoto, Osaka, Hyogo, Nara dan Wakayama.

Dan kontruksi bandara Kansai telah direkayasa agar tahan gempa dan topan bahkan dengan kecepatan angin hingga 200km/jam. Wow!

Perjalanan menuju Osaka, didominasi pemandangan laut, pabrik dan jalanan yang lengang. Lagi-lagi kutemukan hal yang mengagumkan.

Tak pernah terdengar suara klakson mobil. Atau pengendara yang ugal-ugalan. Atau konvoi sepeda motor.

Kecepatan mobil konstan. Mobil box dan trailer mendominasi. Desain dan konstruksi pagar pengaman di kanan kiri jalan tol tinggi, kokoh dan bebas grafiti.

Melihatnya saja sudah merasa aman tingkat tinggi.

Memasuki kota Osaka, mobil pribadi yang mungil mulai terlihat. Sama seperti tadi, klakson free. Hening, teratur dan bersih.




Semoga suatu saat Indonesiaku bisa begini. Aamiin...

Pagi ini acara melalak langsung dimulai. Begitu menurut Pak Usman.

Alamak, dengan kondisi seperti ini, belum mandi. Hihihi. Tapi gak pa-pa, semuanya juga belum mandi. Kecuali Pak Usman, so pasti!

Nah itu sesi pemanasan serba serbi ngebolang ke Jepang dan masih berlanjut... are you ready guys?

Ayo siapkan camilan, yuk kita mampir di lokasi wisata yang pertama.

Tarrraaaa.... ini dia  First stop : Umeda Sky Building



48 comments:

  1. ih,asiknya pernah ke Osaka Jepang, btw, iya mbak kalau dlm perjalanan atau suata acara itu emang kalau bisa sebangku dgn orang lain ya agar nambah koleksi cerita, hihihi, meski, ya ada resikonya juga sih,kalau ternyata dia gak asik atau ngebosenin, ya manyun deh, hehehe

    ReplyDelete
  2. yok-i, dear...
    aku juga pernah dapat pembekalan seperti itu.
    dan memang beresiko, tapi biasanya itu worth it kog :)

    ReplyDelete
  3. Waaah asiknya. Aku juga senang ngobrol dengan orang baru tapi biasanya kupilih yg profilenya harmless.

    ReplyDelete
  4. Iya, kadang kita bisa langsung klik ya, pada first impression.
    How cool is that!

    ReplyDelete
  5. Wuaaaaa asik bangetttt. Ga ada yang ugal ugalan? Duhhh keren.

    ReplyDelete
  6. Gak ada Cha.
    Aman dan tentram dan damai.

    ReplyDelete
  7. Suka banget itu sama yang klakson free. Ngebayangin Jakarta juga bisa begitu pasti jauh lebih indah ya.

    ReplyDelete
  8. Suatu hari nanti... semoga
    Kita mulai dulu dari diri kita sendiri ya

    ReplyDelete
  9. Orang Jepang memang ga pake bilas mba, menurut mereka malah ngga higienis (beberapa malah jijik sama toilet basah) kebalikan sama indo, jadi toiletnya bener2 toilet kering, hehehe

    ReplyDelete
  10. Alamak, gitu yaa. *usapdagu sambil manyun

    ReplyDelete
  11. Thanks for sharing your adventures in japan! Nice narration and pictures!

    ReplyDelete
  12. Wah, kapan ya bisa ke Jepang juga. Dari waktu masih kuliah pengen banget berkunjung ke negeri tersebut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sabar atuh kang, pasti nanti kesampean haha

      Delete
  13. Jepang, memang patut masuk daftar bucket list, kakaa...
    Negara penuh inspirasi, sungguh!

    ReplyDelete
  14. Pernah denger sih Mbak kalau di Jepang memang toiletnya gak pake bilas, tapi terus flashnya di mana coba

    ReplyDelete
  15. Mungkin ada, dear Rani
    Cuma karena semua huruf kanji dan tidak ada infografis, jadi bingung sendiri, apalagi orang sudah banyak yang antri, jadi ya pilih yang praktis, pakai tisu yang telah dibasahi.
    Hihihi...

