Pages - Menu

Senin, 02 Desember 2019

Ketahui Urgensi Second Opinion dari Dokter Lain

Aku pernah menonton tayangan serial yang diinspirasi oleh kejadian sebenarnya di saluran National Geographic.

Tayangan tentang kesalahan penegakan diagnosis dan perbedaan penatalaksanaan pengobatan dokter yang satu berbeda dengan dokter lainnya.

Inilah kenapa pentingnya second opinion dari dokter lain itu!

urgensi second opinion

Kejadian overdiagnosis, overtreatment serta wrong diagnosis ini, bahkan terjadi di negara yang paling maju dalam dunia kedokteran, Amerika!

Namun, terus terang tidak pernah terbersit sekalipun dalam hatiku bahwa aku akan menjadi bagian dari kisah itu.

Begini ceritanya...

Adrenalinku langsung meningkat, ketika di suatu hari, di bulan Agustus 2019, aku merasa dada sebelah kanan sakit. Kalau sebelah kiri, biasanya jantung kan ya, tapi tetap sih harus diperiksa juga untuk menegakkan diagnosa.

Fine, mungkin aku kecapekan. Di skip dong yak. Tetap lanjut, kerja keras bagai kuda! Bahahaha.

Eh, beberapa hari kemudian, serangan itu datang lagi, kali ini dengan jarak yang agak berdekatan. Kalau sebelumnya seminggu sekali, eh sekarang malah berani dua hari sekali.

Hmmm... something is going wrong, batinku.

Please, jangan lagi harus opname seperti saat alami pengalaman bedah mulut infeksi akut, karena menganggap sepele masalah geraham dan akhirnya harus masuk ruang operasi untuk eksekusi bedah mulut gigi geraham.

Cukup sekalilah kalau mau 'jatuh', yekan, pemirsah. Kalau berkali-kali, namanya mah doyan, bahahaha.

Tapi harapanku tinggal harapan...

Beberapa hari kemudian, kini plus batuk berdahak lagi.

"Bunda, ke dokter saja, biar cepat sembuh. Ntar, bisa serumah lho ketularan"

Cogan di rumah, rupanya mulai khawatir akan kecipratan virus.

Baiqlah! Akhirnya kami ke faskes 1 dong ya. Diagnosa sementara, bisa ditebak lah, flu dan batuk!

Namun, setelah seluruh obat habis, batuk membahana dan sakit di dada masih betah juga, meski saran dokter sudah aku patuhi.

Tahukan ya, sarannya? Iya itu, standard lah bahahaha. Kurangi gorengan, perbanyak buah dan sayur, cukup istirahat, hindari stress, hindari cogan eh endebrai, endebrai.

Kali ini, aku yang geregetan, mengajak cogan ke klinik lagi, karena batuk ini sungguh menyiksaku, apalagi kalau pas ada event, suara batukku, duh, bikin tengsin, if you know what I mean.

Terkadang tubuhku sampai bergetar saat aku melawan keinginan batuk, karena serangannya itu seperti jailangkun* datang tidak djemput, pulang tidak diantar!

Dan, ketika obat sesi 2 habis, batukku juga belum sembuh!

Ini belum pernah terjadi dalam rimba persilatan eh perjalanan hidupku, sebelumnya. Tak pernah aku mengunjungi dokter selama 2 kali dan belum kunjung sembuh-sembuh flu dan batuknya. Never!

Again, I am suspicious dong yak!

Di kunjungan ke 3, rupanya dokter klinik faskes 1 juga sepakat, aku lalu dirujuk ke dokter spesialis paru (Sp.P) di salah satu rumah sakit di Balikpapan.

Ekspektasi versus Realita
Sebelumnya aku sudah pernah berobat ke rumah sakit ini. Jadi, sudah dapat gambaran bagaimana administrasi yang akan dijalani.

Dalam kesempatan pertama ini aku menuruti masukan petugas registrasi, karena saat itu, aku sebut saja Dr. Y Sp.P (Spesialis Paru) yang bisa langsung menangani, sementara Dr X  Sp.P praktek jam 4 sore hari. So, I got no choice but to accept.

Entah kenapa batinku itu condong ke dokter kedua, karena menurut petugas resgistrasi, Dr Y, sudah sepuh banget keadaannya.

Hari itu aku datang cepat, sekitar jam 8 sudah tiba dan langsung lapor di registrasi. Pengen banget langsung ditangani, karena itu tadi, batuk ini menyiksaku!

Pagi itu, ruangan registrasi memang sedang lengang. Atau mungkin karena masih pagi ya, hmmm. Benarlah, aku langsung dilayani dan langsung mendapatkan nomor antri.

Ruangan dokter Y berada di gedung sebelah. Dekat kog, tak sampai 5 menit aku sudah tiba. Ternyata ada banyak ruangan dokter praktek di sini, dan untuk spesialis paru lokasinya paling ujung, dekat jalan ke luar.

Dalam hati aku agak kaget sih, "Kog ruang tunggu dokter Y belum ada pasien ya...?"

Sementara ruangan tunggu dokter di sebelahnya, kebetulan dokter kandungan. Duh, bejibun.

