Pages - Menu

Rabu, 11 Januari 2017

Pentingnya mempersiapkan kehamilan dengan baik


Pentingnya mempersiapkan kehamilan

Pentingnya mempersiapkan kehamilan dengan baik. Kehamilan ini sangat aku tunggu-tunggu. Iya, kehamilan pertama setelah menunggu hampir tujuh tahun. Begitu banyak drama yang menyertainya.

Kayak sinteron aja, ne..!

Ember. Satu tahun pertama setelah pernikahan sebenarnya aku sudah mulai sedikit resah karena tak kunjung hamil. Saat itu aku masih bekerja di perusahaan tambang emas di tengah belantara Kelian di Kutai Barat, Kalimantan Timur dengan rotasi kerja 6 minggu di lokasi tambang dan 2 minggu cuti di rumah dan tetap di bayar upah normal.

Aku sangat mencintai pekerjaanku sebagai sekretaris di bagian support services yang membawahi semua pekerjaan subkontraktor di lokasi tambang dan sering melakukan interaksi dengan para kontraktor dan divisi lain seperti di bagian keuangan, lingkungan dan tentu saja bagian tambang, sang primadona. Tenaga ahli Australia banyak bertebaran di sini. Paling senaaang kalau ada tugas ke sini, bisa tepe-tepe, giccuuu. Hihihi...

Atasanku ada 3 orang, 2 orang berkebangsaan Australia dan 1 orang Indonesia. Iya, aku punya 3 atasan.

Mantap, jiwa!

Rutinitas sehari-hari hanya bekerja di kantor karena semua disediakan perusahaan termasuk laundry dan itu tuh buat beresin tempat tidur kita, juga, ada!  Pokok na mah seperti nyonya besar daa. Jadi benar-benar karyawan hanya fokus bagaimana menjaga kondisi agar tetap fit dan bisa memberikan yang terbaik pada perusahaan.

Pada zaman aku dulu sekitar tahun 1992, tidak ada hari libur kalau bekerja di lokasi tambang, jadi selama 6 minggu itu kami terus bekerja mulai jam 7 pagi sampai dengan jam 5 dipotong istirahat jam 12 sampai jam 1 siang, dan boleh lembur dengan izin atasan dan jika memang dibutuhkan.

Tips Hamil Versiku


Setelah tak kunjung hamil meski hanya baru memasuki tahun kedua pernikahan, aku sudah mulai rajin membaca berbagai artikel di majalah, buku dan bertanya kepada teman-teman dan akhirnya aku memutuskan untuk konsultasi ke dokter kandungan.

Dokternya bilang apa?

"Santai saja dulu bu, nikmati waktu dan kebersamaan dengan suami!"

Namun dokter tetap juga memberi obat penyubur buat aku dan suami. Harga obatnya sangat mahal untuk ukuran kantong kami, dan untung saja masih bisa diklaim 80% ke perusahaan. 

Beberapa sahabat juga menganjurkan agar aku berhenti kerja agar bisa hamil. Aku tak bisa menerima karena suami saat itu juga belum punya pekerjaan yang mapan. 

Hingga akhirnya memasuki tahun ke lima masih juga belum hamil, aku memutuskan untuk berhenti bekerja, berhenti berobat ke dokter, berhenti memikirkan mengapa belum hamil-hamil juga.

Seiring waktu aku juga sudah mulai tidak terlalu pusing tentang kehamilan. Tak ingin kehidupan direnggut, stres apalagi depresi karena belum punya keturunan. No way! Not my type!

Aku yakin Allah SWT tahu apa yang terbaik bagi aku dan suami. Tak pernah sekalipun aku ragu tentang itu.

Kalau dulu aku berdoa agar diberikan keturunan, kini aku menggantinya dengan semoga diberikan yang terbaik, karena sekali lagi aku percaya hanya Allah SWT tahu apa yang terbaik.

Kami tak pernah lagi berbicara intens tentang kehamilan. Jika diberi kepercayaan, alhamdullillah, jika belum dipercaya, ya tetap alhamdullillah. Tetap menjalani gaya hidup sehat dan santai kayak di pantai, tanpa beban! Itu tips hamil versiku, tak lebih tak kurang.

Hikmahnya, kami sering banget travel ke luar kota bahkan lintas propinsi, bersenang-senang!