    ReplyDelete
  16. Asiknya jalan2 ke jepang :) kapan ya aku bisa jalan2 ke sana juga

    ReplyDelete
  17. oh iya, baru ingat kalau di jepang--mobil klaksonnya kayak rusak. jarang dipakai. hening. hahahha

    ReplyDelete
  18. Aku percaya Mbak Arifah pasti segera menyusul ke sana, Insya Allah

    ReplyDelete
  19. Hahaha...
    Kog gak kepikir ke sana yaa Mas Hazmi
    Iya kali ya

    ReplyDelete
  20. Dulu jepang adalah destinasi utk scholarship impian saya mba,sampe dibela2in kursus bhs jepang.sayangnya impian tdk seindah kenyataan. Namun cukup sudah terlipur dengan postingan komplit mbak.ttg serba-serbi di.jepang bisa mengobati kerinduan����

    ReplyDelete
  21. Ngga hanya osaka, seantero jepang memang ngga ada klakson mba hehehe
    malah aku pernah poto poto di tengah jalan, ada mobil dia diem ajaa, haduhh seneng banget deh ^^

    ReplyDelete
  22. Indonesia kapan ya free klakson. Hehehe.. Duh jadi pengen ke Osaka. Thanks for sharing ya mak..

    ReplyDelete
  23. Kalau di Indonesia ya, Mbak. Baru sepersekian detik lampu hijau nyala, udah klakson aja yg di belakang... Heuu... Pengalaman. Asyik jalan2nya, Mbak. Tapi WCnya bikin galau kalau ga bisa bilas. Hihihi

    ReplyDelete
  24. Disana semuanya kyknya serba tertata gtu ya mbak :)

    ReplyDelete
  25. Hai Putri,
    Salah seorang teman juga kasih masukan, kalau ingin beasiswa, Jepang adalah prioritas utama.
    Ayo coba ajukan lagi

    ReplyDelete
  26. Aku baru icip-icip Osaka mbak Shinta
    Semoga bisa ke Jepang lagi
    Insya Allah

    ReplyDelete
  27. ih...
    si mbak, foto sama ceritanya bikin ngiri euy :)
    secara, saya baru ke luar negeri ya tetangga sebelah, yang banyak patung singa-nya itu

    *semoga bisa nyusul, pengen ke osaka euy

    ReplyDelete
  28. Aku percaya pasti Mas Choirul,bisa!
    :D

    ReplyDelete
  29. makasih ceritanya, bikin saya makin pingin ke Jepang, aamiin

    ReplyDelete
  30. Wah serunyaaaaa...
    Iya Japan indah banget, bersih dan teratur serta ramah..

    Btw, k Rosanna, Osaka time bukan lbh lambat dr Jakarta time, tp lebih cepat 2 jam krn Jepang di gmt 9, kita di gmt 7.. hehe #Bibiteliti

    Salam
    www.catatantraveler.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aha, kamu benar! Osaka lebih cepat! Cuma karena aku di WITA jadi selisih 1 jam dengan Osaka.
      Kamu hebat ya, attention to detail!

      Delete
  31. Haha, aku juga kadang gatel mau foto di imigrasi tapi gak boleh huhuhuu

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, geregetan yaa. Semakin dilarang semakin tertantang :))

      Delete
  32. Berharap suatu saat negara kita, juga akan seperti Jepang. Semua teratur, karena pembangunannya dirancang secara konfrehensif :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insya Allah. Jepang memang bikin mabuk kepayang :)

      Delete
  33. pada tertib di jalan ya, Mbak :)

    ReplyDelete
  34. Wah senangnya ke Osaka. Asyik sepi ga ada yg klakson. Ga kayak di sini. Apalagi bis telolet dalam kota suka bunyiin juga...hhhhfff...

    ReplyDelete
  35. Tripnya seru banget sih mbaa 😍. Jadi pengen suatu saat ke jepang. Doain yaa. Jepang juga salah satu negara impianku

    ReplyDelete
  36. Aduh nggak kebayang mba aku yg ilang dari rombongan, bisa duduk kaky

    ReplyDelete
  37. Wah berarti toilet di Jepang sama dg toilet di negara2 Eropa America ya. Toilet kering. Memang kalau sudah gitu jadi terasa banget culture shock ya yaa

    ReplyDelete
  38. Semoga bisa ke sana juga ya mba, semoga anak saya juga. Ada yang tinggal di sana. Aamiin

    ReplyDelete
  39. Waw ke Osaka. Eh katanya wc di sana canggih banget. Segalanya bisa otomatis. Tapi kalau dalam kanji ya celingak celinguk aja. Hehehe

    ReplyDelete