Tampilkan postingan dengan label Jepang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jepang. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 November 2025

Gak Mau Kantong Bolong? Begini Cara Pertama Kali ke Jepang Hemat dan Seru!

Gak Mau Kantong Bolong? Begini Cara Pertama Kali ke Jepang Hemat dan Seru!

“Negeri sakura bukan cuma untuk orang kaya — ini cerita aku, yang merogoh kocek seminim mungkin tapi tetap dapet pengalaman tak terlupakan!”

1. Tentukan Waktu & Budget Sebelum Terbang

Kalau kamu ingin ke Jepang dengan budget terbatas, hindari musim puncak seperti sakura (Maret–April) dan musim gugur (Oktober). Pilih musim panas atau awal tahun — harga tiket bisa lebih murah hingga 40%!.

trik perjalanan hemat seru pertama ke Jepang

Lha, kamu sendiri berangkat bulan Oktober, Ann?

Jadi gini,

Sehubungan putri kami Yasmin diminta mulai bekerja secepatnya setelah ada kepastian CoE (Certificate of Eligibility) dari perusahaan sponsornya di minggu pertama September, aku memutuskan langsung secepatnya mulai berburu tiket promo dan mendapatkan harga terbaik di minggu terakhir September untuk berangkat minggu terakhir Oktober 2025.  Jadi, kurang lebih sebulan ya, "ngintip"nya via browser incognito. Hihihi.

Btw, CoE bukan visa ya guys, tetapi merupakan syarat penting untuk mengajukan visa jangka panjang (lebih dari 90 hari) karena berfungsi sebagai "lampu hijau" dari pihak imigrasi Jepang.

Jadi proses pengajuan CoE dilakukan oleh sponsor, bisa perusahaan, sekolah atau anggota keluarga di Jepang. CoE akan dikirimkan kepada kamu untuk digunakan saat mengajukan visa di Kedutaan Besar Jepang/Konsulat Jenderal sesuai dengan wilayah yurisdiksi KTP.

Berhubung Yasmin pemegang KTP, Kalimantan Timur maka pengajuan dilakukan di Japan Visa Application Centre (JVAC), Graha Bukopin Lantai 12, Surabaya. 

Balik lagi ke soal tiket promo, menurut aku, sering-sering aja berselancar ke situs airline atau OTA favoritmu ya.

Tips mencari tiket murah ke Jepang
Tiket ke Tokyo bisa jauh lebih murah jika kamu fleksibel soal tanggal.

2. Itinerary “Smart & Ringkas” Supaya Nggak Lelah di Jalan

Kesalahan klasik traveler pertama? Terlalu ambisius. Aku dulu pengen banget ke Tokyo, Kyoto, Osaka, dan Nara — dalam satu minggu! Hasilnya? Waktu habis di kereta, tenaga habis di jalan.

Pelajaran penting: lebih sedikit kota, lebih dalam pengalaman! 

Kalau kamu cuma punya waktu seminggu, fokus aja ke satu area — misalnya Tokyo dan sekitarnya (Yokohama, Hakone, Kamakura) atau Kyoto–Osaka.

Selain lebih hemat transportasi, kamu juga bisa menikmati suasana lokal tanpa terburu-buru.

Pemandangan malam Tokyo
Nikmati satu kota seutuhnya daripada berpindah-pindah tanpa sempat menikmati.

3. Transportasi: JR Pass vs Kartu IC

Begitu sampai Jepang, kamu akan langsung disambut dengan peta transportasi yang rumit — tapi jangan panik. Ada dua pilihan utama: JR Pass dan Kartu IC (Suica/Pasmo).

Kalau kamu hanya berkeliling di satu kota seperti Tokyo, JR Pass nggak wajib. Cukup pakai Suica atau Pasmo yang bisa di-top up di mesin otomatis. Tapi kalau kamu ingin keliling antar kota (Tokyo–Kyoto–Osaka), JR Pass bisa jadi pilihan hemat.

Gunakan aplikasi seperti Google Maps Offline untuk menghitung rute termurah.

Kartu JR Pass dan Suica
Kartu IC Jepang, seperti Suica, praktis untuk transportasi dalam kota.

4. Pilih Penginapan Strategis: Dekat Stasiun, Dekat Hati

Kebetulan tempat tinggal Yasmin dekat stasiun, jadi tips ke 4 ini memang fix terbukti. Apalagi saat berjalan kaki di seputaran perumahan di Seya-ku, Yokohama, rasanya sangat menyenangkan. 

Untuk pemula, pilihlah area yang terkoneksi langsung ke JR Line atau subway utama. Hindari lokasi terpencil meski terlihat murah, karena ongkos transportasi harian bisa malah lebih mahal.

Baca review penginapan di OTA favoritmu dan lihat foto nyata dari tamu sebelumnya. Kadang foto promo bisa menipu!

Guesthouse dekat stasiun Shinjuku
Penginapan kecil di dekat stasiun bisa jadi penyelamat waktu dan tenaga.

5. Kuliner Hemat Tapi Tetap Nikmat

Jujur aja, aku dulu berpikir makan di Jepang pasti mahal. Tapi ternyata, banyak makanan lezat dengan harga bersahabat. Konbini (minimarket seperti 7-Eleven, FamilyMart, Lawson) adalah surga bagi traveler hemat.

Kamu bisa dapat onigiri (nasi isi) mulai dari 120 yen, ramen instan fresh seharga 400 yen, bahkan bento lengkap di bawah 500 yen!

Tentu saja, sesekali boleh dong makan di restoran lokal untuk pengalaman kuliner khas. Tapi sisanya? Hemat nggak harus lapar!

Makanan hemat di minimarket Jepang
Makanan di konbini Jepang enak, terjangkau, dan praktis buat traveler.

6. Aktivitas Gratis yang Tetap Bikin Kagum

Jepang punya banyak kegiatan menarik tanpa harus keluar biaya besar. Beberapa favorit aku:

Kuncinya: nikmati suasana lokal. Duduk di taman sambil minum kopi kaleng dari vending machine pun bisa jadi momen damai yang kamu ingat selamanya.

Taman Ueno Tokyo di musim sakura
Menikmati sakura di taman umum—gratis tapi berkesan!

7. Persiapan Sebelum Berangkat: Fisik, Bahasa, dan Etika

Kalau ini perjalanan pertamamu ke Jepang, ada tiga hal penting yang perlu disiapkan: fisik, bahasa, dan etika.

Siapkan Fisik

Jalan kaki di Jepang bisa mencapai 15.000 langkah per hari! Pastikan kamu latihan ringan beberapa minggu sebelum berangkat.

Pelajari Frasa Dasar Jepang

Kata seperti “sumimasen” (permisi), “arigatou gozaimasu” (terima kasih), dan “ikura desu ka?” (berapa harganya?) bisa membuat interaksi jadi lebih menyenangkan.

Pahami Etika Lokal

Jangan bicara keras di transportasi umum, buang sampah di tempatnya, dan jangan makan sambil berjalan. Hal-hal kecil ini bikin kamu lebih dihargai sebagai wisatawan.

Etika dasar wisatawan di Jepang
Etika sederhana bisa bikin pengalamanmu di Jepang lebih menyenangkan.