Sesaat aku ingat pengalaman yang sama, saat konsultasi ke dokter kandungan. Antri bahkan sampai tengah malam sudah menjadi bagian dari gaya hidup, bahahaha.

Aku melirik ruangan suster. Tak ada orang di sana. Aku segera beranjak ke ruangan sebelah dan bertanya pada suster.

"Mba, suster spesialis paru di mana ya?

"Oh, mungkin lagi ke ruangan lain, bu. Tunggu saja, sebentar beliau kembali. Soalnya tadi saya lihat sudah hadir"

"Baiklah, mba. Terima kasih ya"

Tak berapa lama seorang lelaki sepuh mengenakan tongkat masuk ke ruangan suster.

Aku langsung mengikutinya.

"Mba mau berobat?" Tanya beliau

"Iya, Pak"

Aku lalu menyodorkan berkas dari bagian registrasi.

"Mba, harus kembali ke bagian registrasi lagi dan melengkapi berkas ya, biar bisa dilayani"

"Haaa, lha saya ini baru dari registrasi Pak dan diarahkan ke sini"

"Oh, tidak bisa mba, nanti saya tidak dibayar BPJS, kalau cuma begini saja"

"Haa, begitu ya, Pak" Ini kog sampai bawa-bawa pembayaran BPJS segala, batinku. Hmmm, totally weird!

"Iya, mba"

Usai berkata begitu bapak sepuh dengan tongkat itu pun masuk ke dalam ruangan dokter meninggalkan aku yang termangu-mangu, takjub, bahahaha.

"Duh, jangan-jangan, itu tadi dokter Y, pikirku"

Untunglah aku tak perlu lama larut dalam kebingungan. Seorang suster senior masuk dan aku langsung menghampiri.

"Mba, saya tidak mengerti nih, kog saya diminta kembali ke registrasi lagi ya"

"Siapa yang bilang bu?

"Tadi ada bapak tua dengan tongkat yang sekarang ada di dalam ruangan sana"

"Oh itu dokter Y!"

Nah, benar kan dugaanku!

"Mohon maaf ya bu, beliau memang belum mengerti dengan administrasi. Coba sini berikan berkas ibu"

Aku lalu menyerahkan berkas. Suster lalu memeriksa sembari membolak-balik dan memberikan catatan.

"Ibu ikut saya ya, kita sama-sama masuk ke dalam"

Suster itu pun berdiri dan aku segera mengikuti.

"Pagi dokter. Ini ada pasien baru, ibu Rosanna Simanjuntak"

Kali ini dokter Y tidak berkata apa-apa lagi. Aku langsung duduk dihadapan beliau dan curhat panjang kali lebar, buahahaha.

Sambil mendengarkan curhatku, dokter Y hanya diam, mendengarkan, lalu menulis di rekam medisku.

Kemudian, aku diminta melakukan rontgen di ruang sebelah.

Di ruang ganti pakaian, aku diwajibkan membuka atasan dan jeroan, meski braku tanpa kawat, bahahaha, menggantinya dengan atasan standard ruangan rontgen

Juga diminta membuka jilbab, karena ada payetnya. Sebagai gantinya aku memakai jilbab standard rontgen yang juga sudah tersedia.

Proses rontgen hanya sebentar, sekitar 5 menit.

Dengan berbekal catatan kecil aku kembali ke ruangan suster.

"Hari ini, ibu bisa pulang karena pembacaan hasil rontgen akan dilakukan besok hari"

"Waduh, jadi saya harus kembali lagi ya?"

"Iya, bu. Untuk peserta BPJS memang kudu harus kembali, karena biasanya hasil rontgen didapatkan sore hari, sementara sore hari dokternya sudah lain lagi, dokter X"

"Tak bisakah aku dapat obat, mba. Batukku ini sungguh sangat mengganggu" Pintaku ke suster.

"Maaf bu, belum bisa, karena pemberian obat biasanya berdasarkan hasil rontgen. Dan kalau bisa besok ibu cepat hadir ya"

Jadilah hari itu aku pulang ke rumah tanpa obat dan dengan batuk yang masih membahana. Padahal aku ingin banget cepat sembuh karena dalam beberapa hari ke depan akan ada perhelatan perdana ASUS Vivobook Ultra A412 di Balikpapan. Sungguh aku ingin sekali menjadi bagian keseruan event hits ini!

Pembacaan Hasil Rontgen oleh Dokter Y Sp.P 
Pagi ini, pas mau berangkat ke dokter, aku intip ember cucian sudah menggunung, dan aku putuskan untuk menghempaskannya, hahaha.

Walhasil aku jadi agak telat ke rumah sakit, tak bisa memenuhi saran ibu suster.

"Pagi, mba. Ini saya yang kemarin, Rosanna Simanjuntak"

"Oh, sayang sekali bu, dokter Y baru saja pergi. Kemarin kan saya ingatkan untuk datang lebih pagi"

Duh, rasanya aku mau menangis bombay, "tiang, mana tiang?" Tapi yang keluar suara batukku yang membahana di ruangan suster itu.