Pentingnya mempersiapkan kehamilan

Pentingnya mempersiapkan kehamilan dengan baik


Hingga hari itu tiba!

Suatu hari menjelang subuh Agustus 2001, seperti biasa aku berwudhu ke kamar mandi. Malam hari sebelumnya aku dan suami membeli alat tes kehamilan karena sudah hampir 2 bulan aku telat. Sebenarnya aku sudah terbiasa dengan hal ini, karena sudah sering mengalami.  Tak ada yang isitimewa. 

Namun kali ini, entah mengapa ada sesuatu yang menggerakkan hatiku untuk melakukannya.

Meski sudah sering menjalani tes ini, tetap saja jantungku berdegup kencang, terutama saat garis pertama begitu cepat berubah, memasuki giliran garis kedua, kecepatan cairan merambat agak lambat, mataku tak berkedip... dan aku menangis terisak ketika 2 tanda garis merah jelas terbaca, tanganku bergetar, jantungku apalagi, semakin tak terkendali diiringi ucapan syukur tak henti di dalam hati.

Aku seret langkah kembali ke kamar dan berbisik ke telinga suami sambil tetap menggengam test pack.

"Bang... bunda hamil, Bang"

Ucapku lirih, nyaris mendesis.

"Alhamdullillah"

Suami mengecup keningku lembut dan kami sholat Subuh berjamaah masing-masing dengan hati yang membuncah.

Untuk meyakinkan kehamilan ini, kami berkonsultasi dengan dokter kandungan dan disarankan melakukan USG. Yup, positif hamil!

Dokter kandunganku kali ini agak pelit senyum dan pelit bicara.

Mungkin dia lelah, kakaa...

Mungkin juga. Beda banget sama beberapa dokter kandungan yang sebelumnya. Tapi karena saat itu aku pasien Askes yah aku tak punya banyak pilihan.

Jadi untuk mensiasatinya aku yang harus banyak bicara, banyak bertanya. Sayang dong, kakaa... masak konsultasi yang cuma beberapa menit tak bawa oleh-oleh pengetahuan ke rumah. Setuju?

Banget!

Hal pertama yang aku tanya adalah tentang persiapan awal kehamilan.

Dokter berkata ternyata tahap awal kehidupan sudah dimulai bahkan sejak awal pembuahan. Itulah kenapa setiap pasangan penting mempersiapkan kehamilan dengan baik. Jadi, faktor risiko seorang anak itu sangat dipengaruhi nutrisi kedua orang tuanya

Idealnya bahkan sebelum pernikahan untuk meningkatkan kewaspadaan calon orang tua harus memeriksakan kesehatan. Duh... kita dulu gak pakai beginian. Gawat nih!

Mengapa?

Gunanya untuk mendeteksi dini apakah ada penyakit genetik seperti thalasemia, diabetes dan penyakit infeksi seperti hepatitis atau HIV sekaligus menemukan solusi.

Wiii... suerem yak!

Nah, semakin penting lagi ketika sudah memasuki masa kehamilan, calon ibu wajib melakukan pemeriksaan rutin dan mencukupi kebutuhan gizi.

Alhamdullilah, kini si kecilku sudah beranjak remaja and so far tumbuh kembangnya sama seperti anak normal lainnya.

Pentingnya mempersiapkan kehamilan


Biar komplit baca juga bagaimana cara hebat eksplor bakat anak ya.

Semoga artikel tentang pentingnya mempersiapkan kehamilan dengan baik ini bermanfaat.

Kalau kamu punya pengalaman lain sila share di bagian komentar, because sharing is caring, right?




57 komentar:

  1. wah luar biasa mba menunggu tujuh tahun, alhamdulillah ya akhirnya penantian berujung indah....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdullillah. Iya, setelah menjalani kehidupan tanpa target kehamilan, malah diberi kepercayaan.

      Hapus
  2. Alhamdulillah setelah penantian panjang akhirnya ka Anna dan suami diberikan amanah. Semoga semakin bahagia keluarganya dan selalu dalam lindungan Allah. Aamiin ya Rabb.

    Allah sayang dengan orang-orang yang sabar. :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga menjadi anak soleha, ya mbak. Aamiin...
      Insya Allah

      Hapus
  3. ALhamdulillah. Saya juga punya cerita panjang ttg menanti kehamilan Mbak, karena berdua suami bukan orang subur. ALhamdulillah dapat 3 anak :)

    Putrinya cantik, semoga tumbuh jadi perempuan shalihah, penyejuk mata dan hati kedua orang tua :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ada banyak suka duka ya, saat menanti sang buah hati.