8. Checklist & Tips Dompet Aman

  • Paspor & visa (jika diperlukan)
  • Asuransi perjalanan
  • Kartu debit/kredit bebas biaya internasional
  • Adaptor colokan Jepang (tipe A)
  • Uang tunai dalam yen (mesin ATM tidak semua menerima kartu asing)
  • Salinan digital semua dokumen penting

Selalu siapkan budget darurat sekitar 10% dari total perjalanan. Percayalah, ini bisa menyelamatkan kamu kalau ada hal tak terduga seperti kereta berhenti malam hari atau koper rusak.

Checklist lengkap sebelum liburan ke Jepang
Checklist simpel tapi penting sebelum berangkat ke Jepang.

9. Kesimpulan: Jepang Pertama yang Tak Terlupakan

Perjalanan pertama bersama keluargaku ke Jepang ini bukan liburan mewah. Tapi di setiap langkah — dari menikmati jalan pagi di Seya-ku , menyusuri jalan Uehara di Tokyo, sampai menikmati beras organik, telur, susu, keju, roti di dapur rumah  — aku merasa kaya pengalaman.

Dan yang paling aku syukuri? Aku membuktikan bahwa liburan ke Jepang bisa hemat, efektif, dan tetap penuh cerita indah.

Kalau kamu sedang menunda karena takut mahal, percayalah: yang mahal itu bukan tiketnya, tapi rasa penasaran yang tak pernah kamu wujudkan.

Jadi, kapan kamu berangkat?

Baca juga: Pengalaman Ramadan di Negeri Sakura

Baca juga: Osaka Castle Istana di dalam Taman

#TravelStory #JapanBudgetTrip #MimpiKeJepang #Storyof AnnaRosanna

Selasa, 21 Mei 2019

Warna-Warni Pengalaman Ramadan di Negeri Sakura

ramadan di negeri sakura
Sakura pertama Yasmin 
Ini adalah sepenggal kenangan ramadan tahun lalu, saat Yasmin berada di Hiroshima, sebagai perwakilan Indonesia untuk program pertukaran pelajar AFS ke Jepang selama lebih kurang 11 bulan.

****

"Bunda, buruan ke kamar, sudah tersambung nih video callnya"

Suara hubby terdengar lamat-lamat dari balik pintu kamar tidur

Aku langsung membuat mode hibernate di laptop dan bergegas ke kamar tidur.

Di sana, di layar, Yasmin sudah stand by di depan kamera.

Meski sudah seringkali video call, tetap saja keharuan hadir membahana.  Namun cepat-cepat aku menguasai emosi, karena teringat pembekalan dari pengurus AFS, agar menghindari momen emosionil saat berkomunikasi agar tidak mempengaruhi kondisi emosi buah hati.

Saat itu akhir Mei 2018, sudah hampir 2 bulan Yasmin berada di Hiroshima, mewakili Indonesia, setelah lolos seleksi AFS untuk tahun 2018-2019 (Year Program - YP 2018-2019).

Ini adalah pengalaman ramadan di negeri sakura yang pertama bagi doi dan ramadan pertama bagi kami tanpa Yasmin di Indonesia.

Kami, of course, excited banget dong ya, mendengar pengalaman suka duka ramadan di negeri sakura.

Sebelum lanjut, aku mau menambahkan sedikit informasi yang aku kutip dari artikel Mei 2018 di www.tempo.co tentang pemeluk Islam di Jepang ada sekitar 160.000 orang.

Masih kecil memang dan membuat Islam adalah minoritas di negeri sakura.

Namun jika dibanding dengan 50 tahun lalu, terjadi kenaikan hampir 25 kali lipat jumlah masyarakat Jepang yang memeluk agama Islam.

Nyok, lanjut!

Seperti biasa Yasmin mengenakan earphone saat video call demi kenyamanan, karena biasanya waktu sudah menunjukkan di atas jam 10 malam.

Tahu sendiri dong ya, masyarakat Jepang sangat menghargai privasi. Jadi, Yasmin pun rupanya sudah mulai tertular kebiasaan ini. It's a good things, right, isn't it?

Kami memilih waktu ini karena obrolan bisa dilakukan dengan santai dan agak lama durasinya.

Oh iya, tambahan informasi nih...

Waktu Balikpapan dan Hiroshima, beda satu jam, di mana Hiroshima lebih cepat satu jam.

Saat itu, di Hiroshima sedang peralihan musim semi ke musim panas dan suasananya masih 11-12 lah dengan di Balikpapan.

"Assalaamualaikumwarohmatullaahi Wabaraakatuh"

Seperti biasa kami mengawali video call dengan salam

"Waalaikumsalamwarohmatullaahi Wabaraakatuh"

"Apa kabar, Yasmin?"

"Baik, Bun, Dad"

"How is your day?"

Aku langsung kepo dong, hihihi...

"Same, as usual, Bun, home and school,"

"I see, can you share, about your ramadan, my dear?"

Sampai di sini, Yasmin terlihat sumringah.

Jadi gini, Bun...

Malam sebelum sahur pertama, Yasmin cerita dong yang ke host family bahwa Yasmin mau puasa.

... bahwa puasa itu ada sahur

... bahwa puasa itu tidak boleh makan dan minum di waktu yang telah ditentukan

... bahwa waktu buka puasa itu ada ketentuannya

... bahwa di bulan puasa perhitungan amal kebaikan dilipatgandakan

Nah, yang langsung bereaksi adalah Mama host family, Bunda...

Begini kira-kira dialog mereka yang aku tangkap ya. Tentu saja mereka bicara dalam bahasa Jepang.

Tapi aku terjemahkan ya, tsaaah... #kibasponi

Sssst... yang terakhir ini jelas hoax, jangan percaya ya! Bahahaha... (((terjemahkan)))

Lanjut...

"Jadi, jadi... Yasmin harus bangun pagi sekali gitu ya, untuk makan?"

"Iya, Okaa-san"

"Mohon maaf banget ya, sepertinya, Okaa-san tak akan bisa bangun jam segitu untuk menyiapkan sarapan, belum biasa"

"Oh, tidak ada-apa, Yasmin bisa kog bangun sendiri, nanti pakai alarm"

"Oh... syukurlah"

Nah, kalau teman-teman dan guru di sekolah lain lagi nih ekspresinya, Bunda...

Jadi, beberapa hari sebelum ramadan, Yasmin sudah share ke sensei, kalau akan puasa.

(sensei - panggilan di Jepang untuk orang yang dihormati karena posisinya. Biasanya yang mendapatkan gelar ini adalah seorang guru - wikipedia)

Nah, pas sehari sebelum ramadan, sensei mengingatkan kembali di depan kelas, bahwa selama sebulan nanti Yasmin akan puasa dan sarapan di awal hari.

Langsung deh seisi kelas heboh dan gaduh.

"Waduh, jadi harus bangun pagi-pagi sekali ya!"

"Itu beneran ya, tidak makan seharian?"

"Terus, kalau ga makan seharian, ntar kan bisa mati"

Hahaha, tak ayal, kami berdua ngakak mendengar ekspresi teman-teman Yasmin itu.

ramadan di negeri sakura
Yasmin bersama teman putri Setouchi High School Hiroshima
Mendadak aku juga ingat, saat kerja di sebuah perusahaan, pernah juga mengalami hal yang sama, seorang expatriat asal Colombia memberikan reaksi yang sama...

"Are you sure want to do it? 

"Yes, I am"

"You are not gonna hmmm... die, are you?"

Katanya sambil menatap aku lekat-lekat.

