Ibu Cerdas Attack Goes To Jepang



Pengalaman Pertama Melalak ke Luar Negeri

"Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn't do than by the ones you did do.
So throw off the bowlines
Sail away from the harbor
Catch the trade winds in your sails
Explore. Dream. Discover
(Mark Twain)


Ibu Cerdas Attack Goes To Jepang. Ungkapan di atas bak setitik cahaya di kegelapan yang gulita, begitu dominan, begitu terpatri saat aku dipermainkan ombak ragu, kala seorang sahabat menawarkan perjalanan ke Jepang yang di adakan sebuah merek detergen.

Aku memang mengikuti kontesnya juga, namun belum terpilih jadi pemenang mingguan apalagi pemenang utama. Hiks.

Meski sebelumnya aku juga sudah meminta kepada beberapa sahabatku yang lain jika menang, sudilah kiranya mengajak daku, namun ternyata mereka juga sudah terikat "kontrak" dengan teman-teman lain.

Saat itu aku sudah pasrah, duhai semesta. Pupuslah harapan beta.

Jepang... I'm Coming!


Namun, takdir berkata lain, salah seorang sahabat yang lain yang kerap menang di berbagai lomba, memberikan harapan.

Saat itu di ujung malam...

Betapa dahsyatnya kabar itu. Kantukku pun mendadak hilang. Segera kulengkapi semua berkas yang diinginkan, diiringi degup jantungku yang tak karuan, seakan berloncatan, ingin terjun bak paralayang.

Untung saja aku memiliki arsip sendiri tentang perlengkapan dokumen pendukung.

Jadi gini,

Sejak beberapa kali menjadi pemenang lomba di sosial media, beberapa admin fanspage selalu meminta beberapa dokumen pendukung. Untuk memudahkan pencarian, dan berdasarkan pengalaman menjadi sekretaris, pengarsipan adalah hal krusial. Beberapa dokumen pendukung aku jadikan satu arsip, jadi begitu diminta, langsung, voilaaaa, tersedia.

Sudahkah kamu berbuat hal yang sama?

Kembali ke laptop!

Rasanya hari demi hari berlalu begitu lambat. Bahkan kadang-kadang serasa bumi berjalan di tempat. *tssaaahhh.Aiiii,,, lebay banget yak.

Kini aku punya hobi baru. Sering berselancar di dunia maya, mencari tahu semua tentang Jepang. Pemandangan indah, tempat favorit tujuan wisatawan dan... makanan. Hmm, gak jauh-jauh dari urusan perut nih.

Akhirnya, tarrraaa... 23 September pun tiba!

Sejak pagi adrenalin mulai terpicu. Walhasil senyam-senyum melulu. Hahaha... *kumatlebaynya.

Bolak-balik bongkar tas, memeriksa kalau-kalau ada yang tertinggal. Kamera, cek, gadget, cek, pakaian pendukung cuaca (maklum menurut data, musim gugur tinggal menghitung jam saja), cek. doku, cek,, meski belum tahu mau beli apa, habis lagi-lagi menurut cerita, di sana wiiii, mahal-mahal bow.

Boarding time sih jam 23:00, namun kami diminta berkumpul jam 20.30 WIB di kafe Olala bandara Soekarno Hatta.

Ada sedikit cerita di sini. Karena tak tahu di mana percis lokasinya, beberapa orangpun kami tanya. Ternyata kami turun di area yang hmmm,, lumayan jauh dari kafe itu. Walhasil, jadilah kami mundur dari drop zone semula. Lumayan, serasa peragawati, melenggok kanan dan kiri, mengitari peron terminal yang sesak penumpang.

Sesampai di kafe, para peserta lain sudah tiba, kami berempat mewakili mahmud-mama muda *kibasponi, dari sosial media, ada juga awak media dan tentu saja perwakilan pihak detergen. Termasuk leader dari JALAN Tour total 12 orang.

Setelah mendapat paspor plus penjelasan kamipun memasuki ruang tunggu utama. Udara dingin segera menyergap raga, menambah syahdu malam sendu.

Berempat kami berjalan gontai, karena sudah letih, namun belum sampai ke ruang tunggu, awak Garuda mencegat dan meminta kami menunggu di luar, karena ruang tunggu sesak dengan penumpang yang mengalami penenerbangan tunda. Wajah merekapun tak kalah kusut, sodara-sodara.

