Sangalaki Pulau Tanpa Penghuni


Sangalaki

Sangalaki Pulau Tanpa Penghuni. Beberapa waktu lalu bersama teman kuliah, lengkap dengan keluarga masing-masing, kami touring ke kepulauan Derawan, Berau.

Perjalanan darat dari Samarinda hampir 12 jam. Berkali-kali suami mengepungku dengan curhatnya. Betapa beda kondisi jalanan dulu dan sekarang. Saat itu, Juni 2011 suami mengantarkan unit baru All New Avanza milik adik yang di beli di Balikpapan dan di antar ke Mangkajang, Berau.

Secara umum jalanan sudah mulus, hanya ada di beberapa titik di Sangatta, jalanan sedikit berjerawat namun masih jauhlah dari kategori gawat.

Untuk menghindari kemacetan, jam 7 pagi kami berangkat. Jalanan di jantung kota Samarinda masih lengang. Dua jam berikutnya kami menyelesaikan jarak 128km dan tiba di KM-10 Bontang berbelok ke kiri kami lanjut sejauh 60km ke Sangatta. Tak sampai satu jam kami tiba. Kami mengisi BBM, ke toilet dan membeli berbagai camilan dan minuman.

Ini adalah pengalaman baru bagi aku dan keluarga. Tak sedetikpun aku tertidur. Sayang rasanya melewatkan pemandangan yang jarang kami lihat, mulai dari perkebunan inti rakyat (PIR) pohon karet, nuansa kota tambang, perkebunan kelapa sawit hingga bentuk kanopi dan batang pohon yang unik. Kondisi jalan mulus dan alunan musik fitur entertainment New Avanza membuat perjalanan semakin nyaman.

Jam 7 malam, mobil kami memasuki Tanjung Redeb ibukota kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Langsung check in hotel, istirahat, menyiapkan fisik dan batin  untuk eksplor kepulauan Derawan.

***

Jam 9 kami check out dari hotel, jemput teman di Bandara Kalimaru dan langsung konvoi ke pelabuhan Tanjung Batu. Sayang jalanan kurang mulus, mungkin karena kekurangan fulus. He he he...   Untung pakai All New Avanza, alunan musik dari fitur entertainment membantu menceriakan susanana dalam kabin yang sejuk membahana.

Memang ada beberapa cara untuk sampai di Derawan. Pakai penerbangan dari Jakarta langsung ke Tanjung Redeb atau via Tarakan, dan biasanya kedua rute ini akan transit di Balikpapan. Penerbangan dari Balikpapan ke Berau kurang lebih satu jam begitu juga dari Balikpapan ke Tarakan. Yang membedakan lamanya waktu biasanya jenis maskapai yang digunakan. kalau pakai Garuda bahkan hanya 55 menit saja. Garuda... gitu lho!

Kalau via Tarakan kita akan mengendarai speedboat kurang lebih 3 jam untuk sampai di Derawan. Bagi yang kurang suka perjalanan ini bisa memilih turun di bandara Kalimarau Tanjung Redeb Berau, dan seperti kami menggunakan pelabuhan Tanjung Batu untuk menyeberang ke Derawan.

Kembali ke laptop!

Sesekali kami bernyanyi mengucapkan lirik penuh semangat, dan kadang-kadang larut dalam nada sendu yang mengharu biru. Dan jarak 100km kami tempuh selama 2.5 jam.

Setelah memarkir kendaraan, kami naik speedboat dengan kecepatan 2x75HP berisi penumpang kurang lebih 20 orang dan ditempuh selama setengah jam, munuju Derawan.

Wah,, seru banget. Begitu mesin meraung, seketika adrenalinku mulai mendengung. Terbungkus eforia, senyumkupun berkibar-kibar sembari menatap luas samudera. Tak sabar membayangkan atraksi apakah gerangan yang menanti kami di sana?

Speedboat Interior

Lima menit menjelang merapat, air laut semakin memikat, beranjak dari biru pekat ke warna bening kehijauan. Sinar matahari menambah syahdu pemandangan. Permukaan air berkilat-kilat dan hei... aku bisa melihat ikan dan karang di kedalaman.

Seketika aku menahan nafas, mengatur keharuan agar tak berbuah tetesan kebahagiaan. Ntar orang pada bingung deh, kenapa aku mewek sendirian *hadeh. Pelabuhan sangat sibuk, wisatawan lokal turun naik di dermaga. Derawan memang menyedot wisata, apalagi saat liburan tiba. 

Sampai di dermaga hampir jam tiga, tim kami segera di sambut kru darat agen travel dan membawa kami ke penginapan. Pemandangan dari sini sangat indah meski cuaca kurang cerah, karena penginapan kami dibangun tepat di atas air laut.