"No. I am not.  I have done it for couple years as other moslems as well"

"Well to me it doesn't make any sense" katanya sambil menggeleng-gelengkan kepala

Aku tak menyalahkan juga sih, mungkin wawasannya tentang Islam juga sangat sedikit karena boleh jadi karena jarang berinteraksi dengan lingkungan muslim ya.

Namun banyak juga expatriat lainnya, terutama saat aku bekerja di perusahaan tambang emas di pedalaman hutan Kelian, Kutai Barat, Kalimantan Timur beberapa tahun lalu, seperti yang aku tuliskan di sini kebanyakan mereka sudah akrab dengan keseharian muslim seperti kebiasaan mengucapkan salam, sholat, puasa, zakat, mengenakan hijab, lebaran dan lain-lain.

Kembali ke laptop!

Menurut Yasmin, memang memerlukan pengorbanan berpuasa di negara yang minoritas muslim.
Benar-benar keimanan diuji, karena semua harus dikerjakan sendiri.

... tidak ada yang mengingatkan sholat

... tidak ada yang mengingatkan puasa

... tidak ada yang mengingatkan ngaji

dan lain-lain.

Saat tidak menegakkan sholat tidak ada yang perduli, saat makan di restoran di bulan ramadan tak ada yang nyinyir dan sebagainya.

Jadi benar-benar banget melakukannya semata karena Ilaahi Robbi, Insya Allah, Insya Allah.

Begitulah, selama kurang lebih sebulan Yasmin menjalankan ramadan di negeri sakura, tentu saja dipotong masa menstruasi ya.

Ramadan di Negeri Sakura Banyak Cobaan 

Ramadan di negeri sakura banyak cobaan, iyesss!

Dimulai dengan sahur.

Yup, Yasmin harus bangun sendiri dengan menyetel alarm.

Beda saat dengan di Indonesia, Yasmin tinggal makan, karena aku sudah menyiapkan semuanya, jadi, tinggal sorong deh, bahahaha.

Menurut Yasmin menu sahurnya berganti-ganti antara ramen (mi instant), sup instan, ayam goreng, nasi dan lain-lain. Kadang-kadang jika ada sisa makan malam yang masih layak, dipanaskan lagi.

Masih menurut Yasmin (lagi) nih, nasi di Jepang itu sangat pulen. Jadi makan nasi saja sudah nikmat banget! Apalagi susu Jepang, nikmatnya tiada tara!

Aku bisa membayangkan kelezatan dua makanan ini hanya dengan memandang sorot mata, ekspresi dan aura doi ketiga berbagi cerita. Biasanya doi jarang banget tuh memuji-muji makanan. Berarti da best banget lah!

"Pernah gak sahur?" tanyaku kepo

"Sering, hahaha" jawab Yasmin terkekeh

"Why?"

"Pas alarm bunyi, dimatikan, tunggulah sebentar lagi, eh ternyata, keterusan, Bunda"

Hmmm... aku cuma bisa nyengir, kalau sudah begini.

"Kalau buka, gimana?"

"Biasanya bareng keluarga angkat bunda, menunya seperti makan malam biasa"

"Sebutin dong apa saja!"

"Waduh, banyak bunda, sudah gak ingat lagi, yang pasti yang seperti sahur, ada nasi, daging, ayam, oseng sayuran, buah segar seperti tomat dan timun"

"Pernah makan di restoran?"

"Jarang banget bunda, kayaknya host family Yasmin lebih suka makan di rumah, lagi pula makan di restoran di Jepang itu mahaaaaal banget! Biasanya kalau ada nenek dan kakek datang baru deh kita sesekali makan di restoran, kayak family time, gitu"

"I see"

ramadan di negeri sakura
Yasmin bersama jamuan keluarga besar host family
Melihat foto di atas, pengalaman dan kenangan saat ikut perjalanan Ibu Cerdas Attack Goes to Jepang, menikmati Sensasi Lift dan Eskalator Transparan di Umeda Sky Building dan Osaka Castle Istana di dalam Taman pun langsung berkejaran di ingatan.

Semoga kelak bisa menjejakkan kaki lagi di negeri sakura ini. Aamiin.

Cobaan lainnya, karena memang Islam minoritas di Jepang, adalah sangat sulit menemukan mesjid. Bahkan di distrik Asaminami-ku Hiroshima, tempat tinggal Yasmin belum ada mesjid.

Jadi yang punya kebiasaan tarawih di mesjid tiap hari, bisa dipastikan akan skip ke mesjid nih. Tarawihnya di rumah saja ya.

Pusat komunitas muslim  terdekat ada di distrik Higashi-ku, tepatnya di The Islamic Cultural Center yang berjarak hampir 280 km dari Asaminami-ku, dengan jarak tempuh kurang lebih 3.5 jam.

"Kalau sholatnya, gimana Yasmin?"

"Biasanya, Yasmin sholat di kamar, di rumah, Bun. Sholat Zuhur dan Ashar di qadha di Ashar, Magrib dan Isya di qadha juga, dikerjakan saat Magrib atau juga kadang di Isya"

Meski sebenarnya ukuran apartment keluarga itu kecil, host family Yasmin dengan senang hati mengalokasikan satu kamar untuk Yasmin. Keluarga kecil itu rela berbagi kamar dengan putrinya yang berusia 10 tahun.

"Pernah mengikuti aktivitas ramadan dengan komunitas muslim selama di Hiroshima, Yasmin?"

"Tak pernah, Bunda. Soalnya Yasmin pulang sekolah sudah sore, sudah lelah banget, pengen istirahat saja di rumah. Paling banter taraweh dan membaca Alquran di kamar"

"Terus, reaksi teman-teman Yasmin di sekolah gimana, kalau pas jam makan siang?"

"Biasa saja tuh bunda, mereka tetap saja makan di kelas seperti biasa"

"Tak ada yang bilang seperti ini, maaf ya, kami mau makan dulu"

"Hahaha, gak ada tuh Bunda, mereka biasa saja, yah seperti hari biasa lah"

Waduh, aku bisa membayangkan saat ramadan Yasmin harus mencium-cium aroma kuliner teman-temannya yaa, di jam lapar pula. Sungguh cobaan yang menggoda iman!

Cobaan lain adalah karena ini menjelang musim panas, waktu siangnya lebih panjang, 16 jam, which is berarti harus menahan lapar lebih lama ketimbang di Indonesia yang hanya 13-14 jam.

Tetapi jika dilihat dari sisi berbeda, alhamdullillah kesempatan untuk mendapatkan pahala juga lebih lebar ya. Panjangnya siang otomatis mengakibatkan durasi malam hari lebih singkat. Hal ini tentu juga menjadi tantangan sendiri karena rawan bangun telat.

Cobaan lainnya lagi adalah karena mayoritas non muslim tentu saja banyak orang yang tidak puasa di setiap sudut kota. Restoran dan pusat perbelanjaan pun bebas berjualan kuliner di pelupuk mata.

Tak ada perubahan gaya hidup selama ramadan, restoran, mall dan kantor tetap dengan aktivitas seperti biasa. Tidak ada kebijakan seperti di Indonesia misalnya, masuk kantor bisa agak sedikit siang dan pulang kerja bisa lebih cepat seperti yang pernah aku alami sebelumnya.

Ramadan di Negeri Sakura Itu Sarat Tantangan

Dari semua uraian Yasmin di atas aku membuat kesimpulan bahwa ramadan di negeri sakura itu sarat tantangan!

