Rokok Bukan Kebutuhan Pokok, Mindset Keluarga Indonesia!

Rokok Bukan Kebutuhan Pokok, Mindset Keluarga Indonesia. "Ros, Ros, bangun nak, mamak mau ke rumah sakit bawa Ayah. Jaga adik-adikmu di rumah ya"

Bisikan mamak di tengah malam buta itu takkan pernah aku lupakan!

Aku beringsut perlahan, menggosok mata dan turun ke kasur utama di mana ayah tergolek lunglai.

Aku tak tahu, entah sampai kapan kenangan ini akan menguap dan akhirnya akan lenyap.

Yang pasti, ini seperti suratan, setiap kata rokok selalu dan selalu sukses membawaku ke kenangan.

rokok bukan kebutuhan pokok mindset keluarga indonesia

Begitu jugalah yang terjadi hari ini!

Satu chat WAG masuk, undangan mengikuti acara live talk show Ruang Publik KBR di Youtube Berita KBR, dengan tema "Pandemi: Kebutuhan Pokok vs Kebutuhan Rokok", seketika raut wajah almarhum ayah melintas.

Setiap mudik ke rumah mamak di Sumatera, kejadian demi kejadian masa kecil juga selalu sukses mengambil kendali.

Yang paling bertakhta di hati, seperti yang aku tuliskan di awal postingan ini, kenangan saat tengah malam ayah muntah darah, bercaknya terciprat di kelambu dan lantai rumah. Kami empat saudara langsung dibangunkan mamak.

Sebagai anak tertua aku diminta menjaga adik-adik, sedangkan mamak dan ayah langsung berangkat saat itu juga, tengah malam buta ke rumah sakit. Untung tetangga ada yang punya becak motor jadi langsung bisa berangkat deh.

Saat itu aku tak tahu apa penyakit ayah. Benakku berkata, pasti parah banget karena mamak sampai harus membawa ayah ke rumah sakit seketika. Biasanya paling banter hanya ke Puskesmas saja.

Menurut Pusat Pengawasan dan Pencegahan Penyakit, CDC (Centers for Disease Control and Prevention) Amerika, berikut beberapa penyakit akibat merokok.

Smoking Can Cause Cancer Almost Anywhere in Your Body.

Hampir seminggu ayah di rumah sakit.

Terkadang ada perasaan senang di hatiku kalau pas ayah di rumah sakit, karena rumah jadi bebas asap rokok!

Iya, ayahku perokok berat. Commodore, Kansas, itu rokok beliau, waktu aku kanak-kanak. Entah kenapa, lalu berganti jadi Gudang Garam dan terakhir Djarum Super. Aku lupa tepatnya berapa yang dikonsumsi ayah tiap hari.

Yang pasti lebih dari sebungkus dan hampir mengalahkan belanja kebutuhan pokok. Saat di rumah, Ayah puasa merokok hanya saat makan dan tidur saja.

Awalnya, aku sering mendengar, mamak sering banget memohon ayah mengubah kebiasaan ini namun karena tidak dihiraukan, mamak pun akhirnya menyerah.

Aku juga ingat beberapa gigi ayah juga sudah berwarna hitam dan kalau pas batuk, sering melihat beliau mengusap dada, seperti menahan sakit.

Lalu, apakah setelah kejadian dibawa ke rumah sakit ayah jera?

Sayangnya tidak, pemirsah!

... dan kejadian itu sering terjadi, bahkan hingga aku merantau ke bumi Borneo setamat SMA, ayah masih tetap dengan kebiasaannya.

Sampai akhirnya suatu hari, aku diminta pulang ke Sumatera karena ayah telah berpulang, setelah di rawat beberapa hari di rumah sakit, di usia 54 tahun.

Dari adik aku dapat informasi bahwa tubuh ayah sudah menolak transfusi darah.

Sejak saat itu  aku bertekad, rumah masa depanku kelak harus bebas rokok! Pelan tapi pasti aku juga jadi anti rokok. Hidungku pun jadi sangat sensitif dengan bau asap rokok.

Alhamdullillah, mungkin karena sudah mengalami sendiri kejadian demi kejadian akibat merokok di depan mata sendiri, ke empat anak ayah tak satupun yang merokok, sehingga kini.