Bahkan dari balik daun jendela, aku bisa menikmati kehidupan di bawah permukaan air saking beningnya. Beberapa jenis ikan berenang hilir mudik, bahkan ada yang secara bergerombol bergerak serentak seperti di komando. Ke kanan dan kiri membentuk formasi.

Setelah makan siang kami mendapat beberapa pengarahan untuk pengalaman unik nanti malam, menyaksikan penyu bertelur di sekitar bibir pantai Derawan.

Usai pengarahan, kami berjalan-jalan sekitar dermaga penginapan menikmati panorama menjelang senja meski cuaca tak begitu cerah. Mohon maaf jika beberapa foto agak buram kekurangan gizi, sodara-sodara!

Sangalaki


Derawan Menanti Sunset

Usai makan malam, kami sudah stand by di dermaga sambil menatap air laut yang bening dengan penerangan lampu di sekitarnya.

"Lihat... apa itu?"

Kami serentak berlari-lari menyusuri dermaga, saking tidak mau ketinggalan, aku sampai lupa bawa kamera. Ya Allah, ternyata seekor penyu hijau besar sedang berenang, mencari makanan di sekitar restoran. Mendadak adrenalinku kembali ambil kendali, soalnya belum pernah sedekat ini menyaksikan penyu besar dengan mata kepala sendiri.

Menjelang waktu Isya, kamipun dibawa ke arena penyu bertelur di bibir pantai. Ternyata sudah banyak pengunjung di sana.

Yup, seekor penyu telah selesai bertelur dan siap-siap menutup telurnya dengan pasir. Kami diizinkan mengambil foto, sayang penerangan tidak begitu jelas, inilah hasilnya.

Penyu melindungi telur


Sepertinya penyu tidak terganggu dengan kehadiran kami, dan tetap saja melanjutkan aktivitasnya menutupi telur dengan pasir pantai. Setelah itu dengan perlahan kembali berenang ke pantai.

Hanya setengan jam kami di sini dan harus kembali ke kamar istirahat siap-siap untuk aktivitas memikat besok hari, seharian!


***

Jam 8 pagi, pasca sarapan kami kembali berkumpul di dermaga mendengar pengarahan dari team leader. Tour hari ini sangat padat. Kami akan menyaksikan kejernihan pantai Sangalaki dan melihat pelepasan tukik (anak penyu) ke laut, snorkeling di danau ubur-ubur Kakaban, Maratua dan sesi foto-foto ala seleb (cieee...) di pulau pasir (Gosong) Sanggalau. Asyik!


First Stop - SANGALAKI

Perjalanan dari Derawan ke Sangalaki kami tempuh kurang lebih 1 jam. Seluas mata memandang yang ada hanya biru laut ditingkahi burung yang terbang lalu lalang.

Tiba-tiba sebuah titik muncul di kejauhan, semakin lama semakin jelas, ternyata kapal patroli yang sedng melaksanakan tugas.

Mendekati Sangalaki air laut perlahan berubah warna, semakin kehijauan dan ... bening bagai kristal, kami bahkan bisa melihat dasar pasirnya yang halus dan putih bersih.

Sangalaki

Sangalaki pulau tanpa penghuni adalah tempat habitat terbesar penyu hijau Asia Tenggara dan merupakan kawasan alami konservasi penyu. Setiap malam hampir 50 penyu menuju pantai untuk bertelur.

Untuk menyaksikan pemandangan unik ini kita harus bermalam, karena penyu bertelur hanya di malam hari. Sayang kami tak bisa menyaksikan kesempatan langka ini sehubungan waktu yang terbatas. Namun menyaksikan perjuangan tukik menuju pantai sungguh mengharukan. Tukik yang begitu mungil dan rentan predator ini, secara insting mampu menuju pantai yang terletak jauh.

"May I Mom?" desis buah hatiku Yasmin, halus

Pegawai konservasi tersenyum dan mengangguk ramah.

Tak menunggu komando 2 kali, aku dan Yasmin meraih dan mengelus tukik.

Omaigot! So cute and fragile...!

Sangalaki


Tahukah kamu?

Meski kita memutar tukik, mereka akan selalu bisa menemukan arah menuju air laut. Instingnya menuntunnya kesana. Sempurnanya cipta Tuhan Esa!

Di sini ada cerita lucu. Teman aku pesan teh es dan minuman You C100 dingin. Alamak, harganya selangit. Satu gelas teh es kurang lebih Rp 25.000 dan YouC1000 Rp 30.000 per botol. Ha ha ha ha, untung ane bawa duit cukup, katanya sambil menggaruk dahi yang nggak gatal.