Dengan semua daftar cobaan, kita ditantang untuk menunaikan ibadah ramadan lebih baik dan lebih kuat di negeri sakura ini karena memiliki nuansa yang sama sekali berbeda dengan negeri kita sendiri.

Terutama Yasmin yang bersekolah di private schooll yang mayoritas siswa-siswinya non muslim yang tidak berpuasa, aku yakin pasti mengalami tentangan tersendiri terutama saat jadwal makan siang dan melakukan aktivitas yang menguras tenaga.

Syukurlah, menurut Yasmin, selama bulan puasa, doi mendapatkan dispensasi dari sekolah, diizinkan tidak mengikuti aktivitas yang menguras tenaga.

Alhamdullillah, karena mungkin sudah terbiasa puasa saat ramadan di Indonesia, dan saat itu, Hiroshima juga sedang peralihan dari musim semi ke musim panas, sehingga suasana iklim dan cuaca tak jauh berbeda dengan di Indonesia, Yasmin bisa melewati ramadan di negeri sakura dengan lancar.

Aku percaya, ramadan di negeri sakura pastilah spesial ya, karena tidak mendengar azan yang saling bersahutan, aneka panggilan sahur, pemberitahuan imsak dan berbuka serta  jarang menemukan mesjid selayaknya di Indonesia.

Bahkan suatu hari, bisa jadi malah merindukan warna-warni pengalaman ramadan di negeri sakura ini saat kembali ke tanah air nanti.

Semoga warna-warni pengalaman ramadan di negeri sakura ini bermanfaat ya.

Ayo, siapa nih yang pernah ramadan di negeri orang atau punya pengalaman unik saat ramadan?

Yuk, cus sharing pengalaman di kolom komentar di bawah ini ya. Ditunggu...


Kamis, 27 September 2018

Momen Ter-WOW di Wakayama Kuroshio Ichiba Tuna Filleting Show

Momen Ter-WOW di Wakayama Kuroshio Ichiba Tuna Filleting Show

Momen Ter-WOW di Wakayama Kuroshio Ichiba Tuna Filleting Show. Saat telah mendapat konfirmasi bakal berangkat ke Jepang, aku jadi sering-sering browsing tentang Jepang. Biar gak kudet gitu, ceritanya.

Tapi aku fokusnya hanya ke tempat-tempat wisata melulu, melahap eksotika view musim dingin, semi, panas dan gugur.

Tak pernah sekalipun aku melirik atau terpikir membaca artikel tentang pasar (ichiba) tradisional di Jepang.

Momen Ter-WOW di Wakayama Kuroshio Ichiba Tuna Filleting Show

Jadi, waktu ikut tur Ibu Cerdas Attack Goes To Jepang dan tiba di Kuroshio Ichiba, Wakayama, aku hampir tak percaya bahwa itu adalah... pasar tradisional.

Jepang terdiri dari 4 pulau utama: Honshu, Hokkaido, Kyushu dan Shikoku dan Wakayama adalah nama salah satu prefecture di pulau Honshu, kalau di Indonesia seperti propinsi.

Apalagi saat tiba di lokasi pasar ikan!

Kesan pertama yang aku tangkap, tak ada bau amis, becek, kumuh, khas pasar, you know laa seperti di negara kita, Indonesia.

Gak percaya?

Ini nih penampakannya, biar gak hoax :D

Momen Ter-WOW di Wakayama Kuroshio Ichiba Tuna Filleting Show


Momen Ter-WOW di Wakayama Kuroshio Ichiba Tuna Filleting Show

Momen Ter-WOW di Wakayama Kuroshio Ichiba Tuna Filleting Show

Kayak di mal aja, ya...

Baidewei, subway, agenda ke Wakayama Kuroshio Ichiba memang termasuk dalam daftar tempat wisata hari kedua setelah mengunjungi pabrik deterjen Attack dan Kao Eco-Lab di Wakayama, yang merupakan bagian agenda perjalanan Ibu Cerdas Attack Goes To Jepang.

Pengalaman tur selengkapnya bisa juga dinikmati di serba-serbi ngebolang ke Jepang termasuk saat alami sensasi lift dan eskalator transparan serta menikmati Osaka Castle istana di dalam taman.

Rombongan tur kali ini berjumlah kurang lebih 12 orang, jadi kemana-mana kami menggunakan moda transport bis.

Sesampainya di Kuroshio Ichiba memang sudah siang. Pasar terlihat sangat lengang.

Begitu ke luar dari bis, aku langsung menyapu pemandangan sekitar.

"Ini mah jauh banget dari view pasar, bisikku dalam hati"

Gimana menurutmu, setuju?

Momen Ter-WOW di Wakayama Kuroshio Ichiba Tuna Filleting Show

Ternyata setelah aku cek di intenet, Kuroshio Ichiba memang satu lokasi dengan Kota Marina Wakayama, sebuah pulau buatan di kota teluk, Wakayama.

Di pulau ini ada juga Porto Europa Theme Park, taman populer di kalangan keluarga dan anak-anak, yang berisi komidi putar (ferris wheel), seluncuran (roller coaster) dan atraksi lainnya, khas sebuah taman.

Jadi sekali lagi, kesan pasar yang becek, bau, pengap, kotor, you name it laaa, semuanya itu, tak ada!

Oh iya, karena memang membawa uang saku terbatas aku tidak punya rencana untuk shopping di Kuroshio Ichiba.

Window shopping aja laaa, HAHAHA, iya, cukup memanjakan mata saja...!

Aku dan beberapa sahabat langsung memuaskan hasrat, dengan klik sana dan sini. Kami diberikan waktu hanya sekitar 1 jam karena masih harus melanjutkan perjalanan, menggenapkan jadwal sebelum bersiap balik ke Jakarta keesokan harinya.

Sama seperti view outdoor di sekitar pasar, suasana indoor pasar tradisional Kuroshio Ichiba juga tidak banyak berubah. Terasa lengang dan tenang.

Mengapa oh mengapa? Pasar kog lengang, something is missing, pikir aku, sok tahu!

Aku lalu mencari Pak Usman, the guide,  dan tak sabar ingin mendapatkan penjelasan.

Aha, itu dia!

"Pak, kog pasarnya, lengang ya? Tanyaku, to the point"

"Iya, sudah tak banyak aktivitas kalau jam begini".

"Umumnya di pasar tradisional Jepang, semua kudu disiplin mengikuti jadwal."

"Misalnya, pagi hari sering dipilih jadi puncak aktivitas transaksi termasuk lelang ikan serta aktivitas penyayatan ikan tuna jumbo (Tuna Filleting Show). Sampai-sampai rutinitas mengangkut sampah dan membersihkan pasar juga ada jadwalnya lho"

"Oh gitu..."

"Coba deh perhatikan di sekeliling, sudah tak tercium bau sama sekali kan, dan tak terlihat sampah sama sekali!"

"Iya, kalau di Indonesia, ini mah seperti view dalam mal ya, pak, Tak tahan aku akhirnya menuntaskan kepo"

 "Tapi, sebentar ya saya tanyakan, siapa tahu masih ada jadwal Tuna Filleting Show lagi"

Usai berkata begitu, Pak Usman bergegas pergi. Tak berapa lama beliau kembali dengan aura wajah berseri.