      Aku percaya semua pasti ada hikmahnya.

      Aamiin, insya Allah ya, Mbak. Semoga keluarga Mbak juga ya.

      Hapus
  4. hebatttt oeyy, aku juga menungguuuu hehehhe. thx tips nya makk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Coba tips kehamilan versi di atas yok, siapa tahu, cocok!

      Hapus
  5. Senang banget ya kak, penantian panjang 7 thn berbuah cantik. Doaku tahun ini juga bisa tekdung kak :) amin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, setelah aku tak berharap banyak, kehamilan ini cukup membuatku terhenyak, karena aku sama sekali tak berbuat banyak.

      Hapus
  6. Wah... Luar biasa mak... Memberi semangat untukku terus berjuang.. Saya udah 4 tahun belum kunjung hamil.. Mohon doanya ya...

    BalasHapus
  7. Penantian panjang berbuah manis ya mbak.. Senang baca ceritanya.. Semoga berbahagia selalu :) Salam kenal ya mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih. Kini aku tahu mengapa Allah menghadirkan buah hati setelah sekian lama, ternyata memiliki anak tidak hanya sekedar memberi cukup sandang, pangan saja, ada banyak nilai-nilai yang harus kita tanamkan kepada mereka.

      Hapus
  8. Alhamdulilah setelah 7 tahun y mba dan akhirnya dapet putri cantik jelita..perjuangan penantiannya luar biasa apalgi kesabaran hadepin nyinyir-ers y mba yang kadang bikin down :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, itu terutama yang sering bikin jemu dan lidah tersa kelu. Namun seiring waktu kami semakin kebal dan menganggapnya bagai angin lalu.

      Hapus
  9. Mba Anna, alhamdulillah ya mba. Bahagia sekali mendapat buah hati. Skarang jadi anak yang cantik juga :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.

      Semoga menjadi anak soleha, kebanggaan kita semua. Aamiin...

      Hapus
  10. Bener mbak kehamilan hrs dipersiapkan dgn baik. Saya dulu pernah melakukan kesalahan saat hamil anak pertama, tdk mengecek kondisi kesehatan dulu akibatnya anak saya lahir BBLR, namun alhamdulillah skrng dia tumbuh kembangnya bagus :)
    TFS

    BalasHapus
  11. alhamdulillah penantian panjangnya berujung kebahagiaan ya, Mbak :)

    BalasHapus
  12. sweet memory banget ini mbak, perjalanan yang berbuah manis :)
    Semoga Yasmin selalu menjadi penyejuk hati tuk kedua orangtuanya hingga akhirat kelak ya :)

    BalasHapus
  13. Masya Allah, kesabaran Kak Ros dan suami akhirnya berbuah manis ya Kak :).
    Putrinya cantiiik :*

    BalasHapus
  14. ooh begitu ya mbak, maklum aku belum nikah hehe. Makasih ya mbak sharignya, bermanfaat buat aku nambah ilmu seputar hal-hal kaya gini. Hitung-hitung persiapan :D

    BalasHapus
  15. Iyah kapan hari aku juga sempet ikutan sosialisasi thalasemia, serem Buk kudu jadi vampire sepanjang idup.
    Dokternya bilang kita emang perlu periksa darah sebelum cari suami sebagai bentuk pencegahan. Hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, menurut dokter begitu. Untuk kebaikan buah hati kita juga, nantinya.

      Hapus
  16. Infonya sangat bermanfaat ini buat keluarga baru. Wajib baca banget.

    BalasHapus
  17. Waaa tuujuuuuh tahun penantian mbaaa :D hihihi kehamilan memang harus dipersiapkan secara matang-matang sih ya mba :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, terutama setelah dinyatakan hamil, harus kudu rajin inspeksi.

      Hapus
  18. Alhamdulillah ya. Penantian yang sabar.Putrinya cantik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. mbak.
      Setelah tidak terlalu stress memikirkan, kehamilan justru berkenan.

      Hapus
  19. Berita kehamilan mmg selalu yg di tunggu2 yaa, temen ku menunggu sampai 12 th dan akhir nya ikhlas pasrah dan saat sudah berserah diri malah hamil

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, karena ini juga aku alami sendiri. Ketika berserah diri, kehamilan justru menghampiri.