"Jadi, gimana sebaiknya, suster?" Suaraku memelas, menyadari kesalahan sendiri

"Sebentar saya lihat ke dalam ruangan dokter ya, biasanya kalau teh dan kue dokter masih ada, beliau biasanya akan kembali lagi"

Usai berkata, suster langsung beranjak ke ruangan dokter dan kembali dengan binar mata ceria.

"Ibu lagi beruntung nih, dokter sepertinya akan kembali, silahkan ditunggu ya bu"

Benarlah, hampir satu jam setengah aku menunggu, dokter Y pun tiba.

"Ini hasil rontgennya bagus" Kata dokter sambil memperlihatkan foto rontgen.

"Maksud dokter, saya, saya tidak apa-apa?" Tanyaku separuh tidak yakin. Again, another weird!

Beliau hanya diam saja sambil menulis-nulis resep. Aku memutuskan ikut diam juga, meski kepo sudah naik ke ubun-ubun. Ntar dikira pasien bawel lagi.

Padahal menurut artikel yang pernah aku baca, pasien punya hak lho mengetahui penyakit, memahami rencana terapi yang akan diberikan, memilih alternatif terapi yang ada, menanyakan terapi nonfarmakologis (non obat-obatan yang bisa dilakukan sehari-hari) serta memahami peluang kesembuhan.

Kembali ke laptop!

Aku lalu diberikan obat dan alhamdullillah, semua tersedia di rumah sakit.

Selama 3 hari aku meminum obat dari beliau, tidak ada tanda-tanda kesembuhan!

Ada apa ini?

Pentingnya Second Opinion dari Dokter Lain
Seperti biasa kalau aku mengalami keluhan pasti akan mencari sumber literasi di internet. Dan merujuk ke surat hasil pengantar rontgen yang aku baca, diagnosa sementara Bronchopneumonia Dextra. Untung bukan berondong, ya, hihihi.

Dengan berbekal sedikit pencerahan dari internet, jadi, aku ikhtiar lagi, cari second opinion dari dokter lain, pemirsah!

Namun masih ke rumah sakit yang sama, karena memang lokasinya yang strategis di tengah kota, mudah dijangkau alat transportasi publik, jaga-jaga kalau cogan tidak bisa mengantar.

Kali ini mengikuti kata hati, memilih dokter X.

Iya, pemirsah, main hati! Hihihi.

Meski di dalam hati aku masih bingung, kenapa terapi obat dokter Y belum menunjukkan tanda-tanda kesembuhan yaaa... Hmmm.

Apakah dokter juga seperti jodoh? Cocok-cocokkan, giccu?

Aku lalu konsultasi dengan bagian registrasi dan mengutarakan ingin mengganti dokter spesialis paru!

Dari petugas aku mendapat keterangan jika sudah memutuskan untuk mengganti dokter maka untuk kunjungan selanjutnya dengan surat rujukan yang sama, tidak boleh mengganti dokter lagi. Jadi, hanya ada 1 kesempatan. Duh, kayak babak final kuis saja ya.

Kebetulan hari itu giliran dokter Sp.P X yang praktek, jadi klop deh!

Meski sama-sama dokter Sp.P kedua dokter ini memang punya kesan yang berbeda. Dokter X sedikit lebih humanis dan informatif serta ganteng, eh gimana, hihihi.

Usai curhat tentang batuk dan sakit di dada yang tak kunjung sembuh meski sudah hampir satu bulan, dokter X langsung meminta daftar obat yang telah aku konsumsi.

Jadi, kalau mau second opinion ke dokter lain, pastikan bawa daftar obat, hasil lab (jika ada) serta keterangan lain yang bisa membantu.

"Lho, kog ada tetrasiklin, inikan sudah dilarang " Kata beliau agak kencang ketika melihat daftar obat yang aku sodorkan.

Tentu saja aku kaget sekali, karena obat antibiotik tetrasiklin itu sudah aku habiskan semua.

"Waduh, dok, itu obatnya sudah aku habiskan semua" Aku menjawab tak kalah kencang.

"Iya, saya juga heran, tetrasiklin ini antibiotik yang sudah lama dilarang. Ini saya ganti semua ya obatnya. Namun nanti agak lama nunggunya, karena ini harus diracik, terdiri dari berbagai obat"

"Iya dokter, tidak apa-apa. Yang penting saya sembuh dok!"

"Saya jamin minum obat ini sampai selesai, pasti sembuh!"

Suara dokter sangat meyakinkan. Mendengarnya saja aku juga ikut tersedot aura haqqulyaqin yakin beliau. Sungguh!

Alhamdullilah, baru satu hari (dari dosis 5 hari) aku konsumsi obat beliau, kondisi aku berangsur  lebih baik dan akhirnya bisa beraktivitas kembali dengan normal sehingga bisa menghadiri event perdana brand laptop yang dengannya aku bersinergi mengukir prestasi bersama X201e ASUS

Penegakan diagnosis dan penatalaksanaan obat ini mungkin tidak menjadi masalah serius bila tidak menimbulkan konsekuensi yang berbahaya dan merugikan penderita.

Tetapi lain cerita jika menyangkut kerugian biaya yang besar dan ancaman nyawa, maka harus menjadi perhatian!