"Yuk, kita kesana, sebentar lagi ada pertunjukan penyayatan ikan tuna jumbo (Tuna Filleting Show), atau Maguro dalam bahasa Jepang, yang di sini mampu menyedot kunjungan wisatawan"

"Haaa! Serius, Pak?"

"Iya, Tuna Filleting Show merupakan nadi pariwisata di Kuroshio Ichiba. Wisatawan dari segala penjuru biasanya hadir dan takjub dengan kelihaian para nelayan profesional saat menyayat ikan tuna jumbo."

Saat kami tiba, ternyata sudah banyak wisatawan yang berkerumun, and the show it's about to begin...

Dua orang nelayan profesional dengan hiasan kepala, berdiri menghadap meja, salah seorang berhadapan dengan ikan tuna jumbo di atasnya.

Momen Ter-WOW di Wakayama Kuroshio Ichiba Tuna Filleting Show

Momen Ter-WOW di Wakayama Kuroshio Ichiba Tuna Filleting Show

"Ihhh, ukuran tunanya saja sudah mampu mengintimidasi aku!"

Rasanya belum pernah aku sedekat ini dengan ikan sebesar ini, wow!

Bulu romaku langsung merinding, euuiii...

Apalagi saat "algojo" mulai menyayat tuna jumbo. Tepuk tangan riuh membahana berkali-kali setiap algojo sukses menyayat tuna menjadi lebih kecil. Momen ter-wow, indeed!

Sambil menyayat tuna dengan berbagai jenis pisau, bahkan ada yang seperti samurai, sesekali sang algojo juga berbicara (dalam bahasa Jepang tentunya) dan memperlihatkan hasil sayatan tuna jumbo kepada kami, diiringi riuh tepuk tangan tanpa henti.

Beberapa wisatawan juga mengambil foto dan video, termasuk aku dong. Tapi aku cuma mengambil foto, karena memori kamera sudah hampir penuh, bow.

Begitulah segelintir aktivitas harian di Kuroshio Ichiba, Wakayama.

Hari itu aku menjadi saksi bahwa sungguh event Tuna Filleting Show yang termashyur itu memang terbukti merupakan nadi pariwisata Kuroshio Ichiba.

Tak heran mengapa televisi Jepang pun sering meliput aktivitas menakjubkan ini.

Dalam sehari ada 3 kali Tuna Filleting Show, seperti terlihat di gambar atas, jam 11.00, 12.30 dan 15.00. C-A-T-A-T!!! Kudu ingatin ya, next kalau mau ke Kuroshio Ichiba!

"Masya Allah, aku berbisik dalam hati, semoga negaraku, Indonesia, suatu hari bisa kelak seperti ini,  punya aktivitas mirip Tuna Filleting Show, menjadikan aktivitas di pasar menjadi sumber devisa negara!"

Surga Seafood  dan BBQ

Selain itu, ternyata Kuroshio Ichiba adalah famous for eating tours juga!

Buat kamu pencinta wisata kuliner, inilah saatnya, tersedia begitu banyak jenis makanan!

Iya, pasar ini surga untuk penikmat seafood dan BBQ!

Begitu memasuki pasar ikan, aroma khas seafood dan ikan panggang segera menyerbu indera.

Di berbagai lorong aku menyaksikan stand-stand hasil olahan seafood yang dihiasi dengan plang unik yang sangat mengundang.

Ada pula ikan tuna tiruan yang melayang di atap, seperti berenang di udara.

Aku menguatkan mental untuk tidak over budget, harus!

Melihat aku yang hanya berjalan dan belum memegang apa-apa di tangan, Mas tour leader  (maafkan aku Mas, lupa namanya) dari travel agent mungkin iba - nih ibu kere banget yak - HAHAHA... menawarkan sebuah hasil olahan seafood cumi-cumi panggang yang ditusuk menyerupai sate dan sudah berlumur bumbu.

"Terima kasih ya, Mas"

"Hmmm... awalnya agak aneh di lidah, namun perlahan hormon seretonin bekerja, dan satu tusuk sate cumi-cumi pun sudah berpindah ke dalam perut, HAHAHA"

Ternyata, beberapa teman juga memutuskan membeli hasil olahan seafood sate cumi-cumi yang sama.

Sambil memegang tusuk sate cumi-cumi, kami mengitari Kuroshio Ichiba, seperti mengulang keseruan masa kecil dahulu, makan sambil jalan-jalan, namun kali ini di pasar ikan Jepang.

Cuma itu tadi, karena aku bawa uang saku terbatas, aku tak berani belanja apapun di sini, takut syok, hahaha, plus malu juga mau tanya-tanya sama teman, ketahuan ga punya doku! Sudah laa ga punya doku, bawel pulak lagi. Banyak kali nanti awak kenak pasal, iya kan! Dibully lagi, HIHIHI...!

Di Kuroshio Ichiba, kalau mau dine-in juga ada!

Tinggal pilih seafood atau meat favorit dan para chef akan memasak sesuai pesananmu.

Takkan ada penipuan di sini, karena mereka mencantumkan harga dengan tulisan besar-besar!

Untuk menggenapkan sensasi di pasar Kuroshio Ichiba sebaiknya memang menyediakan budget lebih, agar bisa menikmati kuliner khas di sini.

Cuma, di Kurosio Ichiba aku tak melihat  noodles handmate Jepang yang terkenal itu? Udon dan Soba!

Saat membuat tulisan ini aku langsung browsing apa sih perbedaan keduanya- [thick udon (mi tebal), thin udon (mi tipis)] dan  [soba (mi soba)]

Ternyata, kalau udon itu terbuat dari campuran tepung gandum, garam dan air, sedangkan soba adalah campuran tepung soba dan air.

Udon punya tekstur yang lebih mantap saat dikunyah sementara soba punya rasa yang lebih kuat! (sumber: matcha-jp.com)

But, it is fine! Mungkin harus ke Jepang lagi, biar bisa lihat sekaligus makan udon dan soba lagi. Aamiin...

Nah, bagi turis muslim seperti aku, memang tetap harus bertanya ya apakah santapan di sini sudah muslim friendly.

Tapi Sis, aku gak bisa bahasa Jepang?

Gak pa-pa pakai bahasa Inggris patah-patah plus bahasa tarzan eh tubuh juga it works kog!

Masih menurut Pak Usman, kini orang Jepang sudah terbiasa dengan wisata halal, jadi kadang tanpa diminta mereka akan menjelaskan mana hidangan halal dan non halal.

Satu lagi tip dari pak Usman, guide kami, usahakan saat bolang ke pasar tradisional Jepang  harus di hari kerja plus Sabtu karena kebanyakan pasar akan tutup di hari Minggu atau saat hari libur.

Atau jika ingin merasakan sensasi acara pelelangan ikan, datangnya pagi subuh sekalian.

Mau?

Satu yang aku sesalkan adalah aku sama sekali tidak berinteraksi dengan warga lokal di Kuroshio Ichiba. Jadi, tak ada yang bisa aku tuliskan di sini, HIKS.

Semoga kalian tidak mengulangi kesalahanku ini saat bepergian ke luar negeri nanti.

Untung saja aku sempat mengabadikan kenangan sesaat sebelum kembali lagi ke bis bergabung dengan teman-teman.

Momen Ter-WOW di Wakayama Kuroshio Ichiba Tuna Filleting Show

Iseng-iseng aku ketik "Tuna Filleting Show" di google dan menemukan YouTube mba Emily le Hui Lie.