Tidak Merokok Dianggap Aneh dan Minoritas


"7 dari 10 laki-laki di Indonesia merokok, dan jika seorang lelaki tidak merokok dianggap outlier, orang aneh, minoritas!"


Itulah fakta yang dibuka mba Nurul Nadia Luntungan, peneliti CISDI, pemateri di sesi live talk show Ruang Publik KBR di Youtube Berita KBR, "Pandemi, Kebutuhan Pokok vs Kebutuhan Rokok"

Ya ampun, sampai dianggap orang aneh, batinku.

Ini artinya apa?

Masih menurut mba Nurul, artinya, fungsi dari pengendalian, peraturan atau kebijakan itu belum berjalan optimal, sehingga masyarakat masih menganggap rokok itu perilaku yang normal dan bagian dari kebutuhan hidup sehari-hari, seperti halnya kebutuhan untuk makan, kesehatan dan pendidikan.

Mindset seperti ini terbentuk karena lingkungan!

Di Indonesia menemukan rokok itu sangat mudah dan harganya pun murah, plus iklan-iklan rokok yang masif juga dikemas sangat keren, bahkan tayang saat menjelang buka puasa meski hanya logo perusahaan rokok saja.

Fakta lainnya yang dibeberkan mba Nurul, bahwa 80% perokok di dunia terdapat di negara low middle income countries.

Sementara menurut Badan Pusat Statistik (BPS) mayoritas perokok Indonesia adalah kelompok ekonomi menengah.



Catatan:
Kuintil merupakan pengelompokan pengeluaran perkapita rumah tangga yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), dalam lima kelompok sama besar. Kuintil 1 merupakan kelompok rumah tangga dengan pengeluaran terendah dan terus meningkat hingga kuintil 5.

Bahkan mba Nurul menambahkan, ada istilah, "Mending tidak makan daripada tidak merokok!"

Klop bangetlah dengan infografis di bawah ini ya, rokok menempati posisi kedua di bawah padi-padian. Huuaaaa!



Bah, gawat kali negara ini ya!

Otakku berpikir keras, selain iklan yang masif, mudah ditemukan dan murah, "Apakah yang jadi penyebab lainnya?"

Ternyata ini ada kaitan dengan hormon, pemirsah!

Namanya keren lho, dopamin!

Seperti dilansir dari alodokter.com, hormon dopamin adalah senyawa kimia di otak yang berperan untuk menyampaikan rangsangan ke seluruh tubuh. Hormon ini mempengaruhi berbagai aktivitas manusia, mulai dari kemampuan mengingat hingga menggerakkan anggota tubuh.

Hormon ini juga disebut hormon pengendali emosi, saat dilepaskan dalam jumlah yang tepat, hormon ini akan meningkatkan suasana hati, sehingga orang akan merasa lebih senang dan bahagia.

Sebaliknya, kekurangan hormon dopamin akan membuat suasana hati menjadi buruk bahkan bisa berakibat depresi.

Bagaimana Kerja Nikotin dan Dopamin?

Seperti dilansir dari hellosehat.com, ketika seseorang menghirup asap rokok, nikotin yang disuling dari tembakau, dibawa oleh partikel asap ke dalam paru-paru yang kemudian akan diserap dengan cepat kedalam vena pulmonaris paru.

Selanjutnya partikel nikotin memasuki sirkulasi arteri dan bergerak menuju otak. Nikotin akan dengan mudah mengalir ke jaringan otak dimana reseptor sudah menanti. Lalu reseptor ini terbuka untuk memungkinkan kation melewati membran lebih banyak dalam menanggapi lebih banyak utusan kimia seperti neotransmitter.

Nah, salah satu neotransmitter adalah dopamin.

Jadi, kira-kira sudah dapat gambaran dong ya kira-kira gimana cara kerja nikotin.

Sssst, sama dong aku juga baru tahu kog. Dulu, tahunya, rokok mengandung nikotin dan zat racun lainnya, gitu aja! Tidak tahu gimana mekanismenya kog bisa memicu kecanduan.

Anganku langsung kembali ke almarhum ayah, mengenang aura beliau kalau sedang menikmati segelas teh manis, camilan dan rokok. Pantas beliau terlihat sumringah! Dopamin, biang keroknya!

