Pages - Menu

Jumat, 17 April 2026

Menghadapi Orang Toxic Tanpa Kehilangan Diri

Menghadapi Orang Toxic Tanpa Kehilangan Diri

Menghadapi Orang Toxic Tanpa Kehilangan Diri

refleksi menghadapi orang toxic dengan tenang dan menjaga batasan diri

Aku tidak pernah menyangka… satu kalimat bisa tinggal selama itu di kepala!

Bukan kalimat yang kasar.

Bukan juga yang terang-terangan menyakitkan.

Tapi cukup untuk membuatku diam… lebih lama dari biasanya!

“Menghadapi orang toxic dengan amarah hanya akan membuat kamu menjadi cermin dari keburukan mereka.”

Aku membaca itu… dan reaksiku bukan langsung setuju.

Tapi menolak.

Keras.

Karena di kepalaku saat itu cuma satu:

Kenapa harus aku yang berubah, padahal mereka yang menyakitkan?

“Ada luka yang tidak butuh pembalasan. Tapi butuh pemahaman—meski awalnya terasa tidak adil.”

Bagian yang Tidak Pernah Terlihat Orang

Sebagai seseorang yang hidup dari kata—blogger, freelancer, media partner—aku terbiasa terlihat baik-baik saja.

Timeline rapi. Tulisan mengalir. Kolaborasi berjalan.

Tapi ada bagian yang tidak pernah benar-benar terlihat:

betapa satu kalimat bisa mengganggu satu hari penuh.

Komentar yang terdengar ringan.

Feedback yang terasa meremehkan.

Atau sekadar nada yang… tidak menghargai.

Dan lucunya—

yang melekat bukan kejadian besarnya, tapi gema kecilnya di dalam kepala.

“Tidak semua luka datang dari kejadian besar. Beberapa datang dari kata yang kita ulang diam-diam.”

Dan mungkin, ini bukan hanya terjadi pada orang dewasa.


Aku pernah menuliskan pengalaman yang lebih dalam tentang bagaimana luka dari kata-kata bisa membentuk cara seseorang melihat dirinya, bahkan sejak kecil—di tulisan tentang pengalaman menghadapi bullying dan cara membantu anak mengatasinya.

Titik Balik yang Tidak Dramatis

Tidak ada momen besar yang mengubahku.

Tidak ada realisasi tiba-tiba yang langsung membuatku tenang.

Yang ada… hanya satu jeda kecil.

Antara apa yang terjadi—dan bagaimana aku merespons.

Di jeda itu, aku mulai melihat sesuatu yang sebelumnya selalu terlewat:

aku tidak bisa mengontrol apa yang mereka katakan.

Tapi mungkin…

aku bisa memilih seberapa lama itu tinggal.

“Ketenangan bukan berarti tidak terluka. Tapi tahu kapan berhenti membawa luka itu ke hari berikutnya.”

Belajar Membatasi, Bukan Menahan

Selama ini aku pikir, menjadi dewasa berarti menahan.

Menahan emosi.

Menahan reaksi.

Menahan semuanya.

Ternyata… bukan itu.

Yang lebih penting adalah membatasi.

Membatasi apa yang masuk.

Membatasi apa yang layak dipikirkan.

Membatasi siapa yang punya akses ke dalam diri kita.

Karena tidak semua hal harus kita jawab.

Dan tidak semua orang perlu kita menangkan.

“Menjaga diri bukan berarti menjauh dari dunia. Tapi berhenti memberikan akses tanpa batas.”

Di Titik Ini, Aku Mengerti Sesuatu

Mungkin… kalimat itu tidak pernah menyuruhku berubah untuk mereka.

Tapi untuk diriku sendiri.

Bukan agar mereka berhenti menyakitkan.

Tapi agar aku berhenti kehilangan diri… setiap kali itu terjadi.

Dan itu berbeda.

Sangat berbeda!

“Kamu tidak perlu menjadi lebih kuat dari dunia. Cukup tidak lagi rapuh di tempat yang sama.”

Untuk Kamu yang Masih Belajar Tenang

Kalau kamu membaca ini…

Mungkin kamu juga pernah ada di titik itu.

Marah, tapi tidak ingin menjadi kasar.

Terluka, tapi tidak ingin menjadi pahit.

Dan itu tidak mudah.

Sama sekali tidak mudah.

Tapi mungkin…

kita tidak sedang belajar menjadi kebal.

Kita hanya sedang belajar memilih.

Mana yang layak kita bawa pulang.

Dan mana yang cukup berhenti di luar.

“Pada akhirnya, hidup bukan tentang menghindari orang toxic. Tapi tentang tidak lagi kehilangan diri saat bertemu mereka.”

Ini Bukan Penutup

Aku masih belajar.

Masih kadang terpancing.

Masih kadang ingin membalas.

Tapi sekarang… ada kesadaran kecil yang selalu datang lebih cepat:

“Apakah ini layak mengganggu kedamaianku?”

Dan dari satu pertanyaan itu—

banyak hal mulai berubah.

Bukan dunia di sekitarku.

Tapi caraku tinggal di dalamnya.

Dan mungkin… itu adalah awal yang sebenarnya!

Senin, 06 April 2026

Lomba Best Costume Halalbihalal Astra Motor Kaltim1: Cerita yang Tidak Selesai

Lomba Best Costume Astra Motor: Cerita yang Tidak Selesai

Lomba Best Costume Halalbihalal Astra Motor Kaltim1: Kita Tidak Pulang dengan Hadiah, Tapi dengan Rasa yang Sulit Dijelaskan!

lomba best costume halalbilhalal astra motor kaltim1
foto oleh @anggipraditha

Lucunya, kita sering datang ke sebuah acara tanpa ekspektasi apa-apa…

lalu pulang dengan sesuatu yang tidak kita rencanakan.