Aku sedikit kaget karena babang yang berdiri di sebelah "algojo" pada gambar di atas, saat perjalananku ke Jepang, kini giliran doi yang jadi "algojo" di video mba Emily.

Coba deh perhatikan!

Anyway, semoga kalian juga bisa menikmati momen ter-wow di Kuroshio Ichiba Tuna Filleting Show ini ya...

Senin, 29 Februari 2016

Osaka Castle Istana di dalam Taman

Osaka Castle Legenda di Pusat Kota

Osaka Castle Istana di dalam Taman. Selamat datang di Osaka Castle, bacanya seperti suara pengumuman di bandara ya. Hahaha...

Biar lebih seru baca kisah sebelumnya di sini, kakaa...

Bangunan ikonik ini terletak di tengah kota di dalam taman Osaka. Didominasi oleh warna hijau, putih dan emas, dan semakin diminati wisatawan lokal maupun internasional.

Begitu memasuki taman, mata sudah dimanjakan dengan pemandangan indah yang membuat rasa lelah menguap ke angkasa. Hijau pepohonan membelah jalan raya bersinergi dengan desain taman. Dan... apa daya, kembali takjub membelit hati, tak mau pergi.



Pada tahun 1496, istana Osaka awalnya berfungsi sebagai kediaman pendeta Budha Rennyo yang memilih lokasi di tanjakan (Osaka) dengan nama Osaka Honganji, dan baru pada tahun 1583 dibangun oleh Oda Nobunaga menyerupai istana, dan juga sekaligus berfungsi sebagai benteng sejak zaman Azuchi Momoyama hingga zaman Edo.

Ada 3 generasi yang telah mendiami istana ini. Bahkan pada perang dunia kedua juga berfungsi sebagai pusat pembuatan dan gudang senjata dengan 60.000 pekerja

Dapat di akses melalui dua pintu, pintu gerbang Otemon dan Sakuramon.

Kami memilih masuk dari Sakuramon.

Pintu gerbang ini menuju bagian selatan benteng utama (Honmaru). Dikelilingi empat sisi tembok bata, ia adalah contoh pintu gerbang Masugata, mirip dengan tempat beras (bahasa Jepang : Masu). Pintu ini juga hasil rekonstruksi, karena bangunan asli habis terbakar saat zaman restorasi Meiji.

Aku langsung berpose di jembatan di atas parit kering (Karahori) yang memisahkan Honmaru dan Ninomaru (bangunan pendukung).

Begitu masuk kami segera disambut batu-batu raksasa berukuran 59.4 meter persegi yang disebut batu gurita (Takoishi) dan merupakan batu terbesar yang pernah digunakan dalam membangun tembok istana di Jepang.

Wah, sudah ada banyak turis di sini. Tua muda semua hanyut dalam suasana kharismatik istana. Saat itu istana didominasi rombongan dari Korea. Mereka memenuhi semua sudut istana. Tua muda berbalut outfit bak fashionista. Seru juga! Serasa menonton pagelaran fashion show.

Nun... jauh di tengah taman seorang bapak tua sedang asyik memberi makan kawanan burung dara yang super jinak. Kemana bapak itu pergi kawanan itu segera mengiringi, bahkan hinggap di tangan sembari mematuk makanan.

Aku dan teman memberanikan membaur dengan burung, mereka tidak merasa terganggu. Acuh, tetap makan. Dalam hati aku masih ragu, takut kalau-kalau burung berubah mood dan menyerangku dan kamera menangkap momen itu. Ha ha ha ha. Bahasa tubuh, gak bisa bohong la...!



Kami segera tenggelam dalam keindahan taman. Rasanya setiap jengkal ingin diabadikan.

Coba deh lihat lewat foto-foto berikut ini.



Berhubung terbatasnya waktu, kami tak bisa menikmati menara utama yang berfungsi sebagai museum yang terdiri dari 8 lantai, di mana di lantai 7 terdapat diorama yang merangkai 19 penggalan cerita kehidupan Toyotomi Hideyoshi, generasi pertama pembangun istana ini yang disajikan dalam bentuk layar televisi yang bersambung seiring berpindahnya pengunjung.

Keunikan lainnya adalah saat naik ke istana kita bisa menggunakan elevator, namun untuk turun kita harus menggunakan tangga, dan itu makan waktu sangat lama.

Sementara agenda lain sudah menunggu selain badan yang sudah gatal tidak karuan karena belum mandi sejak dari Jakarta dan perut yang keroncongan. Jadi ya dengan berat hati kami meninggalkan istana yang masih menyimpan banyak  keindahan seperti taman Nishinomaru, jembatan Gokurabashi, dan sumur Kinmeisui.

All you can eat, tema makan siang kali ini, kecuali minuman beralkohol, ding. Kelompok tur di bagi dua, yang makan pork dan non pork. Menunya yakiniku. Wew, mantap!

Yakiniku itu adalah irisan super tipis daging yang di panggang/di bakar di atas api, yang sebelumnya telah dicelup kedalam saus yang berupa campuran kecap, sake, gula, bawang putih dan wijen. Nikmat sekali. Makanan penutup juga tersedia seperti puding dan aneka es krim. Restoran ini juga menyediakan tempat sholat lho. Keren!

Saking laparnya, sampai lupa foto-foto makanan. Begitu perut kenyang baru deh ingat. Hahaha...


Berikut tips wisata ke Osaka Castle :
  • Sebaiknya datang pada saat bunga Sakura berbunga, dan berbeda untuk setiap kota/tempat di Jepang. Untuk contekan bisa lihat di https://sakura.weathermap.jp/en.php
  • Berkunjunglah pada pagi hari karena perjalanan dari stasiun terdekat sangat jauh dan saat udara masih sejuk
  • Sediakan waktu 3-4 jam agar bisa puas menikmati semua obyek wisata yang ada di dalamnya
  • Rasakan sensasi memakai baju zirah Jepang di photo booth
  • Naik ke dek observasi di lantai tertinggi dan nikmati keindahan taman hijau dan kota Osaka di kejauhan
  • Jam berkunjung 0900-1700 
  • Harga tiket 600 yen untuk dewasa dan gratis untuk anak-anak 
Gimana? Apa kamu juga punya pengalaman ala-ala  Osaka Castle istana di dalam taman?

Oh iya, mau tahu destinasi berikutnya?

Atau mau tahu banget? *tsaaahhh...

Tunggu yaa...



Senin, 22 Februari 2016

Sensasi Lift Dan Eskalator Transparan

Umeda Sky Building Sensasi Lift Dan Eskalator Transparan
Pose ini hasil arahan Pak Usman yang baik hati 

Sensasi Lift dan Eskalator Transparan. Umeda Sky Building adalah lokasi pertama yang kami kunjungi. Terletak di distrik Kita-ku, Osaka. Gedung yang awalnya dikonsep tahun 1988 dengan 4 menara, namun dengan beberapa pertimbangan akhirnya diputuskan hanya menjadi 2 saja, dan selesai tahun 1993, dengan tinggi 173 meter.
Biar tambah seru baca pengalaman pemanasan sebelumnya di sini
Ia adalah gedung yang sangat terkenal dan tertinggi ke-19 di prefektur Osaka, kota nomor 2 terbesar di Jepang. Keunikannya terdapat pada desainnya yang tidak biasa, bak gerbang raksasa dengan bolongan yang menyatukan kedua puncak menara.

