Selasa, 19 Mei 2026

Menghitung Retakan di Hiroshima: Tentang Taifun Osaka, Isak Tangis Hibakusha, dan Alasan Mengapa Kita Tak Perlu Sempurna

Menghitung Retakan di Hiroshima: Tentang Taifun Osaka, Isak Tangis Hibakusha, dan Alasan Mengapa Kita Tak Perlu Sempurna

Sudah tujuh bulan genap. Namun, ada kalanya—di sela kepungan ribuan pasang kaki yang bergegas di Stasiun Hiroshima—langkah saya mendadak terkunci begitu saja. 

Saya mencopot paksa pelantang telinga. Sengaja. 

Saya hanya ingin membiarkan gelombang dialek lokal yang asing itu menghantam gendang telinga, sembari menatap nanar papan petunjuk beraksara kanji. 

Ego saya masih menolak percaya! 

Bagaimana bisa seonggok tubuh mungil (ya, saya memang sependek itu) dari bentangan Kalimantan Timur, kini justru terdampar dan berkeliaran di sudut Jepang Barat?

Setiap kali mata ini tak sengaja menangkap kibaran kain putih dengan bulatan merah pekat di jantungnya, dada saya berdesir ngilu. 

Ada sejenis ruang hampa yang mendadak tercipta! 

Enam belas setengah tahun hidup saya habis untuk memandangi dwiwarna Merah Putih, dan kini, langit di atas kepala saya telah berganti pemilik.

"Sebab bermigrasi bukan sekadar perkara melipat paspor atau menumpuk manifes penerbangan. Ini tentang ketabahan menatap bendera asing, tanpa kehilangan diri yang kautinggalkan di tanah kelahiran."

Sari Pati Ban Karet dan Badai yang Egois

Sore ini, hawa dingin musim gugur mulai mencubit kulit. 

Saya duduk menyendiri di pojok kedai kopi waralaba dekat stasiun, ditemani segelas Iced Americano yang sedari tadi saya maki dalam hati. 

Sumpah, pahitnya keterlaluan!

Mirip sari pati ban karet yang diblender. 

Saya heran setengah mati, bagaimana bisa idola saya di luar sana sanggup memesan ukuran raksasa dengan tambahan ekstra espresso? 

Otak saya macet memikirkannya. Tapi, biarlah. 

Setidaknya barista canggung di balik meja tadi sempat menghadiahi saya sebuah senyuman manis dan tawa tertahan saat memastikan pesanan saya. 

Anggap saja itu kompensasi yang setimpal untuk segelas cairan hitam sialan ini. Lidah tropis saya memang tak pernah didesain untuk kepahitan.

Pergantian musim dari musim panas yang pekat dan lengket menuju keheningan musim gugur ini selalu membuat saya emosional. 

Sebagai satu-satunya perempuan berhijab di tengah lautan manusia di sini, cuaca panas kemarin bukan sekadar urusan peluh yang mengucur, melainkan ada beban psikologis tak kasat mata yang merayap di kepala. 

Namun, justru di puncak musim panas itulah, semesta mengirimkan tamparan pertamanya di Osaka.

Keindahan bangunan arsitektur Istana Osaka Castle Jepang saat destinasi wisata musim panas

Tiga hari acara musim panas bersama para penerima beasiswa memamerkan realitas yang telanjang: kemampuan bahasa Jepang saya tertinggal amat jauh. 

Semua orang tampak begitu fasih, sementara saya sibuk mengeja kecemasan sendiri. Ego saya remuk! 

Belum sempat hati ini pulih, taifun besar menghantam Osaka malam itu. Impian kami untuk menonton konser grup besutan Johnny's hancur lebur. Kami dikurung di hotel! 

Tapi di balik jendela yang digedor angin ribut, di sela permainan gim yang riuh dan kegilaan kami memesan makanan tanpa kontrol, sepotong kehangatan komunal justru mengakar tanpa permisi.

"Terkadang, rencana-rencana yang diporak-porandakan oleh badai adalah satu-satunya cara yang dimiliki semesta untuk memaksa kita berhenti mengejar ambisi, dan mulai menoleh pada manusia di sisi kita."