Peran LSM Menciptakan Kampung Bebas Rokok

Pemateri selanjutnya, Bapak M. Nur Kasim, Ketua RT 1/RW 3 dari Kampung Bebas Asap Rokok dan Covid-19 Cililitan Jakarta, berbagi bagaimana peran LSM mampu merubah wajah kampungnya yang sebelumnya kumuh, kusam dan tidak terawat perlahan berubah menjadi kampung warna warni dan akhirnya bebas rokok.

Beliau yang tidak perokok menambahkan bahwa gaya pengasuhan di keluarganya memang berperan untuk menghasilkan generasi anti rokok. Terbukti 3 anak lelaki beliau mengikuti jejaknya.

Selain itu, beliau juga mengirimkan kadernya mengikuti pelatihan kampung bebas rokok, diikuti melakukan survei respon terhadap warga, tentang konsep kampung bebas rokok.

... and guest what!

Mayoritas ibu-ibu setuju. Hidup, ibu-ibu!

Selanjutnya diadakanlah pertemuan dengan tokoh masyarakat, remaja dan pengurus RT dan program Kampung Bebas Rokok pun diluncurkan beberapa waktu lalu.

Jelas sekali terlihat di sini, bahwa untuk berperang melawan rokok memang dibutuhkan sinergi!

Rokok Bukan Kebutuhan Pokok Mindset Keluarga Indonesia!

Jika kamu menonton sesi talkshow di atas, berkali-kali mba Nurul menyampaikan bahwa mindset masyarakat Indonesia yang menganggap rokok kebutuhan pokok, memang pegang peranan!

Aku percaya, mindset Rokok Bukan Kebutuhan Pokok juga lah yang harus mengalahkannya!

Y-E-S Rokok Bukan Kebutuhan Pokok, sebaiknya menjadi mindset keluarga Indonesia!

Ini memang bukan pekerjaan gampang dan membutuhkan sinergi berbagai stokholder dan harus berlangsung masif dan terus menerus.

Mari mulai dari lingkungan terkecil dahulu, keluarga!

Seperti dilansir dari halodoc.com, ada 4 trik jitu untuk mencegah agar anak tidak tumbuh sebagai perokok.

1. Orang tua tidak boleh merokok

Sungguh tidak masuk akal ya meminta anak tidak merokok namun orang tuanya merokok. Bagaimanapun juga orang tua adalah teladan.

2. Menjaga hubungan baik dengan anak

Kebanyakan anak yang merokok adalah yang tidak dekat dengan orang tuanya, entah karena sibuk bekerja atau alasan lain sehingga pergaulan anak susah dikontrol.

3. Akrab dengan teman main anak

Biasanya teman main anak akan respek dengan orang tua yang dekat dengan mereka, walhasil mereka akan menjaga kepercayaan orang tua teman mereka karena masih ingin bermain dengan anaknya.

4. Ingatkan bahwa merokok tidak baik dan ajari gaya hidup sehat

Inilah yang aku alami sendiri, karena sudah tahu betapa bahayanya merokok, aku akan menghindarinya bahkan mengharamkannya. Jadi penting mengedukasi anak sejak dini, betapa bahayanya menjadi seorang perokok.

Yuk mulai dari keluarga sendiri jadikan mindset Rokok Bukan Kebutuhan Pokok!


***
Saya sudah berbagi pengalaman pribadi untuk #putusinaja hubungan dengan rokok atau dorongan ke pemerintah untuk #putusinaja kebijakan pengendalian tembakau yang ketat.

Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog serial #putusinaja yang diselenggarakan oleh KBR (Kantor Berita Radio) dan Indonesian Social Blogpreneur ISB. Syaratnya bisa anda lihat di sini.

***

Referensi:

https://www.cdc.gov/tobacco/infographics/health-effects/index.htm#annual-deaths

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2018/07/08/mayoritas-perokok-indonesia-adalah-kelompok-ekonomi-mengengah

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2016/08/30/hasil-susenas-2015-belanja-rokok-kalahkan-belanja-beras

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/07/04/96-juta-orang-indonesia-jadi-perokok-pasif

https://www.alodokter.com/10-fakta-tentang-hormon-dopamin

https://hellosehat.com/hidup-sehat/psikologi/kecanduan-nikotin-kenapa-bisa-terjadi-dan-bagaimana-mengatasinya/

https://www.halodoc.com/artikel/4-trik-jitu-agar-anak-tidak-tumbuh-sebagai-perokok