Nah, ke puncak di lantai 40, dek observasi itu kita menuju, Floating Garden Observatory.

Akses ke taman gantung ini terpisah dari kompleks perkantoran.

Dengan lift yang transparan, sejak dari lantai dasar kami sudah dimanjakan dengan pemandangan kota Osaka yang mengagumkan. Tak henti-hentinya kami mengagumi hingga tak terasa lift telah berhenti, dan... hanya sampai lantai 35.

Kekaguman kembali menyelimuti sisa perjalanan menuju lantai 39, tempat loket dan pintu masuk dek observasi.

Kali ini bukan lift transparan, namun eskalator yang menukik dan bagai melayang dari gedung pertama menuju gedung kedua dan jelas terlihat tidak ada penopang di bawahnya. Serasa berjalan lepas di udara bebas.

Berbagai ekspressi terekam. Ada yang histeris memekik ngeri, ada yang berpegangan sambil mencengkeram kencang siapa saja yang ada dalam radiusnya. Ada juga yang komat-kamit membaca doa. Sementara aku memilih tenggelam dalam bisu, antara takjub dan takut. Gak jelas. Hahaha...

Adrenalin berpacu dengan waktu, sungguh!

Bagi yang pobia ketinggian, ini sungguh pengalaman yang menegangkan!

So are you dare?

Akhirnya... sampai juga di Floating Garden Observatory lantai 40. Puncak Umeda Sky Building.

Biar lebih afdol nih aku lampirkan big picture ala foto drone. Biar kekinian laaa...

Dan... baca juga pengalaman pertamaku ke luar negeri yang ini ya.


Tampilan Ala Drone Umeda Sky Building
Sumber foto https://www.flickr.com
Dalam bayanganku, kami akan menemukan kebun dalam arti sesungguhnya. 

Ternyata salah, sodara-sodara!

Tempat ini adalah dek observasi, berbentuk lingkaran dengan bolongan di tengah. Cara sempurna menikmati keindahan kota Osaka yang besar, modern dan sibuk dari ketinggian. Beberapa puncak gedung pencakar langit seperti berlomba meraih kaki langit.

Sinergi desain futuristik dengan dinding dan atap gedung yang terbuat dari kaca transparan, membuat adrenalin terpompa dan bergidik saat melempar pandang nun jauh ke lantai dasar di bawah sana. Tak terhalang apapun. Sensasi melayang kembali terasa.

Hiiii... bisa dibayangkan?

Dek Observasi Floating Garden Observatory

Semilir angin lembut menyapa pipi seolah mengucapkan selamat datang di Osaka.  


Dek Observasi Floating Garden Observatory

Sayang, gerimis dan cuaca mendung, dan dengan kamera digital, hasil foto tidak begitu mendukung. Tak berapa lama hujan pun tumpah, belum puas eksis dan narsis kami harus bergegas masuk kedalam gedung, sayang sekali!

Beberapa saat kemudian kamipun turun dan berada di eskalator transparan yang sarat sensasi, lagi. Namun kali ini emosi sudah lumayan terkendali dan punya nyali jepret sana dan sini. 

Hihihi...

Eskalator transparan menuju Floating Garden Observatory

Kembali kami ke lantai 39 dan ada photo booth untuk kenang-kenangan pernah eksis di sini, lengkap dengan tanggal, bulan dan tahun kejadian.

Floating Garden Observatory

Juga ada gerai aneka aksesori khas Jepang, aula dan... restoran. Duh, jadi lapar!

Dan yup bisa di tebak... foto-foto lagi!

Aneka aksesori di lantai 39 Floating Garden Observatory

Aneka Aksesori di Lantai 39 Floating Garden Observatory

Selanjutnya kami turun dengan menggunakan lift transparan kembali menuju lantai dasar. Mengulang sensasi melayang di ketinggian.

Hujan sudah berhenti, cuaca cerah kembali. Sembari duduk aku menyapu pandangan ke segala penjuru. Tak kutemukan sampah, hanya beberapa orang sedang lalu-lalang diiringi gemercik air mancur dari kejauhan. Ketenangan dan kenyamanan jelas terbaca di sini.

Lantai dasar Umeda Sky Building

Iya, tak ada orang yang mondar-mandir seperti tak punya pekerjaan. Sepertinya informasi itu, tentang etos kerja orang Jepang yang disiplin, komitmen tinggi pada pekerjaan, pekerja keras terbukti.

Aku juga menyadari, tadi sepanjang jalan menuju bangunan ini, para manula selalu aku temukan dalam keadaan bekerja. Tak ada yang berleha-leha. Aku harus mengkonfirmasikan hal ini kepada Pak Usman.

Ini ada sedikit tips. Siapa tahu giliran kamu, kamu dan kamu ke sini. Seperti kata master-master traveler di antaranya, penting lho mengetahui apa saja sih aktivitas favorit di tempat wisata yang akan kita tuju.

Tips ke Umeda Sky Building
  • Jika bisa memilih datanglah malam hari, agar bisa optimal menyaksikan efek glowing in the dark lantai Floating Garden Observatory seperti di bawah ini. Keren kan!
Efek glowing dark Floating Garden Observatory
Pinjam foto dari http://thedailyjapan.com
  • Tiket masuk 700 yen
  • Kenakan kostum yang mengandung neon, dijamin makin seru!
  • Siapkan kamera, make sure enough power ya kakaaa...
Semoga terhibur dengan pengalamanku di Umeda Sky Building

Siap- siap, next stop, Osaka Castle


Selasa, 16 Februari 2016

Serba-Serbi Ngebolang ke Jepang


Jepang


Serba-Serbi Ngebolang ke Jepang. Suara kereta dorong membangunkanku, saatnya snack dini hari.
Biar lebih nyambung baca kisah sebelumnya di sini, ya kakaa...
Aku minum jus guava dan segelas air putih. Tak bisa tidur kembali, aku menonton film The Fault In Our Stars yang mengharu biru.

Film belum usai, kantuk menyerang kembali. Aku matikan TV dan kembali aku terlelap, meski sesekali terusik, karena kepalaku terkulai, terbangun, tertidur, terkulai lagi. Begitu seterusnya, hingga jam menunjukkan pukul lima. Segera aku menunaikan kewajiban. Tayammum, tentu saja.

Tak berapa lama sarapan pagi pun tiba. Aku pilih western style menu. Mantap, ada croissant yang tersaji hangat. Duh renyah dan garing, puding dan jus guava (lagi).

Nun, jauh di sana cahaya ufuk merah menggoda mengintip, malu-malu. Indah sekali. Sayang, aku tak bisa mengabadikannya. Selain tak punya kamera canggih, akupun tak yakin apakah diperkenankan.

Osaka, Aku datang!

Jam 8 pagi waktu Osaka, kami mendarat di bandara Kansai International (KIX). Ada 2 jam perbedaan waktu dengan Jakarta (WIB). Osaka lebih cepat 2 jam.

Wow, aroma keteraturan, disiplin segera terasa begitu memasuki terminal kedatangan. Karyawan telah sibuk di posnya masing-masing. Wajah serius ada di mana-mana. He he he... Suasana masih cukup hening dan lengang. Mungkin pesawat kami yang pertama mendarat ya?