      Hapus
  20. Bener ya mbak saat kita makin bersyukur atas hidup kita, dan tak terlalu fokus buat pengen hamil malah Allah kasih kepercayaan itu, iya di taun jelang 9 setelah 8 taun dengan segala usaha, baik medis, alternatif ataupun suplemen, taun ini mulai bulan januari kemarin kuputusin, dinikmati, dijalani dan disyukuri aja, bener hikmahnya bisa berduaan jalan-jalan terus, tapi pasrah dan tawakal justru haidku jadi teratur, semoga yang terbaik juga buatku dengan suami, gimana Allah yang bikin skenario buat kita, kita jalani dan syukuri dengan happy ☺

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mbak.

      Yang penting sebagai pasutri kita harus sering berkomunikasi, mencari tahu apa yang terbaik, bersama-sama.

      Aku percaya setelah semua kita usahakan, biarkan yang di atas yang memutuskan, yang tahu yang terbaik bagi kita, dan tetap melanjutkan hidup.

      Hapus
  21. Wah Bun Rosanna hebat. Sabar menunggu hingga 7 tahun. Dan kesabarannya tidak sia-sia ya Bun. Yasmin tumbuh jadi anak cerdas, pintar dan cantik banget..

    BalasHapus
  22. Alhamdulillah seneng denger cerita bahagia kayak gini, tfs ya Mbak, emang persiapan kehamilan itu sangat penting biar hamilnya menyenangkan dan ramah jiwa^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju. Terutama nutrisi calon ayah dan ibu sangat mempengaruhi resiko kehidupan sang buah hati.

      Hapus
  23. Subhanallah.. Aku jd malu, baru menunggu setahun aja kadang suka mellow dan sedih, pdhl mestinya yakin kalau Allah pasti akan berikan yg terbaik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, Nabila.

      Saat itu peneduh jiwaku hanya satu. QS-Al Baqarah 216

      “Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”

      InsyaAllah, perlahan luluh lantak semua kepedihanku.

      InsyaAllah...


      Hapus
  24. Alhamdulilah ya mbak.. Intinya sabar dan terus berdoa ya mbak.. terimakasih atas sharingnya ya mbakkk

    BalasHapus
  25. masa kehamilan itu masa-masa yang indah buatku mba...asli enjoy banget dan tidak ada keluhan berarti :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. 7 bulan pertama aku mabuk tingkat dewa, Alhamdullillah belum sampai opname sih.
      Setelah itu, begh, jangan ditanya. Nafsu makannya, masya Allah!
      Tiap ibu hamil itu memang unik ya, mbak.

      Hapus
  26. Allah memberi di saat yang tepat, mba. Penting buat cek kesehatan kedua orangtua. Temanku baru nyadar punya thalasemia saat dia hamil.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju. Selalau berbaik sangka kepada rencana Allah SWT memang tak ada matinya!
      HE knows better, ya.

      Hapus
  27. Justru dikasih disaat posisi hati kita dilevel "pasrah" ya, Mba.
    Kayak saya juga 4th menanti kehamilan 1st Fi. Dan 9th utk 2nd Fi tapi hrs diambil Allah. Bersyukur setahun kemudian Allah prcayakan lagi 3rd Fi.

    So i feel you. ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar banget.
      Allah tahu apa yang terbaik untuk kita, ya.
      Kewajiban kita hanya berupaya, selebihnya serahkan kepadaNYA :).

      Hapus
  28. Alhamdulillah setelah 7 tahun, penantian yang panjang, semoga sehat2 selalu u mama dan bayinya ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mbak.

      Putriku kini berusia 16 tahun.

      Sehat walfiat, alhamdullillah.

      Hapus
  29. Wah luar biasa ya sampai 7 tahun...Aku hampir 3 tahun aja jiwa raga ini kayaknya drop gitu kalau tiap bulan tespek negatif. Tapi entah ya, saat kita mulai pasrah, dikasih bersyukur, belum dikasi tetap bersyukur, disitu ada keajaiban. Tuhan kasih keturunan menurut waktu-Nya

    BalasHapus

Holaaa...!
Terimakasih ya sudah berkunjung ke sini.
Mohon maaf komentar kudu dimoderasi sebelum dipublikasi.