Bukan goodie bag. Bukan hadiah.

Tapi rasa.

Dan anehnya—rasa itu tinggal.

Lebih lama dari yang seharusnya!


Semua Dimulai dari Sesuatu yang Terlihat “Receh”

Dress code hari itu, Sabtu 4 April 2026, Halalbihalal Astra Motor Kaltim1, di ballroom Hotel Maxone, Balikpapan, sebagaimana sudah dibagikan di WAG oleh Mba Lana Senja, Corporate Communication : busana muslim /koko/baju sopan/Yali-Yali ala Timur Tengah.

Terdengar biasa?

Tunggu sampai kamu melihatnya langsung!

Ada yang tampil seperti sultan. 

Ada yang seperti karakter film komedi, Walid!

Ada juga yang… bahkan sulit dijelaskan.

Dan di tengah semua itu, menurutku, satu hal terjadi:

tidak ada yang berusaha terlihat sempurna.

Semua orang… hanya ingin menikmati momen!

Setuju?

Baca juga: 10 Tahun Jadi Media Partner Astra Motor Kaltim1


Lomba Best Costume yang Diam-Diam Mengubah Cara Kita Melihat Diri Sendiri

pemenang lomba best costume Astra Motor Kaltim1
foto oleh @anggipraditha

Lima nama akhirnya dipanggil sebagai pemenang.
  • Riyadi
  • Lastyawan
  • Nia
  • Sandi
  • Dewantara

Masing-masing membawa pulang Rp250 ribu.

Tapi jujur?

Aku percaya, itu bukanlah hal yang paling mereka ingat.

Yang mereka ingat adalah detik ketika mereka berdiri di depan…

dan semua orang melihat.

Bukan menilai.

Tapi menerima.


Tawa yang Tidak Bisa Direkayasa

Stand up comedy Kinan Tribun Kaltim dan suasana tawa pecah di halalbihalal Astra Motor Kaltim1
foto oleh @rosannasimanjuntak

Stand up comedy dari Kinan pecah!

Bukan karena punchline sempurna.

Tapi karena semua orang… sudah siap untuk tertawa.

Bahkan Bapak Suryanto Wirawan, Region Head Astra Motor Kaltim 1 tak urung gemas dibuatnya.

"Luar biasa Mba Kinan, itu jokenya relate banget ke saya" imbuh beliau.

... dan suasana pun jadi semakin hangat!

Games interaktif pun berjalan.

Namun aku belum beruntung, guys. Hihihi.

... dan batas antara “brand”, “media”, dan “influencer”… menghilang!

Tidak ada jabatan.

Tidak ada image.

Hanya manusia yang sedang menikmati kebersamaan!


Di Tengah Semua Itu… Ada Cerita yang Disisipkan dengan Halus

Astra Motor Kaltim 1 memperkenalkan New Honda PCX160 serta varian warna barunya.

Tapi bukan dengan cara yang biasa.

Tidak terasa seperti promosi.

Tidak terasa seperti selling.

Lebih seperti… obrolan yang relevan.

Tentang mobilitas.

Tentang gaya hidup.

Tentang kebutuhan yang sering kita tunda.

Kenapa New Honda PCX160 Jadi Highlight?

  • Teknologi modern yang relevan dengan gaya hidup urban
  • Desain premium yang “terlihat mahal” tanpa harus berusaha
  • Performa yang bukan sekadar angka, tapi pengalaman

Ditambah program Trade In—sebuah jawaban sederhana untuk pertanyaan yang sering kita simpan:

“Kapan ya waktunya upgrade?”


Yang Terjadi Sebenarnya Bukan Event

Kalau harus jujur…

ini bukan tentang lomba.

Bukan tentang produk.

Bahkan bukan tentang acara.

Ini tentang sesuatu yang lebih jarang kita temukan sekarang:

koneksi yang terasa nyata.


Dan Lalu… Acara Itu Selesai

Ada salam-salaman.

Ada souvenir buat pemenang games.

Ada foto-foto.

Secara teknis—semuanya selesai.

Tapi anehnya…

tidak ada yang benar-benar merasa “selesai”.


Karena Ada Hal yang Ikut Pulang Bersama Kita

Mungkin kamu pernah merasakannya juga.

Sebuah momen yang sederhana… tapi terus teringat.

Bukan karena besar.

Tapi karena jujur.

  • karena kamu bisa tertawa tanpa dibuat-buat
  • karena kamu bisa jadi diri sendiri tanpa takut dinilai
  • karena untuk sekali saja… kamu merasa cukup

Bukan Penutup. Tapi Awal dari Sesuatu yang Tidak Terlihat

Manager Marketing Astra Motor Kaltim 1, Matthew Poetera Sah, menyebut acara ini sebagai upaya mempererat hubungan.

Dan mungkin, beliau benar.

Tapi yang tidak terlihat adalah…

hubungan itu tidak berhenti di ballroom.

Ia bergerak.

Ia tumbuh.

Ia diam-diam berubah jadi sesuatu yang lebih dalam.


Dan Sekarang… Aku Jadi Paham

Kita tidak selalu butuh acara yang megah untuk merasa terhubung.

Kita hanya butuh:

  • ruang untuk menjadi manusia
  • alasan kecil untuk tertawa
  • dan momen yang tidak dibuat-buat

Karena pada akhirnya…

yang kita ingat bukan acaranya.

Tapi bagaimana perasaan kita… saat ada di dalamnya.

Dan perasaan itu—

entah kenapa—tidak benar-benar pergi.

Ia hanya diam.

Menunggu…

... untuk muncul lagi di hari yang paling tidak kita duga.