08.15: Runtuhnya Tembok Kedewasaan

Ada hiburan yang dikirimkan kemudian; mantan host family membawa saya ke Universal Studios Japan. Mengantre satu jam penuh demi keajaiban Harry Potter terasa seperti ritus penebusan dosa yang manis. 

Malamnya, saat berdiri di bawah langit Osaka yang memayungi kastil Hogwarts, saya menarik napas dalam-dalam. Satu mimpi di daftar keinginan masa kecil saya, resmi dicoret dengan jemari yang gemetar.

Namun, romansa kekanak-kanakan itu mendadak menguap saat kamp musim panas di Hiroshima menghadapkan saya pada realitas yang mengerikan. 

Kita semua tahu tanggal 6 Agustus 1945, pukul 08.15 pagi sebagai deretan teks mati di buku pelajaran sekolah.

Namun, duduk langsung di hadapan seorang Hibakusha (penyintas bom atom) dan mendengarkan suaranya yang parau menceritakan bagaimana daging manusia meleleh seperti lilin, bagaimana radiasi merusak sumsum tulang, serta bagaimana horor enggan pergi bahkan setelah asap menjunjung tinggi... pertahanan batin saya runtuh.

"Sangat mudah meneriakkan perdamaian dunia ketika kita masih menjadi anak-anak yang naif, hingga kedewasaan datang dan memperlihatkan bahwa kedamaian adalah barang mewah yang dibangun di atas abu keangkuhan manusia."

Hari itu di Hiroshima, saya mengalami sejenis rendezvous—pertemuan batin yang ganjil dengan diri saya di masa lampau. 

Sosok bocah kecil yang dulu kerap menangis di kamar gelap tiap kali mendengar lagu Heal the World-nya Michael Jackson. 

Hati murni yang sempat tergerus oleh sinisme dunia itu mendadak berdenyut lagi. 

Saya ingin pulang ke pelukan idealisme itu. 

Saya ingin mengambil bagian untuk kedamaian dunia, tak peduli sekecil apa pun selerap peran yang saya miliki!

Monumen Tugu Perdamaian Genbaku Dome Hiroshima Jepang sebagai simbol sejarah bom atom 1945

Kini, liburan musim panas telah usai. Saya merangkak masuk ke fragmen baru bersama host family yang baru. Rumah baru, labirin aturan baru, dan rentetan kesalahan-kesalahan baru yang saya perbuat hingga saya kehilangan hitungan. 

Saya berulang kali mengecewakan ekspektasi diri sendiri. 

Namun, di antara rasa bersalah itu, saya menemukan sebuah kebebasan spiritual yang aneh.

"Kesalahan tidak pernah bertujuan menghentikan langkahmu. Ia hanya sebuah interupsi puitis dari semesta, pengingat bahwa kau hanyalah makhluk fana yang keindahannya justru dirajut dari helai-helai ketidaksempurnaan."

Jemari saya sekarang bergetar hebat—efek buruk dari kafein yang telanjur menjajah darah dari Americano pahit ini. Saya sengaja membiarkan draf tulisan ini menggantung tanpa konklusi yang rapi dan steril. 

Saya menolak merangkum perjalanan hidup yang acak ini menjadi sebuah kesimpulan yang sempit. Perubahan bukan untuk dihitung hari demi hari sejak meninggalkan pelabuhan Indonesia, bukan pula untuk diperbandingkan dengan pencapaian orang lain.

Terkadang, hidup hanya meminta kita untuk berhenti menganalisis dan mulai melangkah. Sama seperti artikel ini yang akhirnya rampung hanya karena kedunguan saya memesan segelas racun pahit pembawa kafein. 

Siapa tahu, cairan pekat yang hari ini kau maki mirip sari pati ban karet, justru menjadi satu-satunya rasa yang paling kautangisi rindu di masa depan nanti. 

Layar laptop saya meredup, malam jatuh di Hiroshima, dan kita... baru saja dimulai!

Guest Post by Nabila Yasmin Pohan 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Holaaa...!
Terimakasih ya sudah berkunjung ke sini.
Mohon maaf komentar kudu dimoderasi sebelum dipublikasi.