Itulah kenapa penting banget second opinion dengan dokter lain tentang permasalahan kesehatan tertentu yang belum pernah terselesaikan!

Baidewei, subway, pernahkah kamu mengalami hal serupa?

Share di kolom komentar, skuy!

85 komentar:

  1. pasien punya hak lho mengetahui penyakit, memahami rencana terapi yang akan diberikan, memilih alternatif terapi yang ada, menanyakan terapi nonfarmakologis (non obat-obatan yang bisa dilakukan sehari-hari) serta memahami peluang kesembuhan.

    Betuuulll banget Kak Anna. Karena dokter bukanlah dewa, ye kaann

    BalasHapus
  2. Setuju, Mbak. Kami pun pernah melakukannya saat anak saya sedang sakit. Alhamdulillah lebih lega setelah mencari tau

    BalasHapus
  3. hmm, mama ku pernah hampir salah kena diagnosis dr dokter di medan. dulu mama tuh sering sakit di bagian perutnya mba, dan ada benjolan juga. tiap haid pasti sakit. periksa ke dokter di rumah sakit besar di medan, ga pake tes segala, udh main vonis aja tumor ganas. hrs lgs operasi bla bla... ya shock sih kita semua

    tapi akhirnya papa bawa mama ke penang. eh, setelah cek komplit yaa, ternyata cm miom. ga bahaya, tp memang mengganggu. dan sbnrnya kalo mau tuntas, disarankan utk angkat rahim.

    berhubung mama udh punya anak 4, yo wislah, angkat rahim jg ga masalah biar ga sakit lg tiap haid. selesai deh, dan biayanya jauuuuh mba di bawah tarif si dokter "hebat" di medan itu. sejak itu jujur aja kalo mau cari second opinion, aku mending ke rs tetangga di penang :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Penang, itu sama orang Medan, sudah kayak mau ke Pajak Pringgan aja, buahahaha. Sikit-sikt Penang, sikit-sikit, Penang, yekan, Fan.
      Apalagi ada Airasia, sarapan di Medan, lunch di Penang, dinner ke Singapore, buahaha.

      Aku pun sering dengar cerita sekaligus referensi tentang rumah sakit Penang ini, Fan, kalau pas mudik.




      Hapus
  4. Aku sepakat banget mba kalau harus sertakan second opinion mba kalau periksa kesehatan. Aku pun melakukan itu soalnyaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, BuDir
      Itu hak kita juga, apalagi kalau masih dicover asuransi, alhamdullillah ya

      Hapus
  5. Pernah mbak saat anakku sakit perut, di dokter pertama katanya usus buntu harus operasi. Kami bawa ke dokter lain buat pertimbangan, katanya bukan. Bingung kan. Tapi akhirnya nggak jd operasi sih, dan smoga memang bukan usus buntu. Itu kejadian 4 th lalu. Sampai sekarang syukurlah gpp.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tuh, terbukti lagi.
      Second opinion itu memang penting ya, mba

      Hapus
  6. Aku pun setuju dengan second opinion. Karena pemahaman masing2 dokter kan beda-beda. Daripada was-was dan bikin penasaran, ya mending keluar duit lagi utk periksa ke dokter lain tapi rasa penasaran kita terpuaskan, heheheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, karena dunia medis juga mengakui ada celah untuk perbedaan penegakan diagnosis dan lain-lain.
      Jadi, penting baget, second opinion itu!
      Apalagi kalau masih dicover asuransi, alhamdullillah ya, mba

      Hapus
  7. Ya, aku setuju. Cari second opinion itu penting terutama untuk keputusan yang menyangkut kesehatan organ vital ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apalagi di zaman digital, akses informasi dan teknologi semakin mumpuni.
      Semakin meningkat wawasan dan pengetahuan permasalahan kesehatan, semakin tercerahkan untuk mengambil langkah selanjutnya.

      Hapus
  8. aku aku!
    baru aja minggu ini mau cari second opinion ttg sakit di perut. bulan juli abis opname dibilang ga kenapa2. jadi aku mau ke rumah sakit yg lain saja. doakan akuh yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mba.
      Intip dulu suspect diagnosis-nya, lalu browsing di internet.
      Jadi pas ketemu dokter saat second opinion bisa buat list pertanyaan, bahahaha...

      Hapus
  9. Kalua gak yakin dan butuh refrensi lain pakai second opinion memang cara yang paling bagus ya. Bukannya meremehkan tapi namamya ikhtiar ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tos, mba, ikhtiar!
      Dalam banget kata ikhtiar ini :)

      Hapus
  10. Membantu sekali artikel mba Anna, trims mba

    BalasHapus
  11. Aku juga pernah cari second opinion saat anakku kurus tapi bukan sakit TB. Ternyata dia sakit infeksi kandung kemih yang bikin susah makan dan anak jadi kurus juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk, dishare mba :)
      Biar semakin banyak yang teredukasi

      Hapus
  12. pernah kak ros (eh mana upin ipin ^_^). waktu itu di Medan, anakku didiagnosa hirschprung dan "divonis" kolostomi. aku jelas down banget krn gmn sih bayangin anak yg baru setahun mesti dibikinin lubang sekresi di perut lalu ntar mesti sambung lagi?berhubung aku ga da sanak sodara di medan, jadi aku balik ke kampung and si bocah aku bawa periksa ke jogja. kalopun sampe oprasi (2x), aku ditemani keluarga besar. Puji Tuhan ternyata ga perlu oprasi. beneran berasa mujizat bgt waktu itu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, ternyata memang benar fakta itu ya.
      Second opinion dari dokter lain itu memang penting!
      Apa kabar si kecil sekarang, mba?

