Ketahui Manfaat Menulis Kisah Hidup Pribadi

9 Alasan Mulia Menulis Kisah Hidup Pribadi (1)


Ketahui Manfaat Menulis Kisah Hidup Pribadi. Hai! Kenalkan, aku Rosanna Simanjuntak! Nama di KTP juga sama. Tak lebih dan tak kurang.

Mo panggil aja Anna, boleh. Rosa juga monggo. Asal jangat, Nyet ya. Hahaha...

Aku seorang ibu dari seorang gadis belia yang ntar 22 Mei tahun depan nanti menginjak usis 17 tahun. Yup, aku asli dari Sumatera Utara bah.

Terus kog sekarang di Balikpapan?

Perhatian-perhatian, berhubung tulisan ini sangat panjang, jadi camilan sangat dianjurkan, xixixi.

Jadi gini,

Masa SMA

Waktu di kelas 3 SMA, saat ada program PMDK, aku pilih Universitas Mulawarman (Unmul) Fakultas Kehutanan di Samarinda, Kalimantan Timur.

Masih ingatkah? Itu lho program Penelusuran Minat Dan Kemampuan (PMDK). Nah lo! Ketahuan deh jadulnya.

Samarinda adalah ibukota propinsi Kalimantan Timur dan berjarak 115km dari Balikpapan.

Lanjut!

Sekarang sih PMDK itu namanya jalur khusus atau undangan.

Iya, betul!

Itu proses seleksi masuk perguruan tinggi dan dapat prioritas memilih universitas idaman sesuai rata-rata nilai raport.

Nilaiku sih gak bagus-bagus Amir (ssst... ini karena si Amat sudah pindah), cuma aku ikuti tips dan trik dari bapak dan ibu guru aja. Jadilah aku lulus dan melenggang masuk Unmul tanpa tes.

Sudah? Paham ya. Kalau belum mah, terlalu!

Ada banyak cerita hidup yang sangat berwarna-warni di tempat baruku ini. Apalagi aku belum pernah merantau jauh terpisah ribuan kilometer dari orang tua.

Biasanya dulu paling banter ke Medan, itu juga pasti berangkat bak rombongan sirkus, bow. Lengkap sama panci-panci persembahan berisi ikan mas arsik.

Maklumlah ibuku kan seorang eda, yang dalam silsilah Batak itu agak anu... kastanya. Hahaha...

Jadi ingat zaman itu, paling sebel kalau mau pergi jauh. Banyak tugas menanti. Jadi tukang giling bumbu, cuci piring seabreg. Hadeh. Duh, melebar lagi kan kemana-mana.

Lanjut!

Saat skripsi hampir selesai aku memberanikan diri melamar ke perusahaan tambang emas di pedalaman Kalimantan Timur. Tepatnya di Kelian. Sekarang masuk Kutai Barat. Sekalian cari jodoh. #Uhuk. Di kota kagak laku soalnya. Hahaha...

Iya, dulu berhasrat banget jadi istri ekspatriat. Pikiranku cuma satu, keren kali tiap 6 minggu bisa ke luar negeri. Terus nyerocos bahasa Inggris setiap waktu. Halah.

Tapi ternyata tak semudah itu ya. Menikah lintas kultur dan religi. Jadi baper nii.

Bekerja di lokasi tambang emas di pedalaman belantara Borneo merupakan anugerah terindah dalam hidupku. Dengan roster kerja 6-2, 6 minggu kerja dan 2 minggu cuti, aku punya banyak waktu untuk travelling. Mulai dari saat meninggalkan base camp di tambang, terbang dengan helikopter, bertemu  dan berinteraksi selama masa perjalanan. Begitu terus berulang selama hampir 2.5 tahun.

Aku banyak belajar di sini. Belajar lebih dekat dengan... diri sendiri. Iya. Jadi ingat best quote dari travelling.

To travel is to take a journey into yourself
~Danny Kaye~

Kog travelling sih?

Iya, setiap selesai cuti 2 minggu, entah mengapa aku sangat bersemangat untuk kembali bekerja. Kadang-kadang aku cuma menghabiskan seminggu saja waktu cuti dan sudah kembali lagi ke site. Atasanku hanya geleng-geleng kepala. Weird... katanya sambil geleng-geleng kepala, masgul. Hahaha... Orang lain malah pengen nambah cuti, aku malah sebaliknya.

Saat kerja di sini juga aku merasakan sensasi bekerja naik helikopter yang biasanya cuma aku lihat gambarnya atau melintas di atas atap rumah. Naik helikopter itu unik. Saat cuaca buruk kita bisa meliuk di antara pepohonan rimba, mencari helipad darurat, sambil menunggu cuaca cerah.

