Alexa Rank VS Links In


Baru tahu pagi ni. *Deritaloe!

Duh... ngomong apa pulak kau ini?

Masih pagi woiii...

Bentar dulu.

Jadi gini,

Aku pikir selama ini bahwa AR dan links in  itu bersinergi positif, maksudnya semakin ramping AR pasti makin gendut laa links in.

Ternyata, aku salah, saudara-saudara!

Berikut tampilannya.



Pinjam tampilan dari sini

Ternyata Links in gendut tak menjamin AR langsing, sing. *elusdagu

Dan bahwa AR langsing tak sekaligus mengundang sponsor nangkring. *kring.

Sungguh dunia blogging sarat misteri, tak selalu seindah teori.

Ada tangan-tangan invisible yang gentayangan. Hihihihi... *ngakakalamaklampir

Kedua penampakan di ambil hari ini 23 Desember 2015 jam 09.50 pagi hari.

Yang penting tetap menulis dengan hati. *mendadakbijak.

Make your posting is 100% unique

Pay attention to the content and context, the other will follows, kakaaa

Sekian, breaking news.

Selamat pagi!

Ahhh... serius kali klen bacanya.

Kita turun ke bumi dulu laaa... ngombe-ngombe sek.





Pemandangan Eksotis Laut Merah dan Mesjid Terapung Jeddah


Berangkat bareng ke tanah suci adalah obsesi ibu dan diriku.

Sedikit-demi sedikit kami berinvestasi. 

Diperlukan disiplin dan kemauan kuat agar impian bukan cuma impian.

Kesederhanaan dan kegigihan menjadi pilihan gaya hidup keseharian.

Dan itu... harga mati!

Akhirnya kurang lebih hampir 10 tahun, tibalah hari yang menguras air mata, saat bersujud dan menjadi tamu Allah.

Bahkan kata seperti tak bermakna.

Derai airmata mewakili gejolak jiwa, saat bersujud di depan Kabatullah bersama ibunda.

Berselimut sukacita.

Sungguh!

Nikmat Allah mana lagi yang ingin aku dustakan?

Apalagi saat mengunjungi Mesjid Terapung di tepi Laut Merah di Jeddah. Berdua dengan ibunda menambah syahdu senja di Saudi Arabia.

Semilir angin membelai pipi beta. Dan... sesaat angan berkelana. Hadirkan suasana saat ia terbelah, di zaman Nabi Musa.

Momen indah sepanjang masa bersama ibunda.

Takkan terlupa!

"Selamat Hari Ibu"

Ekspresi Umroh Trio





Ternyata, Memang Bukan Basa-Basi!

Yakiniku
Ternyata memang bukan basa basi

Pagi ini, iseng-iseng aku membaca curhatku.

Ternyata aku punya hutang, saudara-saudara!

Melanjutkan reportase sesi kedua.

Pikiranku langsung terbang ke suatu waktu, beberapa minggu lalu

****

Kunjungan kali ini kami sedikit bijak.

Maksud loe?

Iya, datangnya gak pas weekend.

Perfect! No need to queue, for sure.

Begitu tiba, langsung dilayani kasir.

Senang sekali!

Soalnya, sudah lapar tingkat dewa, gaess.

This time, Yasmin dan suami memesan 2 Paket Super Big (lagi) di tambah 1 wings free, reward dari mengisi survei kepuasan.

Aku? Yakiniku dong, so pasti!

That's my goal, kakaaa...

Tagihan lebih dari Rp 25,000; kembali aku mendapatkan kupon survei kepuasan, lagi.

Namun sayang sungguh sayang, saking nefsongnya, pose Kolonel Yakiniku komplit versi aku lupa dibidik. Menjelang suapan akhir, baru aku tersadar, apa mau dikata, barisan sudah bubar. Hahahaha...

So, photo di atas pinjam dari sini

Yang pasti, lantai sekitar tempat cucian tangan menjadi sasaran lirikan. Saat itu bersih dan kering.
Rasa  puas memenuhi sanubari, masukanku diterima dan dieksekusi.

Btw, Saus Yakinikunya sungguh menggoyang lidah. Porsinya juga cukup buat kolon beta.

Terus wingsnya juga kog super garing dan renyah gitu ya. *elusdagu.

Is it because it' s free?

So... magic!

Hmmm... sounds like we will have second round, then.

Hahahaha....

Thank you, KFC!

Ternyata, Memang Bukan Basa-Basi!

Kamu punya pengalaman seperti di atas? Share yuk!




Syarat Rendah Hati


Syarat Rendah Hati
Be Humble

Suatu malam...

Menjelang ke peraduan, satu postingan video mampir di beranda.

Tentang rendah hati.

Ternyata menjadi rendah hati bukan seperti yang aku duga selama ini.

Rendah hati harus diuji.

Benar-benar harus teruji.

Menjadi rendah hati harus siap di maki, di hina, diremehkan bahkan dipermalukan.

Pokoknya semua hal-hal yang sama sekali tidak nyaman.

Dan membalas semua dengan tanpa... kemarahan, tapi harus dengan kelembutan.

Bisa?