      Hapus
  13. Semoga sehat selalu ya Mbak Anna sekarang dan nanti. Syukur langsung ada ide cari second opinion ya..
    Aku pas hamil ketiga, dibilang plasenta previa sama dokter obgynku. Aku memnag beberapa kali flek saat hamil.
    Terus disarankan lahiran sesar aja. Enggak mau langsung terima aku ke 2 dokter obgyn lainnya, dan mereka bilang sama. Sebaiknya sesar saja. Apalgi pertimbangannya, anak pertamaku meninggal saat 13 hari, jadi dokter ga mau ambil resiko jika ada apa-apa saat proses persalinan nanti.
    Jadi aku nurut tapi puas karena sudah cari opini pembanding

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apa kabar si kecil atau mungkin sudah besar sekarang, mba?

      Hapus
  14. Sehat selalu ya mbk..
    Second opinion ini penting banget kalo m8salnya kita sakit, diberi obat tapi tidak kunjung sembuh. Pengalaman anakku dulu mbk, satu bulan bolak balik rumah sakit, nggak ada hasil. Pindah ke dokter ketiga, alhamdulillah tau sakitnya.. Tbc, setelah itu berobat sampai tuntas. Alhamdulillah sekarang sehat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, dari semua yang drop komentar, hampir semua pernah mengalami second opinion ini ya.

      Semoga kita bisa membantu edukasi perlunya second opinion, minimal di lingkungan dekat dulu :)

      Hapus
  15. Jadi menurut dokter Maurits Kak Ana batuk disebabkan oleh apa? Apa karena faktor cuaca atau karena faktor makanan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kata dokter, untuk kasus saya penyebabnya bakteri.

      Namun kasus lain bisa jadi oleh virus atau jamur.

      Juga bisa dipicu oleh beberapa faktor resiko seperti usia, lingkungan, gaya hidup dan kondisi kesehatan tertentu, mba Lina.

      Karena penyebabnya bakteri, makanya aku diberi antibiotik dan terapi obat lainnya.

      Alhamdullillah, sembuh, karena aku barengi dengan banyak minum air putih hangat juga.

      Aku ini, air hangat freaking addict, hihihi.
      Apa-apa pakai air hangat.

      Hapus
  16. Bisa fatal ya kalau sampai salah diagnosis. Jadi ingat budenya temenku yg sudah almarhumah. Beliau dulu terkena kanker serviks, pas di dokter A katanya gpp, gak ganas, terapi dan minum obat aja karena masih gejala. Tapi setelah beberapa kali terapi dan minum obat, bukannya kunjung sembuh malah menjadi, akhirnya ganti dokter B. Nah di situlah ketahuan katanya udah stadium 4. Dan bikin kaget anggota keluarga.

    Kita memang perlu second opinion atau pilihan yg lainnya sebelum menemukan yg terbaik. Apalagi kalau kaitannya ama kesehatan.

    BalasHapus
  17. Saya juga melakukan second opinion kalau dokter pertama gak memberi saya jawaban memuaskan. Btw jelang pancaroba kmnrn saya ya batuk2 mbak, tapi herannya batuknya tiap mlam gtu huhuhu. Sekarang alhamdulillah membaik. Mbak Anna sehat2 yaaa :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdullillah sehat, mba.
      Kerasa banget ya nikmat sehat dikala kita jatuh sakit

      Hapus
  18. Pernah mba, aku ya pernah mengalami ini. Sampai dengan jengkelnya aku ngebatin, apa memang nasib pasien pake BPJS tuh layak diginiin, kayak diagnosanya tuh asal lho. Sedih akutuuuu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Puk-puk, mba
      Semoga ini pengalaman pertama sekaligus yang terakhir ya

      Hapus
    2. Iya mba terima kasih. Semoga saja makin baik ya pelayanan para dokter baik untuk pasien BPJS maupun tidak. Namanya orang sakit kok ya harus tambah sakit lagi dengan diagnosa yang entahlah.

      Hapus
  19. Kadang memang klo k dokter cocok2an ya mba, penting Juga mndengar dari dokter yg satunya lg biar puas istilahnya.. aplg klo dokter nya kurang sreg pelayanan nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju mba.
      Tentu juga dengan berbagai pertimbangan ya seperti penyakit yang mengancam nyawa, biaya, kompetensi dokter dan lain-lain.