Pernah suatu ketika di pagi hari di tengah perjalanan cuaca buruk menerjang, pilot dengan sigap turun dari ketinggian dan meliuk di antara tajuk pepohonan dan mendarat mulus in the middle of nowhere, di atas hamparan pasir putih halus. 

Saat turun dari heli, aku menyadari sepertinya hutan ini hutan perawan karena disekeliling tajuk pohon  sangat rapat dan aura rimba ala film horor langsung membahana.

Penumpang yang sebagian besar terdiri dari para ekspatriat dan manager malah bermain... tenis lapangan. Iya di atas hamparan pasir itu. Hahaha... Kenangan itu takkan terlupa! See, I even wrote it here.

Tahu nggak sih? Enggaaak...

Dulu, saat SMA aku sebel banget lho sama bahasa Inggris!

Karena tidak mengerti sama sekali apa yang diucapkan guru. Mana tah lagi, begitu masuk kelas si bapak tak pernah berbahasa Indonesia. Tambah tenggelam aku dalam lautan ketidaktahuan. Meski akhirnya nilaiku boljug la. Boleh juga.

Etapi ini kog jadi ngelantur ya. Gak pa-pa laa yaa. Throw back (lagi) to several years ago.

Nah, pas kuliah aku kena batunya. Beberapa dosen mensyaratkan kami membaca text book yang notabene English, bow.

So, mau tak mau, suka tak suka. I have to studyGuess whatSlowly but sure. I am even falling in love with English. 

"Ternyata hal baru bukanlah sesuatu yang perlu ditakutkan namun harus ditaklukkan!"

Saat aku berhasil menterjemahkan kalimat demi kalimat, it feels heaven, you know.

Puasss banget!

So that quote, do what you love and love what you do. It hits me, man!

Kompetensi itu juga yang meloloskan sesi wawancaraku dengan ekspatriat Australia dan langsung memintaku bekerja di pertambangan nun jauh di tengah belantara Kalimantan Timur.

Bahasa Inggris ini jugalah yang mengantarkan aku mampu berkomunikasi saat pelesir di dunia negeri. Sungguh dengan bahasa kita bisa menakklukan dunia.


Meniti Karir

Bekerja dengan ekspatriat memberiku nilai tambah. Bahwa mereka sangat menghargai karyawannya. Ini murni pengalaman pribadi ya.

Pernah suatu kali atasanku meminta izin untuk menolong dia membuat salinan beberapa dokumen. Saat itu aku sedang melayani atasan lainnya. Melihatku masih sibuk mengetik, dia segera membatalkan dan langsung menuju mesin fotokopi dan mengerjakan sendiri.

Hal itu sungguh berarti. Hingga kinipun aku masih menyimpannya di sini. Di hati.

Dan saat dia kembali dari cuti di Australia, buah tangan pasti tak pernah lupa. Sekotak mungil coklat yang hampir bisa dipastikan belum pernah aku lihat wujudnya, kacamata anti sinar matahari, parfum mini (kayaknya ini sering dibeli di Changi, soalnya ada tulisan Duty Free Shop) dan lain-lain. Aku sudah lupa.


9 Alasan Mulia Menulis Kisah Hidup Pribadi

Dengan rotasi kerja 6-2, 6 minggu di tambang dan 2 minggu cuti, aku sungguh terberkati punya atasan seperti beliau.

Yang paling aku ingat, desain coklat yang unik dan ciamik. Kadang-kadang coklat hanya aku bawa ke kamar dan kupandangi hingga beberapa hari.

Hihihi... katrok, yaaa...

Dua setengah tahun aku bertahan di belantara, akupun pindah kerja karena permintaan my hubby.

It makes sense to me. We are about to build a family.

Kami berdua yakin pasti cepat atau lambat bakal tercipta ketidak seimbangan. Baik inter-personal maupun intra-personal.

Iya, kami sempat LDR. Yang perempuan di rimba yang lakinya eeh malah di kota.

Ruarr biasa!

Begitulah, perusahaan terminal batubara, rekondisi dan penyewaan alat berat melengkapi warna-warni kehidupan karirku. Semua rata-rata dengan atasan ekspatriat.

Eh, btw ini tulisan sudah kepanjangan yak? Hampir 600 kata, ne! Kata mastah SEO sebelah buat artikel gak usah panjang-panjang. Yang penting nendaang. *Bola kalles!

Pan gak semua orang internetnya wuz...wuzz.. Ntar pada ngacir lho, fansnya.

Etapi aku harus konsisten dong ya dengan judul di atas.