Untuk pemula seperti saya, desain terminal ini sangat membantu. karena begitu keluar dari perut pesawat, penumpang telah di arahkan sedemikian agar tidak tersesat. Posisi panah arah tujuan juga strategis. Kemungkinan untuk tersesat sangat tipis.

Melewati berbagai lorong, akhirnya kami tiba di counter imigrasi. Seorang staf mengucapkan salam dan mengarahkan kami kebeberapa counter guna menghindari panjangnya antrian. Sungguh teratur!

Hei... aku temukan pengalaman baru di sini!

Saat kita sampai di depan counter imigrasi, tak bisa serta merta mengantri dekat dengan meja. Ada jarak tertentu kira-kira 1.5 meter dan diberi warna kuning.

Duh,,, tadinya aku mau foto. Namun ada tanda gede banget NO PHOTO!!

Haisss...

Giliranku tiba, kuberi senyum termanis yang tersisa (aku letih banget, mo copot nih badan). Dia membalas, duh,,, senangnya dapat  nippon's smile . Mak nyosss!

Kusodorkan pasport, lembar kuisioner imigrasi, tak lama aku diminta scan kedua jemari, lengkap kanan dan kiri. Done!

Next check, bagasi, man!

Memasuki ruang ambil bagasi yang super luas, wah... suasana jauh berbeda. Riuh karena ada banyak penumpang lalu lalang.

Kami disambut petugas dengan seekor anjing herder super besar dan kekar yang sibuk memburu para penumpang. Tapi tidak semua lho diburu, hanya kandidat pelaku. Hahaha... Buktinya rombongan kami dia lewati begitu saja.

Jangan-jangan karena kami super kecuuut baunya yaa. Hahaha...

Any how, adakalanya herder ngotot mengendus penumpang dengan sangat fokus, sampai-sampai petugas kewalahan menenangkan, apalagi sang penumpang, namun di saat lain, sang herder berjalan kalem dengan mengendus seadanya.

Pokoknya, si herder most popular scene deh, karena hampir tiap penumpang meluangkan waktu memperhatikannya, meski hanya sesaat.

Satu yang pasti, aku tak melihat ada banner iklan apapun di sini. Mulus...lus.

Sembari menunggu bagasi, tak tahan lagi kami bergegas mencari rest room. Gerah banget!

Wow, ramai coii di sini. Kayak pasar gitu. Hihihi...

Usai menunaikan hajat, aku bingung mencari tombol flush, karena semua berhuruf kanji. Ternyata, tak ada tombol untuk cebok/bilas, saudara-saudara. Mau tanya petugas belum ada. Atau aku yang buta? Aku ambil tissu, lap seadanya. Keluar dari WC, aku ambil tissu lagi basahi dan masuk kembali ke WC. Aku lap lagi. Aiiiii,,,, seadanya... Maafkan daku Miss V.

Usai mencuci muka kami kembali ke ruang bagasi, ternyata kami telah di nanti. Ahh, jadi gak enak nih sama rombongan.

Oh iya, ternyata suhu di Osaka tidak jauh beda dengan Jakarta. Jadi tak perlu penyesuaian segala gitu *benerinponi. Malah aku sedikit merasa sumuk. Pengaruh belum mandi kali ya.

Ada sedikit insiden nih. Keluar dari migrasi ternyata rombongan satu demi satu telah beranjak, aku dan teman telat dikit, buntutnya kehilangan jejak , jadilah kami bingung. Kami segera bergegas menuju ruang bertanda EXIT, namun kami tak menemukan siapapun.

Seorang petugas mencoba menolong, dengan Inggris yang terbata-bata kami jelaskan kalau kami terpisah dari rombongan dan menuju pusat kota Osaka. Tak berapa lama akhirnya sang leader menemukan kami. Duh,, malunya. *plak!

Segera kami bergegas menuju bis yang telah siaga dan bertemu dengan Pak Usman, guide lokal. Beliau WNI, namun perawakannya, perpaduan Mandarin, Korea dan Jepang. He he he, Do goda gado.

Kondisi bis lumayan, bersih namun saat supir mengganti perseneling, sesekali aku mendengar mesinnya protes. Mungkin harus tuning kali, yaa. *tssaaahhh *soktahuloeah!

Selama dalam perjalanan menuju Osaka, Pak Usman menjelaskan bahwa Kansai adalah bandara yang dibuat dari pulau buatan di tengah teluk Osaka.

Kansai secara harafiah artinya barat. Terletak di bagian barat pulau Honshu dan merupakan salah satu daerah prefektur, seperti propinsi kalau di negara kita.

Prefektur Kansai meliputi daerah Mie, Shiga, Kyoto, Osaka, Hyogo, Nara dan Wakayama.

Dan kontruksi bandara Kansai telah direkayasa agar tahan gempa dan topan bahkan dengan kecepatan angin hingga 200km/jam. Wow!

Perjalanan menuju Osaka, didominasi pemandangan laut, pabrik dan jalanan yang lengang. Lagi-lagi kutemukan hal yang mengagumkan.

Tak pernah terdengar suara klakson mobil. Atau pengendara yang ugal-ugalan. Atau konvoi sepeda motor.

Kecepatan mobil konstan. Mobil box dan trailer mendominasi. Desain dan konstruksi pagar pengaman di kanan kiri jalan tol tinggi, kokoh dan bebas grafiti.

Melihatnya saja sudah merasa aman tingkat tinggi.

Memasuki kota Osaka, mobil pribadi yang mungil mulai terlihat. Sama seperti tadi, klakson free. Hening, teratur dan bersih.

Rasa penasaran sudah tak tertahankan, lalu...

"Pak Usman, kog jarang terdengar klakson ya?"

"Asyik, dong ya, mbak"

"Iya... culture shock, ne!"

Balasku masih tersepona eh terpesona.

Jadi gini,

Orang Jepang itu punya budaya malu sekaligus memiliki toleransi yang sangat tinggi.

Kita akan jarang mendengar suara atau orang berbicara dengan gadget saat berada di fasilitas publik misalnya kereta api.

Jika hal itu terjadi, semua orang akan merasa terganggu dan serentak melihat ke pelaku dan tersangka bisa dipastikan akan merasa sangat malu dan bersalah.
"Apalagi ditambah tingkat stress di Jepang sudah sangat tinggi dan orang tidak ingin memperparah keadaan dengan hingar bingar termasuk gelegar klakson "
Kecuali dalam keadaan yang amat penting dan genting baru deh klakson berdenting.
"Semua orang menghargai apa yang dilakukan oleh orang lain.
Semoa orang tahu diri dan punya toleransi yang tinggi"
Bahkan saat lampu  hijau dan masih ada pengguna jalan yang menyeberang, mereka, iya para supir itu masih tetap memberi ruang, dan yet still horn free tanpa klakson.

How cool is that!



Semoga suatu saat Indonesiaku bisa begini. Aamiin...

Oh iya... pagi ini acara melalak langsung dimulai. Begitu menurut Pak Usman.

Alamak, dengan kondisi seperti ini, belum mandi. Hihihi. Tapi gak pa-pa, semuanya juga belum mandi. Kecuali Pak Usman, so pasti!

Nah itu sesi pemanasan serba serbi ngebolang ke Jepang dan masih berlanjut... are you ready guys?

Ayo siapkan camilan, yuk kita mampir di lokasi wisata yang pertama.

Tarrraaaa.... ini dia  First stop : Umeda Sky Building