      Hapus
  20. Ya Allah Mbak, baca perjalanan berobatnya bikin lelah ya, apalagi yang mengalaminya. Saya juga lebih baik cari dokter lain kalau tidak sembuh-sembuh saja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mba, cobaan.
      Makanya pas mengalami aku sudah bertekad untuk berbagi di sini
      Semoga bermanfaat :)

      Hapus
  21. Iya mba emang kudu gitu, soalnya kadanf takutnya amit2 salah ga jelas diagnosa main pake obat2 dll. Sehar-sehat ya mba

    BalasHapus
  22. Saya kalau ke dokter, agak cerewet. Tanya macem-macem. Pernah cek si bungsu di salah satu klinik yang pasiennya selalu bejibun antrinya, ketika tanya, "Dok, ini obatnya untuk apa aja?"

    Tau bilang dokternya?

    "Ibu mau anaknya sembuh nggak, sih?"

    Seketika kicep. Dalam hati, nggak akan balik ke dokter ini lagi lain kali.

    Alhasil, obat yang harus ditebus itu saya tanya ke apoteker buat nego yang mana aja perlu sama nggak. Soalnya si bocah punya alergi sama zat tertentu dan dokter tadi nggak tanya-tanya.

    BalasHapus
  23. ku setuju 2nd oponion memang penting berdasarkan fakta cerita-cerita pengalaman nyata. Dokter juga manusia, bisa salah. Pengalaman pribadi mirip kek gitu. Dokter pertama bilang tipes, diobati dgn obat tipes ga ada perkembangan malah tambah parah, kembali ke dokter itu ga ada perkembangan, trus sama saudara dibawa ke dokter lain, dokter ke dua bilang sepertinya bukan tipes. Check darah ternyata DBD dan udah parah langsung check in rumah sakit. Alhamdulillah masih diberi umur panjang .....

    Kejadian berikutnya terjadi pada ibu kost ku yang masuk rumah sakit, waktu itu anak dari ibu kost yg dijkt belum ada yg datang, jd kita anak kost yg di Malang yg urus. Mendadak ada info kalau ibu kost hrs segera diberi obat, setelah resepnya dibawa ke apotik ternyata harganya mahal. Seluruh anak kost patungan pun ga cukup (kost nya cuma 4 orang, jadi sudah seperti angggota keluarga) lalu aku ambil inisitif minjam punya teman dgn aku sendiri sebagai jaminan (ku pikir ga mungkin keluarganya ga mau ganti). Tapi pas mau tebus resepnya perasaan ku ga enak. Lalu aku tlp dokternya, dan ternyata dokternya malah kaget dan buru-buku ke rumah sakit. Di diagnosa, dan ternyata obat itu tidak perlu. Lha siapa tadi yg memutuskan pemberian obat tadi? Tidak ada jawaban dari mereka.Mungkin ga berani jawab karena dokter nya marah besar.Dan aku tidak memiliki cukup energi untuk mengurus hal itu, sudah lemas dengarnya, lega dan bersyukur.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masya Allah, sarat drama banget ya Mas
      Terima kasih sudah sharing :)

      Hapus
  24. Kalau urusan kesehatan dan periksa dokter selalu pakai second opinion, third opinion bahkan pernah sampai fifth opinion. Nanti suara mayoritas yang akan saya ikuti hehe. Kalau cari dokter aku juga selalu yang komunikatif. Minimal bisa diajak diskusi dua arah.

    BalasHapus
  25. Astaga drama banget ya mbak. Untung sekarang sudah sembuh. Ibuku juga pernah sih kayak gitu, malah sampai ganti 3 dokter baru dapat penanganan yang memuaskan. Haduuh

    BalasHapus
  26. Saya sungguh baper Mba!
    Ini sama persis dengan profesor DSA anak saya dulu, udah tuwir, overdiagnosis pula!

    Btw itu dikasih tetrasiklin apa karena dianggap pasien BPJS gitu ya Mba? jadi obatnya generik.
    Eh kalau ga salah tetra itu generik, tapi memang udah jarang banget ada. di ganti amoxylin.

    Kalau racikan biasanya bukan obat generik, dosisnya lebih tinggi, jadinya lebih manjur kali Mba :D

    BalasHapus
  27. Waduh obat dilarang masih dipakai, berarti dokternya nggak apdet dengan perkembangan ilmunya sendiri ya, seram juga mbak..

    BalasHapus
  28. Saya sering begitu. Dulu saat USG bs pindah beberapa dokter. Kan ini masalah nyawa, melahirkan itu antara hidup dan mati. Saya tak mau sampai ada yg salah tp dibilang baik2 saja. Alhamdulillah hasil USG 3 dokter normal semua. Iyaa kesannya gak percaya dokter, tapi kan demi diri sendiri

    BalasHapus
  29. Saya bingung mbak, kenapa pasien enggak boleh tahu penyakitnya ya. Udah gitu antibiotiknya dilarang pula yang diberikan. Wah, baca ini saya jadi berhati2 dan mencari opini kedua. Sama saat saya hamil dulu dokter pertama bilang begini dan saya tanya dokter kedua bilang baik2 saja. Semoga kita sehat selalu ya mbak.