Jadi seperti yang aku kutip dari mindbodygreen.com bahwa meluangkan waktu menulis kisah hidup sendiri baik di buku diari atau di blog pribadi itu memiliki manfaat besar secara emosional, spritual and health benefits.

Hell yay!

Yuk kita simak.

Berikut 9 alasan mulia itu:

1. Membagi informasi personal itu menciptakan koneksi
Saat menulis kehidupan pribadi, otomatis kita menciptakan koneksi atau ikatan agar orang lain memiliki kesempatan mengetahui lebih banyak. Membuat ikatan yang lebih kuat.

Masih kuat baca yang 8 alasan mulia lainnya?

Hmmm... kayaknya sudah tiba saat merubah posisi sandaran dan menambah porsi camilan! Hahaha.

Gini aja deh, supaya nggak kepanjangan versi lengkap  ketahui manfaat menulis kisah hidup pribadi, sudah tayang di sini ya.


22 comments:

  1. Sepakat untuk atasan ekspat. Mereka bener2 beda perlakuannya.

    ReplyDelete
  2. Yup.
    Masih terbayang-bayang sampai kini.
    So sweet.

    ReplyDelete
  3. Sepertinya memang butuh ya menulis kisah hidup pribadi,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk dicoba,
      Seru banget lho. Bisa senyam-senyum sendiri, bow.
      Hohoho...
      Lha ini pas baca lagi, aku serasa dibawa terbang ke memori yang tanpa tepi.

      Delete
  4. jaman aku juga namanya PMDK mbak, hehehe sama-sama angkatan jadul ya. Btw nama adeku juga Rosa mbak

    ReplyDelete
  5. Berarti kita masih sempat alami 1 dollar= Rp 2500 ya?
    Atau main Starko.
    Hohoho...
    Kita menjadi banyak saksi dari perjalanan teknologi.
    Seru ya, dear.

    ReplyDelete
  6. baeklaah saya tunggu lasan berikutnya ya maak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baiklah, mak.
      Setia setiap saat ya mak :)

      Delete
  7. Agak ngos ngosan juga nih aku bacanya hahaha kalau divideokan pasti lebih ajiib

    ReplyDelete
  8. Mungkin bro kurang bugar.
    Hahaha...
    Ini baru kelas layang lho

    ReplyDelete
  9. wah asyik nih mantengin update dari mbak rosanna atau rossa atau anna.
    secara, saya suka membaca kisah hidup seseorang sebagai pelajaran untuk di masa depan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga bro. Malah tulisanku seperti di atas itu, sering aku baca berulang-ulang, meski sudah tahu jalan ceritanya. Hahaha...
      Ada sesuatu gitu :)

      Delete
  10. CHEBOOOXXXX Laaahhh....kenal Mba Rosanna itu sebuah keberuntungan. beruntung karena sosok baik tidak mudah tersinggung, kalo aku becandain sampe kena imbas Boom -an aku..maaf kan aku yaa mbaaa...semoga kita bisa trip bareng lagi yaa mba...

    ReplyDelete
  11. Makasih sharingnya mba..sementara ini saya juga masih nulis di blog saja. Itu pun tidak banyak.
    Pengen nulis buku sendiri yang mengisahkan perjalanan hidup sendiri. Tp kok ya..setiap nulis bawaanny nyesak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat, Mbak. Aku yakin buku mbak pasti banyak manfaatnya dan mampu menginspirasi banyak orang.

      Aamiin...

      Delete
  12. Bahasa Inggris juga termasuk yang bikin saya malas hadapi awalnya. Ngerti, sih. Cuma saya gak berani ngomong. Akhirnya begitu-gitu aja :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama atuh Chi. Gak pede awalnya, etapi lama-lama malah kecanduan, hahaha... seru banget apalagi kalau pas travel di luar negeri, kerasa banget faedahnya.

      Delete
  13. kisah pribai yang positif sangat bermanfaat untuk disharing, krna itu termasuk kabar gembira..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena kita tidak pernah tahu, bahwa kisah kita bisa jadi inspirasi bagi orang lain.

      Delete
  14. Saya kerja ama bos lokal udah pernah ngerasain dimaki pake sapaan hewan mbak. Nyesek bener, mending say gutbay dari sana. Kerja full, yang bukan jobdesc juga diminta ngerjain.
    #malahcurhat

    ReplyDelete
  15. menulis kisah hidup pribadi jadi sedikit terlepas beban hidup itu sendiri..hihihi..
    Meski pernah dinyinyirin ..pede amat sih, atau kok buka-buka hal pribadi, dll.
    Biarin saja..toh kita juga tahu batasannya :)

    ReplyDelete