So, lain kali bawa bekal saja ya, nitip di speedboat, gak pa pa kog. Kisah ini terus kami bahas hingga menjelang saat pulang. Tak terlupakan!

Sangalaki

Taman Wisata Laut Sangalaki

Pantai Sangalaki

Pantai Sangalaki

Hampir 45 menit di sini, kami siap-siap menuju Kakaban berenang bareng ubur-ubur tanpa sengat.

Jadi, kapan kamu ke Sangalaki pulau tanpa penghuni?




25 comments:

  1. indah sekali pemandangannya bund ....apalagi perjalanan menyenangkan karena toyota Avanza ya :)

    ReplyDelete
  2. Waah asyik ya jalan-jalan ditemani new all avanza bun...

    ReplyDelete
  3. Avanza.. memang mobil favorit ya bunda..

    ReplyDelete
  4. terima kasih.. bro Cukri.. ayo di tunggu di Kakaban!

    ReplyDelete
  5. Seru bgt bund.. Pemandangannya yg indah , prjalanan yg di tempuh sangat menyenangkan pasti ya bund krna bareng Toyota .. Mantapp

    ReplyDelete
  6. banget bun.. terima kasih.. Toyota memang sahabat keluarga!

    ReplyDelete
  7. asik banget bundaa,.... keren petualangannya ^^

    ReplyDelete
  8. nyook ke Sangalaki, di jamin bikin happy!

    ReplyDelete
  9. Apalagi aslinya,, ya Sis
    Nabuung yuuk.. ^_^
    Aku mau lagi ke sana.
    Hahahaha...

    ReplyDelete
  10. bundaa,, aku belum prnh ngeliat penyu bertelur.
    sensasinya psti menghibur yaa. ih bunda megang penyu bayi, jd pengen melihara deh.
    seru bgt bun perjalanannya :) rame-rame lg tuh, baper ahh :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuuuk, ke Sangalaki.
      Iya itu tukik namanya, bayi penyu

      Delete
  11. Waktu saya ke sini saya gak bisa masuk ke sangalaki, karena air surut. Jadi cuma berenang di sekitar pulau saja. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maksudnya menyelamkah? Berjalan-jalan di pantai juga sangat menyenangkan, dear, apalagi dengan telanjang... kaki.
      Hihihihi...

      Delete
  12. smoga someday bisa melangkah di pula Sangalaki

    ReplyDelete
  13. Seru banget liburannya. pantai memang tujuan yang paling asyik buat wisata sambil santai bareng keluarga. Whoaaa pengelaman yang ga terlupakan, Yasmin kayaknya seneng bisa pegang tukik.

    Semoga nanti aku sama keluarga bisa ke Derawan juga...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekalian ke Kakaban, Maratua dan Labuan Cermin juga ya...
      Lebih ramai lebih hemat biayanya. Subsidi silang, kakaaa...

      Delete
  14. Replies
    1. Ayo ke sana, foto sama sandal ipanema, pasti ada nilai tambahnya :).

      Delete
  15. Mak! Lagi asyik-asyik baca kok habis ceritanya. Ditunggu lanjutannya, Kak. Terhanyut aku, apalagi pas bayangin deretan pohon karet yang berjajar rapi dan dahan plus daunnya bikin kesan seolah kanopi gitu. Jadi teringat masa kecil di Sumatera dulu, pas tinggal di daerah trans yang mata pencaharian penduduknya dari kebun karet.

    Cantik banget pasti, kebayang jelas di kepala. Sayang rata-rata perkebunan karet kita bawahnya semak, jadi nggak instagramable buat foto-foto. Perkebunan sawit juga asyik buat foto-foto. Tapi kurang senang dengan sawit, karena tumbuhan ini membuat tanah susah meresap air dengan baik. Makanya kebanyakan tempat yang banyak perkebunan sawit suka kekeringan.

    Btw, kok malah bahas kebun karet sama sawit. Pas baca ini pas lagi ikut kontes blog berhadiah ke Derawan. Aduh, geer banget gak sih kalo serasa dikasih guide sebelum berangkat. Hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga sudah baca cerita yang buat kontes.
      Semoga menjadi pemenang yaa...

      Ceritanya, masih berlanjut langsung saja klik Kakaban and have fun...

      Delete
  16. Air lautnya bening banget ya kak...
    Enak kali bisa liat alam yang indah...Semoga penyu2nya tetap terjaga kelestariannya ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang Sangalaki dialokasikan untuk tempat konservasi penyu. Ini pulau tanpa penghuni. Iya, semoga penyu tetap lestari.

      Delete