    BalasHapus
  30. dokter juga manusia yaa, Mba, jadi diagnosanya juga bisa salah, jadi bila gak puas dengan diagnosa yang diberikan kita bisa cari pendapat dokter lain

    BalasHapus
  31. Bener banget mbak, kita pasien memang berhak mendapatkan informasi lengkap mengenai kondisi kita.
    tapi sering kali kita sebagai pasien yang dalam kondisi sakit dan kelelahan jadi nggak bisa "ngeyel" buat minta penjelasan ke dokter yang "pelit" informasi. hehe

    BalasHapus
  32. Dokter zaman old kadang memang sedikit bicaranya mbak. Ohya, ada baiknya mbak anna ga sebutin nama dokternya. Takutnya bisa pencemaran nama baik:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih masukannya, mba.
      Sudah saya samarkan.
      Tapi tentang dokter sedikit bicara itu aku kurang sreg.
      Meski memang personalitinya tipi yang sedikit bicara, yaa tolonglah tetap memperhatikan hak dasar pasien.

      Hapus
  33. Aku pengalaman juga nih, karena batuk lama, di cek tensi segala, eh divonis kemungkinan asma,aneh aja rasanya.
    Lari deh ke.dokter lain, ternyata kena radang tenggorokan parah,.hehe.
    Jadi sepakat deh kalau second opinion itu diperlukan.

    BalasHapus
  34. Memang sebaiknya juga melakukan secon opinion bila pendapat dokter pertama dirasa kurang memuaskan. Saya juga pernah melakukannya. Biar lebih lega

    BalasHapus
  35. Jadi inget cerita suamiku almarhum ibu mertua jd trauma ke dokter gara2 pernah salah diagnosis..

    BalasHapus
  36. 2nd opinion menjadi perlu yaa..terutama saat diagnosa pertama terasa meragukan atau setelah pengobatan berjalan nggak kunjung sembuh

    BalasHapus
  37. Ya ampun dokter ali bikin kesel aja. Tapi itulah manusia suka lupa sumpah kedokteran yang ia ucapkan.

    Cari second opini itu perlu, tidak peduli bayar pakai uang pribadi tidak jadi masalah

    BalasHapus
  38. Semoga selalu sehat ya mbaa..

    Pengalaman cari second opinion ini terjadi di keluarga saya, dulu nenek yang sakit. Jadi kata dr A harusnya dikasih obat A, nah kata dr B rupanya nih harusnya ga boleh dikasih obat A karena ada masalah lain dalam tubuh.

    Jadi sejak saat itu kamu selalu double crosscheck tiap kali berurusan sama sakit.

    BalasHapus
  39. Aku juga pernah mencari 2nd opinion beberapa kali mbak, terutama untuk sakit yg gak sembuh2 dan kurang paham apa penyebabnya. Memang itu hak kita sbg pasien :)

    BalasHapus
  40. Terima kasih Mbak sudah berbagi informasi yang bermanfaat seperti ini. Kalau untuk dokter specialis penyakit saya memang belum ada pengalaman tapi untuk dokter kandungan sih. Jadi memang penting ya cari second opinion apalagi kalau kita merasa tidak cocok dengan dokter yang pertama.

    BalasHapus
  41. Yap mba dan aku pun merasa dengan adanya second opinion kayak gini jadi malah makin tenang deh mba. Informasi lebih akurat dan dipercaya

    BalasHapus
  42. setuu sih untuk masalah kesehatan ini harus ada second bahkan third opinion, dlu pas bapak saya kena stroke saya juga nggk mau denger dari kata 1 dokter aja,, ya biar yakin aja gtu,,,

    thx mbak sharingnya

    BalasHapus
  43. Aku tuh pernah sebel saat anak sakit, trus tak bawa ke dokter. Nah si dokter ini nanya sakit apa anaknya?coba apa gak sebel mbak. Harusnya si dokter ini tahu dong sakit yg diderita anakku. Takutnya berimbas pada pengobatan. Nah second opinion ini penting banget karena pasien berhak memilih, berhak tahu apa penyakit sebenarnya.

    BalasHapus
  44. Second opinion ini penting banget kak , jadi inget waktu nganter papa berobat dan dokter satu di bilang ini tapi ya kita ga percaya gt aja terus cari dokter lainnya dan alhamdulillah setelah periksa lebih lanjut baru deh penyakit sebenarnya dari dokter yang kedua.

    BalasHapus
  45. Setuju banget. Dokter juga manusia ya mbk second opinion perlu dilakukan

    BalasHapus
  46. Sepertinya dokter pertama harus pensiun, ya, soalnya tidak cocok lagoi dan berkesan birokratis. Juga pemberian obatnya berbahaya. Masa salah ngasih obat ke pasien. Merepotkan saja. Juga pelayanannya kaku gitu tidak baik bagi pasien zaman sekaranfg. Duh. yang penting Mbak anna sembuh ditangani dokter yang tepat.

    BalasHapus
  47. Kalau soal kesehatan kita memang harus perhatian ya, Mbak. Kalau ragu dengan pendapat dokter yang satu, memang lebih baik cari second opinion

    BalasHapus
  48. Sepakat. Hak pasien koq nanya sampe detil krn masalahnya malpraktek juga marak terjadi krn berbagai faktor penyebab.