Meski kecewa, kamipun kembali ke ruang tunggu umum, tak kalah gontai dengan langkah sebelumnya.

Hai,, ternyata kami tidak sendiri, kelihatannya adu dua warga Jepang (asumsiku) yang mengalami nasib yang sama.

Lumayanlah buat cuci mata. Hihihi... Selanjutnya, bisa di tebak dong. Bernarsis ria. Dasar emak-emak narsis! Padahal mata sudah kayak panda aja nih, sis.

Kamipun larut dalam percakapan khusyuk, mencoba mengimbangi hawa terminal yang semakin dingin menusuk.

Aku melirik jam di HP, 22.30.

Yuk, kita coba lagi, seseorang berkata.

Kali ini kami masuk ke ruang tunggu yang sudah lengang. Aku dan seorang teman bergegas ke mushollah menunaikan kewajiban. Tak lupa ku cuci muka biar segar. Siapa tahu ada sesi foto di dalam kabin pesawat. Hahaha. Duh, maaf edisi cekikikan melulu nih, Maklum lah edisi heppi-heppi.

Sambil menunggu boarding sesekali kami berbagi cerita dan memainkan gadget. Update status lah!
Aku keluarkan jaket keren pinjaman dari sahabat. Jaket khusus untuk daerah 4 musim, tebal dan warna mencolok. Oke banget buat foto.

Momen itu datang juga. Penumpang di panggil berdasarkan tipe stiker yang terdapat di boarding sheet. Biru warnanya, kami dipanggil pada urutan yang ke empat (kalau gak salah,, hi hi hi). Kelas ekonomi, bow. Aku baru tahu kalau tiap airline punya kebijakan boarding. Kalau pesawat domestik biasanya, siapa cepat dia lompat. Hahaha...

Eh, nggak ding, aku pernah naik Airasia, mereka mendahulukan orang tua yang cacat, ibu-ibu yang bawa bayi/anak, baru deh penumpang yang cakep dan segar kayak aku. *benerinkrahbaju

Aku benar-benar meresapi detik demi detik perjalananku kali ini. Tak ingin melewatkannya. Sungguh!

Pengalaman Pertama Ke Luar Negeri!

Aku sangat percaya bahwa memang semua yang serba pertama pasti terasa istimewa dan tak begitu mudah untuk dilupa, setuju? Jadi perjalananku kali ini, sekali lagi, agak penuh emosi, sedikit-sedikit main hati. Maksudnya terekam jauuuh ke dalam sana.

Saat tiba di perut pesawat, pramugari meminta kami menyebut nomor tempat duduk dan langsung menjelaskan ke mana kaki ini harus melangkah. Pesawat ini memiliki  2 gang di antara tempat duduknya. Kalau pesawat domestik dengan waktu terbang singkat yang biasa aku naiki, cuma punya satu gang.

Jadi penumpang masuk dengan rapi dan teratur. Profesionalisme jelas terbaca di sini.

Suasana di kabin begitu romantis. Remang-remang mengundang gerimis. Hihihi...

Kebetulan kami berempat duduk dalam satu baris. Senang sekali. Begitulah.

Padahal aku ingat banget, saat mengikuti seminar seorang motivator, seyogianya kita itu harus mencari tempat duduk dengan orang yang sama sekali tidak kita kenal, tapi yaitu dengan resiko bisa jadi dia teman perjalanan yang menyenangkan atau sebaliknya membosankan. Kind a gambling sih

Begitu nempel dengan tempat duduk, mataku segera melihat monitor kecil. Lumayan ada hiburan, meski aku tidak yakin, dengan kondisi letoi begitu apakah aku masih enjoy.

Aku buka kemasan selimut, mendorong bangku dan mencoba istirahat total. Tapi, ternyata tak bisa optimal.

Sesekali aku melempar pandangan lewat jendela, hitam pekat di luar sana. Kuputar kepala, kebanyakan penumpang terlelap, hanya ada beberapa yang menikmati hiburan. Kembali kantuk menyerang, kali ini aku berhasil terlelap.

Nah, itu dia sepenggal pengalaman ibu cerdas Attack goes to Jepang.

Mau tahu serba serbi seru lainnya? Yuk cap cus ke sini ya.

****