    BalasHapus
  49. Wah...untung segera ganti dokter ya.. Dan untung juga tidak kenapa-napa. Memang ada baiknya kita menuruti kata hati,karena dokter memang cocok2an..

    BalasHapus
  50. Second opinion itu emang penting kak, supaya lebih yakin buat pilih perawatan apa yang cocok untuk kita. Kalau untuk urusan kesehatan emang ga boleh main main.. .

    BalasHapus
  51. Aku setuju dengan second opinion ini. Punto hampir saja dapat pengalaman fatal kalau waktu itu kami tak cari pendapat kedua dan ketiga. Dia sampe pindah 4 rumah sakit, dua di jakarta, 1 di Semarang, dan akhirnya dapat penanganan yang benar dengan diagnosis yang tepat saat di Kariadi. Gak kebayang kalau pas di RS pertama langsung dapat tindakan... Duh, semoga kita semua sehat ya, Mbak Anna.

    BalasHapus
  52. Saya malah selama hamil kemarin sampai ke third opinion dan semua diagnosanya beda
    Di situ saya merasa lega ke dokter terakhir yang lebih fleksibel

    BalasHapus
  53. loh kok aku bingung kok pasien ga boleh tahu sakitnya ya mba? dan udah jalan baik itu second opinion mba :)

    BalasHapus
  54. Memang bener banget bun cocok2an. aku aja ke dokter gigi ada di beberapa tempat yang cocok agak jauhan. Tapi gimana udah nyaman ya tetep perginya yang ke jauh ini

    BalasHapus
  55. Iya banget, sebelom memutuskan untuk mengambil tindakan atas vonis atau diagnosis seorang dokter terhadap suatu gejala penyakit, kita perlu second opinion dari dokter lain. Sebab bisa aja hasilnya beda. Tetanggaku pernah ngalami kasus begini. Susah dilakukan tindakan, dan gejala penyakit gak berubah membaik, pas ke dokter lain, ternyata vonisnya beda. Sehat-sehat selalu ya kita semua. :)

    BalasHapus
  56. Eeh aku jadi tahu deh sekarang kalau rontgen udah ada jilbab khususnya juga ya mba hehe. Aku lagi deg-degan baca kelanjutannya jadi ketawa baca bagian untuk bukan berondong hahaha. Duh untung aja ya mbanya segera ganti dokter jadi cepet sembuh dan ketemu obat yang benar. Aku sih belum pernah mengalami nggak cocok sama dokter. cuma paling, ada dokter yang sekali berobat untuk resepnya lima hari langsung sembuh, ada juga yang harus dua kali ketemu baru sembuh bhahaha.

    Tapi kalau pengalaman anaknya tante ada tuh. Salah diagnosis, di dokter pertama bilangnya saluran kemih, padahal bener dokter yang kedua hasilnya hamil di luar kandungan.
    .
    Temenku juga ada salah obat, dikasih yang terlalu keras untuk pengobatan parunya. Akhirnya alergi sampai sekujur tubuh bentol semua hiks.

    BalasHapus
  57. Aku juga kalau berobat pasti akan cari second opinion menurutku penting banget biar lebih yakin kan

    BalasHapus
  58. Saya pun suka GMZ sendiri kalo dokternya gak komunikatif dan informatif kayak dr.Y itu! Namanya pasien kan kita awam, mestinya dokter jelasin donk ya soal penyakit kita, mulai dari penyebabnya apa sampai penyembuhannya kayak gimana.
    Emang harus ada second opinion buat kasus kayak gitu.

    BalasHapus
  59. Bener banget memang untuk kesehatan kita gak bisa main main ya harus punya beberapa opsi gitu sama dokter

    BalasHapus
  60. Duh kenapa sih di indonesia banyak dokter model tipe dr.Y gitu. Mungkin dulu lulus juga tipe yg ujiannya diulang. Coba obat yang sudah dilarang kok masih dikasih ke pasien dan masih dikasih/dijual juga di apotek. Itu gimana siih? Kalau efek samping nya memperburuk kondisi pasien gimana? Kesel banget di indonesia selalu menggampangkan menyepelekan hal-hal yang fatal begini :(

    BalasHapus
  61. Kalau ak ke dokter pake feeling mba. Untungnya dokter2 yg pernah rawat ak orgnya baik2. Msh ada aja emang dokter gt ya. Salah diagnosa. Salah obat bzzzz tujuannya apa coba.

    BalasHapus
  62. Emang kalau milih dokter itu jodoh jodohan mak. Aku pun kalau dapet dokter kaya gitu akan langsung pindah. Sampai pindah klinik, karena waktu itu dikasih ranitidin yang harusnya udah ngga boleh dikonsumsi malah diresepin. Sama kejadiannya.

    BalasHapus
  63. Dulu pernah ke dokter A, saya kena asam lambung, tapi dia salah menduga. Dikira asma, dia pun kasih salah obat. Dan akhirnya obat gak diminum. Hari berikutnya saya ke dokter B, dan bener diagnosanya. Obatnya pun tepat.

    BalasHapus

Holaaa...!
Terimakasih ya sudah berkunjung ke sini.
Mohon maaf komentar kudu dimoderasi sebelum dipublikasi.